30 April 2008

Wartawan malas menulis

"Menulis itu gampang," kata Arswendo Atmowiloto dalam bukunya.
"Menulis itu sulit," kata Prof Budi Darma PhD, juga dalam bukunya.

Mana yang benar? Menulis atau mengarang itu gampang atau sulit? Sulit dijawab. Jawaban yang benar, barangkali: gampang-gampang sulit. Bisa dianggap gampang, tapi kalau dilakoni ya sulit juga. Tidak semua manusia punya talenta menulis macam Arswendo Atmowiloto, Budi Darma, Pramoedya Ananta Tour, Remy Sylado, NH Dini, Ratna Indraswari Ibrahim, Dahlan Iskan, Andreas Harsono....

Pak Arswendo dalam buku teori mengarang yang laris itu memang sengaja kasih motivasi agar remaja Indonesia mau menulis. Menulis apa saja yang bisa ditulis. Lalu, kirim ke majalah HAI karena saat itu Pak Arswendo pemimpin redaksinya. Hasilnya memang ada. Pada 1980-an dan 1990-an banyak remaja menulis cerpen, naskah drama, reportase untuk media massa. Ada yang dimuat, tapi jauh lebih banyak yang tak.

Kalau kita baca baik-baik buku manual mengarang karya Pak Arswendo, sebetulnya tidak ada teori baru. Semuanya sudah ada di pelajaran bahasa Indonesia sejak sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas. Judulnya saja yang bagus--Mengarang Itu Gampang--sehingga orang tertarik untuk beli dan baca. Judul karangan memang harus sangat menarik!

Lain lagi dengan Pak Budi Darma. Profesor dan sastrawan dari Surabaya ini menyebut menulis itu sulit karena kita, orang Indonesia, kurang mampu berpikir kritis. Kalau tidak kritis berarti orang itu tidak tidak bisa memilah-milah persoalan. Maka, daya analisisnya tidak jalan. Persepsi kabur.

"Kekaburan persepsi merupakan sumber kelemahan seseorang untuk menemukan persoalan yang dapat ditulis. Ketidakmampuan menemukan persoalan menyebabkan seseorang tidak mungkin menulis mengenai persoalan," tulis Pak Budi Darma dalam buku kumpulan tulisannya yang diterbitkan JP Books, 2008.

Wartawan atau jurnalis atau reporter atau pewarta tidak bisa lepas dari tulis-menulis. Tiap hari si wartawan harus menulis, menulis, menulis berita atau analisis di medianya. Apakah dengan begitu wartawan bisa dianggap orang yang "kritis", "analisisnya jalan", "persepsi terang"? Belum tentu.

Para redaktur media massa zaman sekarang kerap menggerutu karena dipaksa membaca tulisan wartawan yang bergelemak-peak bin centang-perenang. Logika kacau, berantakan. Struktur kalimat tak jelas. Mana subjek, predikat, objek, anak kalimat, induk kalimat... sukar dibedakan. "Saya lebih suka menulis sendiri daripada harus mengedit tulisan teman-teman. Kalau menulis sendiri cepat selesai," ujar seorang redaktur senior di Surabaya.

Redaktur ini mengaku stres membaca tulisan-tulisan yang disodorkan si reporter. Salah ketik banyak, logika tak jelas, berita tidak imbang, konfirmasi kurang, dan seterusnya. "Payah deh. Maaf, kualitas wartawan Indonesia rata-rata makin lama makin parah. Susah menemukan naskah yang pressklaar," katanya. Pressklaar itu maksudnya naskah yang sudah sangat bagus, siap cetak. Fit to print.

Saya no comment dulu lah. Sebab, jujur, tulisan saya pun belum beres. Belum pressklaar. Salah ketik, salah eja, salah data, masih kurang lengkap. Belum sempurna. Tapi akhir-akhir ini saya heran melihat sejumlah wartawan [reporter] yang terkesan malas menulis. Menulis tidak dirasa sebagai pekerjaan yang dinikmati, tapi beban berat.

"Jangan aku deh, capek, mana banyak beban. Yang lain saja lah," begitu alasan wartawan menghindari tugas. Padahal, topik itu bidang tugasnya. Lha, kalau tidak mau menulis, cari-cari alasan, lantas bagaimana?

"Hampir semua redaktur yang pernah saya ajak diskusi, keluhannya sama. Kita harus cari solusi," kata redaktur senior itu tadi. Beberapa waktu lalu Dewan Pers bikin diskusi bersama para redaktur di Surabaya, dan ternyata keluhan-keluhan ini muncul. Wartawan Indonesia ternyata tidak semuanya menikmati profesinya: menulis, menulis, menulis.

Karena malas menulis, terlalu banyak beban, gairah reporter untuk wawancara dan cek langsung di lapangan pun merosot. Maka, minta berita ke teman. Contek internet. Oplos sana-sini pakai jasa Google dan mesin-mesin pencari data di internet. Tidak heran, kita semakin sulit menemukan cerita-cerita menarik yang ditulis dengan data dan gaya yang kuat.

Surat kabar dan majalah menjadi tidak menarik dibaca. Kita makin sulit menemukan tulisan yang enak, bernas, dan bergaya ala Goenawan Mohamad dan Remy Sylado pada masa sekarang. Koran makin banyak, majalah tebal-tebal dan luks, tapi isinya? Kalah sama majalah-majalah sebelum tahun 1980-an ketika komputer belum ada.

"Saya sudah lama nggak baca koran Indonesia. Wong isinya nggak ada yang menarik. Tulisannya kering. Wartawan nggak menguasai persoalan. Sok tahu, tapi kosong," ujar Pak Slamet Abdul Sjukur, pemusik kontemporer serta kritikus musik, kepada saya.

Kritik tajam Pak Slamet ini selalu "nancap" di kepala saya. Dan, ketika mendengar langsung banyak teman wartawan yang menggerutu, menolak tugas, marah-marah, tidak wawancara langsung, minta berita sama teman, saya akhirnya sadar bahwa Pak Slamet benar.

Terus bagaimana, Pak?

27 April 2008

Victor Hutabarat nyanyi Ina Maria (Thomas Kwaelaga)



Saya baru saja membeli kaset rohani di toko buku Katedral Surabaya. AVE MARIA, BUNDA YANG SELALU MENOLONG judul kaset indie label ini. Penyanyinya ternyata Victor Hutabarat [bersama Yolanda Makasunggal].

Victor Hutabarat penyanyi rohani senior. Suaranya sangat bagus. Tenor. Tinggi melengking Artikulasinya sangat jelas. Serba "sangat" lah! Orang Flores--dan Nusa Tenggara Timur umumnya--yang mengalami masa remaja pada 1980-an atau 1990-an niscaya mengidolakan Victor Hutabarat. Di mana-mana orang putar kasetnya Bang Victor.

Cara nyanyi Victor pun ditiru banyak orang, termasuk saya [dulu]. Lagu apa saja, kalau dinyanyikan Victor Hutabarat, ehm ditanggung bagus. Mau lagu rohani ala himne, karismatik, lagu Melayu, Tapanuli, nostalgia. Bang Victor dianugerahi talenta suara yang sangat istimewa oleh Tuhan. Dia lahir sebagai penyanyi, bukan tipe penyanyi karbitan seperti yang banyak muncul di televisi sekarang.

Beberapa waktu lalu Victor Hutabarat menerbitkan album AVE MARIA, kumpulan lagu-lagu dari PUJI SYUKUR--buku nyanyian liturgi di Jawa. Itu album rohani Katolik pertama bagi Victor Hutabarat yang Kristen Protestan. Saya salut karena Bang Victor mau menyanyi lagu-lagu Katolik.

Ini barang langka di NTT yang punya sejarah panjang "konflik" Katolik dan Protestan. Meskipun sama-sama penganut ajaran Yesus Kristus, dua denominasi gereja ini kurang akur di bumi Flobamora.

Lha, kok Victor Hutabarat mau membawakan lagu-lagu Katolik?

Ini kejutan. Sekaligus kabar gembira bagi kita, orang NTT. Kenapa orang luar tak membeda-bedakan gereja, sementara kita di NTT masih terus mengungkit konflik lama yang dipicu gerakan reformasi Martin Luther pada 1517? Secara tak langsung Victor Hutabarat--lahir di Palembang 29 Agustus 1955--telah menjadi jembatan ekumene di NTT.

Salut deh sama penyanyi berdarah Tapanuli yang sudah merilis 30-an album itu!

Album AVE MARIA edisi 2008 ini diterbitkan oleh kongregasi para pater Redemptoris alias CSsR untuk memperingati 50 tahun keberadaan kongregasinya di Indonesia. CSsR identik dengan Pulau Sumba, pusat utama pelayanannya. Pater Robert Ramone bertindak sebagai produser. Dua pater CSsR lainnya--Oktavianus Babu dan Konradus Budi Mukin--ikut sumbang suara mendampingi Victor Hutabarat dan Yohana Makasunggal.

Suara kedua pastor ini boleh juga. Bisa serasi dengan Victor Hutabarat yang sudah malang melintang di rimba musik Indonesia.

Musik ditata oleh Hanny Pangkerego, pemusik yang biasa mengarap album-album rohani Victor Hutabarat. Juga ada nama Henry Lamiri (biola), Cucu Ripet Paulus (saksofon), serta Gatot (gitar). Karena itu, album untuk kalangan sendiri ini tak banyak beda dengan album-album rohani Victor Hutabarat sebelumnya.

Hanya saja, ada 10 seluruhnya bertema Bunda Maria. Semuanya diciptakan oleh orang Flores, NTT. Ungkapan cinta, devosi, penyerahan kepada Bunda Maria sangat terasa.

Lagu BUNDA SELALU MENOLONG, misalnya, ditulis almarhum Frater Albert SVD ketika sakit berat. Lagu ini ditulis saat Albert sakit parah. "Sebagai ungkapan hatinya yang penuh cinta dan berharap pada pertolongan doa Bunda Maria," begitu tertulis di sampul album.

Bagi orang Flores Timur atau etnis Lamaholot--macam saya--album Victor Hutabarat ini sangat berkesan karena ada lagu INA MARIA. Satu-satunya lagu yang menggunakan bahasa daerah: bahasa Lamaholot.

Bahasa Lamaholot dipakai secara luas di Flores Timur daratan, Pulau Solor, Pulau Adonara, dan Pulau Lembata. Kawasan ini meliputi Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata. Sejak dulu penulis lagu rohani [liturgi] di Flores Timur dan Lembata selalu mencoba mengungkapkan perasaan religiusnya dalam bahasa Lamaholot.

Nah, INA MARIA [ciptaan Thomas Kwaelaga] merupakan salah satu dari sekian banyak lagu devosional yang sangat merakyat di kampung-kampung Flores Timur. INA = mama, ibu, bunda. INA MARIA berarti Bunda Maria. Ketika berada dalam kesulitan, orang-orang kampung meminta bantuan doa Ina Maria. Sembahyang kontas atau rosario. Pasang lilin. Novena Tiga Salam Maria.

Melodi INA MARIA sederhana saja, sama dengan lagu-lagu Flores Timur umumnya. Tapi, justru karena kesederhanaan itu, INA MARIA cepat meresap ke hati umat. Syair lagu yang juga ditulis Thomas Kwaelaga, guru di kampung Sandosi, Adonara Timur, ini demikian:

Ina... Ina... Maria
Ina ata sare
Ina... Ina... Maria
Ina peten kame

1. Tobo tuen pae parep
Peten non go anam ue
Susah doan paya lela
Paya tada tana ekan
Ina... Ina... Maria
...................

2. Kame ia ata nalan
Peten kame anam ue
Ribun pia susa tudak
Ratun pia paya taga
Ina... Ina... Maria
...................

3. Ole Ina o Maria
Ribun tani loran lou
Ratun pia susa tudak
Sudi Ina o Maria
Ina... Ina... Maria
..................

4. Nalan kame pulo kae
Utan kame lema kae
Nuba pia tani mayan
Mayan ema o Maria
Ina... Ina... Maria
...................


Begitulah.

Syair lagu INA MARIA [Thomas Kwaelaga] ini sangat khas Lamaholot. Entah kenapa, sejak zaman dulu lagu-lagu Flores selalu bernuansa sendu, sangat sedih, cenderung menguras air mata. Selalu mengambarkan diri sebagai orang miskin papa [ribun pia susa tudak], menangis sepanjang hari [ribun tani loran lou], punya berpuluh-puluh kesalahan [nalan kame pulo kae].

Yang pasti, album AVE MARIA versi Redemptoris Victor Hutabarat ini menambah lagi khasanah musik rohani Katolik di tanah air. Juga menjawab kerinduan orang-orang Flores Timur di perantauan akan kampung halaman. Terima kasih Bung Victor Hutabarat!

Ina, Ama, Kaka Ari...
Tobo leron peten susah,
Rema tukan tani mayan
Lewotana pe doan kae


Karakter ini selalu dibawa-bawa orang Flores Timur ke mana-mana. Simak saja syair lagu-lagu daerah dari dulu sampai sekarang: pesannya tak pernah jauh-jauh dari sini.

"Itu memang cocok dengan kehidupan kita di kampung. Dan itu yang bikin lagu-lagu daerah kita sangat digandrungi masyarakat," ujar Frans, teman saya, asal Flores Timur.

25 April 2008

Novel Pangeran Diponegoro karya Remy Sylado


Apa pun yang ditulis Remy Sylado saya suka. Sebab, manusia serba bisa ini menulis berdasar riset, bacaan, dan pengetahuan yang sangat lengkap. Referensinya sulit ditandingi penulis mana pun di Indonesia.

Sungguh! Saya selalu ternganga-nganga membaca tulisan-tulisan Remy Sylado yang informatif. Selalu membuka wawasan pembaca. Salah satu kehebatan Remy Sylado adalah menghidupkan kata-kata arkaik. Menciptakan kata-kata baru. Atau, memberdayakan kata-kata di kamus yang selama ini tidak pernah dipakai.

