22 March 2008

Traffic report Radio Suara Surabaya



Iman Dwihartanto, penyiar Radio SSFM, sedang memandu traffic report.

Naskah : Ratno Dwi Santo
Foto : Abdullah Munir
Editor : Lambertus L. Hurek
Sumber : Radar Surabaya, 18 Maret 2008

Suatu ketika seorang pemilik mobil BMW menelepon ke Radio Suara Surabaya FM 100. Mobilnya dibawa kabur oleh dua montir bengkel. Dengan segera penyiar SS mengimbau para pendengar untuk menginformasikan kalau melihat BMW dengan ciri-ciri yang disebut si empunya.

Tak berapa lama kemudian, ada informasi penemuan mayat. Setelah diceritakan ciri-cirinya, korban ternyata mirip salah satu montir itu. Seorang pendengar perempuan ikut nimbrung. "Saya lihat BMW kuning melaju ke arah Jombang," lapor si pendengar lewat Radio SS.

Tak lama kemudian, polisi di Jombang berhasil menangkap pengemudi BMW itu. Dan, benar saja, korban tewas itu tak lain montir mobil yang dibunuh oleh temannya sendiri. "Yah, para pendengar merupakan bagian dari program traffic report Radio SS," kata Yoyong Burhanudin, general manager on air Radio SS.

Traffic report! Program interaktif radio yang bermarkas di kawasan Jl Wonokitri Besar 40 ini sudah menjadi bagian dari denyut kehidupan warga yang mobilitasnya tinggi. Saat jalanan macet, traffic report SS menjadi pemandu untuk menemukan jalur alternatif. Bisa juga untuk hiburan atau sekadar katarsis dari kemacetan lalulintas di Surabaya.

Menurut Yoyong, program ini memang dirancang untuk memenuhi kebutuhan masyakarat Surabaya, Jawa Timur umumnya, yang punya mobilitas tinggi. Traffic report dalam perkembangannya menjadi embrio lahirnya jurnalisme radio. Tak melulu soal kemacetan, pola interaksi pendengar dan penyiar ini berkali-kali mampu mengungkap sejumlah tindak kriminalitas.

Yoyong Burhanudin menceritakan pengalaman lain. Suatu ketika ada seseorang yang mengaku akan melakukan transaksi mobil di sebuah hotel. Berdalih menguji mesin, orang itu membawa mobil keluar hotel. Si pemilik mobil akhirnya sadar bahwa dirinya sedang ditipu. Soalnya, si calon pembeli itu tak kunjung pulang.

"Lalu, dia telepon ke Suara Surabaya. Kami menindaklanjuti agar pendengar yang mengetahui keberadaan mobil itu memberikan informasi," tutur Yoyong. Tak berselang lama, ada penelepon mengabarkan telah melihat mobil dengan ciri-ciri tersebut di depan sebuah showroom. Aha, ternyata mobil itu hendak dijual.

"Ada salah satu rekan pemilik showroom yang kebetulan mendengarkan traffic report ini. Lantas, dia mengubungi temannya itu dan menceritakan kalau mobil yang akan ditawarkan itu curian," papar Yoyong. Dia diminta agar proses transasi diulur sampai polisi datang. Bisa ditebak, pelaku ditangkap dan mobil bisa diselamatkan.

Sejatinya, traffic report adalah jurnalisme warga (civic journalism). Masyarakat berperan sebagai reporter yang melaporkan apa saja di sekelilingnya. Mulai kemacetan lalu lintas, kriminalitas, jalan rusak, air PDAM macet, listrik padam, pungutan liar, dan sebagainya. Nah, dari sekian banyak pendengar ada sejumlah nama yang sangat populer saking seringnya bicara di radio.

Ir Sri Utami, misalnya. Direktur Pemasaran PT Kelola Mina Laut ini rajin menginformasikan kondisi lalulintas kepada Radio SS. Ketika meninggalkan kantornya di kawasan Gresik menuju rumahnya di Sidoarjo, Utami selalu menyimak SS. Di tengah jalan tiba-tiba ada informasi kecelakan di ruas Tol Dupak.

