09 April 2008

Masalah paduan suara di Flores



Wartakanlah (SATB) karya Pater Piet Wani SVD. Komposisi paduan suara khas Flores.

Ada seorang kawan menulis komentar di blog saya. Intinya, dia dan teman-temannya, panitia lomba paduan suara, akan mengundang paduan suara dari Flores ikut lomba paduan suara tingkat nasional. Materi lomba tentu saja standar nasional. Pakai partitur notasi balok!

Apa mungkin kor-kor di Flores, juga daerah lain di Nusa Tenggara Timur, ikut lomba nasional? Bukankah di Flores paduan suara sangat subur, berkembang dari dusun ke dusun? Ingat, dusun lho, bukan sekadar desa? Paduan suaranya banyak, merakyat, kok gak mampu ikut lomba standar nasional?

Ini sebetunya tema lama. Pada 1990-an saya berkali-kali membahas persoalan paduan suara ala Flores, NTT, di surat kabar DIAN yang terbit di Ende. Mingguan milik pater-pater SVD [Societas Verbi Divini] ini sangat terkenal di Flores, distribusinya tersebar hingga ke pelosok-pelosok. Waktu saya kecil di kampung, pelosok Lembata, bapak saya yang guru kampung menjadi agen surat kabar ini.

Saya juga kerap memberi masukan kepada teman-teman asal NTT yang ikut lomba paduan suara di Jawa. Entah pesta paduan suara gerejawi [pesparawi] atau festival paduan suara mahasiswa. Saya bilang kor-kor dari Flores mustahil atau sangat-sangat sulit menang. Alih-alih menang, tampil bagus dengan standar Jawa saja sukar.

Paling-paling kalian hanya sekadar memeriahkan. hanya menghabiskan uang banyak untuk ongkos transport, bayar hotel, konsumsi, kostum, dan sekian banyak kebutuhan lain. “Lho, orang Flores kan pintar menyanyi, banyak gereja, banyak komponis musik liturgi? Masa, belum apa-apa kita menyerah?” tukas Petrus, salah satu pelatih paduan suara.

Hehehe.... Argumentasi lawas ini sangat lemah. Mutu paduan suara tidak pernah ditentukan oleh bakat alam, kegemaran nyanyi, banyaknya komposisi musik liturgi ala Flores, mayoritas kristiani, dan seterusnya. Musik itu universal. Paduan suara itu tidak kenal agama.

“Jawa Timur itu orang Kristennya berapa sih? Tak sampai 2 persen, bahkan mungkin kurang. Tapi kok bisa menang di lomba paduan suara tingkat nasional? Jawa Barat juga begitu,” ujar saya enteng-entengan.

Jujur saja, paduan-paduan suara yang tangguh ada di Jawa. Pelatih-pelatih hebat ada di Jawa. Pianis jempolan di Jawa. Musik klasik marak di Jawa. Anak-anak empat tahun di Surabaya, orang kaya lah, selalu les piano, belajar musik klasik di lembaga-lembaga hebat. Referensi musik di Jawa berjibun. Alat-alat musik modern di Jawa, wah, banyak sekali. Pelajaran musik di Jawa pun bermutu tinggi.

Nah, di Flores mana ada? Kor-kor yang marak di desa itu ya masih sebatas “bisa bunyi”. Belum sampai pada kematangan bermusik seperti dituntut paduan suara kelas tinggi. Mana ada orang Flores belajar piano sejak anak-anak? Mana ada piano? Mana ada kursus musik, kursus vokal? Mana ada pelatih yang memenuhi standar?

Boleh dikata, infrastruktur musik di Flores sangat tidak memenuhi syarat bagi lahirnya paduan suara yang layak ikut lomba. Jangankan lomba nasional, lomba-lombaan di tingkat kabupaten di Jawa saja sulit. Alasannya, itu tadi, sejak dulu paduan suara di Flores, Nusa Tenggara Timur umumnya, tidak pernah didesain sebagai art group. Jangan pernah mengharap pencapaian artistik yan luar biasa dari paduan suara di Flores!

Paduan suara di Flores tidak lepas dari musik liturgi atawa nyanyian misa atau kebaktian Gereja Katolik. Kebetulan Flores itu pulau yang sejak abad ke-16 menjadi lahan misi Katolik. Kemudian, pada abad ke-19 praktis hampir seluruh tanah Flores dan sekitarnya [Adonara, Solor, Lembata, Alor] tumbuh gereja-gereja Katolik. Dus, Flores itu identik dengan satu-satunya “pulau Katolik” di Indonesia.

