11 April 2008

Bahasa Indonesia makin dipinggirkan



Oleh D.D. Kliwantoro
Sumber: www.antara.co.id


Menjelang peringatan "100 Tahun Kebangkitan Nasional", 20 Mei 2008, eksistensi bahasa Indonesia terancam dipinggirkan oleh pewarisnya sendiri, dengan makin maraknya gejala sindrom anak jajahan.

Pada awal masa kemerdekaan, pernah muncul muncul istilah "kaum belandis". Mereka itu adalah kaum terpelajar yang masih suka hidup dalam gaya kebelanda-belandaan, termasuk dalam hal berbahasa.

Ahmad Tohari, budayawan peraih "SEA Write Award" (hadiah sastra ASEAN) tahun 1995, belum yakin gejala sindrom anak jajahan itu sekarang sudah hilang meski bangsa ini sudah merdeka lebih dari 62 tahun.

"Mungkin belum, dan hanya sedikit bergeser. Karena penjajah sekarang berbahasa Inggris, maka banyak orang termasuk kaum terpelajar suka keinggris-inggrisan secara kurang proporsional," kata penulis novel "Ronggeng Dukuh Paruk", yang karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, Belanda, dan Jerman.

Pria kelahiran Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas, 13 Juni 1948, itu prihatin terhadap sebagian pebisnis yang sering memperlakukan bahasa Indonesia semena-mena.

Menurut Ahmad Tohari, iklan-iklan mereka banyak sekali yang menggunakan bahasa tidak baku. Bahkan, pemakaian bahasa asing intensitasnya makin hari semakin tinggi.

Mereka terkadang memaksakan hukum DM (diterangkan-menerangkan) menjadi MD, misalnya nama Permata Bank. Padahal dulu pernah diubah menjadi Bank Permata agar sesuai dengan hukum DM, tetapi sekarang nama itu kembali ke Permata Bank, hanya penulisannya disatukan menjadi "PermataBank".

Tak hanya mereka yang berada di perkotaan, pebisnis kecil di kampung pun terpengaruh. Bahkan, mereka terkesan bangga menulis "Sarkem Salon", "Paijo VCD Rental", atau "Pailul Motor Service".

Begitu pula, pemakaian istilah "pelayan kantor" yang kini nyaris hilang karena orang lebih suka menyebut "office boy" atau "OB". Bahkan, di dunia pendidikan pun ada penggusuran kosakata atau istilah Indonesia asli.

"Try out" dan "mid semester" adalah contoh dua istilah yang sebenarnya masih sangat terwakili oleh istilah "uji coba" dan "triwulan".

Terkait dengan pengindonesiaan nama dan kata asing ini pernah dilakukan pemerintahan Presiden Soeharto. Meski bukan berupa keputusan Presiden (keppres), surat Menteri Dalam Negeri Nomor 434/1021/SJ, tanggal 16 Maret 1995, tentang Penertiban Penggunaan Bahasa Asing yang ditujukan kepada gubernur, bupati, dan wali kota itu berjalan dengan baik.

Apalagi setelah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan buku "Pedoman Pengindonesiaan Nama dan Kata Asing" pada bulan Mei 1995, papan nama, papan petunjuk, kain rentang, dan papan iklan di sejumlah kota di Tanah Air menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Dalam ketentuan itu juga masih diperbolehkan memakai bahasa asing, tetapi harus dituliskan di bagian bawah bahasa Indonesia dengan huruf Latin yang lebih kecil. Sebagai contoh Balai Sidang Jakarta di bawahnya ditulis "Jakarta Convention Center" dengan menggunakan huruf Latin yang lebih kecil.

"Itu menunjukkan kepedulian Pak Harto terhadap perkembangan bahasa Indonesia," kata Kepala Pusat Bahasa Dr. Dendy Sugono dalam seminar nasional yang diselenggarakan Balai Bahasa Jawa Tengah di Solo, belum lama ini.

Pemerintahan semasa Pak Harto, kata Dendy Sugono, juga memberikan kontribusi yang sangat berarti, yakni dengan diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1972 tentang Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Kemudian, Mendikbud mengeluarkan keputusan Nomor 0543a Tahun 1987 tentang Ejaan yang Disempurnakan (EYD).

