04 May 2008

Empat calon gubernur Jawa Timur

Pemilihan langsung gubernur Jawa Timur dijadwalkan pada 23 Juli 2008. Tapi gaungnya sudah ramai sejak lama. Di mana-mana ditempel poster bakal calon gubernur dan wakilnya. Coba anda jalan-jalan ke pelosok Jatim: poster-poster ada di mana-mana. Semua kandidat berbusana ala santri nahdliyin.

Semua merasa dekat kiai, orang nahdliyin, paling berhak memimpin provinsi besar ini. Wuih, wuih.... Sing gak santri, opo maneh arek-arek minoritas kayak kita orang, ya, cukup dadi pemantau ae! Pokoke, ikut menyukseskan pigub langsung pertama di Jawa Timur ini.

Saat liburan begini, iseng-iseng saya bikin catatan tentang para bakal calon gubernur. Disebut bakal calon karena nama-nama yang beredar sekarang belum ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum Jatim. Mereka-mereka itu orang yang rumonso calon, merasa sebagai calon gubernur. Rumongso iso mimpin Jatim periode 2008-2013. Ambisi tinggi penting bagi politikus Indonesia, bukan?

KHOFIFAH INDAR PARAWANSA
Surabaya, 19 Mei 1965

Khofifah, menteri pemberdayaan perempuan pada era Gus Dur, calon gubernur Jatim yang paling belakangan muncul karena proses politiknya panjang dan berliku. Arek Suroboyo asli ini--dulu tinggal di kampung Wonocolo--tadinya diincar oleh partai-partai besar, tapi sebagai wakil gubernur.


Khofifah menolak. "Saya hanya mau maju kalau posisi saya nomor satu, bukan nomor dua," tegas alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga.

Khofifah diusung Partai Persatuan Pembangunan bersama 12 partai nonparlemen. Koalisi ini rapuh karena bisa saja di tengah jalan ada yang mbalela. "Saya dan teman-teman mencalonkan Khofifah karena kemampuannya. Dia cerdas, pernah jadi menteri. Jantas pantas kalau jadi gubernur," ujar Rudi Sapulete, ketua Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK) Jawa Timur, kepada saya. Rudi koordinator koalisi partai-partai kecil nonparlemen.

Berpasangan dengan Pak Mudjiono, bekas Kasdam Brawijaya, pensiunan mayor jenderal, Khofifah Indar Parawansa merupakan kuda hitam dalam pemilihan gubernur Jatim mendatang. Saya beberapa kali mewawancarai Khofifah. Orangnya cerdas, jago debat, bicara pakai angka dan data. Indikasi bahwa Khofifah suka membaca dan serius mencermati situasi sosial dan politik. Khofifah banyak mengangkat indeks pembangunan manusia atau IPM Jatim yang terpuruk di tanah air.

"Masak, provinsi kayak kok banyak orang miskin, buta hurufnya banyak sekali," ujar Khofifah saat kami jumpai di kantor Radar Surabaya belum lama ini. Sebagai ketua umum Muslimat Nahdlatul Ulama, Khofifah punya mesin politik yang siap mengegolkan dirinya sebagai gubernur. Apalagi, dia didukung oleh Pak Hasyim Musyadi [ketua umum pengurus besar Nahdlatul Ulama] serta sejumlah kiai penting di lingkungan NU. Khofifah itu nahdliyin tulen.

"Saya satu-satunya calon gubernur Jawa Timur dari unsur NU," katanya.

Lha, kalau Pak Ali Maschan, Pak Achmady, Gus Ipul? "Mereka kan cuma calon wakil gubernur. Komunitas nahdliyin itu kan mayoritas di Jatim. Ya, seharusnya ambil posisi gubernur dong, bukan wakil gubernur. Hehehe," ujar Khofifah mantap.

Sejak kecil Khofifah aktif di organisasi. Jadi ketua kelas, ketua organisasi siswa intra sekolah, mengurus pengajian, debat dan diskusi di mana-mana. Saat kuliah di Universitas Airlangga, Khofifah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Organisasi yang semakin mematangkan Khofifah untuk terlibat dalam aktivitas sosial politik.

Maka, ketika dijegal dengan isu "keimamam perempuan", Khofifah tenang-tenang saja. Khofifah menjawab dengan cerdas, pakai rujukan yang komprehensif. Bagaimana mau dijegal? Wong yang mencalonkan dia PPP, yang sejak dulu dikenal sebagai partai Islam?