Hanya saja, karena tingkat pendidikan orang Flores yang rata-rata rendah, miskin, tertinggal jauh dengan daerah lain di tanah air, maka paduan suara yang dibudayakan di Flores pun sangat sederhana. Para misionaris tahu benar situasi lapangan. Karena itu, pater-pater SVD pada 1940-an dan 1950-an tidak memaksakan lagu-lagu paduan suara yang berat-berat [klasik].

Pater-pater perintis ini menciptakan lagu sederhana, bahkan kelewat sederhana, agar bisa dinyanyikan jemaat di kampung-kampung yang tidak sekolah. Lagu-lagu yan satu dua kali didengar langsung dihafal. Juga sesuai dengan karakter musik daerah. Lihat saja buku-buku nyanyian liturgi macam MADAH BAKTI atau PUJI SYUKUR. Lagu-lagu asal Flores dijamin sangat sederhana, pendek, mudah dihafal, melodinya manis.

Contoh: ordinarium Misa Dolo-Dolo yang ditulis Bapak Mateus Wari Weruin, bekas kepala Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Podor, Larantuka. Gampang sekali, tapi abadi. Ini memang disengaja oleh para penulis lagu-lagu liturgi di Flores yang memang sangat paham karakter umat Katolik di Flores. Dan umat sangat menikmati nyanyian-nyanyian macam ini.

Bagaimana kalau lagu-lagu yang dipakai itu karya Mozart, Handel, Beethoven, Palestrina...? Saya jamin orang Flores tidak akan mampu. Terlalu sulit, Bung! Partiturnya pasti panjang-panjang. Fotokopi di mana? Bagaimana cara memperbanyak? Wong untuk beli makanan atau kebutuhan pokok saja susah.

Ini juga satu alasan mengapa lagu-lagu paduan suara Flores pendek-pendek. Pater Anton Sigoama Letor SVD, komponis musik liturgi, menyebut lagu eka bagian, dengan variasi solo dan kor. “Lagu eka bagian itu sederhana, tapi bisa sangat meresap ke hati umat,” ujar pater yang sudah meninggal dunia.

Saya kebetulan baru saja mendapatkan EXSULTATE, buku kumpulan lagu-lagu liturgi [paduan suara] yang disusun oleh Ferdy Levi, diterbitkan PT Nusa Indah [Ende, Flores]. Pak Ferdy komposer lagu-lagu paduan suara asal Ende. Pak Ferdy sangat produktif dan berpengaruh di wilayah Keuskupan Agung Ende. Buku ini memuat 380 aransemen paduan suara SATB [sopran, alto, tenor, bas] yang 90 persen lebih digarap Pak Fredy.

Komposisi-komposisi khas Flores: sedehana, pendek-pendek, mudah, melodius, kombinasi solo-kor. Tapi ada juga beberapa lagu “lumayan berat” ala kor-kor di Jawa. Ini tak lepas dari pengalaman Pak Ferdy belajar dan menggeluti paduan suara di Jawa. “Kalau nggak matang di Jawa, belajar di pemusik klasik dan pemusik liturgi yang hebat, kita sulit berkembang di Flores,” ujar Gregorius, teman saya asal Ende.

Dari EXSULTATE kita bisa mengetahui karya-karya para “pejuang” musik liturgi di Flores seperti Pater Pustardos SVD [misa ordinarium malam Natalnya sangat populer di gereja-gereja Katolik di Jawa], Pater Anton Sigoama Letor SVD [beberapa karyanya di MADAH BAKTI dan PUJI SYUKUR], Pater Piet Wani SVD [misa-misanya pun sering terdengar di Jawa], Pater John Ghono SVD, Pater Lais Naisaban SVD [dua lagunya di PUJI SYUKUR], Frater Albertus BHK, Jan Riberu, Martin Runi [terkenal dengan Misa Senja dan Misa Syukur].

Mateus Wari Weruin [pencipta Misa Dolo-Dolo], Alex Reba, Apoly Bala [beberapa karyanya di MADAH BAKTI dan PUJI SYUKUR, Pak Apoly pencipta lagu FLOBAMORA], Johny Oja, John Wawo, Anton Bauk, John Hayon, Pater Henri Daros SVD. Karena pengarang lagu-lagu liturgi di Flores sangat banyak, tampaknya Pak Ferdy hanya mencupilk beberapa komposisi top hits di Pulau Flores. Sebab, tidak mungkin memuat sekian banyak lagu dalam sebuah buku nyanyian.