Risikonya, kita kadang-kadang tak segera menangkap maksud Remy Sylado. Buka kamus bahasa Indonesia belum tentu ada. Sebab, kata-kata itu dipungut Remy dari bahasa Sansekerta, Jawa, Sunda, Manado, Tionghoa, Betawi, Ambon, dan seterusnya. Hanya pendekar pilih tanding yang bisa bersilat kata dengan cara luar biasa macam Remy Sylado.

Nah, saya baru saja menyelesaikan novel PANGERAN DIPONEGORO karya Remy Sylado. Tebal 435 halaman, penerbit Tiga Serangkai, Solo, cetak pertama Maret 2008. Jelas ini novel sejarah. Bercerita tentang lika-liku pergolakan rakyat yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro pada 1825-1830. Perang Jawa ini sempat membuat Belanda PUKIMAK (ah, ini istilah Remy Sylado yang dipetik dari makian ala Indonesia Timur) mengalami kerugian luar biasa.

Saya baca di Kompas Minggu, 20 April 2008, bahwa novel ini hanyalah pembuka dari tujuh seri Pangeran Diponegoro yang sedang disiapkan Remy Sylado. Artinya, ceritanya bakal sangat panjang dan detail. Dan memang novel yang baru saya baca ini baru sebatas geger awal menjelang perang.

Pasukan Belanda PUKIMAK [istilah Remy] meneror Puri Tegalrejo sehingga sang pangeran meminta istrinya, Ratnaninsih, serta anak-anaknya mengungsi ke Selarong. Usia Pangeran Diponegoro baru menginjak 40. Saya belum bisa membayangkan detail-detail cerita Pangeran Diponegoro versi Remy Sylado bakal seperti apa nantinya.

Kita, orang Indonesia, niscaya pernah mendengar cerita Perang Diponegoro melalui buku-buku sejarah. Mulai sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, cerita kepahlawanan Diponegoro alias Ontowiryo. Perangnya hanya lima tahun, tapi Belanda pukimak yang korup, gelojoh, dan takabur itu benar-benar kewalahan. Namanya juga pengarang, Remy Sylado hanya bertugas memberi daging pada cerita, kasih bumbu, komentar di sana-sini, sehingga enak dinikmati.

Bagi saya, sekali lagi, membaca tulisan-tulisan Remy Sylado berarti bertamasya dengan bahasa, kata-kata baru, sejarah musik, sejarah gereja, kebudayaan, Tionghoa, dan macam-macam lagi. Remy sengaja memberi peluang sedemikian rupa agar bisa memasukkan pengetahuan-pengetahuannya ke dalam cerita.

Dialog para tokoh sangat hidup karena dilakukan dalam bahasa aslinya. Orang Belanda omong Belanda, Jawa bicara bahasa Jawa ngaka sampai krama inggil, Tionghoa dengan Melayu cadelnya, kaki tangan Raffles yang Inggris bicara bahasa Inggris. Kutipan Alquran dan istilah-istilah Arab pun otentik. Luar biasa! Ini hanya bisa dilakukan Remy Sylado yang setahu saya menguasai belasan bahasa dunia secara aktif dan pasif.

Karena menceritakan Pangeran Diponegoro yang hendak menikah, Pak Remy memberikan tempat luas pada pernak-pernik adat pengantin Jawa. Juga kepercayaan lama di desa-desa seperti tertuang dalam primbon. Hari baik dan buruk dipaparkan secara gamblang.

Bahkan, ada pula mucikari bernama Rietje van den Berg, pelacur terkenal pada zaman Deandels. Bisnis maksiat Rietje terletak di Pakemweg [sekarang Jalan Simajuntak], 100 meter dari simpang Gondolayu [sekarang Jalan Sudirman], sebelah kanan jalan dari arah Kaliurang. Wah, detailnya luar biasa! Sama dengan kompleks pelacuran di Surabaya tempo doeloe yang digambarkan Remy Sylado di novel KEMBAN JEPUN.

Pelacur yang dikelola Mami Rietje ada enam orang. Mau tahu nama-namanya? Agnes, Monica, Cornelia, Agatha, Olga, Lydia [halaman 299]. Kok mirip nama bintang film terkenal ya? Hehehe... ada-ada saja Pak Remy Sylado alias Japi Tambajong ini. "Dalam urusan syahwat aku yang paling berkuasa atas diri penguasa itu Smissaert," hardik Mami Rietje kepada para begundal penguasa tertinggi Jogjakarta masa itu.

Begitulah. Bumbu-bumbu, komentar, akrobat pengetahuan sejarah dan bahasa sangat banyak dijumpai di novel ini. Bagi pembaca yang ingin tahu jalannya cerita, jelas bumbunya kebanyakan. Cerita yang seharusnya bisa disingkat glambyar ke mana-mana. Tapi, bagi saya, yang sudah tahu karakter Remy Sylado, novel ini sangat asyik.

NB: Novel panjang ini, juga buku-buku serta artikel-artikel Remy Sylado yang unik dan bernas itu, ternyata ditulis pakai mesin ketik biasa. Tak-tik-tak-tik-tak-tik! Sementara saya dan [mungkin] engkau yang sudah bertahun-tahun pakai komputer, lihat internet tiap hari, justru belum bisa menulis sebuah buku pun.

Malu ah!

23 April 2008

Ippho Santosa



Ippho Santosa, pekan lalu meluncurkan buku 13 Wasiat Terlarang! Dahsyat dengan Otak Kanan! Acara launching ini sangat unik karena dilakukan di tiga alat transportasi sekaligus--feri, pesawat, bus--dalam satu hari di dua negara--Singapura dan Indonesia.

Direktur Museum Rekor Indonesia (Muri) Dr Jaya Suprana pun menyerahkan Muri Award kepadanya. Berikut petikan percakapan LAMBERTUS HUREK dari Radar Surabaya dengan Ippho Santosa tentang buku terbaru, hobi, serta karirnya.


Buku terakhir ini--13 Wasiat Terlarang! Dahsyat dengan Otak Kanan--ini buku ke berapa?

Buku ke-10. Saya susun dalam tiga tahun. Kebetulan sebelumnya pernah juga saya menulis dengan Tantowi Yahya (2007) dan Aa Gym (2005). Tidak mudah menggandeng tokoh sekaliber mereka. Apalagi tahun 2005 Aa Gym begitu powerful. Pernah juga motivator Asia, Billi Lim, jadi kontributor di buku saya.

Ide dari mana launching di tiga venue dalam satu hari di dua negara?

Tiba-tiba saja idenya. Gak tau tuh dari mana. Mungkin karena saya sering travelling tiap weekend. Diundang sebagai narasumber. Sudah hampir seluruh Indonesia. Irian Jaya (Papua, Red) saja yang belum. Tampil di Singapura juga sudah pernah.

Kenapa harus pakai gebyar seperti itu? Apa tidak takut dianggap cari sensasi?

Buku ini isinya greget. Launching-nya juga harus greget. Bagi saya, tahun baru, terobosan baru. Tanpa terobosan, orang bisa bosan. Dan terobosan tidak harus pemborosan. Apalagi kalau mau jadi bos, harus berani menerobos. Hehehe!

Mengapa buku terakhir ini Anda anggap sangat istimewa?

Begini, Cashflow Quadrants dan The Secret saja mustahil diterapkan tanpa aktivasi otak kanan. Fakta pun membuktikan bahwa kesuksesan 80 persen ditentukan oleh otak kanan. Celakanya, mayoritas orang, kuat otak kirinya. Karena itulah, orang sukses menjadi minoritas.

Buku ini adalah solusinya. Buku ini membongkar tuntas misteri otak kanan. Dilengkapi dengan Right Test untuk menguji otak kanan, Right Tips untuk mengoptimalkan otak kanan, dan Right CD untuk mengasah otak kanan. Sehingga, buku ini urgen dimiliki oleh entrepreneur dan profesional yang ingin menciptakan bisnis yang dahsyat, termasuk orangtua yang ingin menghadirkan generasi yang dahsyat.

Bisa lebih spesifik, apa stressing di buku sekarang?

Bagaimana mengaktifkan otak kanan secara praktis demi meniti karir, membangun bisnis, dan mendidik anak. Yang terpenting, tidak ada satu pun literatur di tanah air yang pernah membahasnya secara tuntas.

Ada banyak buku berjudul right brain, ternyata isinya malah ngelantur, bukan tentang right brain. Disebut-sebut terlarang, karena isinya tidak pernah dibahas, bahkan ‘diharamkan’ dlm manajemen dan pendidikan. Misalnya saja, mengelola intuisi.

Cerita sedikit pengalaman berkesan selama launching.

Di Singapura, saking tertariknya, audiens malah minta buku versi English. Mereka juga memfoto-foto kami. Mayoritas mereka adalah orang Singapura. Di pesawat Garuda hampir semua menatap kami dengan penuh antusias. Mereka sampai memanjangkan lehernya agar dapat melihat kami di depan.

Beberapa pejabat malah minta tanda tangan saya, salah satunya Pak Ismeth Abdullah, gubernur Kepri, Batam. Asal tahu saja, tidak gampang untuk menggolkan Garuda. Tiga bulan kami berjuang, menembus puluhan layer.

Di Jakarta, setelah menerima MURI Award dari Pak Jaya Suprana, saya bersama artis Dhini Aminarti memberikan press conference. Dhini mengakunya ingin belajar sama saya untuk menulis buku. Luar biasa! Puluhan media massa meliput. Termasuk televisi-televisi nasional.

Anda puas?

Alhamdulillah! Puji Tuhan! Semuanya berlangsung lebih baik daripada rencana. Jauh lebih baik dari rencana. Berkat team work dan doa ibu.

Oh, ya, Anda sering membahas persoalan bisnis di Kota Surabaya lewat harian Radar Surabaya. Sejauh mana Anda mengenal Surabaya?

Saya pernah beberapa kali ke Surabaya. Orangnya ramah-ramah dan suka terus-terang. Sekarang saya agak jarang ke Surabaya. Saya lebih fokus ke kota-kota yang belum pernah saya kunjungi. Umur 20-an, saya ‘menggempur’ tanah air. Sekarang saya pas 30. Saya mau ‘menggempur’ Singapura dan Malaysia untuk dua tahun ke depan.

Prospek bisnis Surabaya ke depan?

Sangat bagus. Apalagi orang Surabaya itu berani-berani. Cocok untuk berbisnis.

Hobi: Travelling
Pendidikan:
-SD-SMP : Santa Maria
-Universitas Utara Malaysia

Buku yang sudah Ditulis:
-10 Jurus Terlarang!
-WOW! (bersama Tantowi Yahya)
-Hot Marketing (bersama Billi Lim)
-Qalbu Marketing (bersama Aa Gym)
-Dan banyak lagi.

Karir:
-Di Genting Highland, Malaysia.
-Perusahaan Filipina
-Sinar Mas Group
-Properti
-Pendidikan
-Musik
-Makanan

19 April 2008

Konser Eliata Choir di Cak Durasim



Oleh: Sepancanaryanto

Dunia paduan suara Surabaya diramaikan oleh Eliata Choir. Kumpulan anak-anak muda yang gila paduan suara ini baru saja menggelar konser di Gedung Cak Durasim, Jalan Gentengkali 15 Surabaya, Sabtu (5/4/2008). Konser ini cukup sukses, bisa dilihat dari penonton yang memenuhi gedung di kompleks Taman Budaya Jatim itu.

Suasana mendung tak menghalangi animo penonton. Panggung didekorasi seperti sapu lidi terbalik dengan aneka warna. Lighting oke. Ini membuat konser bertajuk And The Night Shall Be Filled with Music ini kian romantis. Indah. And The Night Shall Be Filled with Music--yang juga tema konser--menjadi lagu pembuka. Iringan Symphony String Ensamble dibantu Alvin (pianis), Jozzi, dan Yayang dari The Percussion Player sangat mendukung nuansa musik Eliata.

Dibagi dalam dua sesi, Eliata Choir menyanyikan 18 lagu kurang lebih selama empat jam. Nomor-nomor yang dibawakan antara lain Agnus Dei (Samuel Barber), Ave Maris Stella (Edvard H. Grieg), O Divine Redeemer (Charles Gounod), Prayer of Being (Mark Hayes), dan I Will Sing With The Spirit (John Rutter). Lagu-lagunya memang cukup variatif.

Sekadar perkenalan, Eliata Choir dibentuk pada 2004 dengan anggota awal 15 orang. Pelan-pelan Eliata bertumbuh menjadi 30 anggota aktif yang berasal dari berbagai gereja di Surabaya dan Sidoarjo. Nama Eliata diambil dari seorang putra Lewi, pemimpin paduan suara di sinagoga, pada zaman Perjanjian Lama. Eliata sendiri berarti Thou art my Lord (Eliathad).

Eliata Choir ini dilatih dan dipimpin oleh Maria Widyaningrum, aktivis paduan suara kelahiran Denpasar 31 tahun lalu. Maria Widyaningrum yang akrab dipanggil Maya ini bekas aktivis paduan suara ITS Surabaya. Maya juga aktif melatih paduan suara pelajar dan gerejawi di Kota Surabaya.

Eliata Choir latihan setiap Selasa dan Jumat pada pukul 19.00-22.00 di Gereja Katedral Hati Kudus Yesus, Jalan Polisi Istimewa Surabaya. Sekaligus melayani misa rutin setiap dua bulan sekali pada Minggu ketiga pukul 09.15 WIB.

Eliata Choir telah melakukan banyak pelayanan baik di Gereja Katolik maupun Protestan di Surabaya, upacara perkawinan. Hebatnya, mereka pernah ikut membantu konser amal Mozart C Minor (2005) dan Mozart Requiem (2006) di Surabaya. Untuk menambah wawasan anggota, Eliata Choir mengundang beberapa pelatih tamu seperti Rubin Lukito (rutin), Tommyanto Kandisaputra, dan Richard Awuy.