Kendati sejumlah peraturan itu bermaksud untuk memosisikan bahasa Indonesia di tempat yang terhormat, pada kenyataannya masih dijumpai penggusuran kosakata atau istilah Indonesia asli belakangan ini.

Budayawan Ahmad Tohari lantas mengingatkan kepada anak bangsa agar tetap menjunjung tinggi bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia, agar bahasa itu tidak dipinggirkan.

14 comments:

  1. setujuuuuuuu...........

    bahasa indonesia semakian terpinggirkan apalagi ditambah dengan bahasa gaul yang tidak karuan yang menjadi trend anak muda. (maap jika bahasa indonesiaku juga kacau)

    tapi yang lebih kasihan tidak ada rencana bahasa indonesia menjadi bahasa internasional. malah bahasa lain yang dibangga-banggakan (sekarang bahasa jepang dan korea) padahal bahasa indonesia penggunanya terbesar ke 6 di dunia. bahkan bahasa prancis masih kalah banyak penggunanya dengan bahasa jawa.

    hiks2x kasihan yah

    salam kenal

    ReplyDelete
  2. Terima kasih Mas Zener Lie,
    Bahasa gaul sebetulnya nggak apa-apa karena itu kan bahasa cakapan ala Jakarta. Melayu Betawi lah. Di setiap daerah selalu ada bahasa remaja yang santai, akrab, informal.

    Justru yang lebih parah, meminjam Prof Harimurti Kridalaksana, adalah SIKAP BAHASA. Kita belajar bahasa asing sebanyak-banyaknya, fasih, kemudian menyerapnya secara bijak dan cermat ke dalam bahasa kita. Sikap itu yang mulai hilang sejak 1998. Sekarang orang bangga mencampur kata-kata English sekadar gaya-gayaan saja. Tidak ada komitmen serius untuk memajukan bahasa Indonesia, termasuk di kalangan pejabat.

    Bahasa Jawa penggunanya jutaan, tapi sudah lama tidak dikembangkan. Di Jatim hanya ada dua media cetak berbahasa Jawa. Anak-anak muda pun kurang fasih berbahasa Jawa. Mereka cenderung meniru gaya cakapan ala sinetron dan televisi yang hampir 100 persen berkiblat ke Jakarta.

    Biarpun banyak penggunanya, kalau tidak direkayasa terus-menerus, ya tidak akan bisa menjadi bahasa internasional. Bahasa Indonesia pasti tidak bisa jadi bahasa internasional karena dipinggirkan rakyatnya sendiri.

    Salam kenal juga.

    ReplyDelete
  3. Coba anda menonton metro TV, bahasa indonesia seakan akan ingin dihinlangkan dari muka bumi. Coba saja anda perhatikan Metro TV bikin acara, judul pake bahasa inggris tapi pengantarnya pake bahasa indonesia. Contoh: headline News, metro Sport, Metro World News, Show biz, dan masih banyak lagi. dan satu lagi Metro Tv klo berbicara cina bacanya CAINA, kenapa tidak cina, itu sudah jelas ingin ngrusak bahasa indonesia, tolong menteri pendidikan nasional anda tegur Metro TV, ini sudah kelewatan.

    ReplyDelete
  4. Bagaimana dengan pemakaian kata KITA yang sudah rancu dengan kata KAMI. Contohnya, KITA sudah berhasil meringkus para pelaku curanmor.

    Kata KITA kan kurang tepat digunakan. Seharusnya: KAMI sudah berhasil meringkus pelaku curanmor.

    teddy

    ReplyDelete
  5. Soal Metro TV, itu kebijakan redaksinya sendiri. Intinya sama; SIKAP BAHASA. Bahasa Inggris dirasa lebih keren, citra stasiun lebih "baik", cocok dengan kebiasaan masyarakat yang ber-Inggris ria. Media kan punya kekuasaan, Bung! Mau apa lagi?

    Ihwal KAMI dan KITA sudah saya bahas di blog ini. Klik saja: BAHASA. Kata KITA sebagai pengganti KAMI atau SAYA, menurut saya, terpengaruh bahasa cakapan tempo dulu, ketika Bahasa Melayu pasar masih digunakan. Melayu Larantuka yang dipakai di Flores Timur memang menggunakan KITA sebagai pengganti SAYA atau KAMI.
    Tapi kalau sudah bicara dalam konteks Bahasa Indonesia, ya, mestinya pakai SAYA [kata ganti orang pertama tunggal] atau KAMI [jamak]. Ini persoalan disiplin dan ketertiban berpikir saja kok.

