25 March 2008

Mungkinkah belis disederhanakan? (2)




Bung, apakah bisa disederhanakan belis di Flores itu? Rasanya kok berat banget. Suwun.

Taufan, Malang


Pertanyaan ini menanggapi artikel KOMPAS 21 Juli 1996 yang mengkritik sistem belas di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Flores, khususnya lagi di Flores Timur, yang dirasa sangat memberatkan. Apa masih relevan? Sudah modern, abad ke-21, kok masih kolot? Di mana otaknya orang Flores?

Begini. Sebelum diramaikan di KOMPAS, sebetulnya sudah lama ada gagasan untuk menyederhanakan belis di Flores Timur. Pada era 1980-an, ketika Bupati Flores Timur dijabat Bapak Anton Buga Langoday kemudian Bapak Markus Weking, wacana itu sudah cukup ramai.

Saya masih ingat para camat [dulu ada 13 kecamatan: tiga di Flores Timur daratan, 2 di Adonara, 2 Solor, 6 Lembata] secara halus menggulirkan ide penyederhanaan belis. Okelah, belis gading masih ada, tapi dipermudah. Kan kasihan kalau sampai orang tak bisa kawin hanya karena sukunya tak punya gading.

Tapi wacana ini beroleh reaksi keras dari para tetua adat. Lama-lama pemerintah daerah takut untuk menggulirkan kebijakan yang lebih berani lagi. Budaya belis gading berlanjut terus. Orang-orang tua ngotot mempertahankan sistem lama karena masyarakat Lamaholot tidak bisa menghapus sistem belis gading sampai kapan pun.

Pada 1990-an, ketika tua-tua adat sudah sangat uzur, banyak yang meninggal dunia, mulai muncul keberanian untuk mereduksi budaya belis gading. Ini ditambah dengan membaiknya tingkat pendidikan masyarakat. Tak sedikit generasi muda yang menantang tua-tua adat.

Saya masih ingat ada beberapa mahasiswa yang kuliah di Jogja secara terang-terangan
mengecam sistem belis gading. Tulisan-tulisan mereka dimuat di DIAN, surat kabar mingguan yang terbit di Ende. Bahkan, anak-anak muda itu melakukan perlawanan dengan tidak menikahi orang Flores Timur [NTT umumnya] melainkan pacarnya yang asal Jawa.

Gerakan tolak belis ini pelan-pelan meluas. Teman-teman mahasiswa di luar NTT umumnya sangat kritis pada budaya belis. Boleh dikata sebagian besar menikah dengan gadis setempat yang zonder pakai belis gading. Hehehe....

"Lebih enak kawin di luar ketimbang kawin di kampung. Bikin kepala sakit," begitu alasan teman-teman yang rata-rata kelahiran pertengahan 1970-an.

Ini semua soal waktu sajalah. Tua-tua adat pada berpulang. Orang-orang muda Flores Timur punya wawasan yang makin luas dan modern. Saya percaya pelan tapi pasti adat lama itu akan terus mengalami penyesuaian.

Bagaimanapun juga kita harus percaya bahwa adat istiadat di mana pun selalu dinamis. Tumbuh seiring perkembangan masyarakat. Apa yang sebelumnya cocok belum tentu pas dengan ukuran saat ini. Saya rasa itu pula yang terjadi di Flores Timur.

Kalau mau jujur, adat belis ini sudah lama mengalami penyesuaian di sana-sini. Katakanlah ada orang Flores menikah dengan orang Jawa. Tidak mungkinlah mempertahankan sistem adat sendiri. Harus kompromi! Okelah, adat jalan, liturgi berlaku, tapi sangat dipermudah.

Bahkan, kalau orang Flores Timur mau menikah dengan gadis Flores Barat, sulit sekali mempertahankan sistem adat belis ala Lamaholot. Pasti ada kompromi di sana-sini.

