09 March 2008

Tionghoa di Flores Timur



Pantai pasir alami di Flores Timur. Mau ke sana?

Hubungan antara orang Tionghoa dan orang Jawa rata-rata kurang dekat. Sangat jarang orang Jawa main-main, ngobrol, minum kopi, di rumah orang Tionghoa. Dan sebaliknya. Anak-anak Jawa pun agak sulit berinteraksi dengan anak-anak Tionghoa. Kenapa?

Ini soal sejarah. Di Surabaya, misalnya, pemerintah Hindia Belanda bikin kampung khusus Tionghoa di kawasan Kembang Jepun dan sekitarnya. Pecinan atawa China Town, istilah sekarang. Di berbagai tempat di Jawa selalu ada pecinan. Ini tempat orang-orang Tionghoa berdagang - satu-satunya bidang usaha yang diizinkan pemerintah sejak zaman Belanda.

Anak-anak Tionghoa pun umumnya punya sekolah khusus. Sebelum Orde Baru ada banyak sekolah Tionghoa di Jawa Timur. Di era Orde Baru sekolah-sekolah tersebut ditutup paksa. Pelajaran bahasa, budaya, aksara Tionghoa, dilarang keras. Anak-anak Tionghoa di Jawa terpaksa sekolah di sekolah umum. Tapi, ya, tetap saja terkesan eksklusif karena mayoritas pelajar etnis Tionghoa.

Sampai sekarang kita gampang menemukan sekolah atau kampus dominan Tionghoa di Surabaya. Petra, Santa Maria, Sint Louis, Stella Maris, Ciputra... hampir semuanya Tionghoa. Rupanya, segregasi manusia berdasar etnik belum bisa diatasi meski kita sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945. Jangan heran, di Jawa Timur orang Jawa dan orang Tionghoa biasanya saling rasan-rasan: bicarayang jelek tetang etnis lain. Beta geli, tapi juga sedih, menyaksikan kenyataan ini. Sama-sama Indonesia kok sulit melebur ya?

Bagaimana di Flores, khususnya di Kabupaten Flores Timur, beta punya daerah asal? Beta harus bicara jujur: kondisi di Flores jauh lebih bagus. Rasan-rasan, sentimen, cemburu... boleh dikata tidak ada. Di mana-mana orang Tionghoa sukses secara ekonomi, menempati lokasi strategis di kota. Tapi itu bukan alasan bagi kami di Flores untuk membenci saudara-saudari peranakan Tionghoa. Ini karena sejarah segregasi macam di Jawa tidak ada di Flores.

Di Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur, kota tua yang dibangun Portugis sejak abad ke-16, tidak ada pecinan. Tidak ada kelenteng. Tapi orang Tionghoa tinggal di kawasan Jalan Niaga, pusat pertokoan dan perdagangan di Larantuka. Kawasan ini juga dekat pelabuhan, hanya 10-50 meter saja dari laut. Andai saja ada gelombang pasang, toko-toko itu niscaya tenggelam.

Beta belum sempat cek sejarah kapan orang-orang Tionghoa masuk ke Flores. Tapi bisa dipastikan jauh sebelum kemerdekaan 1945. Sebab, pada saat iasingkan di Flores pada 1934-1938, Soekarno [Bung Karno] mengaku banyak berinteraksi dengan orang-orang Tionghoa di Ende. Bisa dipastikan warga Tionghoa pun sudah ada di Larantuka yang sejak zaman Portugis dikenal sebagai kota pelabuhan.

Adapun pusat perdagangan di Jalan Niaga Larantuka baru berkembang pada awal 1970-an. Baba-baba Tionghoa [orang Flores menyebut orang Tionghoa laki-laki dengan BABA, perempuan dengan NONA] membuka toko sederhana di Jalan Niaga, Kelurahan Postoh. Baba Ici dulu terkenal dengan kue terang bulan yang sangat enak plus oto [angkot] Ratu Damai yang berwarna merah. Nona Metan terkenal di Lewoleba sampai ada lagu khusus buat dia:

Nona Metan alen blara [Nona Metan sakit pinggang]
coba gosok, gosok minyak angin.....


