13 March 2008

'Mata baru' Dr. Dradjat Hari Wibowo




Senin (10/3/2008) malam, Dradjat Hari Wibowo sedikitnya tampil dua kali di depan kamera televisi nasional. Anggota parlemen yang juga ekonom terkenal ini membahas fit and proper test calon gubernur Bank Indonesia (BI) serta sejumlah kebijakan ekonomi nasional. Dradjat tampak sangat percaya diri.

"Mata saya kan sudah lain. Hehehe...," ujar pria kelahiran Surabaya, 20 Mei 1964, itu kepada saya. "Wartawan bisa pangling nih."

Ketika saya mengatakan bahwa sejumlah media masih memuat fotonya yang lama, arek Suroboyo asli, kelahiran kampung Demak, ini kembali tertawa renyah. "Rupanya, ada teman-teman wartawan yang belum mengikuti perkembangan terakhir saya. Hehehe...."

Dradjat mengaku penampilannya berubah drastis setelah menjalani operasi mata di Glenn Eagles Hospital Singapura pada Agustus 2007. Operasi berlangsung kurang dari satu jam, dengan persiapan setengah hari.

"Alhamdulillah, proses operasi berlangsung dengan cepat dan lancar. Dan sampai sekarang saya merasa ada perbaikan dari hari ke hari," tutur lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan sosial ekonomi itu.

Sebelum operasi di Singapura, ayah empat anak ini harus melakukan lima kali pemeriksaan mata di Brisbane, Australia. Kebetulan Dradjat kuliah strata dua (S-2)dan strata tiga (S-3) di negara kanguru itu. "Jadi, operasi di Singapura bulan Agustus tahun lalu itu gak ujug-ujug begitu. Ada tahapan pra-operasi yang saya lakoni lima kali di Australia."

Sayang, dia enggan membeberkan berapa biaya operasi mata, mulai persiapan hingga pasca-operasi. Lantas, mengapa tidak dioperasi di Jakarta? Bukankah ada rumah sakit mata yang dikenal cukup baik dengan fasilitas yang lumayan oke?

"Waduh, Mas, aku nggak mungkin operasi di Jakarta. Saya tidak mau karena ada ganjalan," paparnya.

Setelah saya desak, Dradjat akhirnya membeberkan bahwa kerusakan mata kanannya terjadi di sebuah rumah sakit di Jakarta. Tepatnya pada 1990. "Waktu itu saya operasi kornea mata di Jakarta. Eh, bukannya sembuh malah jadi rusak. Makanya, aku gak gelem kalo operasi nang Jakarta."

Sejak itulah, mata kanan politikus muda PAN itu selalu 'merem'. Toh, Dradjat enggan memakai kacamata untuk menutup-nutupi kekurangan pada matanya. "Buat apa? Aku biasa-biasa saja."

Rusaknya mata kanan, diduga akibat malapraktik, jelas merupakan kehilangan yang luar biasa bagi Dradjat H Wibowo. Namun, dia memilih tidak 'meributkan' kasus ini. "Soalnya, zaman itu kasus-kasus malapraktik belum begitu disoroti. Yah, sudah saya menerima keadaan saya seperti ini," kenangnya.

Dradjat pun tidak menyebut nama rumah sakit serta dokter di Jakarta yang mengoperasi kornea matanya pada 1990. "Sudahlah, nggak usah dibahas lagi lah," kata alumnus SMAN 5 Surabaya itu.

Kerusakan mata kanan tak membuatnya minder. Dia justru makin bersemangat melanjutkan studi di Australia, tepatnya di Queensland, dan akhirnya beroleh gelar doktor ekonomi. Dradjat kemudian bergabung dengan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), sebuah lembaga kajian ekonomi terkemuka di Jakarta. Dradjat juga menjadi konsultan ekonomi di dalam dan luar negeri.

"Saya sering ke Singapura dalam kapasitas sebagai konsultan. Sambil bekerja, saya menjajaki kemungkinan untuk operasi mata," katanya. "Alhamdulillah, mata saya jadi dua lagi. Hehehe...."

Usai operasi, Dradjat diharuskan melakukan pengecekan di Glenn Eagles setiap pekan sekali, kemudian dua pekan sekali, kemudian enam bulan sekali. Tak ada pantangan atau larangan dari dokter kecuali menghindari asap rokok, debu, serta kotoran. "Yang paling utama itu asap rokok. Kalau kena asap rokok, rasanya perih sekali," ujar Dradjat.

