29 March 2008

Vegetarian di Surabaya

Banyak teman dan kenalan saya di Surabaya dan Sidoarjo ternyata vegetarian. Sama sekali tidak makan daging serta produk-produk makanan hewani. Susu dan telur pun tak. Tapi ada juga vegetarian pemula yang masih suka makan telur ayam.

"Yang penting bukan ayam kampung. Kalau ayam petelur kan bukan hasil pembuahan," kilah Budi, sahabat saya di Sidoarjo.


Fefe alias Fenny lain lagi. Gadis Tionghoa ini vegetarian ketat. Bahkan, sebagai aktivis sebuah wihara besar di Surabaya, Fefe sudah mengikuti sumpah setia menjadi pemakan tumbuh-tumbuhan seumur hidup. Tidak akan makan daging, ikan, telur, susu, dan sejenisnya. Apa tidak berat?

"Hurek, ini tuntutan agama saya. Kalau sudah menjadi keyakinan pasti tidak berat. Jangan dibayangkan orang-orang vegetarian itu menderita lho. Kami biasa-biasa saja kok," ujar Fefe.

Dia juga aktif mempromosikan pentingnya diet vegetarian kepada siapa saja, termasuk saya. dia punya buku, brosur, seminar, tentang vegetarian. Saya sudah banyak membaca tulisan-tulisan para pegiat vegetarian. Saya sangat menghargai pandangan mereka meskipun saya masih berat mengikuti pola makan macam begitu.

Setelah saya cermati, gaya hidup 'herbivora' semakin beroleh tempat di kota-kota besar macam Surabaya. Ketika usia menginjak 40, orang mulai serius berpikir tentang kesehatan. Jadi vegetarian. Tidak minum kopi atau teh. Tidak minum minuman keras. Olahraga teratur. Banyak minum air putih.

TIDAK SULIT

Sudah 28 tahun NUGROHO alias NJOO TIONG HOO menjadi vegetarian. Ini bukan sekadar gaya hidup, apalagi ikut-ikutan, melainkan karena terkait dengan keyakinannya sebagai penganut Buddha.


"Memang kami diajarkan untuk tidak membunuh mahkluk hidup," ujar Nugroho yang saya temui di kediamannya, kawasan Pondok Jati Sidoarjo.

Berdasar pengalamannya, menjadi vegetarian itu tidak sesulit bayangan banyak orang. Dia pun mengaku tak pernah kurang gizi atau loyo hanya karena pantang mengonsumsi segala makanan hewani. "Gizinya sama saja kok. Protein di tumbuh-tumbuhan sama saja dengan yang di hewan," tutur pria 45 tahun ini lalu tersenyum.

Nugroho kemudian mencontohkan anjing milik temannya di Malang yang selalu menjuarai berbagai kontes tingkat nasional. Anjing itu, kata Nugroho, ternyata vegetarian alias tidak pernah makan daging atau pakan hewani lainnya. "Saya hanya ingin menunjukkan bahwa kita yang hanya makan tumbuh-tumbuhan tetap bisa beraktivitas seperti biasa," tegasnya.

Mengutip sejumlah penelitian, Nugroho mengingatkan bahwa makanan hewani, khususnya lemak jenuh, berdampak kurang baik pada kesehatan manusia. Apalagi kalau dikonsumsi secara berlebihan.

"Terus terang saja, penyakit-penyakit yang ganas saat ini, kalau dicermati, akibat pola konsumsi yang tidak sehat. Terlalu banyak makan daging itu bahaya, Bung."

Menurut pria asal Surabaya ini, sedikitnya ada tiga alasan menjadi vegetarian.
Kondisi kesehatan yang buruk, gaya hidup, dan alasan agama atau keyakinan. "Tapi, yang paling penting itu niat. Kalau punya niat yang kuat, saya yakin siapa pun tidak sulit menjadi vegetarian," ujar Nugroho.

Namun, buru-buru ia menambahkan, melakoni hidup sebagai vegetarian harus selalu diimbangi dengan perilaku yang baik. "Jangan sok, seakan-akan kita lebih hebat daripada orang lain. Ini malah kontraproduktif," tandas pria yang juga rohaniwan Buddha itu.

Bagaimana dengan tren restoran khusus vegetarian di kota-kota besar, termasuk Surabaya? Nugroho terdiam sejenak. "Silakan saja kalau orang berbisnis restoran vegetarian. Tapi, sebetulnya, makanan-makanan vegetarian itu tidak harus mahal-mahal kayak di restoran. Seharusnya biaya makanan untuk kaum vegetarian itu lebih murah, bukan malah lebih mahal," paparnya.

Nugroho mengaku kurang sreg dengan menu-menu vegetarian di restoran yang serba palsu. Daging palsu, opor ayam palsu, sate palsu, sea food palsu, dan seterusnya. Sebab, pada dasarnya menu-menu palsu itu dibuat dari tepung terigu. "Mereka ambil saripatinya, sehingga volume tepung tinggal separuh. Makanya, harga makanan menjadi mahal," ujar Nugroho lalu tertawa kecil.

