23 March 2008

Kor Paskah di Jawa dan Flores



Teks paduan suara SATB "Hai Makhluk Semua (Martin Runi) yang sangat terkenal di Flores pada 1980an dan 1990an. Teman-teman paduan suara Katolik di Jawa Timur pun suka.

Sabtu, 22 Maret 2008
Pukul 22:00 WIB.

Saya baru saja pulang dari Gereja Katolik Santo Paulus, Jalan Raya Bandara Juanda, Sidoarjo. Misa malam Paskah berlangsung hampir tiga jam, mulai 18:30, dipimpin Pater Sonny Keraf SVD. Pastor yang cermat berbahasa Indonesia kebetulan berasal dari daerah yang sama dengan saya: Lembata, Flores Timur.

Misa tiga jam tak terasa karena liturginya bagus. Paduan suara meski ada beberapa lagu yang kedodoran cukup ciamik dan semangat. Umat tepuk tangan panjang setelah kawan-kawan paduan suara menuntaskan Ave Verum Corpus [WA Mozart] dan Hallelujah [GF Handel]. Dua komposisi ini terbilang sulit untuk kebanyakan paduan suara di Indonesia.

Saya ikut tepuk tangan. Saya tahu betapa sulitnya mempersiapkan paduan suara untuk puncak perayaan Paskah macam begini. Latihan harus sering. Materi anggota yang mutunya bagus. Organis bagus. Kostum cukup mentereng lah. "Pasukan kuning [maksudnya paduan suara] sudah nyanyi bagus, tapi ongkos jahitnya belum bayar," ujar Pater Sonny Keraf. Hehehe... Umat tertawa lalu salam-salaman: Selamat Paskah!

Malam Paskah dituntaskan dengan lagu Hai Makhluk Semua karya Martin Runi. Refreinnya banyak kata "alleluia", sesuai dengan tema Paskah. Ini lagu liturgi 1980-an khas Flores yang sangat populer di Jawa Timur, mungkin seluruh Indonesia. Pertama karena melodinya bagus; kedua karena orang-orang Flores selalu terlibat di paduan suara gereja Katolik di seluruh Indonesia.

Lagu lama yang syairnya diubah [disesuaikan] berkali-kali ini sangat membekas di hati saya. Benar-benar khas lagu misa malam Paskah ala Flores. Maka, saat mampir di kafe, santai sambil ngopi, saya merefleksikan paduan suara gereja di Jawa dan di Flores. Meskipun, sekali lagi, anggota paduan suara dan dirigen di Jawa pun didominasi orang Flores, ciri khas paduan suara Paskah berbeda nyata.

Kalau di Jawa Timur [seluruh Jawa umumnya], paduan suara lebih mengutamakan lagu-lagu klasik sebagai nomor favorit. Tingkat kesulitan tinggi, perlu latihan lama, penyanyi harus pintar. Lagu-lagu macam ini sangat menantang dan sungguh memuaskan jiwa setelah dibawakan - dan sukses. Tak sia-sialah jerih payah latihan selama ini.

Dus, saya tak heran kalau tadi teman-teman di Gereja Paulus Juanda memilih lagu klasik untuk ordinarium misa. Pakai bahasa Latin lagi! Risikonya, umat menjadi pendengar pasif. Kor nyanyi sendiri.

Bagaimana dengan di Flores?

Sebagai pulau berpenduduk mayoritas Katolik, misa pekan suci, khususnya Malam Paskah dan Minggu Paskah selalu menjadi ajang memperkenalkan lagu-lagu misa yang baru. Tiga bulan sebelum Paskah umat di stasi-stasi, kelompok paduan suara, sudah menyiapkan diri dengan berlatih lagu-lagu baru.

Di Flores selalu ada ordinarium misa baru karena pengarang lagu liturgi sangat banyak. Kita masih ingat nama-nama legendaris macam Pater Anton Sigoaman Letor SVD, Pater Pustardos SVD, Pater Daniel Kiti SVD, Martin Runi, Jan Riberu, Mateus Wari Weruin, Apoly Bala, Fredi Levy... dan seterusnya. Lagu-lagu mereka sudah lama masuk buku Madah Bakti dan Puji Syukur, dinyanyikan di seluruh Indonesia.

Nah, agar lagu-lagu baru itu dikenal umat, hits, maka harus dinyanyikan oleh paduan suara pada misa Paskah. Ordinarium harus lengkap: pembukaan, kyrie, gloria, antarbacaan, persembahan, sanctus, anak domba, komuni, syukur, penutup. Lagu komuni biasanya dibuat banyak karena misa Paskah di Flores berlangsung lebih lama daripada di Jawa. Sebab, biasanya misa di lapangan bola dengan ribuan umat dari berbagai kampung.

Pola lagu-lagu litugi ala Flores sederhana saja, tapi melodinya kuat. Si pengarang harus menemukan melodi yang lekas mendarat di hati umat. Harus gampang dinyanyikan. Tidak berbelit-belit. Sebaiknya menghindari nada-nada kromatis atau tengahan [di, ri, fis, sel, sa] karena rata-rata orang Flores kesulitan membunyikan nada-nada miring.

Lagu ala Flores tak panjang dan rumit macam klasik. Partitur Hallelujah [Handel] tiga halaman. Lagu liturgi Flores cukup setengah halaman, bahkan seperempat halaman saja. Ini juga karena biaya penggandaan lagu sangat mahal di Flores. Semua lagu ditulis tangan oleh kita sendiri, ya, anggota paduan suara. Menurut saya, kebiasaan ini sangat bagus untuk belajar memahami musik dan khususnya harmoni: sopran, alto, tenor, bas.