Khofifah Indar Parawansa menjadi darah segar di pemilihan gubernur Jatim. "Begitu melihat Khofifah muncul, saya batal jadi golput deh. Gairah saya bangkit lagi. Saya pasti coblos," kata Jeremias, teman saya, aktivis politik.

Coblos yang mana? "Hehehe... Sudah jelas lah. Bung sudah tahu lah," kilah teman saya ini.

SUTJIPTO [PDI PERJUANGAN]
Trenggalek, 19 Agustus 1945

Sutjipto terlambat muncul karena DPP PDI Perjuangan terlambat merekomendasikan nama bakal calon gubernur. Tadinya, suara pengurus partai banteng di daerah memenangkan Pak Karwo. Tapi proses politik di tingkat elite Jakarta mengatakan lain. Pak Tjip yang justru dapat restu Ibu Megawati Soekarnoputri.


Pak Tjip kader banteng gemuk tulen. Insinyur cum politikus ini berjasa mempertahankan partai di masa-masa paling sulit menjelang kejatuhan Orde Baru. Ketika hampir semua orang cari selamat, membebek pada rezim Pak Harto, Pak Tjip berani pasang badan untuk mempertahankan idealisme politiknya yang pro wong cilik. Maka, dia jadi ketua PDI Jatim versi Promeg. Latif Pujosakti ketua PDI Jatim versi pemerintah.

Ketika markas PDI di Jakarta diserbu, 1999, Pak Tjip juga berjasa. Dia habis-habisan di lapangan, menjadi tangan kanan Megawati. Setelah reformasi dia masuk MPR menjadi ketua fraksi. Sayang, dia gagal mengantar Megawati sebagai persiden karena kurang pandai berdiplomasi dan bikin manuver.

Sejak itu Pak Tjip anteng di Jakarta sebagai anggota parlemen, tapi pamornya merosot. Popularitas Pak Tjip di kalangan aktivis PDIP di daerah juga kurang baik. "Pak Tjip itu sudah berubah, nggak kayak dulu masih berjuang. Dia ikut-ikutan elitis," kata sejumlah kader PDIP di Sidoarjo kepada saya.

Jangan heran, saat konfercab untuk memilih bakal calon gubernur Jatim, Pak Tjip kalah sama Pak Karwo yang bukan kader PDIP. Lalu, kenapa DPP berkeras memajukan Pak Tjip? "Silakan tanya sama Bu Megawati. Kita ini mau menang apa kalah? Kalau Pak Tjip yang maju aku gak bisa jamin," ujar teman saya, kader banteng gemuk.

Pak Tjip berpasangan dengan Ridwan Hisjam, politikus Golkar. Ridwan, alumni Himpunan Mahasiswa Islam, pengusaha real estat, bukan orang populer. Ia selalu mengaku dekat kiai, rajin sowan ke ulama, tapi garis ke-NU-annya tidak jelas. Lain benar dengan Gus Ipul atau Pak Ali Maschan. Tentu saja, agak sulit mengharapkan Pak Ridwan menyedot suara dari kalangan santri.

"Tapi, jangan salah, suara kaum nasionalis kan utuh. Kalau NU-nya terpecah-belah bukan tidak mungkin Pak Tjip yang menang," ujar Ahmad, teman saya, aktivis Islam yang bukan NU. Kasus di Kalimantan Barat bisa jadi pelajaran. Karena kaum mayoritas terpecah belah, pemilih akhirnya memenangkan kuda hitam.

Nah, Pak Tjip ini termasuk kuda hitam. Kurang diunggulkan, underdog, tapi bisa bikin kejutan. Kekurangan utama: Pak Tjip ini lambat panas. Kalau Pak Karwo dan Pak Narjo sudah kampanye lima tahun, Pak Tjip baru kampanye enam bulan. Iklannya sedikit, duitnya pun pas-pasan, kata orang sih.

SOENARJO [PARTAI GOLKAR]
Blitar, 19 Januari 1945

Sama dengan Pak Soekarwo, Soenarjo alias Ki Dalang orang dalam birokrasi. Sekarang Pak Narjo menjabat wakil gubernur Jawa Timur. Seharusnya dia menjadi tangan kanan Pak Imam Utomo, gubernur sekarang. Tapi kelihatannya Pak Imam 'lebih dekat' Pak Karwo meskipun merestui dua anak buahnya untuk bertarung pada 23 Juli mendatang.


