04 April 2008

Bertemu Maylaffayza di Starbucks Cafe



Rabu, 2 April 2008. Saya berkesempatan bertemu Maylaffayza, violinis terkenal yang baru saja merilis album solo. Saya janjian dengan Adinda, staf manajemen Maylaffayza, dan jadilah wawancara khusus itu.

Tiba di Starbucks Cafe, Plasa Tunjungan, Maylaffayza sudah siap bersama Dinda. Buka laptop, kebetulan di situ ada layanan internet gratis [WiFi]. Beberapa kali perempuan anggun ini terima telepon. Selalu terlihat sibuk, tapi sangat menikmati profesinya sebagai pebiola.

Untung saya datang tepat waktu, 12:00 WIB. Andai terlambat, Maylaffayza tentu marah meski dalam hati. Saya akhirnya tahu bahwa Maylaffayza sangat disiplin. Kalau janjian harus on time, tak boleh ngaret. "Ini karena saya pemain biola yang sangat menekankan kedisiplinan," ujarnya.

Sebelumnya, dia manggung di Pakuwon, Surabaya Barat, bersama penyanyi Rossa. "Aku bukan pengiring Rossa. Yang benar, aku kolaborasi dengan Rossa," tegas Maylaffayza meralat pernyataan saya sebelumnya.

Maylaffayza memang sangat jeli. Ia ingin buktikan bahwa pebiola pada hakikatnya sama dan sejajar dengan penyanyi solo macam Rossa. Maylaffayza pemusik yang punya prinsip. Itu bisa kita baca di blognya maupun musik di album yang dirilis pada awal Januari 2008.

Akhirnya, kami berbincang-bincang cukup lama. Saya senang mendengar kalimat-kalimat Maylaffayza yang membangkitkan harapan. "Menurut saya, orang yang lemah itu justru orang yang paling kuat," katanya.

Lalu, Maylaf cerita bagaimana ia jatuh bangun, naik turun, dalam membina karir sebagai pebiola. Bagaimana ia menyiapkan album selama tiga tahun. Dan sebagainya, dan seterusnya. Saya rasa Maylaffayza tak sekadar pemusik, tapi juga motivator dan teman bicara yang baik.

Hasil omong-omong di Starbucks ini dimuat di Radar Surabaya edisi Kamis 3 April 2008, halaman satu. Redaksi menilai sosok Maylaffayza sangat kuat, punya karakter, unik, sehingga layak dimuat di front page.

Karena banyak garapan, editing-nya tidak mulus. Ada salah ketik. Kata-kata yang seharusnya di-delete ternyata tercetak di surat kabar. Yah, namanya juga manusia. Ada-ada saja kesalahannya meskipun kita sudah berusaha melakukan yang terbaik.

Berikut ini tulisan saya tentang Maylaffayza di Radar Surabaya:

*Maylaffayza, Violinis yang Mendobrak Industri Musik

Garap Cover Sendiri, Take Vokal Ratusan Kali

Dia bukan pemusik biasa. Pebiola (violinis) yang baru merilis album solo self titled ini terlibat intens dalam proses penggarapan albumnya selama tiga tahun. Dia violinis Indonesia pertama yang sukses di panggung dan rekaman.

“AKU gak mau kerja setengah-setengah. Nggak bisa instan. Artis-artis di Barat sana kalau kerja, ya, habis-habisan. Makanya, musiknya mereka bisa diterima pendengar di seluruh dunia,” ujar Maylaffayza (31) dalam wawancara khusus dengan Radar Surabaya di Starbucks Cafe, Plasa Tunjungan Surabaya, kemarin.

Perempuan kelahiran Jakarta, 10 Juli 1976, ini kemudian memutar VCD proses pembuatan sampul albumnya. Maylaf didandani ala pendekar sangar. Namun, senjata sang perempuan pendekar bukanlah pedang, melainkan biola. Dengan sorot mata tajam, rambut cokelat tergerai, Maylaf mengayunkan biolanya dengan keras.

“Ini memang obsesi saya sejak kecil. Saya kan suka komik. Saya berangan-angan kalau suatu ketika saya buat album, cover-nya seperti pendekar itu,” ujar pemain biola (violinis) yang belajar main biola sejak usia sembilan tahun. Idris Sardi, legenda biola Indonesia, adalah guru sekaligus komposer yang sangat aktif merancang musik di album ini. Dibantu fotografer Robby Agus, cover album mewakili idenya: breaking through.

