08 April 2008

Pater AS Letor dan musik liturgi di Flores



Partitur "Tuhan Terimalah" (SATB) karya almarhum Pater AS Letor SVD. Simpel dan manis.

Orang-orang Flores yang berada di perantauan punya cara sendiri untuk mengenang kampung halaman. Caranya gampang saja: mencari lagu-lagu daerah Flores atau Nusa Tenggara Timur umumnya. Kemudian menemukan lagu-lagu liturgi yang terkenal di kampung halaman.

“Kita jadi ingat masa kecil di pelosok,” ujar Pak Dominikus Rato, doktor hukum di Universitas Jember. “Biarpun saya tinggal di Jawa, kawin sama orang Jawa, Flores-nya tidak boleh hilang.”

Pak Domi suka mengumpulkan para mahasiswa Flores untuk berpaduan suara: sopran, alto, tenor, bas. Setahu saya Pak Domi ini punya koleksi lagu-lagu liturgi khas Flores edisi 1970-an dan 1980-an. Salah satunya di buku TURUT SERTA, terbitan Nusa Indah, 1982.

Buku ini disusun oleh Pater Anton Sigoama Letor SVD. Almarhum pater [romo] asal Flores Timur ini juga menulis buku-buku musik untuk pendidikan anak-anak sekolah dasar hingga lanjutan atas di Flores. Buku KOMPOSISI LAGU karya Pater Letor dulu selalu menjadi rujukan saya dalam membuat catatan di surat kabar DIAN yang terbit di Ende.

Yah, membawakan lagu-lagu paduan suara ala Flores memang membuat kami terkenang kampung halaman. Lagu-lagu sederhana, sesederhana masyarakatnya. Gampang jadi meskipun latihan paling banter dua kali. Habis latihan, Pak Domi mengajak anak-anak muda ini untuk mengisi perayaan ekaristi atau misa di gereja. Maka, jangan heran, di mana-mana di Jawa orang Flores senantiasa menjadi penggerak kor, paduan suara.

Baru-baru ini saya menemukan TURUT SERTA, buku lama dari Flores itu, di sebuah toko buku di Surabaya. Harganya Rp 10.000. Sangat murah, tapi lagu-lagu di dalamnya tiada ternilai dengan uang. Saya teringat Pak Domi di Jember serta teman-teman Flores yang pada tahun 1990-an sangat aktif mengisi paduan suara di gereja.

TURUT SERTA ini memuat 10 ordinarium misa karya sejumlah komponis musik liturgi Flores. Misa Malam Natal [Jan Riberu], Misa Puer Natus Est {Jan Riberu], Misa Paskah [Martin Runi Marrun], Misa Roh Kudus [Martin Runi], Misa Tritunggal [Jan Riberu], Misa Gaudens Gaudebo [Jan Riberu], Misa Syukur [Martin Runi], Misa Atlantika [AS Letor], Misa Salam Bunda [AS Letor]. Juga ada beberapa lagu misa karya Pater AS Letor.

Saya, meski berasal dari Flores, tidak pernah membaca TURUT SERTA. Maklum, kami di pelosok Lembata dulu kalau ke gereja tidak pernah membawa buku nyanyian. Lagu-lagu itu ya hafalan saja, mengikuti bapak-bapak atau kakak-kakak di paduan suara. Setelah 20 tahun lebih baru buku bersampul kuning itu saya koleksi, sementara di Flores sendiri sudah tak dipakai lagi.

Saya juga baru sadar bahwa Pak Jan Riberu, orang Larantuka itu, ternyata komponis musik liturgi yang hebat. Selama ini saya hanya tahu Pak Jan seorang intelektual terkemuka, pemuka gereja, penerjemah dokumen-dokumen Konsili Vatikan II. Wah, terlambat, tapi masih lebih baik ketimbang sama sekali tidak tahu, bukan?