Repotnya, teman-teman Dradjat H Wibowo di Komisi XI DPR RI kebanyakan perokok berat. Apa tidak mengganggu? "Jelas sangat mengganggu. Tapi, syukurlah, teman-teman di dewan cukup pengertian. Mereka merokok di tempat yang jauh dari saya," tuturnya.

Dradjat juga mengaku kurang tertarik memakai kacamata demi menutupi salah satu matanya yang tidak normal. Kenapa? "Kacamata itu nggak banyak menolong. Paling saya pakai kacamata antisinar matahari kalau lagi berpegian. Kalau di dalam ruangan, ya, biasa saja," katanya.

HM Dwi Arifin, teman sekelas Dradjat di SMPN 7 Surabaya, mengatakan, saat SMP Drajat sudah menjadi juara di sekolahnya. "Bapaknya Drajat itu guru olahraga. Teman saya itu benar-benar kutu buku. Kerjanya membaca, membaca, membaca. Dan itu yang membuat dia sangat unggul dibandingkan teman-teman lain," tuturnya.

Arifin menduga, karena terlalu doyan membaca inilah, mata sahabatnya itu terganggu. Benarkah demikian? "Hehehe.... Cak Arifin itu ada-ada saja. Waktu SMP memang mata saya agak terganggu, tapi masih bisa dipakai lah. Baru setelah operasi kornea tahun 1990 itu, mata kanan saya nggak bisa dipakai," kenangnya.

5 comments:

  1. Pak Moderator, saya termasuk pengagum Bpk. Dradjat dan ingin contact langsung dgn Beliau. Apakah anda punya email address nya?. Tks

    ReplyDelete
  2. Surat elektronik Bapak Dradjat H. Wibowo:

    dhwibowo[at]indo.net.id

    ReplyDelete
  3. nasir_civil04@yahoo.co.id11:25 AM, March 27, 2009

    Coba politikus di Indonesia seperti Bp. Drajat Semua. Baldatun thoyibatun warofun ghofur negri ini. thans Pak Drajat

    ReplyDelete
  4. Pak Dradjat selamat malam, gimana nih pak arah PAN, semoga dapat memutuskan yang terbaik untuk partai dan rakyat, walaupun HR, merapat ke SBY,saya sebagai kader PAN JABAR, fatsoen ke Pak Drajat,karena sebagai Ekonom Politik pemikiran bapak sangat dibutuhkan saat ini,

    ReplyDelete
  5. Assalamualaikum Bang Drajat,

    Bang saya Sopian dari Qatar, saya sangat tertarik dg tulisan Abang mengenai "Bahaya Konsensus Washington" bagi saya yg tinggal di Qatar tidak mengetahui banyak mengenai perkembangan ekonomi politik diIndonesia, dan saya ingin tahu lebih banyak, mengenai tulisan abang tsb, ada tanggapan dari teman di Qatar sbb:
    "Saya bukan ekonom, tapi logika sederhana saya mengatakan sangat tidak fair kalau membandingkan suku bunga SUN (surat utang negara) dengan bunga tabungan dollar dalam negri. Kalau uang tabungan dalam negri cukup banyak tersedia dan bisa digunakan dalam jangka panjang, sudah tentu pemerintah akan menggunakannya, dan tidak menerbitkan SUN.

    Supaya lebih fair, coba bandingkan suku bunga ADB/IMF dengan SUN. Tapi mohon jangan suku bunganya saja yang dibandingkan, coba bandingkan juga misalnya apakah pinjaman ADB atau IMF bisa dipakai untuk apa saja sesuai kebutuhan RI atau tidak, seperti halnya SUN? Juga misalnya apakah pinjaman ADB/IMF menggunakan syarat2 politik tertentu atau tidak, karena orang ADB sendiri mengakui bahwa pinjaman dari ADB itu berbiaya politik tinggi.

    Sekedar mengungkap fakta mengenai rasio total hutang negara Indonesia / PDB (Pendapatan Domestik Bruto)
    Tahun 2004: 56.9%
    Tahun 2009: 30%

    Rasio total hutang negara AMERIKA / PDB (Pendapatan Domestik Bruto)nya tahun 2009; >70%
    "
    Terimakasih atas pencerahannya bang.

    Wassallam wR
    ER Sopian
    er_sopian@yahoo.com

    ReplyDelete