09 March 2008

Konser penyanyi sendu 1980-an

Ini Betharia Sonata tahun 1981 yang manis dan langsing.

Malam Minggu [8/3/2008] beta lihat tayangan konser penyanyi-penyanyi 1980-an di Metro TV. Mereka umumnya pengusung musik manis atau sering dicela sebagai musik cengeng. Tak apa-apalah. Cengeng atau tidak, yang jelas mereka-mereka ini pernah menyusup masuk ke rumah-rumah kita, kampung kita di pelosok, lewat TVRI.

Pada 1980-an televisi di Indonesia hanya satu, TVRI, sehingga semua orang Indonesia dari Sabang sampai Merauke menikmati program sama. Materi tontonan sama. Maka, terciptalah memori bersama untuk bangsa Indonesia yang lahir sebelum tahun 1990. Bocah-bocah atau remaja 1980-an macam beta punya kenangan sangat kuat dengan artis-artis masa itu.

Beta masih ingat dulu di Larantuka, Flores Timur, kami 50-an orang nonton satu televisi hitam putih. Aneka Ria Safari, Selekta Pop, Film Cerita Akhir Pekan, Album Minggu Ini, Si Unyil, Rumah Masa Depan... menjadi tontonan favorit. Sangat menarik untuk ukuran saat itu.

Jangan heran beta cukup menguasai melodi lagu-lagu lama, khususnya 1980-an dan 1990-an. Lagu-lagu baru, terus terang, beta kurang suka. Tak ada yang nyantol di kuping.

Kembali ke tayangan Metro TV tadi. Dipandu Alvin Adam, beta melihat artis-artis lama yang selama ini sibuk dengan urusan dan rumah tangga masing-masing. Arie Wibowo [Madu dan Racun]. Deddy Dores yang tetap pakai kaca mata hitam meskipun malam hari. Dian Piesesha, Tak Ingin Sendiri, yang sendu. Ria Resty Fauzi, Sepatu dari Kulit Rusa. Dina Mariana, Ingat Kamu. Iis Sugianto, Jangan Sakiti Hatinya. Ratih Purwasih, Antara Benci dan Rindu. Betharia Sonata, Hati yang Luka. Tommy J Pisa, Di Batas Kota Ini.

Obbie Messakh, Kisah Kasih di Sekolah -- Obbie juga koordinator acara. Endang S Taurina, Apa yang Kau Cari. Nia Daniaty, Gelas-Gelas Kaca. Beta juga lihat Pance F Pondaag, hits maker 1980-an, duduk di kursi undangan. Kondisi Om Pance sangat memprihatinkan akibat stroke. Beta tak sampai hati melihat penulis ratusan, bahkan ribuan, lagu pop 1980-an dan 1990-an yang tidak stabil itu.

Wah, kok begitu ya kondisi Om Pance di hari tuanya? Moga-moga kesehatan Om Pance segera membaik dan bisa menulis lagu-lagu bagus lagi!

"Ini acara silaturahmi, reuni sama teman-teman penyanyi 1980-an. Selama ini kami jarang ketemu," ujar Obbie Messakh penuh semangat. Obbie yang asal Kupang, Nusa Tenggara Timur, penulis lagu hit 1980-an.

Waktu memang berjalan sangat cepat. Tak terasa para artis di layar kaca yang di era TVRI cantik-cantik, segar, bergairah... kini tak muda lagi. Usia mereka rata-rata 40-50 tahun. Anak-anak mereka sudah dewasa, bahkan beberapa penyanyi top lawas sudah punya cucu. Ada yang kawin cerai, sering masuk di berita gosip infotainment.

Contohnya: Betharia Sonata. Pelantun tembang hit karya Obbie Messakh ini tampil seksi, segar, dengan suara yang relatif masih enak dinikmati. Masalah rumah tangga tidak dibawa ke panggung. Dina Mariana mencoba joget, tapi gerakannya tak selincah dulu. Endang S Taurina pun kegemukan. "Duh, gue malu deh. Badan udah kayak gini," ucap Mbak Endang yang sejak dulu jauh dari gosip.

"Kita mencoba menggugah kembali nuansa kembali tahun 80-an. Kita punya keyakinan bahwa lagu-lagu 80-an masih ada di benak masyarakat. Kalau mendengar lagu masa lampau kita merasakan keindahan dan kenangan tersendiri. Dalam dunia musik masing-masing dari kita punya pasar sendiri-sendiri," kata Obbie Messakh yang sejak 2004 mulai aktif di partai politik.

Deddy Dores mengatakan, lagu-lagu pop manis ala Rinto Harahap, Pance Pondaag, Aloysius Riyanto, Wahyu OS, juga ciptaanya sendiri, tidak akan pernah hilang dari blantika musik Indonesia. Apalagi, melodi-melodi 1980-an telah tersimpan di benak sebagian orang Indonesia yang pernah hidup pada masa itu.

"Saya terlibat di industri musik sejak 1971. Bertahun-tahun saya menemukan bahwa industri musik itu ada siklus yang terus berulang. Kayak roda yang berputar. Kalau sekarang jenis musiknya lain, suatu ketika akan muncul lagi lagu-lagu dengan nuansa 1980-an. Hanya saja, musik pop selalu menyesuaikan diri dengan zaman dan selera pendengar," ujar Deddy Dores yang rambutnya tetap panjang ala rocker.

Rocker melankolis! Hehehe....

Deddy Dores benar. Beta perhatikan sekarang ini lagu-lagu pop kita kental dengan nuansa 1980-an. Mengutamakan melodi yang manis, lirik romantis, tataan musik sederhana. Bedanya, kalau tahun 1980-an dibawakan penyanyi-penyanyi solo, sekarang diganti band-band remaja.

Maka, jangan heran bila seorang Ahmad Dhani, pentolan Dewa 19, menulis lagu dengan syair demikian:

"Malam ini kusendiri
Tiada yang menemani
..................."


Dulu, Deddy Dores pada 1980-an menulis syair lagu untuk Nike Ardilla begini:

"Malam-malam aku sendiri
Tanpa dirimu lagi
................"

No comments:

Post a Comment