Dengan menu-menu palsu tersebut, lanjut dia, seakan-akan orang dikondisikan untuk membayangkan makanan-makanan hewani seperti dari sapi, kambing, ikan, dan sebagainya. "Tapi, sudahlah, kalau ada saudara-saudara kita yang bisnis restoran vegetarian, ya, nggak apa-apa. Yang penting, jangan sampai menimbulkan imej seakan-akan makanan vegetarian itu mahal."

TAK INGIN SAKITI BINATANG

Pada 1940-an, secara tak sengaja LIM KENG yang masih anak-anak melihat orang menyembelih ayam kampung. Binatang itu tak langsung mati, tapi masih sempat menggelepar mencoba melawan maut. Darah muncrat ke mana-mana.


"Waduh, saya nggak tahan kalau ingat kejadian itu. Saya trauma melihat ayam yang disembelih," tutur pelukis terkenal Surabaya yang dikenal sebagai 'raja sketsa' itu kepada saya.

Sejak itulah Lim Keng memutuskan untuk tidak makan daging ayam dan semua makanan dari hewan. Alasannya, itu tadi, simpati pada ayam yang disembelih. "Jadi, saya ini vegetarian bukan karena agama, tapi untuk kesehatan. Saya tidak ingin menyakiti binatang," tuturnya.

Pria kelahiran Tanggulangin, Sidoarjo, 9 Maret 1934, ini beragama Kristen Protestan. Di sela-sela kesibukan melukis, Lim Keng menikmati hari tuanya sambil menjaga tokonya di Jl Undaan 125 Surabaya. Kini, di usia 78 tahun, Lim Keng tetap produktif, tak punya gangguan kesehatan apa pun.

"Jangan lupa, sebagai orang beragama, kita harus selalu mendekatkan diri pada Tuhan, pasrah kepada-Nya," lulusan Akademi Seni Rupa Jogja ini.

Sahabat, anda tertarik dengan vegetarian? Silakan coba. Hitung-hitung bisa menekan anggaran untuk beli daging, susu, telur, kopi, teh. Anda juga akan lebih tenang, tak cemas, dengan penyakit-penyakit hewan macam sapi gila, antraks, flu burung, rabies, dan sebagainya.

8 comments:

  1. bisa kasi referensi tempat katering menu vegetarian di surabaya ?
    terimakasi..


    plz send by e-mail:
    i.am_ko_doct_or@yahoo.com

    ReplyDelete
  2. Waduh, saya tidak punya informasi soal itu. Tapi saya yakin pasti ada karena makin banyak orang yang melakoni gaya hidup vegetarian.

    Terima kasih. Semoga semua makhluk berbahagia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. numpang promo Pak Admin : buat sdr-2 q vegan atau yang ingin menjalani pola makan sehat, saya menjual beras organic "ECO ORGANIC" dengan hrg grosir. FREE ongkir khusus surabaya. sedia beras merah organic dan beras putih organic. info lebih lanjut call/sms : Agung 0819 3507 3232
      Trims for Admin
      Sukses selalu.

      Delete
  3. salam kenal,

    saya haris from sidoarjo. Saya budidaya jamur tiram + bisa kasih info resep tentang jamur tiram yang cocok buat teman2 vege.

    bisa hubungi:
    effendiharis@yahoo.com
    031 71617023
    081 231 369 267

    thank's

    ReplyDelete
  4. jika ada yang berminat bikin daging vegetarian (mecia) , saya jual tepung gluten, daging vegetarian dapat di buat dalam waktu kurang dari 10 menit.

    Yonathan
    031 71222555

    ReplyDelete
  5. Dari cherlight@mail.com : tanya dong perkumpulan vegetarian dan penyayang binatang di Surabaya. Terima kasih!

    ReplyDelete
  6. kalo di sidoarjo ada di Jalan Pahlawan Sidoarjo, depan GOR Sidoarjo. warung mie ayam bandung chinese food vegetarian

    ReplyDelete
  7. Daging jika dikonsumsi banyak dalam jangka panjang memang mengakibatkan berbagai macam penyakit.

    Misalnya, lihat https://en.wikipedia.org/wiki/The_China_Study

    Yang pasti, kolesterol jahat (LDL) pasti lebih tinggi dan menaikkan risiko penyakit jantung dan penyumbatan pembuluh darah (atherosklerosis).

    Selain itu, daging (sapi, kambing, ayam, babi), ikan dan kerang-kerangan, itu juga mengandung purin yang tinggi, sehingga bagi mereka yang metabolisme kurang bagus bisa menaikkan tingkat asam urat dan menyebabkan serangan pirai (gout) dan jika dibiarkan, berakibat batu ginjal atau batu empedu. Sedangkan protein nabati lebih mudah dicerna dan tidak berpengaruh sebesar protein hewani terhadap serangan gout.

    http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa035700

    Sedikit tambahan informasi saja terhadap tulisan yang mengangkat topik yang bagus.

    ReplyDelete