01 March 2008

Orang Flores jadi penasihat Paus



Orang Indonesia jadi pejabat teras di Vatikan? Jadi penasihat Paus Benediktus XVI? Wow, ini luar biasa! Saya lebih terkejut lagi setelah tahu bahwa pastor muda itu berasal dari Flores Timur, kabupaten saya, di pelosok Nusa Tenggara Timur.

Pater MARKUS SOLO KEWUTA SVD [lahir di Lewouran, Flores Timur, 4 Agustus 1968] sejak Juli 2007 resmi menjabat anggota Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama. Bahasa kerennya: Pontifical Council for Interreligious Dialogue. Pater Markus menangani desk dialog Kristen-Islam di Asia, Amerika Latin, dan Afrika Sub-Sahara.

“Puji Tuhan, kita harus bersyukur karena ada orang Flores Timur mendapat jabatan bergengsi di Vatikan. Ia orang Indonesia pertama yang tembus birokrasi Vatikan,” ujar Eduardus, teman asal Flores Barat, yang tinggal di Surabaya.

Belum lama ini kami cangkrukan, minum kopi, sambil ngobrol ngalor-ngidul. Ya, politik, hierarki, Flores, pilkada, lumpur lapindo.... Eh, tiba-tiba ada teman Flores yang kasih lihat majalah HIDUP edisi 20 Januari 2008, yang memuat kabar gembira itu.

“Ini jelas sejarah baru. Bayangkan, orang kampung terpencil bisa menjadi orang penting di Gereja Katolik. Bukan sekadar di Indonesia, tapi dunia,” komentar Freddy, bekas aktivis mahasiswa, juga anak Flores.

Lulus Seminari San Dominggo, Hokeng, Flores Timur, Markus Solo Kewuta sejak dulu dikenal cerdas. Otak encer, kata orang Flores. Dan, biasanya, calon pastor yang sangat cerdas dikondisikan untuk “makan sekolah” di luar negeri. Tak tanggung-tanggung, Markus Solo melanjutkan studi ke Slazburg, Austria, tempat lahir maestro Wolfgang Amades Mozart.

Sangat pas karena sejak di Hokeng Markus Solo Kewuta sangat doyan musik, bikin lagu, menjadi dirigen paduan suara, bahkan sempat rekaman lagu-lagu daerah. “Musik itu hobi yang menyenangkan,” tutur putra Nikolaus Kewuta, petani miskin di kampung itu. Mamanya, Getrurdis, ibu rumah tangga biasa.

Nah, beda dengan kebanyakan pastor di Flores Timur yang ditahbiskan di kampung halaman, dengan pesta meriah minimal tiga hari tiga malam, Markus Solo Kewuta SVD ditahbiskan di Austria. Saya tidak tahu apakah di kampungnya Mozart ini masih banyak orang yang “pigi gereja” dan mengapresiasi seorang gembala jemaat, pastor. Tapi bisa saya jamin tahbisan Pater Markus Solo Kewuta akan lebih ramai kalau dilakukan di kampung.

Sempat bekerja di paroki di Salzburg selama dua tahun, Markus Solo Kewuta melanjutkan ke Universitas Innsbruck, Austria. Dia fokus di islamologi, sebuah studi yang telah dirintisnya sejak di Seminari Tinggi Ledalero [1988]. Tahun 2002 Markus lulus dengan predikat luar biasa: summa cum laude.

Sejak itu Markus mendalami bahasa Arab, bahasa yang sangat penting dalam studi islamologi, di Kairo, Mesir. Selain bahasa Arab, saat ini Pater Markus Solo Kewuta fasih berbahasa Jerman, Italia, dan Inggris. Belum beberapa bahasa daerah di Flores Timur, plus bahasa Nagi alias bahasa Melayu-Larantuka. Tapi, yang jelas, Pater Markus belum bisa bahasa Jawa dan Madura macam saya. Hehehe....