Rubin Lukito yang asli Surabaya ini sarjana teknik elektro. Tapi dia rela meninggalkan profesinya sebagai ahli teknik audio untuk mendalami musik gereja. Rubin pada Mei 2003 menempuh pendidikan musik di Singapore Bible College, dan akhirnya memperoleh gelar bachelor of church music dalam bidang komposisi. Pada 2006 di institusi yang sama dia memperoleh gelar graduate diploma. Rubin saat ini aktif melatih beberapa paduan suara gereja di Surabaya dan menjadi solis tamu pada beberapa konser, termasuk di Eliata Choir.

Konser Eliata Choir di Gedung Cak Durasim pekan lalu merupakan konser kedua setelah Sing Noel Concert (2005). "Konser ini untuk menjawab kerinduan kami memperkaya atsmosfer Kota Surabaya tercinta dengan paduan suara," ujar Mbak Maya yang cantik itu.

Konser Eliata Choir diakhiri dengan It’s Rag Time (Kirby Shaw). Lagu ini dibawahkan dengan riang gembira plus gerakan-gerakan ritmis dan dinamis. Proficiat! Kami tunggu konser-konser Eliata berikutnya. Puji Tuhan!

ELIATA CHOIR
Adry 081 33191 5000
Audrey 081 231 42420

Reny 0856 4811 7711

18 April 2008

Elan vital Wolly Baktiono

Saya yakin penggusuran pedagang buku bekas di kawasan Jalan Semarang, Surabaya, April 2008, membuat Peter Felix Wolly Baktiono sangat sedih. Maklum, Wolly Baktiono termasuk salah satu pengunjung tetap pusat buku-buku bekas [dan antik] Kota Surabaya itu.

Kalau ada waktu luang Pak Wolly selalu mampir ke sana. Bongkar-bangkir buku, cari koleksi buku-buku antik, yang kadang sangat tinggi nilainya. "Pak Wolly itu langganan tetap saya. Orangnya sangat cinta buku," ujar seorang wanita pedagang buku di Jalan Semarang kepada saya.

Konter ibu ini--saya lupa nama--punya koleksi yang boleh dikata paling lengkap. Buku-buku klasik. Text book. Filsafat. Teologi. Humaniora. Buku pelajaran anak sekolah. Majalah dalam dan luar negeri. Hampir semuanya ada.

Pak Wolly Baktiono memang bibliofilia, pecinta buku, kutu buku. Karena itu, tokoh PRSSNI [Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional] Jawa Timur ini asyik diajak diskusi. Topik apa saja dilayani, apalagi soal radio siaran, broadcasting. Ia tahu persis seluk-beluk radio, termasuk sisi-sisi gelap radio.

"Di Jawa Timur ini banyak radio zombie. Punya izin, tapi tidak layak hidup, tapi menguasai frekuensi," ujar ayah dua anak ini--Peter Angelo Megantara dan Peter Benedicto Devantara. Kedua anaknya ketularan kutu buku dan suka diskusi. Peter Megantara lulusan ITS, Peter Benedicto lulusan Universitas Kristen Petra Surabaya.

Nama Wolly Baktiono identik dengan radio. Orang-orang radio di Jawa Timur--Indonesia juga, mungkin!--niscaya kenal bekas general manager Radio SCFM Surabaya ini. Kalau ada diskusi tentang radio, PRSSNI, hai radio, biasanya wartawan menelepon Pak Wolly minta komentar. Bisa dipastikan muncul pernyataan-pernyataan cerdas dan kritis seputar kondisi radio-radio di Jawa Timur.

Pak Wolly juga tak segan-segan "menghabisi" radio pemerintah daerah, RKPD [Radio Khusus Pemerintah Daerah]. "RKPD itu kelaminnya nggak jelas. Tindakannya seperti penguasa, tapi hasrat rezekinya seperti pedagang. Biaya operasinal tidak jelas dari mana. Dari anggaran daerah atau iklan?" kritik Wolly Baktiono. Jangan lupa, kritik ini dilontarkan Pak Wolly sejak Orde Baru ketika rezim sangat kuat dan bisa melakukan apa saja. Termasuk menciduk dan memenjarakan kritikus.

Saya senang mendengar kritikan-kritikan Wolly Baktiono baik itu secara langsung [wawancara sendiri], via radio, atau membaca tulisannya. Oh, ya, Pak Wolly Baktiono sempat menulis buku ELAN VITAL RADIO INDONESIA [Oktober, 2001]. Penerbitnya idependen, dicetak terbatas, distribusinya mengandalkan jaringan teman-teman. Saya menemukan buku jurnalisme radio ini di Jalan Semarang. "Pak Wolly titip di sini. Siapa tahu laku," kata pedagang buku bekas.

Banyak hal menarik yang dibahas Pak Wolly. Selain masalah PRRSNI, RRI, RKPD, Pak Wolly membahas kinerja penyiar-penyiar kita yang kebanyakan muncul tanpa persiapan. Cuap-cuap dengan dalih bakat alam. "Mimpi pun tidak jadi penyiar. Tahu-tahu bicara di depan mikrofon," papar aktivis sejumlah organisasi di Surabaya ini.

Otokritik Wolly Baktiono selalu konstruktif. Ia ingin agar radio-radio di Surabaya tidak sekadar bisa mengudara, tapi juga sehat. Buat apa jadi mayat hidup, zombie? Punya frekuensi, on air, tapi sejatinya bangkrut. Dan itu hanya bisa diatasi dengan BE PROFFESIONAL. Pak Wolly mengutip Mike Harrison dari Los Angeles: "If you take radio pragramming away from the radio, will the radio be the radio?"

Radio programming! Menurut Pak Wolly, ini sangat penting dan mutlak dalam dunia broadcasting kalau mau hidup di era pasar bebas sekarang. Stasiun tidak bisa lagi mengandalkan penyiar yang cuap-cuap putar kaset/CD, baca pilihan pendengar, baca SMS, putar sandiwara macam era 1970-an hingga 1990-an. Nah, cari orang yang menguasai seluk-beluk radio programming itu yang susahnya minta ampun.

Kendala lain yang tak kalah berat, papar Wolly Baktiono, di barisan pengusaha atawa pemilik radio. Tidak semua punya pikiran maju, paham manajemen radio, mau menyesuaikan diri dengan tuntutan kemajuan teknologi yang luar biasa. "Belum apa-apa mereka takut bangkrut," tulis Pak Wolly.

Menjadi brodkaster otodidak sejak 1966, Wolly Baktiono mula-mula menjadi penyiar di RRI Surabaya hingga 1974. Saat itu ia koordinator siaran mahasiswa. Asal tahu saja, di awal Orde Baru para mahasiswa memang aktif melakukan komunikasi massa dengan membuat surat kabar, radio, majalah, buletin. MEMORANDUM--sekarang dikenal sebagai koran kriminalitas utama di Jawa Timur--awalnya ya koran mahasiswa aktivis.

Kemudian Wolly mengembangkan karier di radio siaran swasta. Pernah jadi Penanggung Jawab Radio Merdeka. Sempat jenuh di radio, Wolly mencoba mengurus hotel berbintang sebagai manajer pemasaran. Lalu, kembali lagi ke radio sebagai general manager SCFM. Terakhir, direktur Radio El Victor Surabaya di Jalan Jemursari itu. Aktivitas di PRRSNI dilakoni suami Ibu Dahlia ini sejak 1983 sampai sekarang.

Seorang brodkaster senior, yang pernah menjadi kolega Pak Wolly, memuji Wolly Baktiono sebagai brodkaster hebat. Ide-idenya cemerlang. Sayang, pengusaha radio tidak sepenuhnya sejalan dengan pemikiran Pak Wolly.

"Makanya, Pak Wolly itu sering digusur dari jabatannya hanya karena like and dislike. Kalau bicara profesionalisme, Pak Wolly sangat profesional. Ia mengikuti semua perkembangan di dunia broadcasting," ujar kenalan saya yang tak perlu ditulis namanya. Yang jelas, sumber ini saya anggap hebat di dunia radio.

Wolly Baktiono juga mengajar di beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Surabaya, Universitas Airlangga, Universitas Sunan Ampel, Universitas Widya Mandala, hingga Universitas Soetomo. Pun tercatat sebagai instruktur di John Robert Powers. Pantas saja kalau penampilan Pak Wolly sangat rapi, dandy, tidak kumus-kumus seperti wartawan umumnya.

Pak Wolly sering berkata: "Cara berpakaian itu penting. Anda harus sadar akan dress for success. Bila Anda berpakaian seperti seorang pemenang, maka orang lain akan memperlakukan kita sebagai pemenang!"

Anda mau jadi pemenang?

Herlina lolos dari hukuman gantung




Herlina Trisnawati (25), gadis kelahiran Surabaya yang sempat divonis mati di Kuala Lumpur, Malaysia, akhirnya bisa bernapas lega. Kamis (17/4/2008), dia sudah berkumpul dengan orangtuanya di Krian, Sidoarjo.

MENGENAKAN busana muslimah warna merah muda, Herlina Trisnawati terlihat anggun. Beban berat yang ditanggungnya sejak 2001 tak ada lagi. Wajahnya sumringah. Dia tersenyum lepas, bahkan sesekali tertawa kecil saat ditemui di rumah orangtuanya di Desa Sidorono, Kecamatan Krian, Sidoarjo.

"Tujuh tahun delapan bulan saya tinggal di penjara. Salah kalau Abang kata saya tinggal di kota Kuala Lumpur," ujar Herlina Trisnawati kepada saya.

Yang pasti, selama tujuh tahun delapan bulan Herlina menjadi pesakitan di penjara wanita Kajang, nagara bagian Selangor, gara-gara peristiwa tragis pada 13 Agustus 2001. Karena dianiaya habis-habisan oleh majikan perempuannya, Soon Lay Chuan, Herlina melakukan aksi bela diri.

Tak ada saksi mata, selain tubuh Herlina yang luka-luka terkena benda tajam. Gadis manis ini mula-mula dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan setempat. Pemerintah Indonesia dan kalangan LSM di sini geger merespons putusan tersebut.

Melalui perjuangan panjang dan melelahkan, juga diplomasi intensif, hukuman atas Herlina pun dikurangi. Mula-mula seumur hidup, kemudian turun menjadi 18 tahun, 10 tahun. Ending-nya pada 13 April 2008 Herlina resmi dibebaskan dari penjara khusus perempuan di Kajang, Selangor. "Alhamdulillah, saya boleh bertemu lagi dengan keluarga di sini," ujar Herlina dalam Bahasa Malaysia.

Bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Kuala Lumpur sejak 2001, kemudian tersandung masalah dan mendekam sangat lama di dalam penjara membuat Herlina lupa Bahasa Indonesia. Gaya bicaranya mirip orang Melayu asli. Dia juga kadang sulit menangkap pertanyaan dalam Bahasa Indonesia. "Kalau cakap Bahasa Jawa boleh lah," tukasnya.

Dia mengaku trauma dengan peristiwa tragis pada 2001. Karena itu, sejak tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (16/4), dia enggan mengilas balik kisah masa lalu. "Saya trauma. Kita bicara ke depan saja. Saya tak mau ingat lagi kes (kasus) itu," pintanya.

Saat ditanya kegiatan-kegiatan selama di dalam penjara, Herlina sangat antusias. Menurut dia, di Kuala Lumpur sana ada sekitar seribu orang Indonesia yang berstatus tahanan dan terpidana. Napi asal Malaysia pun tidak sedikit. Karena itu, dia mengaku tak pernah kesepian. "Banyaklah ektiviti (aktivitas) saya di penjara. Laundry, jaga anak, menjahit, klinik."

Kesibukan ini selain membuatnya punya semangat hidup, juga memberi sedikit penghasilan. Uang hasil kerjanya selama menjadi napi dibawa pulang ke Sidoarjo. "Ada sikit-sikit lah. Malu saya cerita itu. Tapi saya tak kerja, jadi tak punya uang. Yang penting, sudah bisa balik kampung," ujar Herlina.

Ada pengalaman rohani khusus yang telah mengubah hidup Herlina. Ini bisa dilihat dari busana muslim yang dikenakannya secara cara bercakap ala perempuan Melayu. "Bang, dulu saya Kristian (Kristen). Saya dapat hidayah untuk masuk Islam di dalam penjara," beber putri pasangan Sutrisno dan Nanik Indrawati itu.

Di penjara, Herlina mengaku berteman dekat dengan Rahayu binti Nasaruddin, perempuan asli Malaysia. Ketika ada pengajian--istilahnya 'bermunajat bersama'--Herlina tertarik ikut. Begitu ketahuan bukan muslimah, dia diminta tidak bergabung dalam majelis itu. "Saya juga sempat dirotan. Kristian kok ikut munajat," tuturnya.

Herlina pun mengalah. Kali lain Herlina diam-diam ikut pengajian lagi yang dipimpin Ustadzah Rasyidah. Teman-temannya sesama napi meminta dia keluar dari pengajian. "Saya dihukum lari empat round di lapangan penjara," cerita Herlina lalu tertawa kecil.

Meski niat sudah kuat, si pembimbing rohani meminta Herlina untuk berpikir lagi sebelum memutuskan jadi mualaf. Sebab, agama tidak boleh dipakai main-main. "Ustadzah kata kalau dah masuk tak boleh keluar. Alhamdulillah, saya masuk Islam tahun 2006. Badan saya menggigil saat mengucapkan syahadat," kenangnya.

"Apa Herlina nak balik ke Malaysia?" pancing saya.

"Saya tak nak balik ke KL lah. Dah cukup lah pengalaman saya di sana," tegasnya. Dia juga mengaku belum punya rencana setelah berada di tengah keluarganya. "Saya istirahat dulu."

Nanik Indrawati, ibunda Herlina, lantas menghentikan wawancara yang berlangsung akrab ini. "Sudah cukup, Mas. Herlina mau ke Surabaya dulu. Dia perlu istirahat. Jangan diajak bicara terlalu lama," kata Nanik dengan nada tinggi.