Bagian solo [solis] sangat penting di Flores. Bagian refrein dinyanyikan bersama [tutti], kemudian solo tiga suara perempuan/laki-laki, tutti, dan seterusnya. Perhatikan lagu-lagu misa gaya Flores di Madah Bakti atau Puji Syukur. Selalu ada bagian solo. Ini penting karena di pelosok Flores itu ada tradisi untuk memamerkan kita punya solis yang suaranya bagus.

Ini menjadi nilai tambah tersendiri bagi paduan suara kita. Karena itu, menjadi aneh manakala lagu-lagu Flores yang menuntut solis dibawakan sama-sama seperti sering terjadi di Jawa Timur. Paduan suara tanpa solo itu ibarat sayur tanpa garam.

Pada malam Paskah seperti tadi umat dimanjakan dengan lagu-lagu baru. Dibawakan semenarik mungkin. Pakai iringan gitar, suling, perkusi, tarian. Karena lagu-lagu ala Flores itu mudah, bisa dipastikan selepas misa umat jalan kaki sambil menirukan lagu-lagu baru tadi. Dulu, saya perhatikan beberapa orang merekam pakai tape recorder, lalu diputar di sepanjang jalan. Jika lagu itu punya melodi yang kuat, secara komposisi bagus, bisa dipastikan akan bertahan lama di gereja.

Pak Martin Runi salah satu hits maker lagu-lagu liturgi Flores. Tahun 1980-an dia menyusun sejumlah ordinarium misa. Yang terkenal sampai sekarang adalah Misa Syukur dan Misa Senja. Mula-mula, ya, disosialisasikan lewat kor-kor kampung pada saat misa Paskah macam begini. Pak Martin menulis lagu dengan bagian solo yang melodius, tidak sulit, lekas mendarat di ingatan orang banyak.

Saya kira Pak Martin Rutin tak pernah menyangka kalau 'Hai Makhluk Semua' akhirnya menjadi lagu abadi di Indonesia. Tiap kali misa malam Paskah atau Minggu Paskah lagu ini selalu dinyanyikan. Begitu juga dengan Misa Senja yang pada akhir 1980-an disosialisasikan pada perayaan Paskah di kampung-kampung Flores.

Dengan pola dan tradisi seperti ini, lagu-lagu liturgi akan selalu bermunculan di Flores dari waktu ke waktu. Musik liturgi Flores yang inkulturatif tidak akan pernah stagnan. Selalu ada yang baru! Ini jelas beda dengan di Jawa Timur, di mana kor-kor gereja cenderung membawakan lagu-lagu yang itu-itu saja meskipun dari sisi kualitas dan tingkat kesulitan jauh lebih tinggi ketimbang di Flores.

Artinya, Flores dengan tradisi musik liturginya yang khas dan panjang akan tetap menjadi pemasok lagu-lagu liturgi populer di Indonesia. Sebaliknya, kor-kor di Jawa akan tetap bermain di 'level atas', menekankan kualitas performansi, terus menjajal repertoar-repertoar klasik yang berat-berat.

Ini sekaligus menjelaskan mengapa lagu-lagu liturgi bernuansa non-Flores, non-NTT [Nusa Tenggara Timur], kurang muncul di Indonesia. Selamat Paskah!

2 comments:

  1. Saya salut bila berbicara mngnai lagu2 greja yg brnuansa flores dlm liturgi greja indonesia yg mana punya warna tersendiri apa lagi dimasukannya unsur daerah otomatis suasana kusuk, kidmat akan semakin terasa semisal dlm peryaan paskah yg tlah diceritakan diatas. Hanya saja sedikit ironis jika lagu2 lama sprti dlm Madha Bakti, atau Ave Maria yg memang awalnya sudah ada dlm hafalan atau dlm ingatan harus digubah lagi dgn kata2 yg baru, tanpa diubah sedikitpun dlm irama atau kedalam lagu yg baru. Jadi jelas saja umat yg tadinya kusuk berubah jd riuh krn faktor kesalah bacaan..Jadi ini jg yg harus diperhatikan jg bagi mreka2 yg biasa berkomputen didalamnya, semisal pencipta lagu gereja, penggubah atau sipa saja yg punya tanggung jawab dibidang musik2 greja indonesia. Salam..Bhalu Joseph Heriberts (Mahasiswa ISI Dps).

    ReplyDelete
  2. Benar sekali Joseph...
    Dan polemik ini sudah sangat terasa pada awal 1990-an ketika KWI, komisi liturgi, berencana menerbitkan PUJI SYUKUR sebagai pengganti MADAH BAKTI. Kerja sama KWI dan PML berakhir pada tahun-tahun tersebut.

    Kita harus akui bahwa lagu-lagu lama yang sudah dihafal itu banyak yang bagus, sudah diingat umat selama bertahun-tahun, tapi di pihak lain kurang pas tata bahasa dan muatan teologisnya. Pihak pembaru musik liturgi tentu saja bingung. Dan mereka harus melakukan "sesuatu" dengan segala konsekuensinya.

    Bahasan ini niscaya akan sangat panjang, Bung! Saya sendiri pernah terlibat polemik di majalah HIDUP pada 1990-an. Kita ambil hikmahnya sajalah.

    Salam damai.

    ReplyDelete