12 April 2008

Karl-Edmund Prier SJ pengembang musik inkulturasi




Tahun 2007, Karl-Edmund Prier SJ merayakan 50 tahun imamatnya sebagai pater yesuit. Acara disemarakkan dengan konser paduan suara Vocalista Sonora dan Vocalista Divina di Auditorium Puskat Jogjakarta. Pater asal Jerman ini memang tak bisa dipisahkan dari Vocalista Sonora.

Kendati didirikan Paul Widyawan pada 1964, pekembangan Vocalista tak bisa dipisahkan dari Prier. Tur Vocalista ke Eropa beberapa kali [1976, 1988, 1992] berkat jasa dan ketokohan Karl-Edmund Prier. Orang Eropa lebih kenal Karl-Edmund Prier ketimbang Paul Widyawan, bukan?

Karl-Edmund Prier itu pastor kategorial. Berbeda dengan pastor parokial, pater-pater kategorial menangani urusan-urusan khusus di luar tugas pater-pater biasa. Latar belakangnya sebagai ahli musik membuat Karl-Edmund Prier dipercaya mengembangkan musik liturgi inkulturasi ala Indonesia.

Ini tak lepas dari "revolusi" di lingkungan Gereja Katolik pada 1962-1965 yang lebih dikenal dengan Konsili Vatikan II. Konsili ini mengubah wajah gereja, mendorong gereja untuk mengembangkan teologi yang lebih kontekstual. Termasuk musik liturgi.

Maka, Serikat Jesus (SJ) memercayai Pater Karl-Edmund Prier SJ pada 11 Juli 1971 sebagai direktur Pusat Musik Litugi atau PML. PML mengemban misi mengembangkan musik liturgi dengan bahan dasar musik rakyat dari seluruh daerah Indonesia. Pater Prier pun masuk kampung ke luar kampung, belajar, diskusi, bikin lokakarya, membuat komposisi, aransemen... lagu-lagu baru. Semuanya demi memperkaya musik liturgi Indonesia.

Karl-Edmund Prier mendalami gamelan jawa sampai matang. Ia juga belajar musik Dayak, Batak, Minang, Flores, Papua, Maluku, Timor, Sulawesi. Jangan heran di tulisan-tulisan internasional Karl-Edmund Prier selalu disebut-sebut sebagai "salah satu pegiat world music" di Indonesia.

Nah, komposisi-komposisi hasil lokakarya kemudian diterbitkan sebagai buku partitur paduan suara oleh PML Jogjakarta. Biasanya kor campur: sopran, alto, tenor, bas. Pater Prier bersama Paul Widyawan lah yang paling dominan dalam penulisan tata suara atau aransemen. "Ingat PML, ya, ingat dua nama ini: Karl-Edmund Prier dan Paul Widyawan," begitu gurauan teman-teman aktivis paduan suara Katolik pada 1990-an.

Nama PML dan Karl-Edmund Prier semakin menasional [maksudnya di lingkungan Katolik] setelah Konferensi Waligereja Indonesia alias KWI merekomendasikan MADAH BAKTI, buku nyanyian terbitan PML, sebagai buku acuan liturgi di Indonesia. Berbeda dengan buku-buku nyanyian gerejawi lain, MADAH BAKTI didominasi lagu-lagu inkulturasi. Ada misa gaya Flores, Timor, Jawa, Sunda, Karo, Batak, Dayak, Papua, Keroncong, dan sebagainya. Suasana misa pun kian meriah khas barisan bhinneka tunggal ika.

"Tentu ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan tradisi musik liturgi dari Barat. Maka, paling baik dibuat variasi: Barat dan Timur, juga masing-masing daerah di Indonesia," ujar Karl-Edmund Prier dalam berbagai kesempatan.

Karena itu, meskipun gencar membuat komposisi inkulturasi, Pater Prier tetap menerbitkan buku-buku paduan suara ala Barat. Juga merilis kaset-kaset/CD paduan suara bagaimana seharusnya lagu-lagu itu dibawakan. Kor mana lagi kalau bukan Vocalista Sonora yang diajak Pater Prier.