Sebelumnya, dalam percakapan terpisah, Nanik mengaku sudah yakin sejak awal bahwa putrinya akan bebas. "Saya selalu berdoa dan saya percaya Tuhan pasti membebaskan anak saya. Puji Tuhan, sesuai dengan keyakinan saya, tahun 2008 ini saya bisa kumpul lagi dengan anak saya," ujar wanita evergreen yang aktif di Gereja Bethany ini.

Nanik mengaku sudah lima kali ke Kuala Lumpur--atas bantuan pemerintah dan Aliansi Buruh Migran--untuk meminta keringanan hukuman. Dari situlah ia diyakini para pengacara bahwa posisi Herlina sangat kuat. Dan sejak 2001 ia bersama para jemaat gerejanya tak henti-hentinya berdoa untuk Herlina.

"Akhirnya, mukjizat Tuhan benar-benar datang," tegasnya.

Nanik sejak 2003 memilih menyepi di pelosok Krian gara-gara kasus Herlina. Sebelumnya, ia tinggal di kawasan Ngagel, Surabaya. "Herlina biar di sini saja. Bantu-bantu saya jualan atau apa lah. Kita harus ambil hikmah dari kejadian ini," katanya.

16 April 2008

Akal sehat pemilihan gubernur Jawa Barat

Oleh: Dahlan Iskan
Radar Surabaya, 15 April 2008

Akal sehat seperti apakah yang terjadi di Jawa Barat sehingga orang seperti Deni Setiawan yang incumbent, yang jenderal, yang mantan pangdam setempat, yang dananya banyak, yang diusung oleh dua partainya presiden dan wakil presiden, kalah dalam pemilihan gubernur?

Akal sehat seperti apakah yang berjalan di Jawa Barat sehingga tokoh seperti Agum Gumelar yang mantan calon wakil presiden, yang mantan pangdam setempat, yang jenderal berbintang empat, yang tokoh pengurus olahraga terpopuler, yang duitnya banyak, yang dicalonkan oleh partai oposisi besar milik dua mantan presiden--Megawati dan Gus Dur--juga kalah dalam pemilihan Minggu lalu itu?

Saya yang sedang sibuk sekali rapat-rapat di Beijing pun sempat merenungkan kejadian ini dalam-dalam. Macam-macam bunyi SMS saya terima. Yang terbanyak adalah yang nadanya menganjurkan banyak tokoh untuk introspeksi. Terutama tokoh-tokoh tua. Ada juga yang mengatakan bahwa “banyak duit” yang selama ini menjadi andalan seorang calon ternyata juga bukan segala-galanya.

“Akal sehat” yang selama ini didengung-dengungkan bahwa “pokoknya banyak duit pasti menang” ternyata hanya sehat akal-akalan. Pasangan yang menang di Jabar, yang diusung oleh PKS (Ahmad Heryawan) adalah pasangan yang paling miskin di antara tiga pasangan yang maju.

Analisa bahwa incumbent banyak menangnya, ternyata tidak berlaku untuk pemilihan gubernur. Di Kalbar incumbent kalah. Di Sulsel kalah. Di Sultra kalah. Di Maluku Utara kalah. Dan kini di Jabar juga kalah. Incumbent banyak menangnya, kelihatannya hanya berlaku untuk tingkat bupati/wali kota. Ini karena lingkup pengenalan kepada tokoh-tokoh setempat sangat intens di suatu lingkup wilayah yang kecil. Proses kooptasi oleh kekuasaan seorang bupati/wali kota juga lebih efektif di suatu wilayah yang kecil.

Semakin besar wilayah yang harus dijangkau ternyata semakin sulit dikooptasi kekuasaan. Ini juga yang akan terjadi di dalam pemilihan presiden yang akan datang. Baik kooptasi kekuasaan eksekutif pemerintahan maupun kooptasi kekuasaan partai.

Efektivitas kooptasi di tingkat kabupaten/kota (terutama kabupaten/kota kecil) seperti ini pulalah yang juga terjadi dalam proses konvensi di partai. Contoh paling nyata adalah dalam konvensi calon presiden di Partai Golkar dulu. Karena peserta konvensi tidak sampai 100 orang, maka bahaya kooptasi terhadap sedikit orang sangatlah nyata. Baik lewat uang maupun kekuasaan. Akan berbeda kalau konvensi itu diikuti oleh pengurus tingkat kecamatan atau desa di seluruh Indonesia seperti yang terjadi di Amerika Serikat saat ini. Konvensi kalau hanya diikuti sedikit orang, yang mudah terkooptasi, sebaiknya jangan diberi nama konvensi, karena memang hanya konvensi-konvensian.

Karena itu, meski usul berikut ini tidak realistis kalau dilakukan sekarang, sebaiknya wilayah kabupaten/kota diperluas dengan cara menggabungkan beberapa kabupaten menjadi satu. Di Jatim, misalnya, mungkin cukup tujuh kabupaten dan satu kota. Demikian juga Jateng, cukup lima kabupaten dan satu kota. Konsekuensinya, provinsi dihapus atau setidaknya pilkada gubernurnya dihapus dan DPRD provinsi juga ditiadakan.

Akal sehat lain yang terjadi di Jabar adalah: Hade (Haryawan-Dede Yusuf) menang bukan hanya oleh kekuatannya sendiri, melainkan lebih pada karena kelemahan lawan-lawannya. Dany Setiawan yang incumbent kena beban citra dirinya. Agum kelihatan lemah dari sisi kepribadian karena seorang jenderal yang gagal total dalam dua kali pencalonan pimpinan negara (hanya dapat suara dua persen dalam Pemilu lalu dan hanya dapat satu suara dalam pemilihan presiden lewat MPR periode sebelumnya) kok masih juga mencalonkan diri di tingkat yang lebih rendah.

Di sini berlaku akal sehat di rakyat banyak bahwa jabatan gubernur ini hanyalah sebuah pelarian saja baginya, sekadar mengisi masa pensiunnya yang sepi. Tapi untuk menguji akal sehat yang satu ini memang masih harus dites sekali lagi. Misalnya, Agum sekali lagi mencalonkan diri dalam pemilihan kepala daerah di tingkat kabupaten/kota. Siapa tahu akal sehat di atas tidak berlaku di tingkat bupati/wali kota sebagaimana juga teori incumbent tadi. PKS di Jabar diuntungkan oleh kelemahan lawan-lawannya tadi.

Inilah “pelajaran benar” terbaik bagi PKS ketika akan menentukan calon. Tidak seperti Pilkada di Jakarta yang secara teoritis mestinya PKS bisa memenangkannya. Kekeliruan di Jakarta adalah karena PKS juga mengajukan tokoh lama, tentu juga dengan citra lama. Apalagi dia seorang jenderal polisi yang polisi sendiri saat itu masih dicitrakan oleh masyarakat sebagai lembaga yang paling korup. Kalau saja itu terjadi lima tahun di depan, ketika citra polisi sudah lebih baik, barangkali akan berbeda hasilnya.

Meski di Jabar itu PKS bergandeng tangan dengan PAN, tapi saya tidak menampilkan PAN di sini sebagai faktor. Saya baru akan memperhitungkannya kalau nanti, setelah pilkada di Magetan tokoh yang dicalonkan PAN, yakni seorang koruptor yang baru saja dijatuhi hukuman oleh pengadilan negeri dan pengadilan tinggi dengan hukuman penjara empat tahun, benar-benar terpilih sebagai bupati. (*)

14 April 2008

Geliat musik klasik di Surabaya


Thomas Tobing lagi resital di Surabaya. [Foto: Suara Surabaya]


Surabaya sebagai kota dagang sejak dulu bukanlah kiblat musik klasik. Orang-orang yang tinggal di kota yang sangat sibuk biasanya lebih suka musik hiburan, klangenan, untuk melepas stres. Karena itu, tidak heran sampai sekarang pun--meski Surabaya tak kalah sibuk sama Jakarta--penggemar musik klasik di sini tidak banyak. Hanya segelintir elite masyarakat yang sadar bahwa musik klasik (Barat) itu penting. Khususnya bagi pendidikan anak-anak.

Konser-konser pemusik klasik besar, orkes simfoni dunia, pun tidak pernah diadakan di Surabaya. Paling tidak selama 10 tahun lebih tinggal di Surabaya saya belum pernah melihat ada symphony orchestra kelas dunia yang mampir ke Kota Pahlawan. Paling-paling ya kunjungan "pemusik liburan" yang dibawa beberapa perwakilan asing. Yang nonton pun hanya 100-200 orang.

Kalau ada konser bernuansa pop--semacam Twilite Orchestra pimpinan Addie MS--ramai sekali. Wajar karena nuansa hiburan di Twilite sangat kuat. Anak-anak muda, mahasiswa, sangat suka, apalagi ada bintang tamu penyanyi pop terkenal.

"Orang Surabaya memang sulit kalau diajak melihat sajian musik klasik murni. Boleh klasik, tapi jangan berat-beratlah," ujar Hadi, penggemar musik klasik ringan. Hadi mengursuskan anak-anaknya di sekolah musik sejak dini.

Tapi dalam dua bulan ini--Maret dan April 2008--geliat musik klasik di Surabaya cukup baik. Ada konser-konser kecil. Lokakarya. Bahkan, Radio Suara Surabaya FM 100 merayakan ulang tahun ke-25 dengan menggelar lomba dan resital piano. Schopan Piano Competition demikian tema festival ala Suara Surabaya.

Radio bermarkas di Wonokitri Besar 40 ini memang dari dulu punya program musik klasik tiap Minggu malam meski penggemarnya sedikit. Namun, Pak Errol Jonathans sebagai salah satu pimpinan di SSFM merasa perlu memberi tempat yang pantas kepada musik klasik, khususnya piano.

Lomba piano, seperti biasa, selalu meriah. Asal tahu saja anak-anak di Surabaya gandrung les piano. Bisa saja dipaksa papa mamanya yang waktu kecil tidak punya kesempatan (dan uang) untuk belajar piano. Belajar musik klasik, kata sekolah-sekolah musik, bisa menambah kecerdasan, memaksimalkan potensi anak. Maka, lomba piano khusus karya Schopan pun dihelat di CCCL (Pusat Kebudayaan Prancis). Ramai sekali! Suara Surabaya juga mendatangkan Thomas Tobing untuk resital piano.

Bukan main Suara Surabaya ini, kata saya dalam hati. Sebab, hajatan 25 tahun dengan musik klasik risikonya tidak ada gebyar. Penonton sedikit. Berapa sih kapasitas CCCL yang sempit itu? Tapi mungkin saja musik klasik bisa menunjukkan kelas SSFM yang intelek, kosmopolit, elite. Apa pun SSFM ikut membantu menghidupkan musik klasik di Kota Surabaya.

Hampir bersamaan pianis Ananda Sukarlan pun menjenguk Surabaya. Resitalnya menarik--ingat, Ananda pianis kelas dunia--meski hanya mendapat tempat kecil di surat kabar utama. Kita memang belum memberikan apresiasi yang proporsional kepada Ananda, sang duta budaya.

"Kok beritanya nyelempit di koran? Masa, gak tahu kalau Ananda itu pianis berpengauh di dunia? Wartawan ngerti musik gak?" gugat seorang pengamat musik. "Masih bagus ada liputannya. Kita masih bisa bersyukur," bilang saya menghibur dia.

Yang juga patut dicatat, pekan pertama April 2008 ada konser Lita Liviani Tandiono, remaja 12 tahun. Sebagaimana anak-anak orang berada lain, Lita ikut kursus sejak dini, tepatnya 4,5 tahun. Biola, piano, cello, flute. Karena papa mamanya kaya, Lita diberi kesempatan unjuk bakat di hotel bintang lima. Dikemas dengan bagus, ditulis panjang lebar di koran. Padahal, itu tadi, resital Ananda Sukarlan ditulis pendek saja, bahkan sama sekali tidak ditulis di sejumlah media cetak.

Hehehe.... Begitulah keanehan wartawan musik di Surabaya. Belum bisa membedakan mana emas mana loyang, mana pemusik dunia mana pemusik bocah yang dipaksa papa mamanya. Akhirnya, media massa belum bisa menjadi media untuk memberikan edukasi musik kepada warga. Puji-pujian luar biasa kepada si bocah, Lita Liviani Tandiono, rasanya berlebihan. Kapan apresiasi musik klasik di Surabaya berkembang kalau iklimnya tak kondusif macam sekarang?

Pada 15 April 2008--Super Tuesday, istilah Solomon Tong--Surabaya Symphony Orchestra (SSO) gelar konser besar bertajuk The Spring Concert. Surabaya lagi musim semi? Hehehe... Ini cuma sekadar nama, Bung, biar keren ala orkes-orkes simfoni di Eropa yang empat musim. Pak Tong--pendiri, dirigen, manajer, penulis orkestrasi--tetap semangat menyajikan musik klasik kepada khalayak Surabaya. SSO ini punya penggemar tetap sekitar seribu orang. Mereka ini keluarga, teman-teman, dan relasi pemain, selain penyuka musik klasik.

Saya sempat menyaksikan latihan persiapan SSO pada Minggu (13/4) malam di Jalan Gentengkali 15 Surabaya. Pak Tong dan para pemain penuh semangat, kerja keras, meski selalu ada humor selama latihan. Kalau ada bagian-bagian yang kurang pas, diulang, sambil Pak Tong mengingatkan dengan guyonannya yang khas. Para pemain, sebagian besar anak-anak muda gaul, tertawa renyah.

Ternyata, lebih asyik menonton orkes simfoni saat latihan ketimbang di atas panggung. Kita punya kesempatan mengenal sosok dirigen, solis, pemain, serta para awak di balik sebuah symphony orchestra.

"Tetres, kamu sudah makan belum? Kok tadi ak kelihatan?" tanya Ibu Ester Karlina Magawe, pianis yang juga istrinya Pak Solomon.

"Sudah, Bu, saya tadi makan di luar," jawab Tetres Susanto, pemain flute asal Institut Seni Indonesia Jogjakarta. Ibu Karlina pun tersenyum. Takut Tetres kelaparan di Surabaya ya?

