14 April 2008

Geliat musik klasik di Surabaya


Thomas Tobing lagi resital di Surabaya. [Foto: Suara Surabaya]


Surabaya sebagai kota dagang sejak dulu bukanlah kiblat musik klasik. Orang-orang yang tinggal di kota yang sangat sibuk biasanya lebih suka musik hiburan, klangenan, untuk melepas stres. Karena itu, tidak heran sampai sekarang pun--meski Surabaya tak kalah sibuk sama Jakarta--penggemar musik klasik di sini tidak banyak. Hanya segelintir elite masyarakat yang sadar bahwa musik klasik (Barat) itu penting. Khususnya bagi pendidikan anak-anak.

Konser-konser pemusik klasik besar, orkes simfoni dunia, pun tidak pernah diadakan di Surabaya. Paling tidak selama 10 tahun lebih tinggal di Surabaya saya belum pernah melihat ada symphony orchestra kelas dunia yang mampir ke Kota Pahlawan. Paling-paling ya kunjungan "pemusik liburan" yang dibawa beberapa perwakilan asing. Yang nonton pun hanya 100-200 orang.

Kalau ada konser bernuansa pop--semacam Twilite Orchestra pimpinan Addie MS--ramai sekali. Wajar karena nuansa hiburan di Twilite sangat kuat. Anak-anak muda, mahasiswa, sangat suka, apalagi ada bintang tamu penyanyi pop terkenal.

"Orang Surabaya memang sulit kalau diajak melihat sajian musik klasik murni. Boleh klasik, tapi jangan berat-beratlah," ujar Hadi, penggemar musik klasik ringan. Hadi mengursuskan anak-anaknya di sekolah musik sejak dini.

Tapi dalam dua bulan ini--Maret dan April 2008--geliat musik klasik di Surabaya cukup baik. Ada konser-konser kecil. Lokakarya. Bahkan, Radio Suara Surabaya FM 100 merayakan ulang tahun ke-25 dengan menggelar lomba dan resital piano. Schopan Piano Competition demikian tema festival ala Suara Surabaya.

Radio bermarkas di Wonokitri Besar 40 ini memang dari dulu punya program musik klasik tiap Minggu malam meski penggemarnya sedikit. Namun, Pak Errol Jonathans sebagai salah satu pimpinan di SSFM merasa perlu memberi tempat yang pantas kepada musik klasik, khususnya piano.

Lomba piano, seperti biasa, selalu meriah. Asal tahu saja anak-anak di Surabaya gandrung les piano. Bisa saja dipaksa papa mamanya yang waktu kecil tidak punya kesempatan (dan uang) untuk belajar piano. Belajar musik klasik, kata sekolah-sekolah musik, bisa menambah kecerdasan, memaksimalkan potensi anak. Maka, lomba piano khusus karya Schopan pun dihelat di CCCL (Pusat Kebudayaan Prancis). Ramai sekali! Suara Surabaya juga mendatangkan Thomas Tobing untuk resital piano.

Bukan main Suara Surabaya ini, kata saya dalam hati. Sebab, hajatan 25 tahun dengan musik klasik risikonya tidak ada gebyar. Penonton sedikit. Berapa sih kapasitas CCCL yang sempit itu? Tapi mungkin saja musik klasik bisa menunjukkan kelas SSFM yang intelek, kosmopolit, elite. Apa pun SSFM ikut membantu menghidupkan musik klasik di Kota Surabaya.

Hampir bersamaan pianis Ananda Sukarlan pun menjenguk Surabaya. Resitalnya menarik--ingat, Ananda pianis kelas dunia--meski hanya mendapat tempat kecil di surat kabar utama. Kita memang belum memberikan apresiasi yang proporsional kepada Ananda, sang duta budaya.

"Kok beritanya nyelempit di koran? Masa, gak tahu kalau Ananda itu pianis berpengauh di dunia? Wartawan ngerti musik gak?" gugat seorang pengamat musik. "Masih bagus ada liputannya. Kita masih bisa bersyukur," bilang saya menghibur dia.

Yang juga patut dicatat, pekan pertama April 2008 ada konser Lita Liviani Tandiono, remaja 12 tahun. Sebagaimana anak-anak orang berada lain, Lita ikut kursus sejak dini, tepatnya 4,5 tahun. Biola, piano, cello, flute. Karena papa mamanya kaya, Lita diberi kesempatan unjuk bakat di hotel bintang lima. Dikemas dengan bagus, ditulis panjang lebar di koran. Padahal, itu tadi, resital Ananda Sukarlan ditulis pendek saja, bahkan sama sekali tidak ditulis di sejumlah media cetak.