"Lokakarya komposisi ini tidak akan bisa dihentikan. PML jalan terus dengan program-programnya," ujar Pater Prier kepada saya di Pandaan, Kabupaten Pasuruan, beberapa waktu lalu. Saat itu Pater Prier diundang sebagai pembicara dalam sebuah lokakarya liturgi di Jawa Timur.

Sengaja saya tanyakan perkembangan PML karena sejak 1992 KWI mencabut rekomendasi untuk MADAH BAKTI. Gereja-gereja Katolik di Jawa menganti MADAH BAKTI dengan PUJI SYUKUR. Lagu-lagu inkulturasi berkurang drastis di PUJI SYUKUR. Tentu saja gerak-gerik Pater Prier bersama Paul Widyawan tidak selincah ketika MADAH BAKTI masih merajalela di Indonesia.

"PML itu bukan lagi Pusat Musik Liturgi, tapi Perusahaan Madah Laris," begitu pelesetan PML pada 1990-an. Maklum, MADAH BAKTI dicetak ulang puluhan kali sehingga lembaga ini sangat makmur masa itu.

Memang pada 1990-an banyak sekali kritik terhadap PML dan MADAH BAKTI. Sebaliknya, Pater Prier dan timnya pun beroleh banyak pujian. Sampai sekarang Pater Prier selalu dijadikan rujukan dalam pembinaan paduan suara di Gereja Katolik. Kalau ada lomba atau festival paduan suara, coba anda perhatikan meja dewan juri. Salah satunya [hampir] pasti Pater Karl-Edmund Prier SJ.

"Romo Prier itu guru yang baik. Beliau selalu memberi semangat kepada paduan suara. Nggak main kecam saja, apalagi mengeluarkan kata-kata kasar. Romo Prier itu londo [orang Eropa], tapi njawani," ujar Bu Bambang, pianis dan pegiat paduan suara di Malang, guru vokal saya zaman dulu.



Suatu ketika Pater Prier ikut misa di Gereja Katolik Pandaan. Saya pun ikut. Paduan suaranya bukan kor inti, melainkan salah satu lingkungan di Paroki Santa Theresia itu. Pandaan kota kecil yang bukan kiblat paduan suara di Jawa Timur.

Saya menilai paduan suara saat itu biasa-biasa saja, tidak istimewa. Setelah misa, anggota paduan suara menemui Pater Prier di samping gereja. "Bagaimana Romo paduan suara tadi?" tanya salah satu ibu.

"Oh, bagus sekali. Proficiat ya! Tolong dipertahankan dan dikembangkan terus. Ibu-ibu di Pandaan ini ternyata hebat," ujar Pater Prier sambil tersenyum ramah. Senyumannya tulus, tidak dibuat-buat.

Saya agak heran: "Masak, kor kayak begini dibilang hebat. Apa Pater Prier tidak salah bicara? Ukurannya apa? Kok beda dengan standar paduan suara yang tinggi di tulisan-tulisannya, ya?"

Belakangan baru saya tahu bahwa Pater Prier ini memang tidak pernah mencela paduan suara. Kalaupun mengkritik, caranya sangat halus. Mental dan semangat paduan suara dijaga jangan sampai merosot gara-gara dikritik. Karena itulah, beliau selalu menjadi "idola" para pembina paduan suara gerejawi di daerah-daerah.

Menekuni musik liturgi dan etnik sejak 1971 membuat Pater Prier sangat paham potensi manusia-manusia Indonesia di bidang musik. Tahu kalau saya berasal dari Flores, cukup dengan melihat wajah dan bentuk tubuh, Pater Prier memuji musikalitas orang Flores. "Pulau Flores sejak dulu terkenal dengan lagunya yang merdu. Mungkin karena itu orang Portugis memberi nama 'Flores' yang berarti pulau bunga," ujar Pater Prier.

Di lingkungan Gereja Katolik, kata Pater Prier, Flores merupakan pelopor inkulturasi musik liturgi di Indonesia. Sebut saja Misa Dolo-Dolo [Mateus Wari Weruin], Misa Damai [Theo Mukin], Misa Cinta Kasih [Apoly Bala]. Pater Prier mengakomodasi begitu banyak lagu-lagu misa gaya Flores di MADAH BAKTI serta buku-buku paduan suara terbitan PML.