Suasana kekeluargaan memang sangat terasa saat latihan. Tak heran, seorang dosen musik dari Universitas Negeri Surabaya pernah mengatakan kepada saya bahwa suasana konser SSO itu ibarat arisan atau hajatan keluarga. Tapi justru dengan suasana "kekeluargaan" inilah SSO masih terus mengelar konser sedikitnya tiga kali setahun sejak didirikan pada 1996.

Romo Suwadji CM penulis puluhan buku




Monday, 14 April, 2008

Di sela-sela kesibukannya sebagai pastor, Romo Donatus Suwaji CM--biasa dieja dengan ejaan lama, Donatus Suwadji--menulis buku. Buku apa saja, khususnya yang berkaitan dengan kebutuhan umat. Bagi Romo Waji, menulis buku itu bukan sekadar sarana untuk menuangkan ide-ide agar bisa dinikmati orang banyak, melainkan terapi fisik dan psikis.

"Saya kalau nggak menulis buku agak lama bisa sakit atau mengalami kecelakaan. Ini pernah saya alami tiga kali," tutur Pater Donatus Suwaji CM yang saya kontak via telepon seluler. Saat ini Romo Waji menjabat pastor paroki di Gresik, Jawa Timur. Rohaniwan kelahiran Slorok, lereng Gunung Kelud, 29 April 1941, ini mengaku tidak seproduktif dulu. Tapi ia tetap saja menulis bahan-bahan yang suatu saat kelak bakal dijadikan buku.

Saya tertarik dengan figur pastor senior ini karena sering sekali saya menemukan buku-bukunya terpajang do toko-toko buku gereja. Ada rak khusus untuk buku-buku Romo Waji. Bentuknya sederhana, bahkan kelewat sederhana karena pakai fotokopi atau cetakan murah, tipis, materinya tidak berat-berat amat. Biasanya soal-soal rohani, kebatinan, doa-doa, hingga terapi urine. Romo Waji sering membawa tumpukan bukunya untuk dijual di acara-acara yang dihadiri banyak orang.

Cari bahan sendiri, ngetik sendiri, ngedit sendiri, cetak sendiri... jual sendiri. Jauh sebelum ada penerbit independen, Romo Waji sudah melakukannya. Sebagai pater di Jawa Timur, Romo Waji tentu tidak perlu susah-susah cari uang untuk makan. Di pastoran kan tersedia makanan dan pelbagai fasilitas. Mau jalan-jalan ke mana saja pun bisa kalau lagi cuti. Bahkan, bisa tur ke tanah suci atau Vatikan bersama sekelompok umat, kalau mau. Lalu, untuk apa capek-capek bikin buku dengan modal dan kekuatan sendiri?

"Yah, untuk umat. Saya menulis buku untuk menjawab kebutuhan umat. Juga biasanya ada umat yang minta agar saya membahas topik tertentu. Saya langsung cari bahan, mengetik, lalu diterbitkan," papar Romo Waji kepada saya. Penerbitnya tanpa tanpa karena Romo Waji sendiri. Biasanya ditulis: "untuk kalangan sendiri".

Ditahbiskan pada 29 Juni 1972, Romo Donatus Suwaji CM mengawali tugas pastoralnya sebagai romo di Bojonegoro. Ia mendampingi Pater Adam Jan van Mensvoort CM di kota kecil itu. Baru sekitar dua tahun Romo Waji sakit parah sehingga harus dirawat di Surabaya. Romo Waji sempat putus asa karena sakitnya tidak kunjung sembuh. "Kamu kan buruhnya Tuhan. Kalau Tuhan menghendaki kamu sakit, ya, terima saja," ujar Romo Rekso Subroto CM menghibur konfraternya.

Puji Tuhan, Romo Waji sembuh. Ia ditugaskan ke Blitar, mengurus jemaat Katolik di pelosok-pelosok desa. Ada 60an stasi kecil. Jemaatnya orang desa, berbahasa Jawa. Romo Waji sadar bahwa umatnya perlu buku pegangan untuk nyanyian dan doa dalam bahasa Jawa. Tapi cari di mana? Yah, dia pun menulis sendiri. Terbitlah buku KIDUNG (lagu-lagu pujian Jawa) dan IBADAT TANPA IMAM. Dua buku ini merupakan debut awal Romo Waji dalam karya literaturnya. Rata-rata buku Romo Waji dicetak 1.000 sampai 2.000 eksemplar.

Masih pada pertengahan 1970-an Romo Waji menatar 350 "modin" Katolik yang diharapkan bisa memimpin upacara-upacara selamatan Jawa secara Katolik. Maklum, Romo Waji termasuk pegiat inkulturasi liturgi di Jawa Timur, khususnya Keuskupan Surabaya. Lagi-lagi ia merasa para modin itu butuh buku pegangan. Maka, lahirlah AMIN buku ketiganya. "Jadi, saya itu nulis buku antara lain karena sakit lama. Lalu, saat bertemu umat di desa-desa saya melihat ada kebutuhan akan buku-buku panduan praktis. Bukan buku-buku teori yang sulit-sulit," papar putra pasangan Andreas Kasan Munadi dan Bertha Jamiah itu.

Bapa dan mamanya meninggal dunia hanya beberapa saat setelah Suwaji ditahbiskan sebagai romo oleh Uskup Surabaya Mgr Johanes Klooster CM di Blitar. Kehilangan bapa dan mama dalam waktu berdekatan sempat membuat Romo Waji merasa ditinggalkan Tuhan. Namun, Romo Waji beroleh kekuatan setelah mendekatkan diri pada Tuhan lewat doa-doa dan laku spiritualnya.

Nah, setelah tiga buku tadi, Romo Waji makin rajin menulis buku. Satu buku belum selesai, sudah ada ide untuk buku-buku berikutnya. Umat senang karena gaya tulis Romo Waji sederhana, akrab, pakai contoh-contoh nyata. Beberapa buku bahkan dicetak ulang beberapa kali. Tak terhitung yang diperbanyak dengan cara fotokopi tanpa izinnya. Romo Waji tetap tersenyum karena, menurut dia, buku-bukunya demi pembinaan jemaat. Bukan untuk cari uang atau minta royalti.

Royalti apa? Wong penerbitnya dia sendiri. Romo Waji membiarkan buku-bukunya dibajak. Hak cipta tidak dihargai. "Mestinya gak boleh kalau memperbanyak kemudian jual lagi. Tapi, sudahlah, kalau untuk umat gak apa-apa," ujar pater yang sempat mencicipi pendidikan guru di SGB Malang pada 1960 itu. Ia senang kalau umat Katolik suka membaca buku dan syukur-syukur mau menulis apa saja demi kebaikan masyarakat.

Kepada saya, Romo Waji mengaku sudah lupa sudah berapa judul buku yang sudah ditulis. Saking banyaknya. "Sekitar 60 sampai 70 buku. Saya sudah tidak ingat," kata romo yang dekat dengan anak-anak muda dan wong cilik ini.

Romo Waji mengatakan, biasanya dia hanya butuh empat hari untuk menulis buku. Kalau sudah ada bahan--dan bahan selalu ada di kepala dan perpustakaan--Romo Waji duduk manis di depan mesin ketik. Sekarang lebih efisien karena pakai komputer. "Saya nggak tidur. Saya usahakan supaya buku cepat selesai, dicetak, dan cepat diedarkan ke umat," paparnya.

Kini, buku-buku baru karya Romo Waji jarang terlihat di toko-toko buku. Kenapa tidak seproduktif pada 1980-an dan 1990-an? Apakah karena sibuk mengurus umat di Gresik? Juga merenovasi gereja? Saya tanyakan ini kepada Romo Waji.

"Kalau sibuk sih dari dulu juga sibuk. Saya aak kendor karena hampir semua topik sudah saya tulis. Tinggal dicetak ulang atau digandakan lagi. Nanti kalau ada topik yang sekiranya perlu diketahui umat, ya, saya menulis lagi," ujarnya santai.

Di usia 67 tahun ini Romo Waji punya kesibukan baru di Gresik, yakni berkebun. Selepas misa harian pagi, Romo Waji mengurus kebuh di halaman gereja. "Mbah Waji juga bikin kolam ikan dan taman yang snagat indah. Mbah Waji ternyata punya ketrampilan sebagai tukang kayu, tukang kolam, tukang batu, petani, dan nelayan. Pokoknya, komplet lah. Mbah Waji juga sangat peduli dengan anak-anak muda," ujar teman saya, Ignatius Indra, aktivis Mudika Gresik. (rek)

13 April 2008

Hermawan Kartajaya guru marketing

Lama tak datang ke Surabaya, Pak Hermawan Kartajaya masih tetap sama. Bicaranya ceplas-ceplos, lancar, mengalir, ada selingan Bahasa Inggris, dan enak didengar. Selalu ada suntikan semangat kepada pendengarnya. Orang selalu tertarik mendengar meskipun, mungkin, kata-kata motivasi itu sudah pernah kita baca di buku atau dengar dari pembicara lain.

Itu memang kelebihan Pak Hermawan yang menekuni "bisnis kata-kata". Sekarang Hermawan Kartajaya lebih dikenal sebagai ahli marketing ternama di Indonesia. Bos Mark-Plus, perusahaan konsultan marketing yang sudah bekembang di tujuh kota. Dimulai dari Surabaya, 1990, Mark-Plus berkembang luar biasa. Toh, Hermawan belum puas.

"Tahun 2010 harus juara ASEAN. Tahun 2015 juara Asia. Tahun 2020 juara dunia," tegas Hermawan serius.

Pada 2020 usia Hermawan Kartajaya 73 tahun. Apa masih mungkin punya tenaga kuat, gesit, lincah, seperti sekarang? Dia tidak menjelaskan. Yang pasti, Pak Hermawan senantiasa mencanangkan visi dan cita-cita setinggi mungkin. Ini untuk memotivasi diri, memacu adrenalin, agar visi itu bisa dijangkau. "Yang penting, future, bukan past," begitu prinsip Hermawan Kartajaya.

Saya tahu Pak Hermawan sangat serius dengan marketing. Di mana pun dia bicara marketing, marketing, marketing. Kalau diminta bicara tentang nabi-nabi dari sejumlah agama, Pak Hermawan menekankan aspek pemasaran alias marketing. "Di keluarga kami topik yang dibicarakan, ya, maketing. Anak saya yang dua orang, Michael dan Stpehany, bicaranya ya marketing."

Sebagai pembicara internasional, Pak Hermawan sangat sering terbang ke mancanegara. Singapura, Kuala Lumpur, Hongkong, New York, ibarat tanah air sendiri. Lantas, apa yang dilakukan selama penerbangan? "Nonton film, capek, tidur, bangun lagi.... Pulang ke Indonesia, menulis jadi buku. Hehehe," ujar kolumnis sejumlah surat kabar ini.

Ada tiga kegiatan yang sangat mendorong kreativitasnya: travelling, joking, showering. Ketika jalan-jalan, bercanda, mandi, selalu saja muncul ide-ide marketing untuk disampaikan kepada masyarakat. Jangan heran Pak Hermawan menulis begitu banyak buku tentang marketing karena kreativitasnya senantiasa mengalir dari tiga kegiatan sederhana tadi.

"Bagaimanapun juga saya ini kan guru. Sampai sekarang saya masih merasa sebagai seorang guru. Bedanya, saya tidak berdiri di depan kelas seperti dulu," ujarnya serius.

Sebagai kilas balik, Hermawan Kartajaya lahir dari keluarga Tionghoa miskin. Tinggal di gang kecil, Kapasan Gang IV. Ini salah satu kantung warga Tionghoa alias pecinan di Kota Surabaya.

"Papa miskin sekali. Dia kasir semacam BUMN, tapi terlalu jujur, nggak bisa korupsi. Makanya, hidup Papa pas-pasan, gak punya apa-apa," kenang Pak Hermawan Kartajaya.

Yang menarik, sang ayah melarang Hermawan masuk sekolah Tionghoa. Kenapa? "Tujuan Papa supaya anak-anaknya nasionalis. Cinta tanah air," kenangnya.

Karena penghasilan orang tua sangat sedikit, Hermawan harus ikut mencari uang pada usia remaja. Memberi les ke mana-mana. Hasil kasih les itu dipakai untuk ongkos kuliah di ITS [Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya]. Makanya, Hermawan selalu menyebut dirinya "terlahir sebagai guru". Born to be a teacher!

Saat kuliah di ITS--Pak Muhammad Nuh, menteri komunikasi dan informasi teman angkatannya--Hermawan merasa kurang sreg. Mata kuliah yang diajarkan lewat begitu saja. "Bagaimana bisa menikmati? Aku iki kan gak seneng teknik. Gak bakat lah. Aku nang E-6, Pak Nuh E-18," tutur pria yang kerap digandeng Philip Kotler, pakar manajemen terkemuka sebagai pembicara seminar atau penulis buku itu.

Tanpa gelar sarjana, karena drop out ITS, Hermawan Kartajaya menjadi guru SMAK St Louis I Surabaya. Ini karena penguasaan matematika dan fisikanya luar biasa. Hermawan Kartajaya bahkan menjadi guru favorit. Anak-anak sekolah gandrung pelajaran Hermawan. Kenapa?

"Karena saya selalu berusaha menyederhanakan materi-materi yang rumit. Saya pakai contoh-contoh konket. Membahas kubus, misalnya, saya suruh anak-anak bawa benang. Lalu, dibuat peragaan."

Hermawan memang cakap. Kapabilitasnya sebagai guru ilmu pasti tak diragukan lagi. Dia juga sudah merasa mantan di St Louis. Namun, pemerintah Orde Baru menuntut gelar sarjana [strata satu] untuk guru SMA. Diam-diam Hermawan diketahui petugas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bahwa ia belum sarjana. Kok dibiarkan mengajar di SMA St Louis? Pihak sekolah kemudian ditekan.