Tanpa pikir panjang, Utami keluar dari jalan tol melalui pintu Tol Perak. "Saya nggak bisa membayangkan kalau nggak ada info dari radio. Pasti terjebak macet dan larut malam tiba di rumah," kata Utami.

Nama Dr Ir Iwan Kusmarwanto pun cukup beken di kalangan pendengar SS. Mantan dosen Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) Surabaya ini bahkan selalu nimbrung di sejumlah diskusi udara. "Pak Iwan itu serba bisa. Apa saja dibahas, mulai pendidikan, PDAM, PLN, jalan rusak, luar negeri, UKM, hingga musik tempo doeloe," ujar Benny, pendengar SS di Sidoarjo.

Iwan mengaku sebagai orang lama di dunia radio. Sejak mahasiswa dia selalu berkomunikasi dengan teman-temannya lewat radio amatir. Karena sering diskusi, membahas apa saja, dia pun bisa dengan mudah merespons materi-materi di SS. "Apa yang saya bicarakan itu biasanya terkait dengan kebutuhan masyarakat seperti PDAM dan listrik," ujarnya.

Rudi Santoso, direktur utama sebuah perusahaan jasa kontruksi, mengatakan, mendengarkan radio, khususnya SS, telah menjadi bagian dari hidupnya. "Setiap kali saya ke Malang, saya perlu informasi kemacetan di Porong. Jadi, saya bisa menata time schedule," kata Rudi.

Selain Utami, Iwan, dan Rudi, masih ada segudang nama lain yang aktif berpartisipasi sebagai 'reporter prodeo' di sejumlah radio di Surabaya. Mereka rela menghabiskan pulsa jutaan rupiah untuk berbagi informasi. "Traffic report telah melahirkan komunitas pendengar yang setia," kata Yoyong Burhanudin.



Apakah setiap informasi yang masuk ke newsroom bisa langsung diudarakan? Tunggu dulu. Radio Suara Surabaya punya mekanisme verifikasi yang dilakukan lebih dari dua orang. Para penerima informasi via telepon itu lazim disebut gate keeper.

"Ada empat gate keeper yang bertugas selama enam jam. Jadi, ada empat shift," jelas Iman Dwihartanto, announcer Radio Suara Surabaya.

Sih Wismanti, penyiar sekaligus gate keeper, menambahkan, seleksi informasi sangat dibutuhkan karena SS punya tanggung jawab moral. Jika si pemberi informasi tak mau membuka jati dirinya, dia dilarang on air.

"Jangan sampai radio hanya dijadikan tempat buang hajat," timpal Ema Rahmawati, gate keeper SS.

Wismanti mengaku punya pengalaman tak enak. Tak jarang ada penelepon iseng. "Ada biang ada tabrakan," kata Wismanti.

Informasi ini tentu memiliki bobot informasi yang bagus. Tapi, setelah didesak tabrakan apa, penelepon itu mengatakan, tikus ditabrak sepeda motor. "Untung belum mengudara," tutur penyiar yang pandai menyanyi ini.

Ema Rahmawati lain lagi. Sebagai gate keeper, dia sudah tak asing lagi dengan omelan penelepon. Suatu ketika Ema menerima telepon dari seorang laki-laki. Tiba-tiba pendengar itu mengomel kenapa SS tak menyiarkan kemacetan yang sedang dialaminya.

"Saya tanya, Bapak di mana sekarang? Setelah dijawab, saya langsung balik mengatakan bahwa kemacetan itu sudah disiarkan sejam yang lalu," kata Ema. Mendengar penjelasan Ema, si laki-laki itu buru-buru minta maaf karena dia memang baru tune-in.

Tapi ada juga cerita suka awak SS. Iman Dwihartanto suatu ketika makan di sebuah rumah makan. Tiba-tiba ada orang yang duduk di belakangnya memerhatikannya. "Mas Iman SS, ya?" sapa orang tersebut.

