17 March 2008

Caryn R McClelland konsul Amerika Serikat





Banyak hal yang menarik dari Surabaya. Itulah yang dirasakan Konsulat Jenderal AS Caryn R McClelland yang baru tujuh bulan bertugas di Kota Pahlawan ini. Berikut penuturan dia kepada Heti Palestina Yunani dari Radar Surabaya:


Bagaimana tugas Anda selama tujuh bulan ini?

Semua berjalan baik. Bahkan makin hari, tugas saya makin menarik.

Apa yang membuat Anda betah bertugas di Surabaya?

Pertama, Surabaya tak sepanas yang dikatakan orang-orang ketika mendengar saya akan ditugaskan di Surabaya. Kedua, sejak pertama kali datang, setiap orang yang saya temui selalu tersenyum. Sambutannya mereka baik. Mudah diajak bicara dan bekerjasama. Ketiga, tugas saya menuntut saya juga traveling ke mana-mana yang itu memang hobi saya. Minggu lalu, saya dari Probolinggo, Maumera dan Kupang.

Ya, saya lihat Anda bisa berhubungan dengan berbagai pihak sejak datang. Mulai anak-anak, para aktivis perempuan hingga tampil di pentas ludruk. Bisa dijelaskan?

Oh.. itu. Selain menjadi tugas saya terkait program konsulat, secara pribadi saya memang tertarik dengan masalah anak-anak dan perempuan. Kebetulan di bulan pertama tugas, sudah masuk bulan Ramadan. Konsulat sengaja ingin menghormati bulan itu dengan merayakan bersama anak-anak di Sanggar Alang-Alang dan Lapindo. Masalah anak-anak menjadi bagian agenda konsulat terkait dengan program pendidikan.

Sementara masalah perempuan saya kira menjadi perhatian semua yang menghormati masalah HAM. Kebetulan saya juga perempuan. Turun ke jalan sebagai bukti jika saya juga bisa bersama-sama berseru tentang semua upaya yang mendorong penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Dan tentang main ludruk itu, agak panjang untuk diceritakan. Haruskah?

Saya kira semua ingin tahu kenapa Anda tertarik bermain ludruk yang merupakan kesenian tradisional yang dikenal di Surabaya. Orang Surabaya belum tentu bisa memainkannya tapi Anda justru berani menjadi bagian pementasan itu?

Terus terang, saya mengiyakan permintaan Wakil Wali Kota Arif Afandi tanpa tahu apa itu ludruk. Justru ketika saya tahu jika ludruk itu sangat melegenda di masyarakat Surabaya, saya sangat terkejut. Lebih-lebih ketika berhadapan dengan publik di pentas.

Ada perasaan takut. Tapi saya bisa mengatasinya. Apalagi melihat penonton antusias dan tertawa di bagian-bagian tertentu yang saya tak tahu mana yang lucu. Tapi saya menikmatinya. Itu pengalaman menarik. Sebab, terakhir kali saya memainkan jenis drama itu ketika berusia 10 tahun.

Bicara soal kebudayaan, apa yang diprogramkan konsulat AS?

Ada dua hal, yaitu pendidikan dan kebudayaan. Dalam lima tahun terakhir, perkembangan di bidang kebudayaan terus didorong. Pertama, lewat pendirian American Corner yang di seluruh Indonesia, ada di 11 lokasi. Dua ada di Jatim, yaitu di Universitas Muhammadiyah Malang dan Universitas Airlangga Surabaya.

Hal lainnya adalah dengan rutin menampilkan salah satu bentuk pementasan dari negeri kami sejak 2003. Bulan ini, pada tanggal 29 Maret, kami akan mementaskan grup musik Ozomatli, di Taman Surya. Kami juga tengah bekerja sama dengan panitia FSS (Festival Seni Surabaya) 2008 untuk mendatangkan satu delegasi untuk berpartisipasi di ajang tahunan itu.

Masih terkait dengan kebudayaan. Apakah Surabaya sudah cukup berbudaya sebagai kota besar?

Saya tak berhak menilai apakah Surabaya cukup berhasil di bidang itu. Tapi saya bisa menilai Surabaya secara umum. Bahwa kota ini sudah sangat peduli dengan kebutuhan masyarakatnya. Berbagai aspek bisa ditemui di kota ini mulai sarana dan prasarana fisik yang menunjang pertumbuhannya sebagai kota besar seperti jalan dan fasilitas umum lainnya.

Di bidang kebudayaan, pemerintah kota saya pikir sudah cukup peduli. Dari pementasan ludruk yang saya ikuti, saya bisa tahu jika kota ini masih sangat menghargai nilai-nilai kesenian tradisonalnya. Bahkan masih dinikmati oleh masyarakatnya yang sedang menuju modernisasi. Dari perhelatan FSS 2008 yang rutin digelar tiap tahun, Surabaya tentu bisa menjaga harmonisasi kotanya agar tak hanya berkembang di bidang fisiknya.