    ReplyDelete
  6. Lebe bae orang Kupang ... kitong ada Kolom Tapaleuk di Pos Kupang. Alkitab ju su ada yang pake dialek Kupang ... Bo le le bo ... bae sonde bae ... bahasa Kupang ... lebeh dihargai ...

    ReplyDelete
  7. Terima kasih rekan dari POS KUPANG. Bahasa Kupang itu intinya Bahasa Melayu dialek Kupang, sejenis Bahasa Melayu Rendah atau Melayu Pasar yang berkembang seiring pekabaran Injil di Pulau Timor. Bahasa Melayu Pasar dipakai untuk komunikasi sehari-hari seperti juga Melayu Betawi di Jakarta. Jadi, tentu saja selalu dipakai.

    Memindahkan Bahasa Melayu Pasar [Kupang] ke bahasa tulisan biasanya untuk intermeso atau hiburan saja. Tata bahasanya kan tidak ada. Bahasa tulis sebaiknya Bahasa Indonesia yang sudah direkayasan sebagai 'Melayu Tinggi' sejak 28 Oktober 1928.

    Alkitab yang diterjemahkan dalam bahasa Kupang pasti tidak menarik. Terlalu santai kayak omongan orang kampung di Naikoten atau Airnona saja. Hehehe.... Menurut saya, Alkitab versi LAi/LBB yang ada sekarang sudah memadai. Saya tidak tertarik membaca Alkitab Melayu-Kupang. Salam damai!

    ReplyDelete
  8. Kaka Lamber yang bae ....

    Ada orang pintar dong omong bilang "Bahasa menunjukan bangsa" ... dan bahasa alat komunikasi yang berkembang iko perkembangan waktu ... karena itu, beta rasa bahasa sonde kenal "tinggi-rendah".

    Bahasa Kupang itu sadar ko sonde ... adalah "bahasa IBU" buat orang kupang yang sudah berkembang turun temurun dari kitong pung nenek moyang.
    Deng "bahasa Ibu" ini, semua budipekerti dan tata krama diajar oleh kitong orang tua dolu2 ke dong pung anak2 sejak kecil...
    Nah .. kalau Kaka bilang ini adalah bahasa rendahan ... sama saja Kaka bilang ... budi pekerti yang diajarkan ke anak2 kupang, nilai rendahnya ... ko orang tua dong ajar pake bahasa rendahan naaa ...

    Andia ko beta hanya mau bilang ke
    Kaka bahwa ... Bahasa Kupang adalah bahasa yang sama derajatnya dengan bahasa Indoesia, bahasa inggris atau bahasa apapun ... ini adalah bahasa ibu utk kitong orang kupang nah ... kalau bukan kitong yang hargai ... sapa lagi lagi hargai ... Batul ko kaka ...??

    Andia ko beta ju mau bilang. Kaka salah kalau Kaka anggap bahasa Kupang bahasa "Melayu Rendah" ... itu sama juga Kaka bilang "Orang Kupang orang melayu rendah" ... Karena tadi itu ... "Bahasa menunjukan bangsa".

    Mohon kaka ralat ... Bahasa Kupang bukan bahasa rendah ooo

    Beta tahu kaka sonde ada maksud untuk kasih rendah orang Kupang karena kitong berbahasa pake gaya "Tapaleuk".

    Ini ada link mengenai bahasa kupang:
    http://www.sil.org/asia/philippines/ical/papers/Jacob-Grimes%20Kupang%20Malay.pdf
    Orang barat dong sa tertarik untuk balajar kitong pung bahasa ... Ko Bo le le bo .. bahasa kupang le le bo naaaa ..

    Salam Damai ... ju ooo

    ReplyDelete
  9. Waduh, kawan dari Kupang ini salah tangkap rupanya. Ada baiknya baca buku2 bahasa karya Gorys Keraf, Remy Sylado, Harimurti Kridalaksana, Anton M Moeliono, atau Sutan Takdir Alisjabana untuk sedikit menilik sejarah Bahasa Indonesia. Bagaimana Bahasa Melayu ini menjadi lingua franca di Nusantara sehingga dengan mudah diangkat sebagai bahasa nasional.

