11 April 2008

Andaikan semua blog ditutup




Saya bisa merasakan kekecewaaan teman-teman pengguna Multiply, juga YouTube. Setelah pemerintah [berencana} menutup dua situs itu, ya, teman-teman hanya bisa gigit jari. Tidak bisa apa-apa. Tulisan-tulisan di blog yang sudah dipersiapkan berbulan-bulan hilang. Nilainya, meminjam istilah Goenawan Mohamad, tak tepermanai.

Berapa banyak waktu yang sudah dipakai untuk berpikir? Merenung? Buka buku? Cari referensi? Kumpulkan data? Belum lagi memburu kaset-kaset lawas, yang sangat sulit dicari [sungguh!!!], mentransfer ke sistem digital, kemudian download di Multiply atau YouTube. Semua hilang percuma - mudah-mudahan hanya sementara - karena situs induknya dibredel pemerintah.

Berapa juta orang Indonesia yang kehilangan situs yang sudah dengan susah payah dibangun? Saya sebagai orang Nusa Tenggara Timur [NTT] tidak bisa lagi menikmati lagu-lagu daerah NTT karena 100 persen lagu daerah ada di internet. Yah, di YouTube dan Multiply. Teman-teman sudah setengah mati men-download agar kita yang berada jauh dari kampung halaman punya laman untuk "ingat kampung".

Rekaman prosesi Semana Santa di Larantuka pun hanya ada di YouTube. Pemerintah Kabupaten Flores Timur tak punya bahan. Tulisan-tulisan yang bagus tentang Flores, adat istiadat, perkembangan politik-sosial-budaya, gereja, sebagian besar justru dibuat oleh para bloger. Situs-situs resmi pemerintah kabupaten atau pemerintah provinsi bahkan tak pernah di-update. Sangat buruk. Tidak informatif. Sulit koneksi!

Apakah Pak Muhammad Nuh, menteri infokom yang arek Gununganyar, Surabaya, itu tidak memikirkan nasib berjuta-juta halaman blog yang tak tepermanai gunanya itu? Apakah Pak Nuh bisa menyediakan rekaman lagu-lagu dan gambar dan informasi tentang Flores dan NTT setelah Multiply dan YouTube ditutup? Teman-teman dari daerah lain pun merasakan dampak yang sama.

Saya tahu Pak Nuh yang sangat demokratis, ketika menjadi rektor ITS, itu mau berpikir ulang. Kebijakan bredel ala rezim Orde Baru - itu pun hanya untuk media cetak, internet tidak pernah dibredel Pak Harto, sehingga TEMPO bisa terbit secara online - justru dilakukan Pak Nuh di era reformasi.

Pak Nuh hampir tiap akhir pekan pulang ke Surabaya. Wajar karena ia arek Surabaya yang selalu ingat kampung. Lha, bagaimana dengan orang Indonesia di luar negeri yang "ingat kampung", tapi tak bisa pulang ke kampung halamannya? Kami-kami, para perantau, cukup puas menikmati suasana kampung halaman dengan masuk ke situs internet. Menjadi bloger, bagi kami, berarti berbagi pengalaman tentang kampung halaman.

Cerita-cerita kecil, remeh-temeh, yang mungkin tak penting bagi liyan [kembali meminjam Goenawan Mohamad, the others], tapi sangat berarti bagi kami. Nah, Blog Orang Kampung pada hakikatnya saya buat dengan visi dan misi seperti itu. Ingin menyumbangkan sesuatu, mungkin informasi, mungkin referensi, kepada sesama anak bangsa yang membutuhkan.

Lha, kalau lahan berekspresi anak-anak bangsa ini ditutup, padahal kesalahan tidak di pihak mereka, apakah ini adil? Bukankah nenek moyang kita punya pesan bijak: "Janganlah kau bakar lumbung hanya untuk membunuh seekor tikus"?

Multiply, YouTube, Blogspot, Wordpress... dan sebagainya ibarat lumbung padi. Ia netral saja. Bahwa di lumbung itu tikus-tikus yang tak diundang nunut alias mendompleng - misalnya, film FITNA yang ngawur dan rasis atau video porno - apakah adil jika satu lumbung dibakar habis? Mana yang lebih banyak: padi atau tikus? Sekali lagi Pak Nuh bersama stafnya patut memikirkan lagi kebijakan membredel situs-situs yang selama ini justru sangat membantu jutaan manusia Indonesia untuk berekspresi.