"Mampu tapi tanpa gelar dianggap tidak kompeten! Sebaliknya, tidak mampu tapi punya gelar dianggap mampu!" begitu kira-kira prinsip Orde Baru. Maka, posisi Hermawan mulai digoyang.

Singkat cerita, dia harus kuliah sambil tetap mengajar. Kuliahnya ekonomi di Ubaya [Universitas Surabaya]. Pelajaran-pelajaran di Ubaya dilahap habis sama Hermawan. Dosen-dosennya bahkan meminta masukan Hermawan, yang nota bene mahasiswa. "Wong apa yang diajarkan itu sudah saya baca semua. Malah sudah ketinggalan zaman," tuturnya.

Hermawan dengan cepat beroleh gelar sarjana ekonomi. Selama 20 tahun dia bekerja sebagai guru. Kemudian Hermawan muda yang cemerlang direkrut PT HM Sampoerna untuk mengelola PT Panggung. Penghasilan sebagai profesional tentu jauh lebih ciamik ketimbang guru matematika/fisika. Tapi lama-lama Hermawan jenuh. Alasannya sama: jiwanya guru.

"Teaching iku kan giving inspiration kepada orang lain supaya wong-wong iku iso change himself, supaya uripe lebih ciamik," papar Hermawan dalam gaya bahasa khasnya yang gado-gado: Indonesia campur Suroboyo campur Inggris campur Hokian.

Tahun 1990 Hermawan Kartajaya memutuskan keluar dari zone nyaman di HM Sampoerna. Dia mencari tantangan baru. Dibikinlah MarkPlus. Nama Hermawan lekas dikenal karena media massa di Surabaya, khususnya Jawa Pos dan Surabaya Post, sangat membantu mensosialisasikan ide-idenya. Hermawan sudah berpikir jauh ke depan. Bahwa marketing akan menjadi unsur penting dalam manajemen modern.

Saat itu profesi konsultan belum banyak dikenal di Surabaya, bahkan Indonesia umumnya. Hermawan sering dicibir hanya jualan omongan. Hanya bisa bicara, tapi belum tentu mampu mengelola perusahaan.

"Salah pendapat seperti itu. Saya ini mengajar, memberi inspirasi. Karena jualan saya abstrak, ya, gak kelihatan. Sama salahnya dengan pendapat bahwa pengusaha itu jahat, suka menipu," tegasnya.

"Saya tetap guru dan tidak pernah berubah. Marketing itu membuat sebuah produk [barang atau jasa] selalu dibutuhkan. Customer butuh terus," tambahnya.

Prinsip inilah yang selalu dikembangkan Hermawan Kartajaya selama menekuni profesi sebagai konsultan marketing. Apakah Hermawan Kartajaya menikmati profesi sekarang?

Tanpa ragu-ragu konsultan perbankan syariah ini [satu-satunya nonmuslim yang direkrut Bank indonesia] mengatakan sangat bahagia. Sukses materi sudah. Anak-anak sudah mandiri dan ikut jejaknya di marketing.

Menurut Hermawan, pekerjaan itu ada tiga macam: job, profession, calling. Kalau sudah tahap panggilan [calling], maka manusia akan menikmati kebahagiaan dalam pekerjaannya. Kerja dinikmati selama 24 jam, tidak lagi terikat jam kerja, atau pertimbangan-pertimbangan lain. Hidup Hermawan saat ini diabdikan untuk marketing karena itulah calling-nya.

"Di keluarga, ya, kami bicara marketing. Positioning, diferensiasi, dan seterusnya. Ketemu anak saya, Michael (31) dan Stephany (26), ya, bicara marketing. Tapi anak-anak saya juga punya their own life."

Omong-omong, apakah Sampeyan merasa kesepian di usia 60 tahun?

"Yah, bisa begitu. Ada istilah lonely at the top. Orang akan kesepian ketika berada di puncak. Tapi dari situ kita sadar bahwa pada akhirnya manusia baru bisa hidup kalau diperlukan orang lain. Terutama keluarga terdekat. Sebab, kita ini lahir karena cinta."

Hermawan mengakui saat ini sangat susah empat orang itu [suami-istri plus dua anak] bisa berkumpul sama-sama. Michael dan Stephany tinggal di apartemen masing-masing. Hermawan berbicara di mana-mana. "Biasanya, kalau ada ulang tahun kami bisa kumpul bareng-bareng."

Yah, lonely at the top!

12 April 2008

Karl-Edmund Prier SJ pengembang musik inkulturasi




Tahun 2007, Karl-Edmund Prier SJ merayakan 50 tahun imamatnya sebagai pater yesuit. Acara disemarakkan dengan konser paduan suara Vocalista Sonora dan Vocalista Divina di Auditorium Puskat Jogjakarta. Pater asal Jerman ini memang tak bisa dipisahkan dari Vocalista Sonora.

Kendati didirikan Paul Widyawan pada 1964, pekembangan Vocalista tak bisa dipisahkan dari Prier. Tur Vocalista ke Eropa beberapa kali [1976, 1988, 1992] berkat jasa dan ketokohan Karl-Edmund Prier. Orang Eropa lebih kenal Karl-Edmund Prier ketimbang Paul Widyawan, bukan?

Karl-Edmund Prier itu pastor kategorial. Berbeda dengan pastor parokial, pater-pater kategorial menangani urusan-urusan khusus di luar tugas pater-pater biasa. Latar belakangnya sebagai ahli musik membuat Karl-Edmund Prier dipercaya mengembangkan musik liturgi inkulturasi ala Indonesia.

Ini tak lepas dari "revolusi" di lingkungan Gereja Katolik pada 1962-1965 yang lebih dikenal dengan Konsili Vatikan II. Konsili ini mengubah wajah gereja, mendorong gereja untuk mengembangkan teologi yang lebih kontekstual. Termasuk musik liturgi.

Maka, Serikat Jesus (SJ) memercayai Pater Karl-Edmund Prier SJ pada 11 Juli 1971 sebagai direktur Pusat Musik Litugi atau PML. PML mengemban misi mengembangkan musik liturgi dengan bahan dasar musik rakyat dari seluruh daerah Indonesia. Pater Prier pun masuk kampung ke luar kampung, belajar, diskusi, bikin lokakarya, membuat komposisi, aransemen... lagu-lagu baru. Semuanya demi memperkaya musik liturgi Indonesia.

Karl-Edmund Prier mendalami gamelan jawa sampai matang. Ia juga belajar musik Dayak, Batak, Minang, Flores, Papua, Maluku, Timor, Sulawesi. Jangan heran di tulisan-tulisan internasional Karl-Edmund Prier selalu disebut-sebut sebagai "salah satu pegiat world music" di Indonesia.

Nah, komposisi-komposisi hasil lokakarya kemudian diterbitkan sebagai buku partitur paduan suara oleh PML Jogjakarta. Biasanya kor campur: sopran, alto, tenor, bas. Pater Prier bersama Paul Widyawan lah yang paling dominan dalam penulisan tata suara atau aransemen. "Ingat PML, ya, ingat dua nama ini: Karl-Edmund Prier dan Paul Widyawan," begitu gurauan teman-teman aktivis paduan suara Katolik pada 1990-an.

Nama PML dan Karl-Edmund Prier semakin menasional [maksudnya di lingkungan Katolik] setelah Konferensi Waligereja Indonesia alias KWI merekomendasikan MADAH BAKTI, buku nyanyian terbitan PML, sebagai buku acuan liturgi di Indonesia. Berbeda dengan buku-buku nyanyian gerejawi lain, MADAH BAKTI didominasi lagu-lagu inkulturasi. Ada misa gaya Flores, Timor, Jawa, Sunda, Karo, Batak, Dayak, Papua, Keroncong, dan sebagainya. Suasana misa pun kian meriah khas barisan bhinneka tunggal ika.

"Tentu ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan tradisi musik liturgi dari Barat. Maka, paling baik dibuat variasi: Barat dan Timur, juga masing-masing daerah di Indonesia," ujar Karl-Edmund Prier dalam berbagai kesempatan.

Karena itu, meskipun gencar membuat komposisi inkulturasi, Pater Prier tetap menerbitkan buku-buku paduan suara ala Barat. Juga merilis kaset-kaset/CD paduan suara bagaimana seharusnya lagu-lagu itu dibawakan. Kor mana lagi kalau bukan Vocalista Sonora yang diajak Pater Prier.

"Lokakarya komposisi ini tidak akan bisa dihentikan. PML jalan terus dengan program-programnya," ujar Pater Prier kepada saya di Pandaan, Kabupaten Pasuruan, beberapa waktu lalu. Saat itu Pater Prier diundang sebagai pembicara dalam sebuah lokakarya liturgi di Jawa Timur.

Sengaja saya tanyakan perkembangan PML karena sejak 1992 KWI mencabut rekomendasi untuk MADAH BAKTI. Gereja-gereja Katolik di Jawa menganti MADAH BAKTI dengan PUJI SYUKUR. Lagu-lagu inkulturasi berkurang drastis di PUJI SYUKUR. Tentu saja gerak-gerik Pater Prier bersama Paul Widyawan tidak selincah ketika MADAH BAKTI masih merajalela di Indonesia.

"PML itu bukan lagi Pusat Musik Liturgi, tapi Perusahaan Madah Laris," begitu pelesetan PML pada 1990-an. Maklum, MADAH BAKTI dicetak ulang puluhan kali sehingga lembaga ini sangat makmur masa itu.

Memang pada 1990-an banyak sekali kritik terhadap PML dan MADAH BAKTI. Sebaliknya, Pater Prier dan timnya pun beroleh banyak pujian. Sampai sekarang Pater Prier selalu dijadikan rujukan dalam pembinaan paduan suara di Gereja Katolik. Kalau ada lomba atau festival paduan suara, coba anda perhatikan meja dewan juri. Salah satunya [hampir] pasti Pater Karl-Edmund Prier SJ.

"Romo Prier itu guru yang baik. Beliau selalu memberi semangat kepada paduan suara. Nggak main kecam saja, apalagi mengeluarkan kata-kata kasar. Romo Prier itu londo [orang Eropa], tapi njawani," ujar Bu Bambang, pianis dan pegiat paduan suara di Malang, guru vokal saya zaman dulu.



Suatu ketika Pater Prier ikut misa di Gereja Katolik Pandaan. Saya pun ikut. Paduan suaranya bukan kor inti, melainkan salah satu lingkungan di Paroki Santa Theresia itu. Pandaan kota kecil yang bukan kiblat paduan suara di Jawa Timur.

Saya menilai paduan suara saat itu biasa-biasa saja, tidak istimewa. Setelah misa, anggota paduan suara menemui Pater Prier di samping gereja. "Bagaimana Romo paduan suara tadi?" tanya salah satu ibu.

"Oh, bagus sekali. Proficiat ya! Tolong dipertahankan dan dikembangkan terus. Ibu-ibu di Pandaan ini ternyata hebat," ujar Pater Prier sambil tersenyum ramah. Senyumannya tulus, tidak dibuat-buat.

Saya agak heran: "Masak, kor kayak begini dibilang hebat. Apa Pater Prier tidak salah bicara? Ukurannya apa? Kok beda dengan standar paduan suara yang tinggi di tulisan-tulisannya, ya?"

Belakangan baru saya tahu bahwa Pater Prier ini memang tidak pernah mencela paduan suara. Kalaupun mengkritik, caranya sangat halus. Mental dan semangat paduan suara dijaga jangan sampai merosot gara-gara dikritik. Karena itulah, beliau selalu menjadi "idola" para pembina paduan suara gerejawi di daerah-daerah.

Menekuni musik liturgi dan etnik sejak 1971 membuat Pater Prier sangat paham potensi manusia-manusia Indonesia di bidang musik. Tahu kalau saya berasal dari Flores, cukup dengan melihat wajah dan bentuk tubuh, Pater Prier memuji musikalitas orang Flores. "Pulau Flores sejak dulu terkenal dengan lagunya yang merdu. Mungkin karena itu orang Portugis memberi nama 'Flores' yang berarti pulau bunga," ujar Pater Prier.

Di lingkungan Gereja Katolik, kata Pater Prier, Flores merupakan pelopor inkulturasi musik liturgi di Indonesia. Sebut saja Misa Dolo-Dolo [Mateus Wari Weruin], Misa Damai [Theo Mukin], Misa Cinta Kasih [Apoly Bala]. Pater Prier mengakomodasi begitu banyak lagu-lagu misa gaya Flores di MADAH BAKTI serta buku-buku paduan suara terbitan PML.

Mengapa Pater Prier bisa menjadi tokoh paduan suara, musik liturgi, musikolog, pendidik musik kelas jempolan? Menurut saya, Pater Prier tekun mendokumentasikan karya-karyanya dalam bentuk buku, partitur, serta kaset/CD. Dia juga punya buletin khusus musik yang terbit secara teratur. "Saya banyak menulis karena literatur-literatur berbahasa Indonesia sangat sedikit, bahkan tidak ada. Padahal, paduan suara perlu referensi," paparnya.

Buku karya Pater Prier yang selalu menjadi rujukan para dirigen paduan suara adalah MENJADI DIRIGEN. Ada tiga jilid dan sangat komprehensif. Buku I [sampul kuning] tentang teknik direksi. Buku II [warna merah] cara membentuk suara. Buku II [sampul hijau] bagaimana mengelola paduan suara, persiapan pentas, latihan yang menarik, rekrutmen anggota, hingga cara memakai mikrfon. Uraian Pater Prier dibuat sederhana sehingga mudah dipraktikkan.

Opus magnum Pater Prier adalah buku SEJARAH MUSIK [1992] terbitan PML, yang ia kelola sendiri. Ada tiga seri kalau tak salah dikerjakan bersama Dieter Mack, musikolog yang dikenal kritis dan blak-blakan. Buku SEJARAH MUSIK beroleh pujian dari banyak pengamat musik serius di Indonesia. Bahkan, dijadikan pegangan di akademi/fakultas musik.

