18 April 2008

Herlina lolos dari hukuman gantung




Herlina Trisnawati (25), gadis kelahiran Surabaya yang sempat divonis mati di Kuala Lumpur, Malaysia, akhirnya bisa bernapas lega. Kamis (17/4/2008), dia sudah berkumpul dengan orangtuanya di Krian, Sidoarjo.

MENGENAKAN busana muslimah warna merah muda, Herlina Trisnawati terlihat anggun. Beban berat yang ditanggungnya sejak 2001 tak ada lagi. Wajahnya sumringah. Dia tersenyum lepas, bahkan sesekali tertawa kecil saat ditemui di rumah orangtuanya di Desa Sidorono, Kecamatan Krian, Sidoarjo.

"Tujuh tahun delapan bulan saya tinggal di penjara. Salah kalau Abang kata saya tinggal di kota Kuala Lumpur," ujar Herlina Trisnawati kepada saya.

Yang pasti, selama tujuh tahun delapan bulan Herlina menjadi pesakitan di penjara wanita Kajang, nagara bagian Selangor, gara-gara peristiwa tragis pada 13 Agustus 2001. Karena dianiaya habis-habisan oleh majikan perempuannya, Soon Lay Chuan, Herlina melakukan aksi bela diri.

Tak ada saksi mata, selain tubuh Herlina yang luka-luka terkena benda tajam. Gadis manis ini mula-mula dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan setempat. Pemerintah Indonesia dan kalangan LSM di sini geger merespons putusan tersebut.

Melalui perjuangan panjang dan melelahkan, juga diplomasi intensif, hukuman atas Herlina pun dikurangi. Mula-mula seumur hidup, kemudian turun menjadi 18 tahun, 10 tahun. Ending-nya pada 13 April 2008 Herlina resmi dibebaskan dari penjara khusus perempuan di Kajang, Selangor. "Alhamdulillah, saya boleh bertemu lagi dengan keluarga di sini," ujar Herlina dalam Bahasa Malaysia.

Bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Kuala Lumpur sejak 2001, kemudian tersandung masalah dan mendekam sangat lama di dalam penjara membuat Herlina lupa Bahasa Indonesia. Gaya bicaranya mirip orang Melayu asli. Dia juga kadang sulit menangkap pertanyaan dalam Bahasa Indonesia. "Kalau cakap Bahasa Jawa boleh lah," tukasnya.

Dia mengaku trauma dengan peristiwa tragis pada 2001. Karena itu, sejak tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (16/4), dia enggan mengilas balik kisah masa lalu. "Saya trauma. Kita bicara ke depan saja. Saya tak mau ingat lagi kes (kasus) itu," pintanya.

Saat ditanya kegiatan-kegiatan selama di dalam penjara, Herlina sangat antusias. Menurut dia, di Kuala Lumpur sana ada sekitar seribu orang Indonesia yang berstatus tahanan dan terpidana. Napi asal Malaysia pun tidak sedikit. Karena itu, dia mengaku tak pernah kesepian. "Banyaklah ektiviti (aktivitas) saya di penjara. Laundry, jaga anak, menjahit, klinik."

Kesibukan ini selain membuatnya punya semangat hidup, juga memberi sedikit penghasilan. Uang hasil kerjanya selama menjadi napi dibawa pulang ke Sidoarjo. "Ada sikit-sikit lah. Malu saya cerita itu. Tapi saya tak kerja, jadi tak punya uang. Yang penting, sudah bisa balik kampung," ujar Herlina.

Ada pengalaman rohani khusus yang telah mengubah hidup Herlina. Ini bisa dilihat dari busana muslim yang dikenakannya secara cara bercakap ala perempuan Melayu. "Bang, dulu saya Kristian (Kristen). Saya dapat hidayah untuk masuk Islam di dalam penjara," beber putri pasangan Sutrisno dan Nanik Indrawati itu.

Di penjara, Herlina mengaku berteman dekat dengan Rahayu binti Nasaruddin, perempuan asli Malaysia. Ketika ada pengajian--istilahnya 'bermunajat bersama'--Herlina tertarik ikut. Begitu ketahuan bukan muslimah, dia diminta tidak bergabung dalam majelis itu. "Saya juga sempat dirotan. Kristian kok ikut munajat," tuturnya.

Herlina pun mengalah. Kali lain Herlina diam-diam ikut pengajian lagi yang dipimpin Ustadzah Rasyidah. Teman-temannya sesama napi meminta dia keluar dari pengajian. "Saya dihukum lari empat round di lapangan penjara," cerita Herlina lalu tertawa kecil.

Meski niat sudah kuat, si pembimbing rohani meminta Herlina untuk berpikir lagi sebelum memutuskan jadi mualaf. Sebab, agama tidak boleh dipakai main-main. "Ustadzah kata kalau dah masuk tak boleh keluar. Alhamdulillah, saya masuk Islam tahun 2006. Badan saya menggigil saat mengucapkan syahadat," kenangnya.

"Apa Herlina nak balik ke Malaysia?" pancing saya.

"Saya tak nak balik ke KL lah. Dah cukup lah pengalaman saya di sana," tegasnya. Dia juga mengaku belum punya rencana setelah berada di tengah keluarganya. "Saya istirahat dulu."

Nanik Indrawati, ibunda Herlina, lantas menghentikan wawancara yang berlangsung akrab ini. "Sudah cukup, Mas. Herlina mau ke Surabaya dulu. Dia perlu istirahat. Jangan diajak bicara terlalu lama," kata Nanik dengan nada tinggi.

Sebelumnya, dalam percakapan terpisah, Nanik mengaku sudah yakin sejak awal bahwa putrinya akan bebas. "Saya selalu berdoa dan saya percaya Tuhan pasti membebaskan anak saya. Puji Tuhan, sesuai dengan keyakinan saya, tahun 2008 ini saya bisa kumpul lagi dengan anak saya," ujar wanita evergreen yang aktif di Gereja Bethany ini.

Nanik mengaku sudah lima kali ke Kuala Lumpur--atas bantuan pemerintah dan Aliansi Buruh Migran--untuk meminta keringanan hukuman. Dari situlah ia diyakini para pengacara bahwa posisi Herlina sangat kuat. Dan sejak 2001 ia bersama para jemaat gerejanya tak henti-hentinya berdoa untuk Herlina.

"Akhirnya, mukjizat Tuhan benar-benar datang," tegasnya.

Nanik sejak 2003 memilih menyepi di pelosok Krian gara-gara kasus Herlina. Sebelumnya, ia tinggal di kawasan Ngagel, Surabaya. "Herlina biar di sini saja. Bantu-bantu saya jualan atau apa lah. Kita harus ambil hikmah dari kejadian ini," katanya.

No comments:

Post a Comment