Nah, di Mesir ia beroleh gelar licensiat. Markus Solo kemudian balik ke Austria, bukan Flores atau tempat lain di Indonesia. Pada tahun 2006-2007 Markus Solo Kewuta diangkat menjadi rektor Institut Afro-Asia di Wina.

Singkat cerita, awal 2007 Pater Markus Solo Kewuta SVD dipanggil oleh Takhta Suci untuk wawancara khusus. Sukses! Ia dianggap pantas masuk Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama. “Rasanya seperti mimpi. Saya tidak pernah membayangkan bisa bergabung dalam tim penasihat Bapa Suci,” ujarnya.

Bagaimana Markus Solo Kewuta tertarik mengkaji agama Islam secara mendalam? Ini juga mengherankan karena penduduk Flores Timur itu hampir semuanya Katolik. Pengetahuan orang Flores tentang Islam rata-rata sangat rendah. Tata cara salat, ambi air wudhu, hitungan rakaat, syariat puasa, zakat, infaq, sodaqah, halal, haram, makruh, lailatulqadar, mahram... dan sebagainya boleh dikata orang Flores itu tak paham lah. Gak ngerti blasss! Saya sendiri baru paham setelah hijrah ke Tanah Jawa.

Pater Markus Solo pun pada awalnya kesulitan. “Saya belajar dari buku-buku karena memang orang Islam di Flores tidak banyak,” paparnya. Maklum, sejak sekolah dasar pria berbadan kekar ini suka membaca. Dari bacaan-bacaan itulah, dia mengenal agama Islam serta kenyataan bahwa kaum muslim mayoritas mutlak di Indonesia.

Sang ayah, Bapa Nikolaus Kewuta, mula-mula takut anaknya, calon pastor, belajar agama Islam. Buat apa? Mengapa pilihan studimu aneh-aneh? Bapa Kewuta juga khawatir dengan keselamatan pribadi anaknya. Namun, Markus Solo jalan terus karena islamologi sangat menarik, menantang, dan langka.

Pada akhirnya, sikap Markus Solo Kewuta yang istikamah [konsisten, serius, fokus] sejak 1980-an kini sudah berbuah. Ia tercatat sebagai orang Indonesia pertama di jajaran Dewan Kepausan di Vatikan sana. Sebuah prestasi dan kebanggan bagi orang Flores [NTT], tapi juga umat Katolik di Indonesia.

“Kalau dulu orang-orang Eropa itu datang ke Flores untuk mengatolikkan kita, sekarang gantian lah. Kita orang yang jadi misonaris di Eropa supaya dorang pigi gereja lagi,” begitu komentar enteng-entengan kita punya teman dari kampung.

11 comments:

  1. proficiat utk pater markus solo. ini merupakan bukti bahwa gereja katolik di indonesia semakin misioner dan dewasa. salut bung!

    antonius gunawan
    jogjakarta

    ReplyDelete
  2. Salam kenal Bang Lambert.

    Maaf kalau menggangu aktifitas hariannya.. Ok then,sebelumnya ijinkan saya untuk perkenalkan diri dulu bang...

    Nama saya Yustinus Kewuta..(Saudara dari Pater Markus Solo K)
    Baru2 ini Pater Markus forward ke saya info seputar tugas baru beliau
    di Vatican yg ditulis oleh Bang Lamber. Sebagai saudara dari beliau saya ucapkan banyak terima kasih atas dukungan dari semua pihak entah dalam bentuk apapun itu. TUHAN MEMBERKATI!!!!

    Iya waktu itu saya dan Pater Markus sempat bikin album Flores di awal thn 2000-an di bali waktu itu. Ide bikin rekaman itu muncul waktu saya dalam perjalanan Tour Music di Eropha,waktu itu kebetulan saya punya waktu luang dan mampir di Zalsburg dan Pater Markus juga sempat kunjungi saya di arena show music di Vorarlberg St.Anton..lalu muncul ide itu, dan kami harus nuggu beberapa thn kemudian setelah saya bikin music dan beliau beresin kata2 lagu dan
    baru rampung awal thn 2000.