Mengapa Pater Prier bisa menjadi tokoh paduan suara, musik liturgi, musikolog, pendidik musik kelas jempolan? Menurut saya, Pater Prier tekun mendokumentasikan karya-karyanya dalam bentuk buku, partitur, serta kaset/CD. Dia juga punya buletin khusus musik yang terbit secara teratur. "Saya banyak menulis karena literatur-literatur berbahasa Indonesia sangat sedikit, bahkan tidak ada. Padahal, paduan suara perlu referensi," paparnya.

Buku karya Pater Prier yang selalu menjadi rujukan para dirigen paduan suara adalah MENJADI DIRIGEN. Ada tiga jilid dan sangat komprehensif. Buku I [sampul kuning] tentang teknik direksi. Buku II [warna merah] cara membentuk suara. Buku II [sampul hijau] bagaimana mengelola paduan suara, persiapan pentas, latihan yang menarik, rekrutmen anggota, hingga cara memakai mikrfon. Uraian Pater Prier dibuat sederhana sehingga mudah dipraktikkan.

Opus magnum Pater Prier adalah buku SEJARAH MUSIK [1992] terbitan PML, yang ia kelola sendiri. Ada tiga seri kalau tak salah dikerjakan bersama Dieter Mack, musikolog yang dikenal kritis dan blak-blakan. Buku SEJARAH MUSIK beroleh pujian dari banyak pengamat musik serius di Indonesia. Bahkan, dijadikan pegangan di akademi/fakultas musik.

Suka Harjana, kritikus musik yang sangat kritis itu, menyanjung habis karya Pater Prier dan Dieter Mack lewat resensi panjangnya di harian KOMPAS. "Belum pernah ada buku seperti ini di Indonesia," kata Suka Harjana.




Bagaimana pandangan Pater Prier tentang musik klasik dan perkembangan musik di Indonesia? Menurut dia, musik klasik itu sangat matematis, api, teratur, dan indah. Mozart mendesain musiknya dengan perhitungan yang matang.

Mengapa musik klasik dikatakan terlalu matematis?

“Filosof pertama dalam filsafat musik adalah Pythagoras (570-480 SM) dari Yunani. Ia mengupas musik dari relasi angka seperti proporsi-proporsi dalam interval. Kemudian murid Pythagoras melengkapi pandangannya ke dalam dunia transenden, sehingga menjadi satu kesatuan. Bahwa musik adalah sebuah kosmos atau ciptaan teratur,” papar Pater Prier.

“Fantasi Mozart tak terhingga, sehingga musik sederhana menjadi lebih indah,” papar Pater Prier. Namun, mempelajari musik klasik bukan perkara yang mudah. Agar bisa membawakan komposisi klasik secara benar orang harus giat berlatih untuk menemukan akurasi nada, tempo, dan rasa. Banyak notasi yang sulit dimainkan.

“Musik klasik harus dihidupkan dari hati kita karena musik klasik ada di dalam hati. Ia adalah kesempurnaan di dalamnya dan dapat mencerminkan diri kita,” papar Pater Prier. Pernyataan ihwal musik klasik ini saya kutip dari seminar Pater Prier di Bandung tahun 1997 lalu.

Bagi umat kristiani, musik klasik bukan sekadar apresiasi musikalitas dan kebutuhan hiburan saja, tetapi sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Musik di mana pun selalu berhubungan dengan agama masyarakat.

“Musik klasik adalah sebuah kegiatan kontemplasi. Yaitu, sebuah cara untuk mencari kebenaran melalui musik. Itulah yang dilakukan Mozart, Schubert, Haydn... melalui karya-karyanya."

Bagaimana dengan perkembangan musik di Indonesia?

“Musik zaman sekarang terlalu cepat selesai, cepat puas. Hal itu didukung oleh kondisi alam Indonesia yang subur sehingga membuat sebagian besar masyarakatnya malas,” katanya.

Musik modern di Indonesia sangat dipengaruhi oleh musik-musik yang berkembang di Inggris dan Amerika. Kita pun hanya bisa menjadi konsumen. Padahal, Indonesia punya kekayaan khazanah musik tradisional yang sangat diminati oleh pecinta musik di dunia.