Barang-barang dipasok dari Surabaya. Tiap hari kapal-kapal bongkar-muat di pelabuhan, Larantuka-Surabaya. Dari Flores muat hasil bumi, dari Surabaya bawa barang-barang dagangan. Jangan heran nama-nama toko di Larantuka banyak mengadopsi nama-nama jalan atau tempat terkenal di Surabaya. Contohnya: Toko Tanjungsari, yang terkenal itu.

Eh, sekarang baru beta tahu Tanjungsari itu nama tempat di Surabaya. Di sini ada pabrik dan pusat perkulakan yang memasok barang ke Larantuka. Sejak 1960-an Surabaya sudah dianggap sebagai 'kampung kedua' bagi orang-orang Flores, khususnya peranakan Tionghoa. Jika engkau datang ke Tanjung Perak, Krembangan, Manukan, Jembatan Merah... orang Flores mudah sekali dijumpai. Paling banyak di Dermaga Kalimas, Surabaya.

Selain di Larantuka, baba-baba Tionghoa juga menguasai perniagaan di kota-kota [ah, lebih tepat bukan kota lah, tapi kawasan] lain di Flores Timur macam di Waiwerang, Waiwadan, Lewoleba, Hadakewa, Balauring, Wairiang. Usahanya macam-macam: berjualan barang apa saja, mulai jarum, peniti, perdagangan antarpulau, transportasi, hingga perkapalan. Makanya, toko-toko kelontong Tionghoa di Flores biasanya penuh sesak barang, semrawut, meluber sampai di luar bangunan.

Karena bergelut di bidang perdagangan, baba-baba di Flores sangat sering masuk kampung keluar kampung. Bicara dalam bahasa lokal baik bahasa Melayu-Larantuka atau bahasa Lamaholot. Logatnya malah sangat medok. Beta sering geli sendiri mendengar logat baba-baba Flores yang sangat Flores. Ini juga kelebihan orang Tionghoa yang sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan setempat.

Mereka makan bersama, bergaul, akrab, dengan orang-orang kampung yang sangat sederhana dan miskin. Bermalam di rumah penduduk 'pribumi', menikmati makanan ala kadarnya. Ikut minum tuak dan main kartu [bukan judi lho] untuk sekadar rekreasi. Anak-anak di Flores pun terbiasa main bola, kelereng, lompat tali, petak umpet... dengan anak-anak Tionghoa. Jadi, sejak kecil kami di Flores tidak kenal pembedaan Tionghoa dan pribumi.

Sekolah pun sama-sama di sekolah Katolik atau sekolah negeri. Tidak ada sekolah Tionghoa! Asal tahu saja, 95 persen sekolah di Kabupaten Flores Timur [termasuk Lembata] milik Yayasan Persekolahan Katolik Flores Timur alias Yapersuktim. Beta sendiri saat SMP dan SMA berbaur, bahkan tinggal bersama beberapa teman yang Tionghoa di Larantuka. Makan dengan menu yang sama. Sama-sama susah, sama-sama senang.

Kebetulan saya punya teman keponakannya bos toko kaset paling terkenal di Jalan Niaga Larantuka. Hampir tiap minggu saya diajak ke toko merangkap rumah baba itu. beta akhirnya tahu tradisi budaya Tionghoa: abu leluhur, tempat sembahyang, dan sebagainya. Beta diajak makan bersama di rumah keluarga Tionghoa itu. Hampir semua orang Flores punya kenalan dekat orang Tionghoa.

Karena dekat sama teman Tionghoa kerabat bos toko kaset itulah [hmmm.. beta sering bikin pekerjaan rumahnya!], beta pun tahu banyak lagu-lagu populer masa itu. Hampir semua kaset baru beta dengarkan. Bahkan, beta bisa pesan 12 lagu sesuai selera, lantas direkam dalam kaset baru berdurasi 90 menit alias C-90.

Inilah rahasianya mengapa beta agak paham musik 1980-an dan 1990-an! Hehehe... Baba pemilik toko kaset terbesar di Kabupaten Flores Timur itu sudah bisa menebak lagu mana yang bakal ngetop dan tidak.