    Saya salut atas perjuangan beliau yg harus minta cuti utk rekaman ke bali dan hari2 selama beliau di bali kami manfaatkan benar sesuai rencana. AMIN !!!

    Saya sendiri sekarang di Australia setelah dari Eropha dari thn 2001 dan bekerja di bidang Music. Semoga ini awal yg baik buat kita untuk jalin persahabatan dan tukar2
    info.

    Ok Bang Lambert...Salam selalu ke situ. Selamat bekerja dan GOD BLESS..!!!!

    Salam dari Down Under....

    ReplyDelete
  3. Ama Lambert,
    P. Markus Kewuta itu teman kelas saya waktu di Seminari Hokeng. Ya saya masuk CICM dan belajar di Philippines tapitidak ditahbiskan. Saya bangga dengan dengan teman saya....
    franskupangujan-manila

    ReplyDelete
  4. Ama Frans, terima kasih sudah mampir dan kasih komentar di sini. Semoga selalu diberkati Tuhan.

    ReplyDelete
  5. salut untuk romo markus solo. moga2 bisa jadi duta bangsa indonesia di vatikan. aq ikut bangga deh.

    anton

    ReplyDelete
  6. Congratulation Pater Markus Solo, SVD

    ReplyDelete
  7. Saya senang membaca tulisanmu mengenai pater Markus Solo, SVD. Saya turut berbahagia atas jabatan yang suci ini. Saya adalah keluarga besar dari Bapa Arnaldos Jansen. Sebagai kongregasi dan misionaris kami sangat berbahagia.
    Saya kenal pater Markus Solo pada thn 2008 di Nitra- Slovakia. Saat itu beliau diundang untuk berbicara mengenai "Dialog Inter-Religios" kepada coordinator dari justice and peace SVD dan SSpS di seluruh Europa. saya saat itu diutus dari Spain/Portugal.
    Pater Marc "sapaan di kalangan Eropa" beliau memang orangnya pintar.
    Kita doakan semoga Tuhan tetap memberkati tugasnya yang luhur dan kudus itu.

    Selamat bekerja kepada Pak Lambertus.
    salam
    Sr. Ma. Mendes, SSpS
    Misionaris di Portugal

    ReplyDelete
  8. sebagai orang NTT, saya turut berbangga. Tuhan memberkati ya. Ayub Bansole.Jakarta.

    ReplyDelete
  9. Terimakasih pak Lambert atas di muatnya profil pater Markus Solo Kewuta svd,semga di lain kesempatan bolehlah memuat profil orang katolik lainnya,agar menjadi panutan bagi kaum muda katolik di keuskupan Larntuka khususnya dan Indonesia umumnya.Marcel Valentinus;25Jan2011.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebagai Orang Flores, NTT, Indonesia kami berbangga, hanya doa yg bisa kami sertyakan dalam tugas panggilanmu Proficiat P Markus, SVD, Tuhan menyertaimu selalu...

      Delete
  10. P. MARKUS SVD SEDANG MENAPAKI JEJAK KRISTUS, YAKNI MENGAMBIL BAGIAN DALAM KARYA KEDAMAIAN,
    DAMAI............, DAMAI............, DAMAI DI BUMI YANG SEDANG DIGEROGOTI OLEH SEKTARIANISME. INDONESIAPUN SEDANG TERGONCANG ULAH SEKTARIANISME.KARYAMU BESAR DAN BEBANMU BERAT, KIRANYA TUHAN SENANTIASA BERSAMAMU. AMIN.

    SILVESTER NONG, MAUMERE, FLORES YANG SEDANG BERDOMISILI DI JAKARTA.

    ReplyDelete