Suka Harjana, kritikus musik yang sangat kritis itu, menyanjung habis karya Pater Prier dan Dieter Mack lewat resensi panjangnya di harian KOMPAS. "Belum pernah ada buku seperti ini di Indonesia," kata Suka Harjana.




Bagaimana pandangan Pater Prier tentang musik klasik dan perkembangan musik di Indonesia? Menurut dia, musik klasik itu sangat matematis, api, teratur, dan indah. Mozart mendesain musiknya dengan perhitungan yang matang.

Mengapa musik klasik dikatakan terlalu matematis?

“Filosof pertama dalam filsafat musik adalah Pythagoras (570-480 SM) dari Yunani. Ia mengupas musik dari relasi angka seperti proporsi-proporsi dalam interval. Kemudian murid Pythagoras melengkapi pandangannya ke dalam dunia transenden, sehingga menjadi satu kesatuan. Bahwa musik adalah sebuah kosmos atau ciptaan teratur,” papar Pater Prier.

“Fantasi Mozart tak terhingga, sehingga musik sederhana menjadi lebih indah,” papar Pater Prier. Namun, mempelajari musik klasik bukan perkara yang mudah. Agar bisa membawakan komposisi klasik secara benar orang harus giat berlatih untuk menemukan akurasi nada, tempo, dan rasa. Banyak notasi yang sulit dimainkan.

“Musik klasik harus dihidupkan dari hati kita karena musik klasik ada di dalam hati. Ia adalah kesempurnaan di dalamnya dan dapat mencerminkan diri kita,” papar Pater Prier. Pernyataan ihwal musik klasik ini saya kutip dari seminar Pater Prier di Bandung tahun 1997 lalu.

Bagi umat kristiani, musik klasik bukan sekadar apresiasi musikalitas dan kebutuhan hiburan saja, tetapi sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Musik di mana pun selalu berhubungan dengan agama masyarakat.

“Musik klasik adalah sebuah kegiatan kontemplasi. Yaitu, sebuah cara untuk mencari kebenaran melalui musik. Itulah yang dilakukan Mozart, Schubert, Haydn... melalui karya-karyanya."

Bagaimana dengan perkembangan musik di Indonesia?

“Musik zaman sekarang terlalu cepat selesai, cepat puas. Hal itu didukung oleh kondisi alam Indonesia yang subur sehingga membuat sebagian besar masyarakatnya malas,” katanya.

Musik modern di Indonesia sangat dipengaruhi oleh musik-musik yang berkembang di Inggris dan Amerika. Kita pun hanya bisa menjadi konsumen. Padahal, Indonesia punya kekayaan khazanah musik tradisional yang sangat diminati oleh pecinta musik di dunia.


ALAMAT KONTAK
Karl-Edmund Prier SJ
Direktur Pusat Musik Liturgi
Jalan Ahmad Jazuli 2 Jogjakata 55224
Telepon: 0274 566695
Faksimili: 0274 541641

11 April 2008

Kerabat Ibu Teresa di Surabaya


Ibu Teresa dari Kalkuta, almarhum, adalah legenda yang punya banyak karya kemanusiaan. Komitmennya melayani orang-orang termiskin, the poorest of the poor, bergema ke seluruh dunia. Ia melampaui batas-batas negara, bahkan agama.

Di Surabaya ada sekelompok pelestari spiritualitas Ibu Teresa. Mereka tergabung dalam Kerabat Kerja Ibu Teresa atau KKIT. Kerabat ini didirikan oleh Ibu Teresa, dan tidak bisa dipisahkan dari suster-suster Missonaries of Charity (MC) atau Misionaris Cinta Kasih, yang juga didirikan Sang Beata [calon santa].

Di Indonesia KKIT baru dibentuk pada 1985 di Jakarta. Kerabat kemudian menyebar ke Semarang, Surabaya, dan Jogjakarta. KKIT Surabaya diresmikan oleh Uskup Surabaya waktu itu, Mgr AJ Dibjokaryono [kini almarhum]. Peresmian dilakukan dalam misa kudus pada 7 Oktober 1990 di Jalan Taman Kendangsari 5 Surabaya. Ini rumah Bapak Yosef Notoseputro - sekarang pindah ke Jakarta.

Para kerabat berusaha melakukan "sesuatu meski kecil" untuk membantu sesama yang miskin. Apa saja jenis pelayanan itu? Banyak.

Di antaranya, pelayanan warung sehat di samping Stasiun Wonokromo setiap Minggu pertama, ketiga, kelima, pukul 16:30 WIB.

Kemudian membagikan makanan kepada 75-100 orang yang tinggal sekitar rel kereta api. Mereka terdiri dari pemulung, gelandangan, pengemis, serta kaum miskin lainnya. Setiap menjelang Lebaran dibagikan bahan makanan serta pakaian layak pakai.

Setiap Sabtu kedua dan keempat ada pelayanan gizi balita di Poliklinik LKD Dupak. Sekitar 30 balita mendapat kacang hijau dan susu. Peserta warung sehat juga mendapat layanan pengobatan gratis. Ada juga pelayanan kepada mereka yang “sick and suffering", opa-oma, yang sulit disembuhkan akibat uzur. Para kerabat melakukan pendampingan serta layanan doa.

Lalu, dana mana dana untuk pelayanan ini?

Menurut Toha Gunawan, koordiantor KKIT Surabaya, dana diperoleh dari sumbangan para donatur tidak tetap. Para kerabat tidak jarang secara sukarela membuka koceknya demi pelayanan kemanusiaan di Surabaya.

"KKIT itu sebuah gerakan pelayanan sosial, bukan perkumpulan pekerja sosial. KKIT berkarya menurut spiritualitas Ibu Teresa. Dan para kerabat diharapkan mau belajar dari mendiang Ibu Teresa, yang senantiasa mau menjadi sebatang pensil kecil di tangan Tuhan," kata Toha Gunawan.

-------------
KKIT Surabaya
Jalan Manyar Jaya IX/26 Surabaya

Andaikan semua blog ditutup




Saya bisa merasakan kekecewaaan teman-teman pengguna Multiply, juga YouTube. Setelah pemerintah [berencana} menutup dua situs itu, ya, teman-teman hanya bisa gigit jari. Tidak bisa apa-apa. Tulisan-tulisan di blog yang sudah dipersiapkan berbulan-bulan hilang. Nilainya, meminjam istilah Goenawan Mohamad, tak tepermanai.

Berapa banyak waktu yang sudah dipakai untuk berpikir? Merenung? Buka buku? Cari referensi? Kumpulkan data? Belum lagi memburu kaset-kaset lawas, yang sangat sulit dicari [sungguh!!!], mentransfer ke sistem digital, kemudian download di Multiply atau YouTube. Semua hilang percuma - mudah-mudahan hanya sementara - karena situs induknya dibredel pemerintah.

Berapa juta orang Indonesia yang kehilangan situs yang sudah dengan susah payah dibangun? Saya sebagai orang Nusa Tenggara Timur [NTT] tidak bisa lagi menikmati lagu-lagu daerah NTT karena 100 persen lagu daerah ada di internet. Yah, di YouTube dan Multiply. Teman-teman sudah setengah mati men-download agar kita yang berada jauh dari kampung halaman punya laman untuk "ingat kampung".

Rekaman prosesi Semana Santa di Larantuka pun hanya ada di YouTube. Pemerintah Kabupaten Flores Timur tak punya bahan. Tulisan-tulisan yang bagus tentang Flores, adat istiadat, perkembangan politik-sosial-budaya, gereja, sebagian besar justru dibuat oleh para bloger. Situs-situs resmi pemerintah kabupaten atau pemerintah provinsi bahkan tak pernah di-update. Sangat buruk. Tidak informatif. Sulit koneksi!

Apakah Pak Muhammad Nuh, menteri infokom yang arek Gununganyar, Surabaya, itu tidak memikirkan nasib berjuta-juta halaman blog yang tak tepermanai gunanya itu? Apakah Pak Nuh bisa menyediakan rekaman lagu-lagu dan gambar dan informasi tentang Flores dan NTT setelah Multiply dan YouTube ditutup? Teman-teman dari daerah lain pun merasakan dampak yang sama.

Saya tahu Pak Nuh yang sangat demokratis, ketika menjadi rektor ITS, itu mau berpikir ulang. Kebijakan bredel ala rezim Orde Baru - itu pun hanya untuk media cetak, internet tidak pernah dibredel Pak Harto, sehingga TEMPO bisa terbit secara online - justru dilakukan Pak Nuh di era reformasi.

Pak Nuh hampir tiap akhir pekan pulang ke Surabaya. Wajar karena ia arek Surabaya yang selalu ingat kampung. Lha, bagaimana dengan orang Indonesia di luar negeri yang "ingat kampung", tapi tak bisa pulang ke kampung halamannya? Kami-kami, para perantau, cukup puas menikmati suasana kampung halaman dengan masuk ke situs internet. Menjadi bloger, bagi kami, berarti berbagi pengalaman tentang kampung halaman.

Cerita-cerita kecil, remeh-temeh, yang mungkin tak penting bagi liyan [kembali meminjam Goenawan Mohamad, the others], tapi sangat berarti bagi kami. Nah, Blog Orang Kampung pada hakikatnya saya buat dengan visi dan misi seperti itu. Ingin menyumbangkan sesuatu, mungkin informasi, mungkin referensi, kepada sesama anak bangsa yang membutuhkan.

Lha, kalau lahan berekspresi anak-anak bangsa ini ditutup, padahal kesalahan tidak di pihak mereka, apakah ini adil? Bukankah nenek moyang kita punya pesan bijak: "Janganlah kau bakar lumbung hanya untuk membunuh seekor tikus"?

Multiply, YouTube, Blogspot, Wordpress... dan sebagainya ibarat lumbung padi. Ia netral saja. Bahwa di lumbung itu tikus-tikus yang tak diundang nunut alias mendompleng - misalnya, film FITNA yang ngawur dan rasis atau video porno - apakah adil jika satu lumbung dibakar habis? Mana yang lebih banyak: padi atau tikus? Sekali lagi Pak Nuh bersama stafnya patut memikirkan lagi kebijakan membredel situs-situs yang selama ini justru sangat membantu jutaan manusia Indonesia untuk berekspresi.

Ketika berada di Surabaya - sekali lagi, Pak Nuh ini suka pulang kampung - Bapak Menteri mengibaratkan situs Multiply dan YouTube sebagai truk besar. Yang menayangkan film FITNA atau situs porno itu penumpang gelap. Istilah Jawanya: nunut truk! Pemilik truk atau sopir tidak tahu kalau di tengah jalan tiba-tiba ada orang yang nunut dan bikin ulah.

Memang sih kita semua, para bloger, pada dasarnya orang-orang yang nunut truk besar bernama Multiply, YouTube, Blogspot, Wordpress... Tapi karena kita penunut "yang baik", bahkan ada jasanya, ya, tidak apa-apa. Silakan terus, toh pemilik truk beroleh laba berjuta-juta dolar dari bisnis ini. Pemerintah pun saya rasa berutang budi pada para bloger Indonesia yang sudah memberikan kontribusi atas informasi di internet.

Informasi meloncat luar biasa berkat bloger. Ini yang haus disadari Pak Nuh dan Bapak Presiden Pak Susilo. Informasi tentang Flores dan NTT, saya ulangi, hanya bisa diikuti lewat blog, bukan situs resmi pemerintah. Kalau sampai semua blog dibredel di Indonesia, wah, habislah kita orang! Pak Nuh kan pernah bilang "blogger di Indonesia itu saudara". Kok ada kebijakan ekstrem, gebyah uyah, main pukul rata, macam sekarang?

Teman-teman bloger yang budiman!

Kita perlu mengambil hikmah dari pembredelan blog secara massal yang dilakukan pemerintah Indonesia. Sekarang kita disadarkan bahwa situs-situs pribadi atawa blog sangat lemah secara hukum. Bisa ditutup kapan saja tanpa ada pemberitahuan apa pun. Tahu-tahu ditutup, sehingga si bloger tidak sempat menyelamatkan data.

Wah, wah, gak gampang lho menulis ratusan artikel dengan susah-payah selama bertahun-tahun. Memburu kaset-kaset tempo dulu, transfer, lalu tayang di blog. Mengambil gambar, bikin film, editing, lalu tayang. Kerja keras itu habis gara-gara situs diblokir oleh pemerintah atas nama undang-undang. Ironisnya, bloger ini tidak mendapat pembelaan apa pun. Padahal, berapa banyak data milik para bloger Indonesia yang dikopi, dicuri, disiarkan ulang, tanpa izin pemiliknya?

Hikmah lain yang sangat penting, setidaknya untuk saya, hendaknya semua data [tulisan, gambar, video] yang diposting di blog WAJIB punya cadangan alias punya back up. Bisa disimpan di komputer pribadi, laptop, e-mail, atau apa saja. Jangan sekali-kali memosting informasi di blog tanpa back up data di luar jagat maya. Terus terang, 95 persen informasi yang ada di Blog Orang Kampung sama sekali tidak punya arsip. Saya alpa.

Saya salah karena selama ini saya merasa AMAN dengan menyimpan naskah-naskah plus gambar di blog. Nah, setelah Pak Nuh mulai main bredel saya disadarkan bahwa sesungguhnya data di blog itu SANGAT TIDAK AMAN. Andai saja situs Blogspot pun dibredel - karena ada penumpang gelap yang tidak bertanggung jawab - maka lenyaplah semua informasi di blog ini. Jutaan teman-teman bloger pun niscaya mengalami nasib yang sama.

Hikmah lain lagi. Kita dituntut TANGUNG JAWAB moral untuk hanya menyajikan informasi-informasi yang positif. Gambar-gambar porno, video porno, video rasis dan SARA [seperti FITNA] tidak perlu ada. Buat apa mengadakan informasi yang hanya merusak moral bangsa [ah, kayak pesan pejabat aja], memecah belah persatuan, membuat orang tersinggung. Internet memang memberi kita kebebasan yang luar biasa, tapi kalau kebebasan itu dipakai secara tidak betanggung jawab, untuk apa?

