05 April 2008

Ching Bing di Surabaya


Pak Njoo Tiong Hoo yang saya temui di rumahnya jelang Ching Bing.

Ching Bing merupakan tradisi masyarakat Tionghoa yang sudah berusia ribuan tahun. Apa pun agamanya, orang Tionghoa selalu nyekar ke makam kerabat setiap tanggal 5 April.

“Ching Bing itu semacam tahun barunya orang-orang yang sudah meninggal dunia. Sehingga, keluarga yang masih hidup diharapkan menyisihkan waktu untuk berdoa bagi mereka,” jelas Njoo Tiong Hoo, rohaniwan Buddha, kepada saya.

Kendati hari-H Ching Bing berlangsung pada 5 April, biasanya perayaan tahunan ini bisa juga dilakukan seminggu sebelum dan sesudahnya. Karena rentang waktunya dua pekan, diharapkan warga Tionghoa punya banyak kesempatan untuk nyekar atau berdoa.

“Saya sendiri baru memimpin sembahyang Ching Bing pada tanggal 10 April. Jadi, tidak harus tanggal 5 April,” tegas pria yang akrab disapa Nugroho ini.

Menurut Njoo Tiong Hoo, hikmah yang paling penting dalam perayaan Ching Bing ada dua. Pertama, supaya masyarakat Tionghoa tidak lupa leluhur, orangtua, kakek-nenek, yang sudah tiada. “Istilahnya, biar gak kepaten obor. Bagaimanapun juga silsilah itu sangat penting bagi orang Tionghoa.”

Kedua, Ching Bing menjadi momentum silaturahmi bagi seluruh keluarga besar. Anak, cucu, cicit, yang barangkali sibuk di tempat kerjanya masing-masing, terpisah satu sama lain, bisa berkumpul kembali. Sebab, mereka tentu akan nyekar ke makam yang sama. “Biasanya, semua urunan untuk menyiapkan makan bersama,” kata pria kelahiran Surabaya 45 tahun silam itu.

Bagaimana dengan orang-orang Tionghoa yang jenazahnya dikremasi? Bukankah mereka-mereka ini tidak punya makam yang bisa diziarahi?

Menurut Njoo, sesuai dengan keyakinan Buddha, jenazah orang meninggal memang dikembalikan lagi ke alam. Setelah dikremasi, abu jenazah biasanya dilarung ke laut.
“Maka, pada saat Ching Bing seperti ini, ya, keluarga melakukan tabur bunga ke laut. Ke tempat abu jenazah dilarung dulu,” tutur Njoo.

Rohaniwan Buddha serta pegiat budaya Tionghoa di Surabaya dan Sidoarjo ini menjelaskan Ching Bing artinya terang-benderang. Acara yang jatuh setiap tanggal 5 April itu digunakan untuk bersih kubur, nyekar ke makam leluhur.

Konon, sejarah Ching Bing sudah sangat kuno. “Sejak Dinasti Han di Tiongkok,” ujar Njoo Tiong Hoo.

Suatu hari Kaisar Liu Bang yang memerintah pada era Dinasti Han (tahun 206 Sebelum Masehi hingga 220 Masehi) datang mengunjungi kampung halaman. Dia bermaksud mengunjungi kuburan leluhurnya. Namun, sesampai di kuburan dia kebingungan. Karena terlalu lama tak dikunjungi, sudah tidak ada lagi yang mengenal makam leluhur sang kaisar.

Liu Bang lalu menyuruh semua penduduk untuk mengunjungi kuburan leluhur masing-masing. Dengan cara ini, Kaisar Liu Bang bisa mengenali kuburan leluhurnya. “Nah, kuburan yang tidak dikunjungi orang itu berarti kuburan leluhur Kaisar Liu Bang,” kata Njoo.

Karena perintah dan segala tindakan raja sangat ditaati oleh rakyatnya, maka pada tahun-tahun berikutnya seluruh rakyat mengikuti jejak Kaisar Liu Bang. Pada hari yang sama, 5 April, seluruh rakyat Tiongkok pergi ke makam leluhur untuk berziarah.

Tradisi itu meluas dan berjalan turun-temurun sampai sekarang.

3 comments:

  1. Dear orang kampung,

    Koreksi :
    Ching Bing = wrong!

    Istilah nyekar dalam etnis ThiongHua yg lebih tepat adalah Ceng Beng (Hokkian) atau Qing Ming (Mandarin).

    Well, again, stay up to dated is very important in giving comments or writting.

    ReplyDelete
  2. Abu jenazah Papa saya udah dilarung di pantai di Indonesia. Saya sekarang tinggal di Australia. Saya akan tabur bunga di pantai Australia waktu peringatan Cheng Beng.

    ReplyDelete
  3. Saya tinggal di Australia. Saya akan melakukan Cheng Beng di pantai Australia, karana Papa saya abunya sudah di labuh di Pantai Kukup, Indonesia. Jadi sebenarnya setelah di labuh di laut atau sungai kita bisa memperingatinya dimana saja.

    ReplyDelete