Iman begitu senang meski tak pernah berjumpa dengan orang itu. Tak berhenti di situ. Ketika Iman hendak membayar makanan, tiba-tiba kasir bilang sudah dibayar oleh seseorang. "Waduh, yang mana ya? Orangnya sudah gak ada. Tapi, yang pasti, saya senang karena banyak teman," kata pemilik nama lengkap Meinara Iman Dwihartanto ini.

Ketika berobat ke sebuah rumah sakit swasta, Iman kembali beroleh rezeki. Si kasir menolak ketika manajer pemberitaaan SS ini hendak membayar biaya pengobatannya.


Sih Wismanti, penyiar Radio Suara Surabaya FM 100 punya pengalaman menarik ketika memandu program Kelana Kota pada 23 Juli 2007. Berkat panduan Wismanti dari studio SS, upaya pencurian mobil Kijang Innova akhirnya digagalkan.

Informasi bermula dari telepon Kapolsek Tegalsari AKP Bambang Probo yang diterima Emma Rahmawati, gate keeper SS. Bambang menginformasikan bahwa di Polsek Tegalsari, Wijaya, warga Graha Famili CC-26 Surabaya, telah melaporkan kehilangan mobil Kijang Innova hijau muda nopol L 2536 RB. Pelakunya tak lain sopir sendiri.

Pukul 12.46 WIB, Bambang Probo mengudara dan menyampaikan bahwa dia telah berkoordinasi dengan jajaran lalulintas Polwiltabes Surabaya dan Polres Sidoarjo. Demikian juga dengan petugas jalan tol sebagai antisipasi mobil dilarikan ke arah Malang. Bambang juga meminta bantuan warga yang melihatnya untuk memberikan informasi, kalau bisa mencegatnya.

Enam menit kemudian, Eddy, warga Siwalankerto Selatan, nimbrung di SS. Dia mengaku melihat mobil tersebut melintas di depan Siola ke arah timur. Kemudian, pukul 12.59 WIB, ada warga lain melihat Kijang L 2536 RB putar balik di patung Kerapan Sapi, Jl Urip Sumoharjo, menuju Jl Basuki Rachmat. Tapi tak berselang lama, Aris, warga lainnya, mengaku melihat mobil serupa di Undaan melaju ke arah Pasar Atom.

Sekitar pukul 12.00 WIB, seorang pendengar bernama Benny melaporkan Kijang biru metalik dengan sopir berkemeja putih dan celana cokelat berada di Showroom Santoso, Jl Ngemplak 28. Showroom ini milik Jimmy. Berdasar informasi ini, petugas Garnisun berhasil menangkap pelaku karena kebetulan lokasi showroom dekat dengan Garnisun. Lalu, petugas serse Polwiltabes bersama Polsek Tegalsari menyusul ke lokasi. Selanjutnya, pelaku diproses di Polsek Tegalsari.

"Saya sengaja mengolor waktu. Saya lihat pelaku berkeringat karena surat-suratnya ada kejanggalan," terang Jimmy, bos Showroom Santoso. Jimmy sebelumnya telah mengetahui kalau mobil yang ditawarkan seharga Rp 180 juta itu curian. Ini berkat informasi rekan-rekannya yang menyimak siaran Radio SS.

Anda pendengar Radio Suara Surabaya? Bisa dipastikan Anda tak asing dengan nama Soemarwito [foto]. Pria 55 tahun ini termasuk salah satu dari sekian pendengar yang sangat aktif melaporkan kondisi lalulintas ke radio FM 100 ini.

Tak hanya di SS, bapak enam anak ini juga aktif ber-traffic report di Radio Mercury dan Radio Sonora. Setiap menemukan hal-hal yang dirasa patut diketahui orang banyak, dia selalu menyampaikannya ke radio-radio tersebut. Itu dilakukan hampir setiap hari. "Saya juga aktif di dialog yang digelar Radio SS," kata Soemarwito.

Hidup Soemarwito memang tak bisa dipisahkan dari radio. Jauh sebelum ada program traffic report, Soemarwito mengaku suka kirim salam untuk teman-temannya lewat 'Pilihan Pendengar'. Acara ini sangat populer di radio-radio AM pada 1980-an. "Dulu saya biasa beli kupon, menuliskan pesan, lalu penyiar membacakan pesan itu," beber Soemarwito.

