14 March 2008

Soetanto Soepiadhy, SAS, Larantuka

Juru Tulis: Lambertus L. Hurek

LARANTUKA

Lagu: Arthur Kaunang
Syair: Soetanto Soepiadhy

Oh…oh Larantuka
oh…oh Larantuka

Di ujung timur Flores
ada bencana gempa
Tanah gerak
bumi bergoncang retak
Oh…Larantuka

Derita hamba Tuhan
dalam kesengsaraan
manusia di hamparan musibah
Oh…oh.. Larantuka
oh…oh... Larantuka


Anda penggemar musik rock tanah air? Aha, anda tentu pernah dengar, mungkin hafal, lagu ini. Pada 1980-an lagu ini sangat terkenal. Bahkan, sampai hari ini pun grup-grup band anak muda di Jawa Timur masih memainkannya. Syair LARANTUKA yang sarat empati kemanusiaan ditulis oleh Soetanto Soepiadhy.

Bung Tanto dulunya seniman, penggerak teater, suka menulis puisi, pernah jadi pelatih dan dirigen paduan suara. Seniman komplet lah. Sekarang, tahun 2008, Soetanto Soepiadhy lebih dikenal sebagai doktor hukum tata negara. Bung Tanto juga aktif menulis buku. Akhir-akhir ini dia getol memperjuangkan hadirnya calon independen dalam pemilihan kepala daerah [bupati, wali kota, gubernur] hingga pemilihan presiden.

"Saya akan terus berjuang bersama teman-teman, dan insya Allah, gol," ujar Dr Soetanto Soepiadhy SH MH kepada saya di Surabaya, Jumat 14 Maret 2008. Namanya juga seniman, meski sudah jadi dosen senior, pakar tata negara di Universitas 17 Agustus Surabaya [lazim disingkat Untag], Bung Tanto enak diajak bicara.

Obrolan kami mengalir, apalagi saya fokus ke lagu Larantuka yang dipopulerkan SAS Group pada 1980-an. Saya memang berasal dari Flores Timur, kabupaten dengan ibukota Larantuka. Saya masih kecil ketika bencana dahsyat itu terjadi, namun masih belum lupa efek bencana tersebut. Gempa bumi dahsyat menewaskan ribuan orang.

Larantuka sebuah kota tua di ujung timur Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sejak abad ke-16 menjadi kota pelabuhan yang dibina para pedagang dan misionaris Portugal. Larantuka juga dikenal sebagai pusat misi Katolik mula-mula di Indonesia. Yoseph Yapi Taum, dosen Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta, menulis:

"Tahun 1641 terjadi migrasi besar-besaran penduduk Melayu Kristen ke Larantuka ketika Portugis ditaklukkan Belanda di Malaka. Sejak itulah kebanyakan penduduk Flores mulai mengenal kristianitas, dimulai dari Pulau Solor dan Larantuka di Flores Timur, kemudian menyebar ke seluruh daratan Flores dan Timor. Dengan demikian, berbeda dari penduduk di daerah-daerah lain di Indonesia, mayoritas masyarakat Pulau Flores memeluk agama Katolik."

Banyak lagi catatan-catatan sejarah tentang Larantuka alias Nagi alias Kota Reinha Rosari, kata penduduk setempat. Tapi, di balik, sejarahnya yang panjang, Larantuka beberapa kali diguncang bencana hebat. Pada 27 Februari 1979 terjadi banjir bandang. Seluruh kota itu habis diluberi banjir lumpur dari Gunung [Ile] Mandiri. Saya ingat karena kebetulan ada lagu yang sangat terkenal di sana untuk mengenang bencana tersebut:

"Dua tujuh malam Rabu,
Februari bulan itu,
Tujuh sembilan yang kelabu
Tak dapat kulupakan

Lumpur batu yang mengganas
Tak berperi dan berbelas
Merenggut harta korban jiwa
Tak dapat kulukiskan...."


Beberapa tahun kemudian, kalau tak salah 1983, terjadi gempa bumi mencapai 6 Skala Richter. Kembali ribuan penduduk meninggal dunia. Rumah-rumah habis. Berantakan. Nah, saat itulah Soetanto Soepiadhy, seniman arek Surabaya, menulis syair berjudul LARANTUKA.

"Saya ikut merasakan penderitaan warga Larantuka pada saat itu. Makanya, saya menulis syair itu," papar Bung Tanto yang baru saja merilis buku berjudul "Meredesain Konstitusi".

Pak Tanto waktu itu sangat dekat dengan para seniman. Gondrong rambutnya. Bergerak melawan penguasa yang sewenang-wenang, kritik sosial, lewat jalur kesenian. Dia kemudian menawarkan syair itu kepada Arthur Kaunang, basis dan pemimpin SAS Group. Arthur setuju, dan LARANTUKA menjadi lagu andalan sekaligus judul album SAS. Lagu ini meledak, dimainkan di mana-mana.