Ketika berada di Surabaya - sekali lagi, Pak Nuh ini suka pulang kampung - Bapak Menteri mengibaratkan situs Multiply dan YouTube sebagai truk besar. Yang menayangkan film FITNA atau situs porno itu penumpang gelap. Istilah Jawanya: nunut truk! Pemilik truk atau sopir tidak tahu kalau di tengah jalan tiba-tiba ada orang yang nunut dan bikin ulah.

Memang sih kita semua, para bloger, pada dasarnya orang-orang yang nunut truk besar bernama Multiply, YouTube, Blogspot, Wordpress... Tapi karena kita penunut "yang baik", bahkan ada jasanya, ya, tidak apa-apa. Silakan terus, toh pemilik truk beroleh laba berjuta-juta dolar dari bisnis ini. Pemerintah pun saya rasa berutang budi pada para bloger Indonesia yang sudah memberikan kontribusi atas informasi di internet.

Informasi meloncat luar biasa berkat bloger. Ini yang haus disadari Pak Nuh dan Bapak Presiden Pak Susilo. Informasi tentang Flores dan NTT, saya ulangi, hanya bisa diikuti lewat blog, bukan situs resmi pemerintah. Kalau sampai semua blog dibredel di Indonesia, wah, habislah kita orang! Pak Nuh kan pernah bilang "blogger di Indonesia itu saudara". Kok ada kebijakan ekstrem, gebyah uyah, main pukul rata, macam sekarang?

Teman-teman bloger yang budiman!

Kita perlu mengambil hikmah dari pembredelan blog secara massal yang dilakukan pemerintah Indonesia. Sekarang kita disadarkan bahwa situs-situs pribadi atawa blog sangat lemah secara hukum. Bisa ditutup kapan saja tanpa ada pemberitahuan apa pun. Tahu-tahu ditutup, sehingga si bloger tidak sempat menyelamatkan data.

Wah, wah, gak gampang lho menulis ratusan artikel dengan susah-payah selama bertahun-tahun. Memburu kaset-kaset tempo dulu, transfer, lalu tayang di blog. Mengambil gambar, bikin film, editing, lalu tayang. Kerja keras itu habis gara-gara situs diblokir oleh pemerintah atas nama undang-undang. Ironisnya, bloger ini tidak mendapat pembelaan apa pun. Padahal, berapa banyak data milik para bloger Indonesia yang dikopi, dicuri, disiarkan ulang, tanpa izin pemiliknya?

Hikmah lain yang sangat penting, setidaknya untuk saya, hendaknya semua data [tulisan, gambar, video] yang diposting di blog WAJIB punya cadangan alias punya back up. Bisa disimpan di komputer pribadi, laptop, e-mail, atau apa saja. Jangan sekali-kali memosting informasi di blog tanpa back up data di luar jagat maya. Terus terang, 95 persen informasi yang ada di Blog Orang Kampung sama sekali tidak punya arsip. Saya alpa.

Saya salah karena selama ini saya merasa AMAN dengan menyimpan naskah-naskah plus gambar di blog. Nah, setelah Pak Nuh mulai main bredel saya disadarkan bahwa sesungguhnya data di blog itu SANGAT TIDAK AMAN. Andai saja situs Blogspot pun dibredel - karena ada penumpang gelap yang tidak bertanggung jawab - maka lenyaplah semua informasi di blog ini. Jutaan teman-teman bloger pun niscaya mengalami nasib yang sama.

Hikmah lain lagi. Kita dituntut TANGUNG JAWAB moral untuk hanya menyajikan informasi-informasi yang positif. Gambar-gambar porno, video porno, video rasis dan SARA [seperti FITNA] tidak perlu ada. Buat apa mengadakan informasi yang hanya merusak moral bangsa [ah, kayak pesan pejabat aja], memecah belah persatuan, membuat orang tersinggung. Internet memang memberi kita kebebasan yang luar biasa, tapi kalau kebebasan itu dipakai secara tidak betanggung jawab, untuk apa?

Hikmah untuk pemerintah:

Tangkaplah tikus, jangan bakar lumbung! Carilah cara yang cerdas dan elegan untuk menendang situs-situs sampah!

No comments:

Post a Comment