13 April 2008

Hermawan Kartajaya guru marketing

Lama tak datang ke Surabaya, Pak Hermawan Kartajaya masih tetap sama. Bicaranya ceplas-ceplos, lancar, mengalir, ada selingan Bahasa Inggris, dan enak didengar. Selalu ada suntikan semangat kepada pendengarnya. Orang selalu tertarik mendengar meskipun, mungkin, kata-kata motivasi itu sudah pernah kita baca di buku atau dengar dari pembicara lain.

Itu memang kelebihan Pak Hermawan yang menekuni "bisnis kata-kata". Sekarang Hermawan Kartajaya lebih dikenal sebagai ahli marketing ternama di Indonesia. Bos Mark-Plus, perusahaan konsultan marketing yang sudah bekembang di tujuh kota. Dimulai dari Surabaya, 1990, Mark-Plus berkembang luar biasa. Toh, Hermawan belum puas.

"Tahun 2010 harus juara ASEAN. Tahun 2015 juara Asia. Tahun 2020 juara dunia," tegas Hermawan serius.

Pada 2020 usia Hermawan Kartajaya 73 tahun. Apa masih mungkin punya tenaga kuat, gesit, lincah, seperti sekarang? Dia tidak menjelaskan. Yang pasti, Pak Hermawan senantiasa mencanangkan visi dan cita-cita setinggi mungkin. Ini untuk memotivasi diri, memacu adrenalin, agar visi itu bisa dijangkau. "Yang penting, future, bukan past," begitu prinsip Hermawan Kartajaya.

Saya tahu Pak Hermawan sangat serius dengan marketing. Di mana pun dia bicara marketing, marketing, marketing. Kalau diminta bicara tentang nabi-nabi dari sejumlah agama, Pak Hermawan menekankan aspek pemasaran alias marketing. "Di keluarga kami topik yang dibicarakan, ya, maketing. Anak saya yang dua orang, Michael dan Stpehany, bicaranya ya marketing."

Sebagai pembicara internasional, Pak Hermawan sangat sering terbang ke mancanegara. Singapura, Kuala Lumpur, Hongkong, New York, ibarat tanah air sendiri. Lantas, apa yang dilakukan selama penerbangan? "Nonton film, capek, tidur, bangun lagi.... Pulang ke Indonesia, menulis jadi buku. Hehehe," ujar kolumnis sejumlah surat kabar ini.

Ada tiga kegiatan yang sangat mendorong kreativitasnya: travelling, joking, showering. Ketika jalan-jalan, bercanda, mandi, selalu saja muncul ide-ide marketing untuk disampaikan kepada masyarakat. Jangan heran Pak Hermawan menulis begitu banyak buku tentang marketing karena kreativitasnya senantiasa mengalir dari tiga kegiatan sederhana tadi.

"Bagaimanapun juga saya ini kan guru. Sampai sekarang saya masih merasa sebagai seorang guru. Bedanya, saya tidak berdiri di depan kelas seperti dulu," ujarnya serius.

Sebagai kilas balik, Hermawan Kartajaya lahir dari keluarga Tionghoa miskin. Tinggal di gang kecil, Kapasan Gang IV. Ini salah satu kantung warga Tionghoa alias pecinan di Kota Surabaya.

"Papa miskin sekali. Dia kasir semacam BUMN, tapi terlalu jujur, nggak bisa korupsi. Makanya, hidup Papa pas-pasan, gak punya apa-apa," kenang Pak Hermawan Kartajaya.

Yang menarik, sang ayah melarang Hermawan masuk sekolah Tionghoa. Kenapa? "Tujuan Papa supaya anak-anaknya nasionalis. Cinta tanah air," kenangnya.

Karena penghasilan orang tua sangat sedikit, Hermawan harus ikut mencari uang pada usia remaja. Memberi les ke mana-mana. Hasil kasih les itu dipakai untuk ongkos kuliah di ITS [Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya]. Makanya, Hermawan selalu menyebut dirinya "terlahir sebagai guru". Born to be a teacher!

Saat kuliah di ITS--Pak Muhammad Nuh, menteri komunikasi dan informasi teman angkatannya--Hermawan merasa kurang sreg. Mata kuliah yang diajarkan lewat begitu saja. "Bagaimana bisa menikmati? Aku iki kan gak seneng teknik. Gak bakat lah. Aku nang E-6, Pak Nuh E-18," tutur pria yang kerap digandeng Philip Kotler, pakar manajemen terkemuka sebagai pembicara seminar atau penulis buku itu.