Hikmah untuk pemerintah:

Tangkaplah tikus, jangan bakar lumbung! Carilah cara yang cerdas dan elegan untuk menendang situs-situs sampah!

Bahasa Indonesia makin dipinggirkan



Oleh D.D. Kliwantoro
Sumber: www.antara.co.id


Menjelang peringatan "100 Tahun Kebangkitan Nasional", 20 Mei 2008, eksistensi bahasa Indonesia terancam dipinggirkan oleh pewarisnya sendiri, dengan makin maraknya gejala sindrom anak jajahan.

Pada awal masa kemerdekaan, pernah muncul muncul istilah "kaum belandis". Mereka itu adalah kaum terpelajar yang masih suka hidup dalam gaya kebelanda-belandaan, termasuk dalam hal berbahasa.

Ahmad Tohari, budayawan peraih "SEA Write Award" (hadiah sastra ASEAN) tahun 1995, belum yakin gejala sindrom anak jajahan itu sekarang sudah hilang meski bangsa ini sudah merdeka lebih dari 62 tahun.

"Mungkin belum, dan hanya sedikit bergeser. Karena penjajah sekarang berbahasa Inggris, maka banyak orang termasuk kaum terpelajar suka keinggris-inggrisan secara kurang proporsional," kata penulis novel "Ronggeng Dukuh Paruk", yang karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, Belanda, dan Jerman.

Pria kelahiran Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas, 13 Juni 1948, itu prihatin terhadap sebagian pebisnis yang sering memperlakukan bahasa Indonesia semena-mena.

Menurut Ahmad Tohari, iklan-iklan mereka banyak sekali yang menggunakan bahasa tidak baku. Bahkan, pemakaian bahasa asing intensitasnya makin hari semakin tinggi.

Mereka terkadang memaksakan hukum DM (diterangkan-menerangkan) menjadi MD, misalnya nama Permata Bank. Padahal dulu pernah diubah menjadi Bank Permata agar sesuai dengan hukum DM, tetapi sekarang nama itu kembali ke Permata Bank, hanya penulisannya disatukan menjadi "PermataBank".

Tak hanya mereka yang berada di perkotaan, pebisnis kecil di kampung pun terpengaruh. Bahkan, mereka terkesan bangga menulis "Sarkem Salon", "Paijo VCD Rental", atau "Pailul Motor Service".

Begitu pula, pemakaian istilah "pelayan kantor" yang kini nyaris hilang karena orang lebih suka menyebut "office boy" atau "OB". Bahkan, di dunia pendidikan pun ada penggusuran kosakata atau istilah Indonesia asli.

"Try out" dan "mid semester" adalah contoh dua istilah yang sebenarnya masih sangat terwakili oleh istilah "uji coba" dan "triwulan".

Terkait dengan pengindonesiaan nama dan kata asing ini pernah dilakukan pemerintahan Presiden Soeharto. Meski bukan berupa keputusan Presiden (keppres), surat Menteri Dalam Negeri Nomor 434/1021/SJ, tanggal 16 Maret 1995, tentang Penertiban Penggunaan Bahasa Asing yang ditujukan kepada gubernur, bupati, dan wali kota itu berjalan dengan baik.

Apalagi setelah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan buku "Pedoman Pengindonesiaan Nama dan Kata Asing" pada bulan Mei 1995, papan nama, papan petunjuk, kain rentang, dan papan iklan di sejumlah kota di Tanah Air menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Dalam ketentuan itu juga masih diperbolehkan memakai bahasa asing, tetapi harus dituliskan di bagian bawah bahasa Indonesia dengan huruf Latin yang lebih kecil. Sebagai contoh Balai Sidang Jakarta di bawahnya ditulis "Jakarta Convention Center" dengan menggunakan huruf Latin yang lebih kecil.

"Itu menunjukkan kepedulian Pak Harto terhadap perkembangan bahasa Indonesia," kata Kepala Pusat Bahasa Dr. Dendy Sugono dalam seminar nasional yang diselenggarakan Balai Bahasa Jawa Tengah di Solo, belum lama ini.

Pemerintahan semasa Pak Harto, kata Dendy Sugono, juga memberikan kontribusi yang sangat berarti, yakni dengan diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1972 tentang Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Kemudian, Mendikbud mengeluarkan keputusan Nomor 0543a Tahun 1987 tentang Ejaan yang Disempurnakan (EYD).

Kendati sejumlah peraturan itu bermaksud untuk memosisikan bahasa Indonesia di tempat yang terhormat, pada kenyataannya masih dijumpai penggusuran kosakata atau istilah Indonesia asli belakangan ini.

Budayawan Ahmad Tohari lantas mengingatkan kepada anak bangsa agar tetap menjunjung tinggi bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia, agar bahasa itu tidak dipinggirkan.

09 April 2008

Surabaya Oratorio Society

Surabaya Symphony Orchestra (SSO), satu-satunya orkestra di Jawa Timur, menggelar konser ke 55 di Hotel Sheraton pada 15 April 2008. Sejak dulu SSO selalu konser hari Selasa. Kok bukan Jumat, Sabtu, Minggu, ketika warga Kota Surabaya sedang agak santai?

Konser hari Selasa juga membuat saya "sulit" menonton karena kebetulan kegiatan saya sangat padat setiap Selasa. "Hurek, kamu pernah dengar Super Tuesday? Di Amerika sana hari Selasa itu penting," ujar Solomon Tong, pendiri sekaligus dirigen SSO, Selasa (8/4/2008). Saya memang selalu mampir ke markas SSO menjelang konser-konser besar.

Cari ilmu musik sekaligus memberikan sokongan moral kepada Pak Tong dan kawan-kawan yang sudah kerja keras untuk mempertahankan SSO. Asal tahu saja, biaya untuk mempertahankan orkes simfoni sangat mahal. Sementara di Indonesia belum banyak donatur, apalagi pemerintah, yang mau membiayai musik klasik, khususnya orkes simfoni. Sebelumnya, Pak Tong bilang selalu tekor ratusan juta tiap kali konser. Tapi Tuhan selalu membantu: saat konser persoalan biaya tuntas. Puji Tuhan!

Karena sehari sebelumnya Pak Tong sudah bicara banyak di jumpa pers - saya tidak datang karena bukan tugasku, ada reporter lapangan - saya tak banyak bertanya soal materi konser. Toh, bisa dibaca di brosur atau surat kabar. Kali ini saya tanya sedikit tentang Surabaya Oratorio Society alias SOS. Ini paduan suara yang tidak bisa dipisahkan dari SSO. Setiap kali SSO konser, SSO mengisi paduan suara.

"SOS itu mitra SSO," tegas Pak Tong, dirigen dan tokoh musik klasik kelahiran Xiamen, 20 Oktober 1939. Usianya sudah tak muda, tapi semangat Pak Tong tak kalah dengan orang muda. Organ-organ tubuhnya pun sama sekali belum aus. Keluhan-keluhan para manula tidak dialami Pak Tong.

"Sampai sekarang saya bebas makan makanan apa saja. Nggak ada pantang ini pantang itu," ujarnya bangga. Saya juga dikasih tahu bagaimana cara menjaga kesehatan agar tetap sehat sampai kakek-kakek. Hehehe....

Nah, SOS itu dibentuk Pak Solomon Tong pada Februari 1997. Dua bulan setelah konser pertama SSO di Hotel Westin [sekarang JW Marriott]. Paduan suara SOS dibentuk karena kebutuhan yang mendesak untuk melengkapi SSO. Di mana-mana sebuah orkes simfoni membutuhkan paduan suara "siap pakai" untuk memperkuat konser-konser besar.

"Sebelumnya kami memakai paduan suara gabungan gereja-gereja. Lha, kalau tiap kali konser saya harus pinjam orang dari gereja-gereja kan capek. Makanya, saya dirikan Surabaya Oratorio Society."

Solomon Tong sangat menekankan kata society. Dus, sejak awal paduan suara ini didesain sebagai sebuah komunitas penggemar paduan suara. Anggota-anggotanya orang-orang yang suka menyanyi, suka paduan suara, ingin maju, ingin menembangkan diri bersama paduan suara dan orkestra. Tidak banyak lho paduan suara yang beruntung bisa nyanyi diiringi symphony orchestra setiap kali. Pengalaman musik itulah yang ditawarkan Solomon Tong.

"SOS punya pengurus sendiri, tidak campur dengan SSO. Tapi SOS mitranya SSO. Saya sendiri yang menangani paduan suara itu," papar Pak Tong.

Paduan Suara SOS berlatih setiap Senin malam, pukul 19.00 hingga 21.00 WIB di markas SSO Jalan Gentengkali 15 Surabaya. Ada atau tidak ada konser latihan jalan terus. Ini karena Pak Tong selalu mempersiapkan program konser jauh-jauh hari sebelumnya. Tidak ujug-ujug atawa alias SKS [sistem kebut sebulan] seperti grup-grup musik lain.

Karena besifat society, komunitas, anggota SOS datang dan pergi. Anggota lama keluar karena sibuk atau pindah kota, datang anggota baru. Namun, rata-rata paduan suara ini diperkuat 50-60 anggota. Jumlah ini dianggap memadai untuk mendukung konser-konser SSO di Surabaya.

"Pernah dua kali SOS lebih dari 100 orang. Tapi sekarang sudah tidak bisa," tutur Pak Solomon Tong. Menurut dia, idealnya paduan suara untuk orkes simfoni memang sekitar 60 orang.

Boleh dikata, ini seleksi alam seiring usia SOS yang sudah 11 tahun. Namun, Pak Tong mengaku tidak kesulitan menggabungkan anggota lama dan baru. "Proses adaptasinya kan tidak sulit. Mereka bisa saling menyesuaikan, yang baru bisa belajar dari yang lama," ungkap pemusik yang sejak 1957 mengembangkan paduan suara di Kota Surabaya itu.

Para anggota SOS sangat beruntung. Mereka beroleh banyak peluang untuk membawakan nomor-nomor klasik nan bergizi. Ini membuat wawasan anggota tentang musik klasik, khususnya paduan suara, jauh di atas rata-rata. Biasanya, penonton memberikan apresiasi tinggi pada penampilan SOS bersama SSO.

Sebagai catatan, masyarakat Surabaya rata-rata senang dengan paduan suara yang heboh dan menggelegar. Saya saksikan tepuk tangan niscaya sangat meriah. Maka, tak salah kalau Pak Tong menyusun aransemen paduan suara dengan ending atau coda yang sangat meriah. Seakan-akan menumpahkan semua emosi dengan fff, sangat keras. Gaya Pak Tong menutup musiknya pun sangat menarik. Aplaus sangat meriah, Bung!

Saya terkesan ketika Paduan Suara SOS membawakan The Messiah karya Gerg Friedrich Handel [1685-1759]. Kalau biasanya kor-kor di tanah air baik gerejawi maupun umum hanya membawakan satu dua petikan oratorio, paling banyak Hallelujah, SOS membawakan secara komplet. Kalau tidak salah waktu itu dirigen asal Australia Mr Nicolas yang dipercaya Pak Tong sebagai dirigen. Nomor-nomor opera terkenal ini dibawakan secara penuh. Prestasi tersendiri buat SOS.

Mana ada paduan suara lain di Surabaya yang berkesempatan membawakan oratorio tersebut secara penuh? "Itu kan soal peluang saja, Bung. Teman-teman SOS kan terkait dengan SSO sehingga repertoar-nya lebih kaya. Mereka bisa menjajal aneka macam repertoir. Tapi bukan berarti paduan suara lain di Surabaya nggak bisa nyanyi," ujar Markus, aktivis paduan suara gereja, kepada saya.

Yang sedikit menjadi "ganjalan" di hati saya: anggota SOS ini kebanyakan berusia 50 tahun ke atas. Jarang sekali anak muda yang memperkuat paduan suara langka ini. Tiap kali menjelang konser SSO/SSO saya selalu bercanda dengan beberapa anggota SOS. Mana sih anak-anak muda? Gadis-gadis cantik? Hehehe....

"Wah, sekarang ini sangat sulit mengajak anak-anak muda ikut paduan suara. Sibuk sekolah, kuliah, kerja, dan sebagainya. Di gereja pun sekarang ini tidak gampang lho mengajak kaum muda untuk berlatih paduan suara secara rutin dan konsisten," ujar seorang anggota senior SOS kepada saya.

Rutin dan konsisten! Dua hal ini memang ciri khas anak-anak muda di Surabaya. Orang muda itu suka coba-coba, trial and errror, lekas bosan, suka mencoba hal-hal baru. Satu dua kali ikut latihan, kemudian konser, lalu bosan, lalu cari kesibukan baru di tempat lain. Itulah sebabnya begitu banyak paduan suara anak muda di Surabaya yang "buyar" atau vakum sampai sekarang. "Kami sih sangat senang kalau anak-anak muda bergabung," ujar penyanyi yang namanya saya lupa itu.

Oh, ya, apakah Paduan Suara SOS membaca musik dengan notasi balok? Afdalnya memang seperti itu, karena repertoar-repertoar klasik memang ditulis pakai notasi balok, bukan not angka. Tapi, karena SOS itu bersifat society, bukan SSO yang dituntut sangat profesional, setahu saya selama ini partiturnya pakai notasi angka.

Dulu, ketika mampir ke kantor SSO, saya melihat Anna yang serius mentransfer notasi balok ke notasi angka. Yah, agar lebih mudah dipakai latihan. Anna yang lulusan ISI Jogja itu sekarang sudah out, menjadi pelatih vokal freelance. Sekarang tugas itu dilakoni oleh Agus Pramono, juga pemusik lulusan ISI Jogja. Berkat teknologi komputer, transposisi notasi itu relatih lebih enteng.

ALAMAT KONTAK
Surabaya Oratorio Society
Jalan Kawi 3 Surabaya
Telepon 031 532 2147
Jalan Gentengkali 15 Surabaya
Telepon 031 5313297, 5342440
www.surabayasymphonyorchestra.com