18 April 2008

Elan vital Wolly Baktiono

Saya yakin penggusuran pedagang buku bekas di kawasan Jalan Semarang, Surabaya, April 2008, membuat Peter Felix Wolly Baktiono sangat sedih. Maklum, Wolly Baktiono termasuk salah satu pengunjung tetap pusat buku-buku bekas [dan antik] Kota Surabaya itu.

Kalau ada waktu luang Pak Wolly selalu mampir ke sana. Bongkar-bangkir buku, cari koleksi buku-buku antik, yang kadang sangat tinggi nilainya. "Pak Wolly itu langganan tetap saya. Orangnya sangat cinta buku," ujar seorang wanita pedagang buku di Jalan Semarang kepada saya.

Konter ibu ini--saya lupa nama--punya koleksi yang boleh dikata paling lengkap. Buku-buku klasik. Text book. Filsafat. Teologi. Humaniora. Buku pelajaran anak sekolah. Majalah dalam dan luar negeri. Hampir semuanya ada.

Pak Wolly Baktiono memang bibliofilia, pecinta buku, kutu buku. Karena itu, tokoh PRSSNI [Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional] Jawa Timur ini asyik diajak diskusi. Topik apa saja dilayani, apalagi soal radio siaran, broadcasting. Ia tahu persis seluk-beluk radio, termasuk sisi-sisi gelap radio.

"Di Jawa Timur ini banyak radio zombie. Punya izin, tapi tidak layak hidup, tapi menguasai frekuensi," ujar ayah dua anak ini--Peter Angelo Megantara dan Peter Benedicto Devantara. Kedua anaknya ketularan kutu buku dan suka diskusi. Peter Megantara lulusan ITS, Peter Benedicto lulusan Universitas Kristen Petra Surabaya.

Nama Wolly Baktiono identik dengan radio. Orang-orang radio di Jawa Timur--Indonesia juga, mungkin!--niscaya kenal bekas general manager Radio SCFM Surabaya ini. Kalau ada diskusi tentang radio, PRSSNI, hai radio, biasanya wartawan menelepon Pak Wolly minta komentar. Bisa dipastikan muncul pernyataan-pernyataan cerdas dan kritis seputar kondisi radio-radio di Jawa Timur.

Pak Wolly juga tak segan-segan "menghabisi" radio pemerintah daerah, RKPD [Radio Khusus Pemerintah Daerah]. "RKPD itu kelaminnya nggak jelas. Tindakannya seperti penguasa, tapi hasrat rezekinya seperti pedagang. Biaya operasinal tidak jelas dari mana. Dari anggaran daerah atau iklan?" kritik Wolly Baktiono. Jangan lupa, kritik ini dilontarkan Pak Wolly sejak Orde Baru ketika rezim sangat kuat dan bisa melakukan apa saja. Termasuk menciduk dan memenjarakan kritikus.

Saya senang mendengar kritikan-kritikan Wolly Baktiono baik itu secara langsung [wawancara sendiri], via radio, atau membaca tulisannya. Oh, ya, Pak Wolly Baktiono sempat menulis buku ELAN VITAL RADIO INDONESIA [Oktober, 2001]. Penerbitnya idependen, dicetak terbatas, distribusinya mengandalkan jaringan teman-teman. Saya menemukan buku jurnalisme radio ini di Jalan Semarang. "Pak Wolly titip di sini. Siapa tahu laku," kata pedagang buku bekas.

Banyak hal menarik yang dibahas Pak Wolly. Selain masalah PRRSNI, RRI, RKPD, Pak Wolly membahas kinerja penyiar-penyiar kita yang kebanyakan muncul tanpa persiapan. Cuap-cuap dengan dalih bakat alam. "Mimpi pun tidak jadi penyiar. Tahu-tahu bicara di depan mikrofon," papar aktivis sejumlah organisasi di Surabaya ini.