Tanpa gelar sarjana, karena drop out ITS, Hermawan Kartajaya menjadi guru SMAK St Louis I Surabaya. Ini karena penguasaan matematika dan fisikanya luar biasa. Hermawan Kartajaya bahkan menjadi guru favorit. Anak-anak sekolah gandrung pelajaran Hermawan. Kenapa?

"Karena saya selalu berusaha menyederhanakan materi-materi yang rumit. Saya pakai contoh-contoh konket. Membahas kubus, misalnya, saya suruh anak-anak bawa benang. Lalu, dibuat peragaan."

Hermawan memang cakap. Kapabilitasnya sebagai guru ilmu pasti tak diragukan lagi. Dia juga sudah merasa mantan di St Louis. Namun, pemerintah Orde Baru menuntut gelar sarjana [strata satu] untuk guru SMA. Diam-diam Hermawan diketahui petugas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bahwa ia belum sarjana. Kok dibiarkan mengajar di SMA St Louis? Pihak sekolah kemudian ditekan.

"Mampu tapi tanpa gelar dianggap tidak kompeten! Sebaliknya, tidak mampu tapi punya gelar dianggap mampu!" begitu kira-kira prinsip Orde Baru. Maka, posisi Hermawan mulai digoyang.

Singkat cerita, dia harus kuliah sambil tetap mengajar. Kuliahnya ekonomi di Ubaya [Universitas Surabaya]. Pelajaran-pelajaran di Ubaya dilahap habis sama Hermawan. Dosen-dosennya bahkan meminta masukan Hermawan, yang nota bene mahasiswa. "Wong apa yang diajarkan itu sudah saya baca semua. Malah sudah ketinggalan zaman," tuturnya.

Hermawan dengan cepat beroleh gelar sarjana ekonomi. Selama 20 tahun dia bekerja sebagai guru. Kemudian Hermawan muda yang cemerlang direkrut PT HM Sampoerna untuk mengelola PT Panggung. Penghasilan sebagai profesional tentu jauh lebih ciamik ketimbang guru matematika/fisika. Tapi lama-lama Hermawan jenuh. Alasannya sama: jiwanya guru.

"Teaching iku kan giving inspiration kepada orang lain supaya wong-wong iku iso change himself, supaya uripe lebih ciamik," papar Hermawan dalam gaya bahasa khasnya yang gado-gado: Indonesia campur Suroboyo campur Inggris campur Hokian.

Tahun 1990 Hermawan Kartajaya memutuskan keluar dari zone nyaman di HM Sampoerna. Dia mencari tantangan baru. Dibikinlah MarkPlus. Nama Hermawan lekas dikenal karena media massa di Surabaya, khususnya Jawa Pos dan Surabaya Post, sangat membantu mensosialisasikan ide-idenya. Hermawan sudah berpikir jauh ke depan. Bahwa marketing akan menjadi unsur penting dalam manajemen modern.

Saat itu profesi konsultan belum banyak dikenal di Surabaya, bahkan Indonesia umumnya. Hermawan sering dicibir hanya jualan omongan. Hanya bisa bicara, tapi belum tentu mampu mengelola perusahaan.

"Salah pendapat seperti itu. Saya ini mengajar, memberi inspirasi. Karena jualan saya abstrak, ya, gak kelihatan. Sama salahnya dengan pendapat bahwa pengusaha itu jahat, suka menipu," tegasnya.

"Saya tetap guru dan tidak pernah berubah. Marketing itu membuat sebuah produk [barang atau jasa] selalu dibutuhkan. Customer butuh terus," tambahnya.

Prinsip inilah yang selalu dikembangkan Hermawan Kartajaya selama menekuni profesi sebagai konsultan marketing. Apakah Hermawan Kartajaya menikmati profesi sekarang?

Tanpa ragu-ragu konsultan perbankan syariah ini [satu-satunya nonmuslim yang direkrut Bank indonesia] mengatakan sangat bahagia. Sukses materi sudah. Anak-anak sudah mandiri dan ikut jejaknya di marketing.