Apakah hubungan mesra orang Tionghoa dan Flores Timur itu karena kesamaan agama [Katolik]? Bisa jadi, tapi sebetulnya bukan alasan utama. Toh, sejak dulu hubungan antaragama di Flores Timur, khususnya Katolik-Islam, tak pernah bermasalah. Apa pun agamanya, orang Flores merasa sama-sama orang Lamaholot yang sangat kental kekerabatan dan adat istiadatnya.

Jadi, menurut beta, hubungan baik ini lebih karena orang Flores tidak beroleh warisan politik segregasi ala Hindia-Belanda macam di Pulau Jawa. Lagi pula, warga Tionghoa di Flores selalu mengidentikkan diri sebagai orang Flores, bukan Tionghoa. "Kitorang ini dari Nagi [Larantuka]. Asli Larantuka le," begitu kata teman beta dengan logat Larantuka kental.

Apakah ada orang Tionghoa yang menikah dengan orang Flores? Ada, tapi sangat sedikit. Urusan kawin-mawin memang tidak bisa direkayasa atau dipaksa. Di mana-mana orang lebih condong menikah dengan sesama suku atau etnisnya, bukan? Orang Jawa pun jarang menikah dengan Madura atau Sunda meskipun sama-sama Islam.

Lalu, apa 'kekurangan' warga Tionghoa di Flores Timur?

Menurut saya, ekspresi budayanya tidak muncul seperti di Kembang Jepun [Surabaya] atau Pontianak. Hanya generasi awal saja yang berusaha keras mempertahankan tradisi budaya dan adat Tionghoa di rumahnya masing-masing. Tidak pernah ada arak-arakan perayaan Cap Go Meh, atraksi barongsay, lang liong, dan sejenisnya. Orang-orang Tionghoa di Larantuka justru lebih aktif sebagai pengurus gereja serta dekat dengan pastor dan suster.

"Kitorang [kami] ini memang keturunan Tionghoa, tapi Katolik. Tentu harus aktif di paroki. Tapi kitorang tetap menghormati leluhur dan adat istiadatnya," kata Koh Ang, orang Tionghoa asal Pantai Besar, Larantuka.

Berbahagialah orang-orang Tionghoa di Flores! Mereka bisa tidur nyenyak, bekerja dengan tenang, karena sejak dulu tidak pernah dianggap sebagai orang asing di Nusa Bunga alias Capo da Flores. Seperti orang Larantuka umumnya, mereka berbahasa Nagi alias Melayu-Larantuka dan suka menyanyi lagu pop daerah berjudul LARANTUKA dengan syair bahasa Nagi:

Larantuka pase panjang
ujong tanjong...
Puteh tanah garam indah permai
Rame-rame memasak garam di pinggir pante
Oa dan no, no dan nona saling membantu

Pegang tangan sambil menyanyi
O rina ro...
Tundok manggo bensa
dede o angkat seloki
menghadap muka tundok le wando
minta bensa dari jao
selamat e.

11 comments:

  1. Tulisan ini menyingkap fakta menyejukkan tentang hubungan Tionghoa dan orang tanah Flores. Menjadi keping bermanfaat sebagai inspirasi untuk masa depan hubungan orang Tionghoa dan etnis lain di Indonesia.

    Pertanyaan saya, mengapa tidak ada kerusuhan sosial massive anti "China" di Surabaya? Mengapa itu justru terjadi di Jakarta, Solo dan Medan? Atau mungkin pernah ada, tapi saya tidak tahu?

    Meskin ada prasangka dan saling menjelekkan di dua kalangan beda suku di Surabaya, adakah semacam pelekat yang mencegah terjadinya kerusuhan sosial anti "China" di Surabaya?

    Atau karena faktor militer di Surabaya yang sangat menyadari, bila kerusuhan anti "China" dipicu di Surabaya, maka dampaknya betul-betul tidak bisa diperbaiki ?

    Tentunya, kita semua tidak menghendaki kerusuhan besar anti Tionghoa terjadi lagi di Indonesia !