Otokritik Wolly Baktiono selalu konstruktif. Ia ingin agar radio-radio di Surabaya tidak sekadar bisa mengudara, tapi juga sehat. Buat apa jadi mayat hidup, zombie? Punya frekuensi, on air, tapi sejatinya bangkrut. Dan itu hanya bisa diatasi dengan BE PROFFESIONAL. Pak Wolly mengutip Mike Harrison dari Los Angeles: "If you take radio pragramming away from the radio, will the radio be the radio?"

Radio programming! Menurut Pak Wolly, ini sangat penting dan mutlak dalam dunia broadcasting kalau mau hidup di era pasar bebas sekarang. Stasiun tidak bisa lagi mengandalkan penyiar yang cuap-cuap putar kaset/CD, baca pilihan pendengar, baca SMS, putar sandiwara macam era 1970-an hingga 1990-an. Nah, cari orang yang menguasai seluk-beluk radio programming itu yang susahnya minta ampun.

Kendala lain yang tak kalah berat, papar Wolly Baktiono, di barisan pengusaha atawa pemilik radio. Tidak semua punya pikiran maju, paham manajemen radio, mau menyesuaikan diri dengan tuntutan kemajuan teknologi yang luar biasa. "Belum apa-apa mereka takut bangkrut," tulis Pak Wolly.

Menjadi brodkaster otodidak sejak 1966, Wolly Baktiono mula-mula menjadi penyiar di RRI Surabaya hingga 1974. Saat itu ia koordinator siaran mahasiswa. Asal tahu saja, di awal Orde Baru para mahasiswa memang aktif melakukan komunikasi massa dengan membuat surat kabar, radio, majalah, buletin. MEMORANDUM--sekarang dikenal sebagai koran kriminalitas utama di Jawa Timur--awalnya ya koran mahasiswa aktivis.

Kemudian Wolly mengembangkan karier di radio siaran swasta. Pernah jadi Penanggung Jawab Radio Merdeka. Sempat jenuh di radio, Wolly mencoba mengurus hotel berbintang sebagai manajer pemasaran. Lalu, kembali lagi ke radio sebagai general manager SCFM. Terakhir, direktur Radio El Victor Surabaya di Jalan Jemursari itu. Aktivitas di PRRSNI dilakoni suami Ibu Dahlia ini sejak 1983 sampai sekarang.

Seorang brodkaster senior, yang pernah menjadi kolega Pak Wolly, memuji Wolly Baktiono sebagai brodkaster hebat. Ide-idenya cemerlang. Sayang, pengusaha radio tidak sepenuhnya sejalan dengan pemikiran Pak Wolly.

"Makanya, Pak Wolly itu sering digusur dari jabatannya hanya karena like and dislike. Kalau bicara profesionalisme, Pak Wolly sangat profesional. Ia mengikuti semua perkembangan di dunia broadcasting," ujar kenalan saya yang tak perlu ditulis namanya. Yang jelas, sumber ini saya anggap hebat di dunia radio.

Wolly Baktiono juga mengajar di beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Surabaya, Universitas Airlangga, Universitas Sunan Ampel, Universitas Widya Mandala, hingga Universitas Soetomo. Pun tercatat sebagai instruktur di John Robert Powers. Pantas saja kalau penampilan Pak Wolly sangat rapi, dandy, tidak kumus-kumus seperti wartawan umumnya.

Pak Wolly sering berkata: "Cara berpakaian itu penting. Anda harus sadar akan dress for success. Bila Anda berpakaian seperti seorang pemenang, maka orang lain akan memperlakukan kita sebagai pemenang!"

Anda mau jadi pemenang?

2 comments:

  1. wah, masnya sekolahnya pindah2 (setelah liat profilny)... hehehe, gak capek kah?

    ReplyDelete
  2. suwun mas antown..
    kita ambil positifnya sajalah. pindah2 tempat membuat kita belajar adaptasi dengan lingkungan, budaya, bahasa, tradisi, agama.. lain. apresiasi kita lebih tinggi karena terbiasa dengan orang-orang lain. sebagai pendatang/perantau, kita dikondisikan untuk selalu 'mengalah', tak banyak menuntut, tahu diri. hehehe... salam.

    ReplyDelete