Samuel Octora, wartawan KOMPAS, menulis:

"Tahun 2006 terdapat 19 kasus suami yang merantau untuk mencari uang guna melunasi belis. Namun, akhirnya istri dan anak ditelantarkan di kampung. Sebanyak 5 kasus lainnya, keluarga istri mengintimidasi suami untuk melunasi belis. Karena tertekan, suami memperlakukan istrinya dengan kekerasan."

Kasus-kasus macam ini tidak bisa dimungkiri terjadi di kampung-kampung Flores Timur. Tapi, menurut saya, jumlahnya sudah jauh berkurang dari tahun ke tahun. Sebelum 1980 memang banyak sekali kasus-kasus belis yang bikin miris. Tapi setelah tahun 2000, silakan teliti lagi, angka-angkanya sudah jauh berkurang.

Saya optimistis suatu ketika terjadi penyederhanan sistem belis yang luar biasa. Bukankah semua orang makin maju? Makin luas wawasannya? Percayalah, adat atau tradisi yang tidak luwes, tidak mampu beradaptasi dengan kemajuaan peradaban manusia, pasti akan ditinggalkan. Menjadi konsumsi museum dan sejarah.

BACA JUGA
Mungkinkah belis disederhanakan? (1)
Kawin belis gading di Flores Timur.

3 comments:

  1. Ama
    saya kira belis sudah disederhanakan.Perkembangan terakhir, bukan lagi Gading dipake. Sudah banyak bentuk seperti uang, rumah, tanah yang sudang menjadi belis. Pada dasarnya saya tidak terlalu setuju dengan adat belis seolah-olah perempuan itu barang yang bisa dibeli. The perempuan dianggap sebagai harta benda. Saya punya kakak perempuan yang nikah dengan orang ileApe. waktu itu adat masi kuat sekali.Keluarga IleApe harus cari gading setengamati untuk belis.sekarang saya tidak bisa "macam-macam" karena kakak saya sudah jadi "milik" suku lain.tetapi biar begitu kita tetap saling mengasihi. malah saya tetap membagi tana untuk kakak dan adik saya perempuan.Bagi saya mereka tidak kehilangan hak karena mereka adalah keturunan orang tua kami yang sama.kebetulan saya nikah dengan orang asing yang tidak tuntut apa-apa malah membatu saya untuk membuat keluarga kami hidup makmur.Bagi saya kepentingan keluarga baru itulah yang harus diutaman. e..kalau belis banyak-bayang tapi banyak utang kan berantakn.
    franskupangujan

    ReplyDelete
  2. males banget klo ngomong yg satu ini,..
    entah dari sudut mananya adat istiadat itu berpengaruh baik bagi yg hendak menikah. ok lah yg namanya rangkaian upacara sebelum hingga prosesi pernikahan emang smua butuh persiapan mental n materi,,, tapi pelisss duehhh mang na abis bayar belis, tuh keluarga baru mau makan batu? hari gini masih ajah ngurus bayar belis yg aneh2,.. sementara setelah smua usai, yg ada keluarga melarat krn hutang,.... pengalaman saya sendiri membuat saya ampe sekarang males mau nikah,..abies,.. gara2 belis bla bla bla yg kate bonyok mesti begini dan begitu membuat sy illfeel wat menikah. sory ea,.. BUAT TEMAN2 YG MASIH PATUH BANGET AMA ADAT buat aku keluarga yg bahagia itu tidak dijamin dari berapa banyak belis yg dia berikan, tp seberapa besar komitmen dr kedua belah pihak untuk membina keluarga baru, menjunjung tinggi nilai2 moral beragama, dan menjadi patuh pada Tuhan,...
    saya ga banyak tau detail adat2 dr daerah lain, tp sy bisa meliha seberapa besar bedanya adat timur ama yg lainnya.
    So buat saya,.. i am sorry good bye deh wat belis tinggi,.. klo ortu saya mau saya nikah, harus ngerti juga bahwa sy bukan mencintai seorng konglomerat yg bisa membeli apa saja termasuk membeli istri, tp saya mencintai orng yg mencintai saya apa adanya dan sebaliknya,..
    mav wat smua, sy sedikit tough krn terbawa suasana
    :-P GBU all,..

    ReplyDelete