Artinya, Soetanto Soepiadhy secara efektif memperkenalkan Larantuka, di ujung timur Flores, ke seluruh Indonesia. Setiap kali SAS [Arthur Kaunang, Sunatha Tandjung, Syekh Abidin] manggung, lagu LARANTUKA selalu dibawakan. Bahkan, pada awal 2005 lagu ini dibawakan lagi di Surabaya untuk penggalangan dana untuk korban bencana gempa bumi dan tsunami Aceh-Sumatera Utara. Arthur Kaunang bersama grup Boomerang, juga asal Surabaya, mengganti kata LARANTUKA dengan NANGGROE ACEH.

Soetanto Soepiadhy ini ternyata selalu bekerja sama dengan SAS untuk urusan penulisan lirik. Jangan heran di album-album SAS selalu tertulis kata-kata: "Terima kasih kepada Saudara Soetanto Soepiadhy yang sudah menulis lirik-lirik lagu di album ini". "Saya memang tidak bisa dipisahkan dari SAS," kata Soetanto Soepiadhy yang piawai berceramah ini.

Berapa banyak lagu-lagu SAS yang melibatkan anda sebagai penulis lirik?

"Wah, banyak sekali. Saya sampai lupa. Kalau gak salah lebih dari tujuh album. Banyak sekali lah," ujar Soetanto Soepiadhy.

Kerja sama macam ini sangat menguntungkan band-band rock masa lalu. Musik bagus, lirik tidak kacangan. Sebagai penyair dan budayawan, Soetanto Soepiadhy mengangkat berbagai fenomena kehidupan ke dalam syair lagu. SAS-lah yang memopulerkan lagu itu ke masyarakat.

Saya akui bobot syair SAS Group memang sangat tinggi. Tidak melulu berisi jatuh cinta ala remaja, naksir sana sini, ala band-band tahun 2000-an. Simak saja lirik SANSEKERTA karya Soetanto Soepiadhy di album SAS berjudul sama:

Ingin kusunting kelam senja
di antara serpih kata
Bertaut asmara birahi sansekerta
di mana adanya
Penghantar gejolak bahana
merambat di arcapada
Naik suralaya dibuai senja kala
oh sansekerta

Bidadari turun dari suralaya sansekerta
Bidadari pelepas hasrat gejolak rasa

Dekaplah untaian asmara
jangan lewatkan jua
Desir bayu bajra
hempas ombak samudra
oh sansekerta


Wah, wah... mana ada lirik lagu pop Indonesia macam itu sekarang?

Gara-gara sering mengangkat fenomena sosial, beberapa lagu [yang liriknya ditulis Bung Tanto dicekal penguasa Orde Baru. Kita tahu Presiden Soeharto waktu itu tidak suka suara-suara kritis. Orang-orang kritis macam Bung Tanto dianggap antipembangunan, anti-Pancasila, dan seterusnya. "Saya masih ingat lagu saya, SUMINAH, dicekal pemerintah," tuturnya lalu tertawa kecil.

Bung Tanto menggambarkan Suminah sebagai orang desa yang bekerja di Jakarta. Bukannya sukses, perempuan itu terlunta-lunta di ibukota. Lagu ini dianggap memperuncing kesenjangan sosial. Rakyat jelata, miskin, bisa mengamuk dan bikin kerusuhan. "Tapi saya menikmati masa-masa genting tersebut," ujar pembelajar sejati ini. [Bung Tanto kuliah strata satu sastra, kemudian S-2 dan S-3 hukum.]

Kini, Bung Tanto bukan lagi penulis lirik, seniman gondrong, atau tokoh yang diwaspadai penguasa. Sebagai akademisi, ia berjuang lewat jalur intelektual untuk mewujudkan daulat rakyat. Ia juga kritik reformasi yang masih tanggung. "Reformasi yang berlangsung selama ini belum menyentuh persoalan bangsa yang paling hakiki. Pancasila tak lebih sebuah slogan," tulisnya.

Di mana-mana pejuang sejati tak pernah mati. Caranya saja berbeda, disesuaikan dengan tuntutan zaman. Bung Tanto, terima kasih untuk lagu LARANTUKA yang fenomenal itu. Maju terus, Bung!

7 comments:

  1. dimana saya bisa download free mp3 album SAS band, utamanya lagu yg brjudul SUMINAH?

    ReplyDelete
  2. makasih dah baca blog ini. setahu saya album SAS jarang diinternetkan. kenapa? soalnya, penggemar SAS umumnya usia 30 tahun ke atas, padahal kami2 ini rata2 gagap teknologi.
    anda bisa buru di bursa kaset bekas, siapa tahu ketemu. salam musik.

    ReplyDelete
  3. album²nya SAS banyak tuh di multiply.. coba aja search..


    dedy_mits was here

    ReplyDelete
  4. Mo nananya ne BOzzz, dimana download mp3 album sas ..yg judul nya suminah ntu...

    ReplyDelete
  5. gw boomers asal pocker TB "pondok kranji tarbiyatut tholabah" sangat berharap boomerang hidup lg n tampil dilamongan. I MISS YOU forever. slm buat boomers se-indonesia

    ReplyDelete
  6. iya nech dimana saya harus cari lagunya SAS soalnya udah keliling kemana-mana malah di ketawain karena yang jual kaset ga' kenal

    ReplyDelete
  7. pak tanto memang luar biasa. katanya sudah jadi politisi ya? jangan lupa tetap mencipta. merdeka!!!!

    ReplyDelete