Hehehe.... Begitulah keanehan wartawan musik di Surabaya. Belum bisa membedakan mana emas mana loyang, mana pemusik dunia mana pemusik bocah yang dipaksa papa mamanya. Akhirnya, media massa belum bisa menjadi media untuk memberikan edukasi musik kepada warga. Puji-pujian luar biasa kepada si bocah, Lita Liviani Tandiono, rasanya berlebihan. Kapan apresiasi musik klasik di Surabaya berkembang kalau iklimnya tak kondusif macam sekarang?

Pada 15 April 2008--Super Tuesday, istilah Solomon Tong--Surabaya Symphony Orchestra (SSO) gelar konser besar bertajuk The Spring Concert. Surabaya lagi musim semi? Hehehe... Ini cuma sekadar nama, Bung, biar keren ala orkes-orkes simfoni di Eropa yang empat musim. Pak Tong--pendiri, dirigen, manajer, penulis orkestrasi--tetap semangat menyajikan musik klasik kepada khalayak Surabaya. SSO ini punya penggemar tetap sekitar seribu orang. Mereka ini keluarga, teman-teman, dan relasi pemain, selain penyuka musik klasik.

Saya sempat menyaksikan latihan persiapan SSO pada Minggu (13/4) malam di Jalan Gentengkali 15 Surabaya. Pak Tong dan para pemain penuh semangat, kerja keras, meski selalu ada humor selama latihan. Kalau ada bagian-bagian yang kurang pas, diulang, sambil Pak Tong mengingatkan dengan guyonannya yang khas. Para pemain, sebagian besar anak-anak muda gaul, tertawa renyah.

Ternyata, lebih asyik menonton orkes simfoni saat latihan ketimbang di atas panggung. Kita punya kesempatan mengenal sosok dirigen, solis, pemain, serta para awak di balik sebuah symphony orchestra.

"Tetres, kamu sudah makan belum? Kok tadi ak kelihatan?" tanya Ibu Ester Karlina Magawe, pianis yang juga istrinya Pak Solomon.

"Sudah, Bu, saya tadi makan di luar," jawab Tetres Susanto, pemain flute asal Institut Seni Indonesia Jogjakarta. Ibu Karlina pun tersenyum. Takut Tetres kelaparan di Surabaya ya?

Suasana kekeluargaan memang sangat terasa saat latihan. Tak heran, seorang dosen musik dari Universitas Negeri Surabaya pernah mengatakan kepada saya bahwa suasana konser SSO itu ibarat arisan atau hajatan keluarga. Tapi justru dengan suasana "kekeluargaan" inilah SSO masih terus mengelar konser sedikitnya tiga kali setahun sejak didirikan pada 1996.

6 comments:

  1. Get your Online Lyric song in http://www.lyrics-x.com

    ReplyDelete
  2. Lalu bagaimana menurut Anda cara mengubah pandangan mana yang lebih penting, mana yang tidak dalam peliputan musik?

    ReplyDelete
  3. Caranya ya melalui pendidikan, khususnya di sekolah dan rumah tangga. Apresiasi. Zaman dulu TVRI punya program apresiasi musik klasik, bernyanyi bersama Pak Pranajaya, dan sebagainya. Sekarang mana ada di televisi swasta?

    Sekolah-sekolah mulai SD sampai SMA harus punya guru musik yang setidaknya punya apresiasi. Ini yang celaka karena sulit tersedia. Awak media itu kan produk masyarakat juga. Dus, menggambarkan kadar apresiasi masyarakat terhadap musik.

    Terima kasih Anda sudah membaca tulisan saya. Salam.

    ReplyDelete
  4. Mas, karena udah nyinggung2 nama Ananda Sukarlan di atas, hehehe.... sekalian saya info
    Tgl. 02 Mei 2010 yad, AMADEUS Performing Arts dan BRILLANTE Enterprise akan menyelenggarakan pertunjukan musik yang mengangkat karya2 Ananda
    Performernya adalah siswa2 sekolah musik dan musisi independen surabaya
    Ananda sendiri akan hadir untuk memberikan coaching clinic, masterclass, dan juga tampil dalam pertunjukan tsb
    Untuk bisa bergabung sebagai performer, kami mengadakan 2 kali audisi, yang pertama sudah dilangsungkan 27 Feb yang lalu, yang berikutnya 20 Maret 2010 yad
    Untuk lebih jelasnya mungkin bisa kontak melalui FB saya.....
    TQ b4


    Patrisna Widuri
    AMADEUS Performing Arts

    ReplyDelete
  5. Replies
    1. gak popo, sing penting isu tuku piano, tuku guru, konser opo wae iso... gak sugih ya.. cukup ndelok Ayu Ting Ting alamat palsu. suwun wis komen. salam damai.

      Delete