Terlepas dari kesederhanaannya sebagai paduan suara kampung, tidak didesain untuk festival atau lomba tingkat regional atau nasional, paduan-paduan suara di Flores punya keunggulan tersendiri. Unggul apanya? Sederhana. Menjadi lagu rakyat, menjadi kor yang hidup. A living choir! Paduan suara tidak menjadi elitis macam di Jawa. Baru rajin berlatih kalau ada lomba atau festival. Setelah lomba bubar jalan. Misa-misa di gereja pun hambar karena paduan suara hanya mau mempersiapkan diri menjelang Paskah atau Natal.

Lantas, apakah perlu paduan suara dari Flores ikut lomba atau festival di Jawa dengan standar tinggi [high art]? Yah, kalau mau cari pengalaman, menambah wawasan, studi banding, sih oke-oke saja. Tapi kalau ada target bisa “berbicara”, tidak sampai menang lho, sangat musykil. Buang-buang uang percuma!

Bayangkan, orang Flores yang tidak kenal piano, tidak pernah les musik klasik, harus bertarung melawan sekian paduan suara di Jawa yang pelatihnya lulusan Austria, Amerika Serikat, Inggris, Singapura, Irlandia, yang sangat profesional. Para pelatih di Jawa ini, yang saya kenal, kerjanya ya melatih, melatih, melatih, kemudian studi musik klasik terus-menerus.

Mau dilawan?

8 comments:

  1. Betul sekale, No.Sama deng kita pung orang bikin kaset / CD lagu2 flores.yang penting bisa nyanyi,suara pas-pasan,syair jo asal-asalan po.satu bekin irama dolo semua iko,jadi beking musik dolo2 jadi saket di telinga,padahal dolo te kita pung ciri khas di flores.Kita te mo beli so di tawarkan ke rumah.Eren pira nage ata ikene bisa hope?

    ReplyDelete
  2. Bung Sosinus, bahan bakunya sih sebetulnya bagus: materi vokal, musik. Cuma kendala di proses rekaman atau studio. Rata2 rekaman teman2 NTT kurang bagus karena kalah teknologi.
    Polesannya kurang.
    Sebaliknya, penyanyi2/band2 top itu polesannya bagus meskipun materinya tidak semua istimewa. Begitulah kondisinya, Bung!
    Mo hope tou lah buat amal. Hehehe..

    ReplyDelete
  3. Halo No Lamber ...

    Anak2 NTT ternyata juga hebat2 ... tidak kalah dengan anak2 dari Jawa ... Ini buktinya

    http://youtube.com/watch?v=j_zJ1ssJRQQ

    Paduan suara ini sekarang sedang mempersiapkan diri untuk ikut kejuaraan dunia di Austria bulan July mendatang ...

    Do'akan mereka bisa berhasil mengangkat nama NTT/Indonesia di sana ...

    ReplyDelete
  4. Selamat ya! Ini kemajuan bagus untuk kita pu paduan suara di Flobamora. Anak2 kecil so bisa nyanyi bagus, bisa tampil di luar negeri. Kata orang Larantuka: noka le oa dan no!

    Sisi lain tentang paduan suara di kita pu kampung. Beta tunggu laporan dari Austria. Good luck.

    ReplyDelete
  5. Saya kira musik itu sangat tergantung dengan kebudayaan,. Makanya saya tak pernah setuju dengan LOMBA. standar apa yang mau dipake?hmmm EROPA? JAWA?FLORES?musik kalau dilomba atau dikompetisikan adalah hasil sistem komodasi...bagi saya musik itu semuanya "BAGUS" tergantung maksud, kontext tertentu..bolelah dipertunjukan tapi tak bisa diperlombakan....kriteria apa???? coba reu...
    franskupangujan

    ReplyDelete
  6. Terima kasih tanggapan dari Bung Frans.

    ReplyDelete
  7. Belajar tuh dari Keuskupan Atambua, sering menang di tingkat nasional, karena komisi musik liturgi keuskupan tersebut bekerja keras dan "bekerja sama" membuat buku Gita Bahana dan Maranatha, ada Bpk Alo Neno, ada Ibu Agnes Assy, Bpk Abraham Taek, P. Ladis Naisaban, Cornelis Baria, Bpk Carolus Kiik, Pak Amsikan; bukan mengandalkan satu orang, tetapi team; mengadakan latihan ke paroki-paroki. Mengutus para organis dan dirigen ke Pusat Musik Liturgi (PML) Jogja....

    ReplyDelete
  8. wah ada partitur.saya minta ya??

    ReplyDelete