Perkembangan zaman membuat orang seperti Soemawito tak perlu lagi susah-susah membeli kupon. Cukup mengangkat telepon seluler (ponsel) atau telepon rumah, suaranya sudah muncul di radio. "Saya memberi kritik sosial, menyoroti pelayanan publik, hingga masalah lalu lintas."

Tentu saja, apa yang dilakukan Soemarwito menuntut pengorbanan. Setidaknya biaya pulsa, apalagi ketika ponsel CDMA belum musim. "Kalau masih pakai GSM pengeluaran pulsa bisa Rp 1 juta sebulan. Sekarang kan sudah pakai CDMA, jadi jauh lebih hemat," kata Soemarwito.

Bagi warga Perumahan Sidokare, Sidoarjo, ini biaya pulsa yang dikeluarkan tak seberapa bila dibandingkan dengan kepuasan batinnya. Belum lagi sejumlah keuntungan tak sengaja gara-gara namanya kian populer di radio. Misalnya, saat mengurus KTP atau surat-surat lain, Soemarwito mengaku tak pernah mengalami hambatan. Salah satu operator GSM juga sering memberinya voucher gratis.

Suatu ketika, Soemarwito secara tak sengaja menerabas lampu merah. Pria yang ramah ini pun diproses polisi. Eh, begitu mengetahui si pelanggar lalulintas itu Soemarwito, raja traffic report ini pun dipersilakan jalan terus. "Tapi alasan saya masuk akal kok. Saya kan nggak sengaja melabrak lampu merah."

Ceritanya, Soemarwito tak konsentrasi mengemudi gara-gara melirik gadis-gadis SPG (sales promotion girl) di dekat lampu merah. "Saya sampai bengong dengan cewek-cewek muda itu. Saya nggak sadar ada lampu merah," katanya lalu tertawa kecil.

Pernah suatu ketika Soemarwito mengkritik kondisi jalan di wilayah Kabupaten Sidoarjo yang rusak parah. Mungkin waktu itu ada pejabat Pemkab Sidoarjo yang mendengarkan, "Sore hari ketika saya lewat jalan itu tengah diperbaiki," jelasnya.

Menelepon ke stasiun radio populer sebetulnya tidak gampang. Begitu banyak pendengar yang kecewa karena tidak sempat tersambung. Bagaimana Soemarwito bisa masuk dengan mulus?

"Hehehe... Saya sudah tahu punya sendiri. Kalau pakai CDMA, sekitar dua menit sebelumnya sudah pencet dial, karena laju tersambungnya CDMA relatif lebih lama dibanding GSM. Lain lagi kalau pakai GSM. Ketika kita dengar yang lagi mengudara mau selesai, langsung kita pencet. Pasti tersambung deh," beber Soemarwito.

Yang menarik, kebiasaan Soemarwito mengudara di radio sebenarnya tidak mendapat restu sang istri. Sebab, menurut Bu Soemarwito, radio hanya dijadikan ajang untuk rasan-rasan saja. Bukan Soemarwito kalau tak pandai berkelit. "Saya bilang sama istri saya, kalau begitu kenapa kamu ikut mendengarkan?" katanya lalu tertawa.

6 comments:

  1. emang radio SS the best lah. hampir semua org di jalan dengerin SS.

    ReplyDelete
  2. hahahaha radar jadi bulanbualan di http://wahyunurdiyanto.blogspot.com

    hiahahaiahaiahai

    ReplyDelete
  3. hehehe.. gak papa, namanya juga demokrasi. berpikir merdeka cak!!!

    ReplyDelete
  4. iki to mas iman SS. beken banget tuh. salam kenal.

    bambang, sidoarjo

    ReplyDelete
  5. hrs diakui ss paling jado di traffic report.

    sis

    ReplyDelete
  6. met ultah ke-25 utk ssfm ya?

    ReplyDelete