Lagu-lagu Pak Jan bergaya mazmur tanggapan, resitatif, dan dalam. Namun, karena itu, tidak begitu populer di Flores dan daerah-daerah lain di Indonesia. Jika dinyanyikan dengan benar, suasana misa dijamin khidmat, tidak hiruk-pikuk. “Pak Jan Riberu itu jenius. Beliau ahli musik, teolog, dan cermat dalam menganalisis situasi sosial,” ujar seorang senior saya.

Dari sekian banyak lagu, Misa Syukur karya Martin Runi paling populer tidak saja di Flores, tapi juga di gereja-gereja Katolik di Indonesia. Aneh kalau orang Katolik tidak kenal Misa Syukur. Lagunya gampang, melodinya manis.

Lagu Paskah yang sangat terkenal, dimuat di MADAH BAKTI dan PUJI SYUKUR, berjudul HAI MAKHLUK SEMUA, PUJILAH TUHAN KITA, ternyata merupakan penutup Misa Syukur. Judul aslinya: PUJILAH ALLAH. Syair aslinya begini:

“Pujilah Allah hai umat kudus-Nya
Hormat pujian dan syukur bagi Tuhan
Pujilah keagungan-Nya
Alleluia, alleluia, syukur sembah selamanya....”

Pada malam Paskah lalu [22 Maret 2008] saya menikmati nyanyian ini di Gereja Paulus Juanda. Paduan suara menyanyi dengan penuh semangat, organisnya pun main bagus. Ah, saya makin sadar bahwa lagu-lagu bagus senantiasa tahan zaman. Sudah menjadi lagu abadi di Indonesia.

Misa Syukur ini ada sembilan lagu. Paket lengkap mulai pembukaan, kyrie, gloria, antarbacaan [selingan]... komuni, hingga penutup. Sayang sekali, “tradisi” komponis-komponis Flores yang menciptakan paket lengkap lagu misa ini “dipreteli” para punggawa musik liturgi di Jawa.

Buktinya, penyusun MADAH BAKTI [Pusat Musik Liturgi] hanya mengambil paket kyrie, gloria, sanctus, agnus dei. Hanya empat lagu plus HAI MAKHLUK SEMUA dialihkan sebagai lagu Paskah. Penyusun PUJI SYUKUR lebih sadis lagi. Misa Syukur ini dikutip tapi tanpa Kyrie. Bagaimana bisa disebut paket misa kalau ada beberapa bagian yang hilang?

Okelah, penyusun PUJI SYUKUR bisa saja mengubah dan menyesuaikan syair-syair lagu ala Flores ini. Tapi kalau terlalu jauh dari aslinya, ya, kebangetanlah. Jangan heran-heran orang-orang Flores di Pulau Jawa yang punya kenangan akan lagu-lagu liturgi lama ini menggunakan versi aslinya di gereja-gereja di Jawa pada masa sekarang.

Hasilnya: umat bingung!

5 comments:

  1. Get your Online Lyric song in http://www.lyrics-x.com

    ReplyDelete
  2. Well, I really think u must open ur eyes and ears. But, first of all, say nothing about thing that u r not good at.

    ReplyDelete
  3. Mas, kalau ada waktu, mungkin sosok bapak Martin Runi juga menarik untuk kita ketahui dan anda tuliskan. Lagu-lagu ciptaannya "sederhana tapi manis". beliau sekarang tinggal di semarang

    ReplyDelete
  4. Oke, Alma, tunggu tanggal main. Martin Runi memang salah satu penulis lagu unggulan dari Flores. Seng ada lawan!

    Sederhana tapi manis. Beda dengan seorang tokoh "paling produktif" dari tanah Jawa, kulonan, yang komposisinya ruwet gak karuan. Salam.

    ReplyDelete
  5. BIsa muat yah lagunya Pater Piet Wani, SVD yang berjudul MUSAFIR KELANA??? Deil

    ReplyDelete