19 March 2008

Paduan suara remaja jelang Paskah '08



Gereja Hati Kudus Yesus alias Katedral Surabaya di Jalan Polisi Istimewa. Gereja ini termasuk salah satu bangunan cagar budaya yang dilindungi undang-undang.

Menjelang pekan suci ini [Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Paskah], beta mampir ke Katedral Surabaya [foto gereja]. Ini beta punya kebiasaan rutin untuk memantau dinamika umat Katolik di Surabaya. Terop-terop sudah disiapkan. Kursi-kursi tambahan menumpuk. Biasalah, misa pekan suci selalu melimpah ruah umat.

Mereka-mereka yang biasanya malas misa hari biasa, menjadi rajin ke gereja. Ikut tuguran sepanjang malam. Bukan main! "Umat Katolik di Surabaya ini memang banyak yang kayak kapal selam. Menyelam terus, lalu baru muncul pada saat Natal dan Paskah," kata Uskup Surabaya Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono di berbagai kesempatan.

Kami di Flores biasa bilang "Katolik Napas": Natal Paskah! Umat "kapal selam", "napas", memang ada di mana-mana. Tapi lebih baik begitu daripada tidak pernah ke gereja sama sekali to? Hehehe...

Beta sempat ngobrol dengan beberapa satpam Katedral: Pak Ketut, Pak Nur, Pak Markus, juga Ferdi yang kerja di Biara Soverdi. Lamat-lamat beta dengar suara indah dari balkon Katedral: Haec Dies, lagu ciptaan Pater Padmaseputra yang biasa dinyanyikan pada malam Paskah. Beta hafal lagu ini, versi Latin dan Indonesia, berikut aransemen paduan suaranya.

Bagaimana tidak hafal? Tahun 1990-an beta selalu melatih paduan suara anak-anak muda Katolik di Jember. Haec Dies lagu yang enak, gampang, tapi berbobot. Bagian kanon [sahut-sahutan] "Ale...lu...ia" dengan nada-nada melismatis sangat menarik. Di mana-mana di lingkungan Katolik di Jawa lagu ini termasuk hit.

Beta kemudian naik ke balkon. Aha, Cak Yulius Kristanto sedang melatih remaja sekolah menengah pertama [SMP]. Latihan serius, tapi gayeng. Beta lihat mereka sangat menikmati paduan suara gerejawi. Apalagi, pelatihnya, Yulius, punya reputasi hebat di Keuskupan Surabaya. Ia bekas aktivis paduan suara mahasiswa Universitas Airlangga. Ikut sekolah musik. Pendidikan dirigen. Menekuni musik liturgi. Yulius pun dipercaya menjadi dirigen utama saat tahbisan Uskup Surabaya Mgr. Sutikno tahun 2007 lalu.

Beta kasih tanda dengan bahasa tubuh ke Yulius. Ia tersenyum. Latihan jalan terus. Anak-anak remaja ini jelas jauh lebih hebat ketimbang beta dan remaja-remaja Flores tempo doeloe. Mereka punya pelatih bagus. Organis kelas nasional. Katedral Surabaya yang punya sejarah panjang.

Beda dengan paduan suara di kampung-kampung Flores yang tak punya piano, organ, dan alat-alat musik moderen. Kalaupun kita bisa beli instrumen, listriknya dari mana? Maka, pelatih-pelatih kor di Flores hanya mengandalkan garputala. Untuk membuat gambaran irama, tempo, pelatih kampung harus mengetuk pakai tongkat atau tepuk tangan.

Harus kasih contoh dengan suara sepanjang latihan dua jam. Kenapa? Orang Indonesia rata-rata tidak pandai membaca not angka. Not balok dijamin macet cet-cet! Bisa dibayangkan seraknya suara pelatih atawa dirigen. Tapi begitulah suka duka membina paduan suara di kampung pelosok yang belum maju.

Tidak lama beta menyaksikan Yulius melatih anak-anak SMP. Tapi beta masih bisa merasakan betapa majunya kor mereka. Partitur-partitur sulit sudah dilahap anak-anak dengan fasih. "Thanks to the Lord!" judul salah satu komposisi yang akan dibawakan anak-anak ini pada malam Paskah.

Yah, terima kasih Tuhan! Musik dan lagu-lagu indah masih mendapat tempat di tengah-tengah kesibukan dan kebisingan Kota Surabaya. Anak-anak ini harus tumbuh lebih baik, lebih bermutu, lebih hebat... daripada generasi orang kampung beta lah! Semua fasilitas ada. Uang, gedung, dukungan orang tua, pemusik hebat, pelatih jempolan.

Selamat merefleksikan Pekan Suci! Selamat Paskah!

6 comments:

  1. hahaha...Mas Hurek, kena tuh sindiran-nya. Saya juga termasuk salah satu model kapal selam itu. Jadi malu sama Mas Hurek yg menurut saya lebih pantas jadi pastor daripada wartawan...*jangan marah ya*
    Mas, mau tanya tentang Oom Damianus Wera. Beliau bisa sembuhkan kanker gak Mas? Teman saya yg habis operasi kanker ovarium gak mau kemo, saya yg kebat-kebit ketakutan ada apa2 sama dia. Salah satu alasan adalah biaya kemo yg mahal. Tapi teman saya sudah operasi lho...jangan dibuka perut lagi ya:) Tempo hari saya lihat video penyembuhan ala Oom Dami...aduh...saya merinding...ngeri tapi pengen lihat. Yg luar biasa kok pasien-nya tenang2 aja ya. Mas Hurek kenal sama Oom Dami gak? Saya tidak tau apakah teman saya mau dibawa ke Oom Dami, tapi saya tetap berusaha membantu bila dia butuh informasi.

    Selamat Paskah Mas Hurek, Tuhan berkati selalu.

    salam damai dari Jakarta,
    Elyani

    ReplyDelete
  2. Wah, terima kasih banget, Mbak El sangat jeli mencermati kata2 saya. Aku umat biasa aja lah, gak ada potongan pastor. Termasuk yang kena sindirnya juga. Hehehe... Iso2 wae Ning El iki!

    Om Dami Wera itu kan pengobatan alternatif. Soal sembuh tidaknya itu kan kita perlu ikhtiar dulu. Hidup kan di tangan Tuhan. Dokter, tabib mana pun, cuma alat saja. Aku sudah nulis artikel tentang Om Dami di http://hurek.blogspot.com/2008/02/damianus-wera-sang-tabib-asal-flores.html

    Silakan dibaca, siapa tahu ada gunanya. Selamat Paskah juga ya. Tuhan memberkati selalu.

    ReplyDelete
  3. Mas Hurek,

    Hari Paskah diswiss rame,ada acara cari telur hias untuk anak2 dan aneka coklat bentuk telur ...

    Met Hari Raya Paskah ya Mas Hurek.
    Salam dari kami semua ...

    ReplyDelete
  4. sama2 mbak judith. salam dan doa saya untuk mbak judith, makhluk swiss, en lima precil yang manis. GBU!

    ReplyDelete
  5. halo....mas hurek....salam kenal ya.....eh,kapan2 main2 jg ya ke paroki algonz.......nanti kita kan bisa latihan paduan suara bareng2hehehehe^^ selamat paskah ya.......mas...tuhan memberkati

    ReplyDelete
  6. Hi... Febrina, thanks dah baca n komentarin tulisanku. Met Paskah juga, n salam buat teman2 di Algonz. Tahun ini Romo Benny misa di HKY. Soale Romo Eko, mitra aktivisnya, geser ke sana. Hehehehe... God bless you!

    ReplyDelete