Kalau Pak Karwo sempat kesulitan mendapat kendaraan, Pak Narjo paling mulus. Wong dia ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur. Karena itu, dialah orang pertama yang dideklarasikan sebagai calon gubernur ketika para pesaingnya masih wira-wiri mencari perahu politik. Kantor Golkar pernah dibakar massa PKB dan NU pada 1998, tapi kini rupanya tak ada lagi dendam politik.

Pak Narjo bahkan menggandeng Pak Ali Maschan Moesa sebagai pasangannya. Pak Ali doktor sosiologi yang juga ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur. Proses masuknya Pak Ali dalam kancah pilgub sangat rumit, jelimet, kontroversial, tapi akhirnya gol juga. Orang nahdliyin itu luwes. Bisa menjelaskan apa saja secara jernih dalam posisi serumit apa pun. Termasuk mengarang alasan untuk membenarkan sikap politiknya.

Ketika sejumlah kiai NU mengkritik Pak Ali dengan argumentasi kontrak jamiyah, Pak Ali gampang saja menepis. "Kontrak jamiyah itu nggak ada. Itu kan akan-akalan saja untuk mengganjal pencalonan saya," katanya. Ketika dipecat sebagai ketua NU Jatim, Pak Ali pun enteng saja menjawab. "Wong yang pecat saya itu sudah mengundurkan diri."

Hehehe... bisa-bisa saja Pak Ali: ulama, intelektual, aktivis sosial, ulama, plus politikus ini.

Pak Narjo yakin Pak Ali bakal menyedot suara pemilih yang mayoritas NU. Dengan mesin organisasi NU yang solid di 38 kabupaten/kota, ulama-ulama berpengaruh, diharapkan suara Narjo/Ali signifikan untuk menjadi pemenang pilgub. Saya akui Pak Ali memang sosok populer. Sebagai ketua NU Jatim,Pak Ali berhasil menata organisasi, menjaga hubungan harmonis antarjemaat agama di Jatim. Kredit poinnya untuk soal ini luar biasa.

Pak Narjo termasuk tokoh yang jauh-jauh hari sudah mempersiapkan pencalonannya. Empat tahun terakhir ini Pak Narjo rajin mendalang di televisi. Blocking time alias beli jam tayang. Jadi, bukan karena kualitas pedalangannya hebat sehingga sering muncul di televisi. "Alah, Pak Narjo itu mainnya biasa-biasa saja. Lawakane Kirun ya gak lucu, garing," ujar Pak Bambang, pengamat dan penggemar wayang kulit di Sidoarjo, kepada saya.

Tapi kan Pak Narjo punya uang. Paling tidak punya penyandang dana. Sehingga, dia bisa kampanye jangka panjang, sistematis, selama bertahun-tahun. Yang jelas, seperti Pak Karwo, dia diragukan mampu mereformasi birokrasi di Jatim. Kenapa? Dia pejabat karir yang sudah karatan di dunia birokrasi. Pola pikirnya ya khas birokrat. Apakah mungkin ada terobosan-terobosan segar?

ACHMADY [PKB]
Mojokerto, 8 November 1950

Dibandingkan tiga kandidat lain, Pak Achmady paling tidak populer. Ia 'hanya' bupati Mojokerto. Lurahnya Majapahit, begitu jargon yang beredar. Ia sukses di Mojokerto, tapi namanya tidak dikenal di 37 kabupaten/kota lain. Achmady siapa? Kok ujug-ujug ada nama itu?


Jangankan awam, orang-orang Partai Kebangkitan Bangsa [PKB] pun kayaknya enggan mencalonkan Pak Achmady. Tapi mereka akhirnya pasrah gara-gara Gus Dur [Abdurrahman Wahid], ketua dewan syura sekaligus pendiri/pemilik PKB, merekomendasikan nama Pak Achmady. Ya, sudah, apa pun kata Gus Dur harus diikuti. Bisa dipecat kalau menantang Gus Dur, bekas presiden asal Jombang itu.

Munculnya Pak Achmady membuat konstelasi politik di PKB dan NU terfragmentasi. Sebab, seharusnya sebagai partai mayoritas, calon dari PKB-lah yang menang pilgub. Tapi kalau calon itu Pak Achmady, lha piye to? Maka, daripada NU tidak dapat apa-apa, Pak Ali digandeng Pak Narjo, Gus Ipul digandeng Pak Karwo. Rata-rata semua orang pesimistis Pak Achmady bakal menang.

"Kalau yang nyoblos itu cuma orang Mojokerto, ya, Pak Achmady menang. Tapi ini yang nyoblos wong sa-Jatim," begitu kata teman saya, arek nahdliyin.