ALAMAT KONTAK
Karl-Edmund Prier SJ
Direktur Pusat Musik Liturgi
Jalan Ahmad Jazuli 2 Jogjakata 55224
Telepon: 0274 566695
Faksimili: 0274 541641

24 comments:

  1. pater prier luar biasa!!! salut deh sama beliau.

    ReplyDelete
  2. lambertus, romo prier memang hebat di musik liturgi, dah dikenal di mana2, tapi gak ada tulisan ttg beliau di internet. anda sudah merintis tulisan itu. proficiat!

    gaby

    ReplyDelete
  3. Get your Online Lyric song in http://www.lyrics-x.com

    ReplyDelete
  4. 100. father prier is the best catholic liturgical musician in indonesia. peace be with you!

    ReplyDelete
  5. bgm nasib madah bakti skrg? soalnya gak dipake lagi di gerejaku. syalom.

    fred

    ReplyDelete
  6. L. Putut Pudyantoro3:04 AM, December 26, 2008

    Saya pengagum Lagu-lagu inkulturasi Madah Bakti. Saya juga pengagum Romo Prier dan Mas Paul Widyawan. Bagi saya secara pribadi karya dan kemampuan beliau berdua sangat inspiring. Pada era ini tidak ada yang lebih hebat dari beliau berdua dalam menciptakan maupun mengarransir lagu daerah dimana warna kedaerahan setempat sungguh-sungguh sangat kental dan berciri khas sekali. (L. Putut Pudyantoro / Komisi Liturgi KAJ)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, saya juga penggemar lagu2 liturgi karya mas putut. indah, bekelas, dan membekas di hati. gayanya beda dgn rm prier dan paul widyawan, tapi asyiiiik. saya malah kurang suka lagu2nya paul widyawan... rasanya gimna gitu..

      Delete
    2. Saya pengagum sekaligus murid maestro organ Romo Prier dan pak Paul Widyawan (walaupun murid yg agak bandel..), selain itu saya juga menyukai lagu-lagu karya pak Putut. Saya berharap semakin banyak karya musik liturgi serta musik (rohani) gereja yang dihardirkan semakin terpacu pula kami (para organis maupun calon organis gereja) menghadirkan iringan yang baik.. Berkah Dalem

      Delete
  7. yah, rm prier memang langka n hebat. kita pantas malu krn justru org barat yg mendalami musik tradisi kita.

    ReplyDelete
  8. Penyemangat,terbuka,hangat.Begitu kesan kami dengan beliau ketika bertemu pertama kali secara langsung sekitar 3 tahun yang lalu.Sebelumnya kami mempunyai rasa takut mau menemuinya untuk berkonsultasi tentang anak kami yang senang memainkan alat musik piano,violin.Di luar dugaan kami diterima dengan sukacita."Tak ada yang salah medampingi ,menemani anak bermusik" komentar Romo Edmund tentang pertanyaan kami.Bahkan anak diberi kesempatan bermain trio (piano,2 violin).Kami menamai kelompok ini Svara 62 (suara lare) Borobudur Chamber Orchestra.

    ReplyDelete
  9. Almatia Nuri Kristanti12:47 AM, August 17, 2009

    Sosok seorang Romo Prier mungkin saat ini menjadi sangat melekat dan bermakna bagi hidup saya saat ini. hal ini tidak lain karena tugas akhir yang saya kerjakan di bawah asuhan beliau mampu membuat saya semakin mau menimba ilmu bermusik saya.
    ada info baru, PML(Romo Prier) telah membentuk suatu buku bagus lagi dengan judul Kamus Musik. buku yang sangat baik sebagai sebuah referensi bagi para pecinta musik terutama di Indonesia.(Almatia Nuri Kristanti/IPPAK-USD)

    ReplyDelete
  10. pak pier is the best!!!!

    ReplyDelete
  11. Salam kenal, pak.
    mohon izin, boleh saya copy artikel ini untuk blog http://musisigereja.wordpress.com ?
    mohon komfirmasinya.

    salam sukses

    ReplyDelete
  12. Silakan Bung Pasaribu. Jangan lupa cantumkan nama penulis dan URL blog ini. Terima kasih atas apresiasi Anda.