Menurut Hermawan, pekerjaan itu ada tiga macam: job, profession, calling. Kalau sudah tahap panggilan [calling], maka manusia akan menikmati kebahagiaan dalam pekerjaannya. Kerja dinikmati selama 24 jam, tidak lagi terikat jam kerja, atau pertimbangan-pertimbangan lain. Hidup Hermawan saat ini diabdikan untuk marketing karena itulah calling-nya.

"Di keluarga, ya, kami bicara marketing. Positioning, diferensiasi, dan seterusnya. Ketemu anak saya, Michael (31) dan Stephany (26), ya, bicara marketing. Tapi anak-anak saya juga punya their own life."

Omong-omong, apakah Sampeyan merasa kesepian di usia 60 tahun?

"Yah, bisa begitu. Ada istilah lonely at the top. Orang akan kesepian ketika berada di puncak. Tapi dari situ kita sadar bahwa pada akhirnya manusia baru bisa hidup kalau diperlukan orang lain. Terutama keluarga terdekat. Sebab, kita ini lahir karena cinta."

Hermawan mengakui saat ini sangat susah empat orang itu [suami-istri plus dua anak] bisa berkumpul sama-sama. Michael dan Stephany tinggal di apartemen masing-masing. Hermawan berbicara di mana-mana. "Biasanya, kalau ada ulang tahun kami bisa kumpul bareng-bareng."

Yah, lonely at the top!

14 comments:

  1. Yah, itulah profil ko Chu Ha, guru kesayangan kami di St. Louis 1, Mampu tapi karena tidak S1 harus dinyatakan tidak layak. Kami juga "korban" kebijakan itu. Kalau sedang ujian, kelas kami ditinggal. Kita diajari kubus dengan bawa kubus dari besi dan benang yang diikatkan sehingga bisa melihat irisan secara nyata. dulu hal ini merupakan terobosan karena sarana yang minim. Bravo sang "GURU"

    ReplyDelete
  2. hebat, pak hermawan!!!!

    ReplyDelete
  3. p yo jg cerita ttg p hermawan yg alumni st louis, trus ngajar d sinlui
    kemampuan marketingnya hebat, membantu banyak dalam mencari sponsor

    ReplyDelete
  4. Koreksi neh, PT.Panggung itu bukan anak perusahaan dari Sampoerna Group. Tapi, sebuah perusahaan distributor elektronik Jepang. Setelah bergabung di PT.Panggung, beberapa tahun kemudian Pak Hermawan dipinang Sampoerna.

    ReplyDelete
  5. hermawan py pikiran maju melebih jamannya sgh gak dipahami yayasannya dulu. congrat!!!!

    ReplyDelete
  6. Mila ; sangat inspiratif...dan salut ama pak Hermawan..Sukses !!

    ReplyDelete
  7. Saya termasuk orang yang baru kenal dengan pak hermawan yang meiliki konsep spiritual marketing ini.

    Makasih infonya pak. kunjung balik ya.. he..he..

    ReplyDelete
  8. bangga indonesia punya hermawan kartajaya

    ReplyDelete
  9. Selamat Sore pak Hermawan,,saya baru-baru ini aja baca buku pak hermawan, sangat bagus skali..mudah-mudahan bisa seperti pak hermawan selamat Pak....

    ReplyDelete
  10. Orang Indon yang diakui Dunia kan Jarang, maka dari itu selamat buat Pak Hermawan, semoga masih terus berkreasi untuk kemajuan Negara ini.

    ReplyDelete
  11. Ada yg tahu no. untuk kontak pak hermawan gak?
    soalnya banyak yg mau ngundang Pak Hermawan jadi pembicara.

    ReplyDelete
  12. go head mr hermawan, we're your follower..

    ReplyDelete
  13. Assalamualaikum pak Hermawan,
    saya Hafid mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya, kami akan mengadakan seminar dalam rangka ulang tahun jurusan, mengharapkan kesediaan Bapak untuk dapat menjadi Pembicara dalam acara tersebut.
    ini alamat email kami seandainya Bapak Berkenan Komunikasi dengan kami.
    hafid_kholid@yahoo.com atau
    hp : 085231113600

    terimakasih atas perhatian Bapak, semoga Bapak selalu dilimpahi Kesehatan..
    Wassalamualaikum

    ReplyDelete