Pencalonan Pak Achmady menjadi taruhan besar bagi Gus Dur. Jika menang, maka reputasi Gus Dur terangkat luar biasa. Tapi kalau Pak Achmady kalah, ya, nggak tahu lagi. "Gus Dur itu punya feeling politik yang luar biasa. Sulit ditebak orang lain. Biasanya orang baru sadar setelah kejadian," kata teman saya, bekas aktivis mahasiswa Islam.

Pak Achmady pun naga-naganya tidak punya modal besar. Iklannya sedikit. Jarang muncul di media. Gaya bicaranya macam apa tak banyak yang tahu. Wakilnya siapa pun gak jelas. Satu-satunya kelebihan, ya itu tadi, direkomendasikan langsung oleh Gus Dur. Ya wis!

SOEKARWO [PAN, DEMOKRAT]
Madiun, 16 Juni 1950

Kumisnya tebal, jadi trade mark tersendiri. Pasangannya juga berkumis, Syaifullah Yusuf alias Gus Ipul. Soekarwo ini birokrat sejati, orang kepercayaan Pak Imam Utomo, gubernur sekarang. Saat ini dia menjabat sekretaris provinsi Jatim - yah, tangan kanannya Pak Imam di bidang adiministrasi pemerintahan.


Sejak menjabat kepala dinas pendapatan daerah, Soekarwo dianggap berprestasi. Orangnya ramah, hangat, murah senyum. Meskipun birokrat, Pak Karwo bisa bergaul dengan siapa saja dari kelompok mana saja. Sejak setahun terakhir Pak Karwo kerap mewakili Pak Gubernur dalam berbagai acara penting di Jawa Timur. Apakah ini isyarat bahwa Pak Imam Utomo memang menginginkan Pak Karwo sebagai penggantinya? Hmmm... tanyakan sama rumput hijau di Grahadi.

Yang jelas, kampanye [Pak Karwo menyebut 'sosialiasi] Soekarwo sangat gencar. Sejak 2003, khususnya 2004, saya melihat banyak acara di televisi yang mempromosikan Soekarwo. Pak Karwo disebut Pak De, ya, karena dipopulerkan oleh televisi Jawa Timur. Pak De digambarkan merakyat, merespons apa saja yang dikeluhkan masyarakat. Masalah seberat apa pun dijawab Pak De Karwo dengan enteng.

Pak Karwo, meski diusung PAN dan Demokrat, Pak Karwo sebenarnya didukung oleh mayoritas pengurus PDI Perjuangan. Seharusnya ia diusung PDIP. Namun, karena proses politik, Pak Karwo terpental. Akhirnya, PAN dan Demokrat dipakai sebagai kendaraan politik. Dengan mesin politik partai yang kuat, termasuk pengurus PDIP yang main mata, Soekarwo punya modal politik luar biasa. Iklan melimpah ruah. Fasilitas birokrasi oke.

Gus Ipul, pasangan Pak Karwo, punya darah biru NU. Tapi ia sebetulnya bukan figur populer. Pernah jadi menteri, tapi kiprahnya tidak jelas. Ia juga berseberangan dengan Gus Dur dan tak punya kekuatan di struktur NU.

Pak Karwo dan Gus Ipul punya slogan: "APBD untuk Rakyat". Memangnya selama ini APBD untuk siapa? Dimakan pejabat, birokrat, dikorupsi? Banyak orang mempertanyakan moto Pak Karwo yang bisa menjadi bumerang bagi diri sendiri. Sebagai birokrat, Pak Karwo pun diragukan mampu melakukan reformasi birokrasi yang dikenal lamban, malas, dan korup itu. Pasti sisi ini akan menjadi senjata lawan-lawan politiknya.

22 comments:

  1. ternyata suka mengamati birokrasi jatim ya mas?

    ReplyDelete
  2. calonnya kok tua2. mana yg muda?

    ReplyDelete
  3. khofifan n joko subroto gimana? apa dah dapet perahu? salam kenal.

    wahyu, makassar

    ReplyDelete
  4. OO... Khofifah dan Djoko Subroto masih dalam proses mencari partai2 pendukung. Selasa 22 April 2008 ada deklarasi 13 partai--PPP dan partai2 nonparlemen--untuk mendukung Khofifah-Mujiono [bekas Kasdam Brawijaya] di Gedung Expo Jatim. Jadi, kemungkinan Khofifah menjadi calon kelima.
    Tapi masih belum aman karena partai2 kecil ini bisa sewaktu-waktu lari ke calon lain. Nah, Pak Djoko Subroto, bekas Pangdam Brawijaya, nasibnya belum jelas. Dia masih menunggu bola muntah dari partai2 cilik tadi. Paling banyak cagub Jatim memang hanya LIMA saja.