Semangat mendobrak! Konsep itu juga tercermin dalam 10 komposisi Maylaf. Berbeda dengan album penyanyi atau band-band biasa yang lebih dulu melihat selera pasar, putri pasangan Taufik Wiguna dan Tuti Rochati ini mengaku menciptakan komposisi sesuai dengan hatinya. Dia juga berorientasi ke luar negeri. “Karena aku kan global citizen, warga dunia,” tukasnya.

Namun, dia buru-buru menambahkan, sebagai orang Indonesia dia pun berusaha memasukkan elemen-elemen nusantara dalam musiknya. Dan itu tidak mudah. Dia harus riset ke sejumlah pemusik tradisional di daerah, termasuk pada pemusik Batak.

“Saya harus masuk ke dalam gang untuk riset,” tutur pemusik yang juga blogger terkenal itu.

Nah, ‘bahan mentah’ ini kemudian diolah berkali-kali agar konsep pop-crossover bisa diterima oleh anak-anak muda masa kini. Audiensnya adalah orang Indonesia masa kini yang semakin global. “Itu yang susah. Dan hanya bisa dilakukan kalau ada riset,” tutur lulusan desain industri Universitas Trisakti Jakarta ini.

Mengapa musik tradisional kita yang sangat kaya kurang disukai generasi muda? Bagi Maylaf, persoalannya musik tradisional kita masih berupa bahan mentah. Kesannya primitif, bahkan ketinggalan zaman. “Susahnya, kita di sini jarang mengolah raw material ini menjadi musik yang sesuai dengan khalayak sekarang,” tutur violinis yang juga pandai menyanyi ini.

Agar bisa mengolah bahan mentah tersebut, papar Maylaf, si pemusik dituntut menguasai teknologi yang semakin canggih. Teknologi mutlak harus dikuasai. Maylaf pantas beterima kasih kepada Idris Sardi, sang guru, yang menyiapkan sedikitnya 20 opsi dalam semua komposisi. “Kalau didengar seperti puluhan orang yang main. Padahal, saya sendiri. Hehehe...,” kata Maylaf didampingi Dinda, staf manajemennya.

Berbeda dengan proses rekaman penyanyi-penyanyi biasa yang relatif cepat, Maylaf perlu waktu hingga tiga tahun. Padahal, kita tahu, band-band terkenal lazimnya merilis album setiap tahun. Bahkan, ada yang sampai dua album per tahun. Kok bisa begitu lama? “Bayangin saja, rekaman satu lagu saja bisa take ratusan kali,” akunya.

Maylaf mengaku tak mungkin menyewa studio selama tiga tahun karena pasti sangat mahal. Pun tak akan ada produser major label yang mau memproduksi album Maylaf. Lalu? “Aku rekaman di apartemen sendiri. Tapi aku upayakan agar kualitasnya benar-benar bagus,” ujar perempuan yang selalu tampak anggun itu.

Singkat cerita, album perdana Maylaf akhirnya dirilis pada 9 Januari 2008. Ada 10 komposisi: lima vokal, lima biola. Judul-judulnya pun menggambarkan imej Maylaf si pendekar, pendobrak tatanan. Run! Hey Britney, Bungong Jeumpa, I Play My Violin Like I Make Love, Mantra. Kemudian, Apa pun Hidupku, Everything I Go, Tergantung, Complete Mess, Victory within Me.

Namanya juga indie label, album debut Maylaf ini tidak dicetak sebanyak band-band major label. Hanya seribu keping CD pada rilis awal. Kenapa? Lagi-lagi Maylaf ingin mengontrol secara langsung tingkat penyerapan albumnya di pasar. “Kalau dicetak banyak, terus dikembalikan, buat apa?” alasannya.

Belum lama ini Maylaffayza Management mencetak seribu lagi dan sudah pula dikoleksi para penikmat di Indonesia dan luar negeri. “Syukurlah, sekarang ini saya didampingi teman-teman yang bisa bekerja sama dan bisa sejalan,” katanya lalu tertawa kecil.

Maylaf mengaku senang karena masyarakat Surabaya dan sekitarnya ternyata sangat apresiatif. Buktinya, ketika tampil di Grande Waterplace Residence Surabaya, Minggu (30/3) malam, sambutan masyarakat sangat memuaskan. “Apalagi, aku kan sudah sering tampil di Surabaya. Hanya, karena sibuk nyiapin album, makanya baru datang lagi sekarang,” pungkasnya.


BLOG MAYLAFFAYZA
www.maylaffayza.multiply.com
maylaffayza.blogspot.com

No comments:

Post a Comment