    ReplyDelete
  13. Saya orang Malaysia dan saya juga pernah menjadi anak didiknya Rm. K. E. Prier & Pak Paul Widyawan dalam Kursus Musik Gereja & saya juga mantan anggota PS Vocason (Vocalista Sonora)... Kalau Vocason itu, sehingga kini, kayaknya masih tiada tandingannya... Sememangnya mereka berdua ini adalah idola saya dan selalu menjadi inspirasi saya.... - Desmond C. S. Malaysia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Desmon, how are you today? that's nice to hear about you. will you give an email address, so i can contact u.
      Thx n Jbu
      tata

      Delete
  14. Salam Sejahtera...
    Saya Dussell Marbun..
    Pater K.E.Prier SJ memang tokoh atau musikolog indonesia yg dpt diacungi jempol..
    karya beliau bersama Dieter Mark sangat populer di kalangan mahasiswa, contohnya di Jurusan Ethnomusicology, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara..
    Proficiat Pater...lanjutkan..karyamu banyak membantu mahasiswa dalam membuat karya ilmiah atau skripsi tentang musik tradisional indonesia.

    Salam.

    ReplyDelete
  15. Pater...saya mahasiswa Departemen Etnomusikology, fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, sumber skripsi saya banyak berpedoman dari buku-buku karangan paterK.E.Prier S J

    terimakasih pater..
    Pax et Bonum..

    ReplyDelete
  16. Setahu saya, PML satu2nya lembaga yang mengajarkan musik liturgis di Indonesia. Bergabung bersama Vocalista Sonora adalah suatu kebanggaan dan kehormatan. Di sana kita bisa memuliakan Tuhan dengan pujian yang indah. Saya masih ingat ucapan Romo Prier :"memuji Tuhan dengan lagu adalah lebih besar berkatnya."
    Skrg saya baru tahu bahwa dengan menyanyi, berarti seluruh jiwa dan raga kita benar2 memuji dan memuliakan Tuhan. Sukses buat Romo Prier dan Bpk. Paul.

    ReplyDelete
  17. Ekspresi yang pantas dan luar biasa untuk Romo Karl Edmund Prier dan Bp. Paul Widyawan. Mereka sangat lur biasa.
    Salam buat mereka.
    Terima kasih mas, sudah menyajikannya dalam blog. Sukses selalu

    tata

    ReplyDelete
  18. rm Prier telah mengbdikan hidup utk mendokumentasikan dan mengolah lagu-lagu dan musik tradisional Indonesia mengapa pemerintah menutup mata..? Sprtinya belum ada penghargaan yg diberikan pemerintah buat beliau

    ReplyDelete
  19. kita semua beruntung punya romo prier yg sudah bekerja keras selama puluhan tahun utk musik nusantara dan musik gerejawi. jarang lho ada intelektual yg tenggelam dlm kerja kebudayaan kayak gini.

    ReplyDelete
  20. Meski dari Eropa, namun Romo Prier memiliki perbendaharaan kata yang sangat bagus dalam menyusun redaksi buku-buku referensi musik dan vokal...sungguh luar biasa ...Puji Tuhan...

    ReplyDelete
  21. Untuk mengucapkan terima kasih kepada romo Prier dan bercerita tentang pengabdiannya untuk musik liturgi dalam gereja Indonesia, saya kehabisan kata-kata. Ia telah memberi seluruh dirinya dan buah yang dihasilkan sungguh berlimpah. Lokakarya musik liturgi yang dilaksanakannya bersama pak Paul Widyawan tak terhitung dan menghasilkan ribuan nyanyian inkulturatif. Dari Sumatera Utara sampai Papua. Di Flores khususnya di Kemah Tabor Mataloko telah dilaksanakan 5 kali lokakarya musik liturgi dan 1 kali lokakarya tari liturgi. Luar biasa. Perlu juga dicatat, khusus di NTT lokakarya musik bukan hanya di kalangan gereja katolik tapi juga bersama gereja kristen khususnya GMIT. Saya katakan ini bukan dari cerita orang, saya sendiri terlibat dlm lokakarya itu. "kami jadi saksinya", dapat saya katakan begitu. Tentang rm Prier dan seluruh sepak terjangnya di bidang musik liturgi, tidak cukup perbendaharaan kata untuk melukiskannya. Syukur pada Tuhan yang telah menghadirkan romo Prier untuk gereja Indonesia. Agustinus Dhae

    ReplyDelete