    ReplyDelete
  5. bung, ada pengaruh gak konflik di PKB sama pilgub jatim?

    ReplyDelete
  6. slm ziarah.wah..first time saya ke sini. blog ini khas untuk politik di indonesia ya?

    ReplyDelete
  7. Buat RENDAH DIRI dari Malaysia, terima kasih sudah baca blog saya. Ini blog pribadi, tak khas politik lah. Macam-macam topik yang saya ditulis: musik [muzik], wisata [perpelancongan], gerejawi [kristianiti].... Politik justru sedikit lah. Salam sejahtera!

    ReplyDelete
  8. yg bikin saya tidak respek sm p karwo adalah, sejak menjadi sekda sekaligus ketua korpri jatim, kalendernya berisi gambar2 beliau. ingin di kenal ya?. basi ... belum2 sudah menyalahgunakan jabatan. usul mas. suruh cagubnya bikin blog tentang visinya. kalo cuma pemanis saja saya pilih gak nyobloss. blos.

    ReplyDelete
  9. karwon dan narjo gak layak dipilih. keduanya birokrat lama, kepanjangan tangan imam utomo. lha uang dari mana kok bisa kampanye bertahun2? warga jatim perlu wajah baru.

    imam, malang

    ReplyDelete
  10. terima kasih pendapat teman2. ini mimbar demokrasi, semua bebas bicara asal bertanggung jawab.
    bisa saja semua calon buka website, tapi berapa orang sih yang pakai internet? penduduk jatim 36 juta, sementara pengguna internet tak sampai 4 persen.
    salam demokrasi.

    ReplyDelete
  11. gima dg pks? dukung siapa tuh?

    ReplyDelete
  12. ini calon gubernur yang rumahna dkt rumahq..

    sukses d buat KAJI

    ReplyDelete
  13. PKS kurang matang menghadapi pilkada Jatim. Awalnya PKS ngotot dukung Joko Subroto, bekas pangdam Brawijaya yang kurang berprestasi. Pak Joko ini pernah gugat pengacara Trimoelja Soerjadi gara-gara pernyataan Trimoelja dalam seminar di Graha Pena tentang sepak terjang TNI AD selama masa Orde Baru. Selling point Joko Subroto sangat rendah.

    Menjelang pendaftaran, PKS tiba-tiba beralih mendukung Soekarwo-Saifullah Yusuf alias KarSa. Manuver ini dicibir banyak kalangan. PAN dan Demokrat sebagai pengusung KarSa pun kayaknya tidak senang. Ini menunjukkan PKS tidak siap menghadapi pilgub. Kira-kira demikianlah.

    ReplyDelete
  14. yah, calone gak enek sing apik, cak.

    ReplyDelete
  15. cak, kok semuanya dah kampanya habis2an. aturane piye to? suwun
    mamat, gedangan

    ReplyDelete
  16. khofifah emang cerdas. pintar bicara. biasanya, perempuan gak suka korupsi. coblos nomor 1!!!!

    ReplyDelete
  17. anti kkn-er
    Aku suka pak Achmady, dalam pilkada mojokerto yang lalu Dia memenangkan 87 persen suara pemilih, ini bukti bahwa Dia orang yang dapat dipercaya rakyat Mojokerto. Saya dari Pasuruan turut mendoakan pak Achmady dapat memenangkan Pilgub Jatim 2008 meskipun modalnya sedikit.
    Saya takut dengan calon yang punya modal besar, jangan-jangan kalau sudah jadi gubernur minta ganti, subhanalloh.
    Semoga Pak Achmady menang.!!!

    ReplyDelete
  18. feelingku cak, mbak khofifah sing menang. wong didukung kiai2 berpengaruh, termasuk pak kiai hasyim muzadi.

    ReplyDelete
  19. Hidup Kaji! Putaran kedua insya Allah, menang!!!

    ReplyDelete
  20. Gus Dur terbukti gak laku. Achmady kalah telak. Sadarlah Pak Kiai!!

    wahyu
    surabaya

    ReplyDelete
  21. komentar2 yang rasis, merendahkan perempuan, berbau SARA, antidemokrasi dan keterbukaan... terpaksa dihapus.

    ReplyDelete
  22. aq golput cak. moga2 yg menang iso makmurno rakyat jatim. suwun ulasane sampeyan.

    ReplyDelete