    ReplyDelete
  2. Terima kasih atas komentar anda. Kapan2 tulis nama dan alamat ya, biar lebih dikenal.
    Teman2 aktivis pembauran di Surabaya sudah sering melakukan riset dan kajian tentang hubungan Tionghoa dan etnis lain di Surabaya. Bisa baca tulisan2 Samuel Nitisaputra, Dr Dede Oetomo, dan buletin Inspirasi dan sejenisnya.
    Surabaya itu punya karakter arek: terbuka, blak2an, egaliter, demokratis, solidaritas tinggi. Kelihatan kasar di luar, tapi demokratis. Bisa menghargai pihak lain yang berbeda.
    Faktor militer? Surabaya memang basis utama TNI AL, tapi menurut saya lebih karena watak arek Suroboyo yang egaliter, demokratis, terbuka... membuat kota ini selalu terbebas dari chaos rasial. Kalau ada masalah langsung dibicarakan sehingga lekas selesai. Kira2 demikian menurut tafsiran saya.

    Salam damai!

    ReplyDelete
  3. Tulisan ini benar-benar menyentuh saya dan membuat air mata saya jatuh.
    Saya anak Nagi dengan Papa keturunan Tionghoa dan Mama yang orang Nagi asli.

    Terima kasih karena mengobati kerinduan saya akan Nagi.

    Terus menulis dan semoga sukses.

    ReplyDelete
  4. persoalan cina sama pribumi memang pelik. anda berhasil mengangkat salah satu angle yg tak banyak diketahui orang. salam.

    ReplyDelete
  5. Numpang lewat e kaka, topik so lama tapi kita baru baca (gara2 iseng search)
    Baru dr nagi beberapa hari lalu, blom apa2 so rindu rumah dan suasananya...
    Memang yg kaka tulis diatas betul sekali, torang di larantuka lbh bisa berbaur antar ras drpd di sby..

    Oh yah sekedar tambah2,nama toko tanjung sari bukan berasal dr nama jalan/daerah di sby.
    Nama toko nya dulu adalah Tansari, dipilih oleh pemilik nya waktu itu (dikenal dengan panggilan Baba Pedo),
    Karena sejak muda, beliau sering ke daerah Tanjung Bunga, untuk berjualan.. Beliau merasa org2 disanalah yg banyak berjasa bagi usahanya,
    Hingga akhirnya memilih nama Tanjung Bunga yg sedikit di modif menjadi Tansari..
    pada generasi selanjutnya nama Tansari di rubah menjadi Tanjung Sari ( hingga saat ini namanya masih tetap sama).

    Regards,
    Rudy Tanay.

    ReplyDelete
  6. Sekedar ralat,
    Ternyata toko Tanjung Sari berdiri dengan nama Berdikari ( pemiliknya di kenal dengan nama baba Pedo ),
    Berubah nama menjadi Tanjung Sari setelah dilanjutkan olah putranya.
    Namun nama Tanjung Sari itu sendiri bukan terpengaruh dari nama jalan atau daerah dagang di Surabaya,
    melainkan karena pengaruh sejarah usaha baba Pedo yg mana akrab / dikenal baik oleh orang Tanjung Bunga
    pada saat itu.

    Regards,
    RT

    ReplyDelete
  7. Tulisan yang bagus sekali!
    Sangat bagus sebagai penambah wawasan mengenai kehidupan masyarakat yang majemuk di Flores Timur...

    ReplyDelete
  8. ada sisi lain yg menarik ttg kedamaian dan keharmonisan org flores...

    ReplyDelete
  9. terkesan dengan keharmonisan etnis di Pulau Flores, bisa jadi inspirasi dalam NKRI yg sering menggunakan SARA untuk meraih tujuan politik.

    ReplyDelete
  10. olla.....

    amazing....
    tulisan ini merupakan suatu kebanggaan wt saya.
    karena melalui tulisan yang terpapar,
    dapat menceritakan bagaimana rasa persaudaraan yang begitu erat di pulau flores ,
    ya....secara kental sebutan orang-orang dulu "nusa bungga"

    saya bangga dengan daerah ini...
    dengan bau kristiani yang kuat,menjadikan saya sebagai perindu yang kuat akan FLORES ku.....
    meskipun saya sekarang berada di asterdam,belanda.

    ReplyDelete
  11. Di ujung Barat di Kota Ruteng juga hubungan Orang Tionghoa dan Pribumi relatif harmonis dan saling menguntungkan. hanya saja eksklusivisme sangat kental terasa.

    ReplyDelete