    Ihwal Melayu Tinggi dan Melayu Rendah bukan istilah saya, tapi terminologi bahasa. Di buku2 bahasa Anda bisa tahu lebih banyak. Jadi, sama sekali tidak terakit dengan bahasa RENDAHAN yang bersifat melecehkan kaum atau etnis tertentu. Bisa baca juga di http://culture.melayuonline.com/?a=TnVUei9zVEkvUXZ5bEpwRnNx= tentang Bahasa Melayu Rendah atau Melayu Pasar.

    Mudah-mudahan penjelasan ini membantu kita membangun kesepahaman bersama. Terima kasih dan salam.

    ReplyDelete
  10. Ha haha ... ... Makasih .. Itulah bahasa ... Kadang bikin kitong harus putar otak kiri kanan sebelum tahu orang laen pung maksud ... Ma biar karmana pun .. beta senang bisa dapa kesempatan baomong dan diskusi deng kaka pake bahasa kupang ... Badiskusi bagini bikin kitong semakin dekat tooo ...
    Ko Beta ju salah satu penggemar kaka pung tulisan di ini blog na ...
    Salam damai dari kota karang ...

    ReplyDelete
  11. Agree.

    Bahasa Indonesia mungkin nggak akan bisa jadi bhs internasional, karena bangsa kita tidak punya pengaruh militer, ekonomi atau ilmu pengetahuan. Kalaupun masih bisa, mungkin nggak sempat keburu kiamat karena global warming makin jahat.
    Tapi begitulah nasibnya, cenderung diduakan oleh anak bangsa sendiri. Bangsa ini memang sakit di banyak hal, termasuk di bidang kebahasaan. Sok gaya pake bhs Inggris, tapi rata-rata TOEFL cuma 350, dan ngacir begitu ada bule bertamu.
    Ya, untung ad sebagian generasi muda yang masih perduli terhadap martabat bahasanya sendiri.

    ReplyDelete
  12. Bung Patrisius,
    Terima kasih sudah baca dan sumbang komentar. Maju terus!

    ReplyDelete
  13. Bahasa Indonesia sebenarnya tidak perlu menjadi bahasa internasional. Lihat bahasa Jepang, bahasa Korea, mereka pun bukan bahasa internasional. Bahkan bahasa Prancis yang pernah menjadi bahasa de facto para diplomat, sekarang sudah tergeserkan oleh bahasa Inggris, karena pengaruh ekonomi, militer, dan ilmu pengetahuan dari negara2 berbahasa Inggris (terutama Amerika Serikat).

    Bahasa Indonesia sehari-hari ya Melayu pasar, kalau di Jakarta ya dialek Betawi, dan kalau di antara orang Tionghoa di Surabaya, ya Melayu Cina Jawa. Orang Swiss ada berbahasa Jerman, tapi bahasa percakapan di Zurich lain dengan bahasa yang digunakan di Berlin atau Munchen. Tetapi, kalau di sekolah anak2 belajar menulis bahasa Jerman yang standar.

    Fungsi bahasa Indonesia ialah bahasa pemersatu; fungsi ini sudah dibuktikan ampuh dalam perjuangan kemerdekaan. Untuk tetap menjadi bahasa pemersatu, bahasa Indonesia harus tetap relevan, dalam arti bahasa ini manjur digunakan dalam bidang ekonomi, ilmu pengetahuan, agama, militer, dll. Siapa motornya? Di Prancis ada lembaga bahasa yang sangat berpengaruh. Di Amerika tidak ada lembaga begitu, yang ada ialah beberapa media yang sangat berpengaruh yang menjadi barometer penggunaan bahasa Inggris Amerika, misalnya Wall Street Journal dan New York Times.

    ReplyDelete
  14. terima kasih tulisan saya dikutip di blog ini. alhamdulillah, pemerintah bertekad meningkatkan fungsi bahasa indonesia menjadi salah satu bahasa internasional secara sistematis, bertahap, dan berkelanjutan(vide uu no.24 tahun 2009). kliwantoro

    ReplyDelete