Melihat penjelasan Anda tentang Surabaya, sepertinya tujuh bulan cukup membuat Anda paham tentang kota ini. Seperti apakah Surabaya di mata Anda sebenarnya?

Sebelum bertugas, saya banyak mendapat cerita tentang Surabaya. Ketika datang pertama kali, itulah pertama kali saya ke Surabaya, tapi kedua kalinya saya ke Indonesia karena pernah berkunjung ke Bali. Tapi saya terkejut karena Surabaya tak seperti yang dibilang orang-orang. Surabaya adalah kota yang hijau. Saya terkesan dengan taman-tamannya.

Beberapa sudut Surabaya cukup cantik dibuatnya. Ibu saya yang berkunjung ke Surabaya beberapa waktu lalu juga mengakui jika Surabaya menjadi kota yang lebih hijau karena taman-taman itu. Itu soal fisik. Karakter masyarakatnya lebih membuat saya terkesan. Begitu perkenalan saya di minggu-minggu pertama, sambutannya sangat baik. Orang Surabaya yang sangat terbuka dan mudah diajak bergaul membuat saya langsung bisa bertugas di minggu pertama saya datang.

Apa saja yang Anda emban selama tiga tahun menjadi Konjen?

Tak banyak berbeda dengan program para konjen-konjen sebelumnya. Semua bidang kami tangani. Hingga di masa tugas saya yang berakhir 2010, salah satunya konsulat ingin lebih perhatian dengan masalah pendidikan. Dalam bidang ini, masalah anak-anak yang menjadi sasaran pembinaan pendidikan menjadi perhatian juga. Tentang bidang pendidikan ini, Indonesia cukup mendapat perhatian dari AS. Terbukti di antara beberapa negara Asia, alokasi bantuan untuk Indonesia adalah yang terbesar.

Dengan siapa saja konsulat bekerja sama melakukan programnya?

Prinsipnya semua pihak di luar konsulat adalah partner untuk melaksanakan program. Jadi semua pihak kami ajak bekerjasama sesuai bidang yang bisa dilakukan. Tidak saja pihak-pihak di Surabaya. Karena wilayah konsulat Surabaya tak hanya Jatim tapi Sulawesi, NTT, NTB, Maluku, dan Maluku Utara, maka saya juga harus membina hubungan yang baik dengan berbagai pihak di semua tempat itu. Mulai pemerintah setempat, perguruan tinggi, lembaga sosial dan NGO.

Apa strategi Anda untuk mendekati berbagai pihak tersebut?

Ada empat prinsip yang terangkum dalam 4D, yaitu democracy, development, diplomacy dan dialog. Yang terakhir inilah agaknya yang paling saya utamakan. Dialog sangat penting membangun kedekatan dengan orang lain. Dialog juga membuat kita lebih memahami orang lain. Kita tahu apa yang diinginkan orang lain pada kita dan begitu sebaliknya.

Karena itu, minggu-minggu pertama bertugas, saya banyak bertemu dengan berbagai pihak untuk menyatakan maksud kami dan mengetahui apa yang mereka harapkan dari kami. Setelah hubungan terbina pun, dialog itu juga masih terus kami lakukan. Dialog juga bisa dalam bentuk mengadakan kegiatan bersama-sama, tidak saja dalam tataran bertemu atau tatap muka membahas sesuatu. Dari situ hubungan baik mula terbuka.

Tentang hubungan baik, apakah ada yang patut dikhawatirkan tentang hubungan Indonesia dan AS?

Secara umum, tidak ada. Apa yang ditanamkan dan dibina oleh konjen-konjen sebelumnya cukup kuat. Saya hanya memperhankan apa yang sudah dilakukan. Dan semua tetap harus dirawat terus menerus dan itu menuntut pendekatan personal yang baik.

Apa upaya Anda untuk tetap menjaga hubungan baik?

Konsulat terus berupaya mengembangkan peluang untuk membuka ruang komunikasi dengan siapa saja. Itu akan mendekatkan kami dengan siapa saja dan menutup celah-celah yang bisa membuat keharmonisan hubungan itu terusik. Kepada siapa saja saya juga selalu mengandaikan bahwa Indonesia dan AS adalah dua negara yang memiliki kesamaan ketimbang perbedaan. Misalnya, tentang penegakan demokrasi yang prinsipnya sama-sama untuk mementingkan hak-hak rakyat.

Keberagaman yang dimiliki Indonesia dan AS juga sama karena kami dengan 50 negara bagian sementara Indonesia terdiri dari 33 provinsi. Dengan keberagaman itu, perbedaan adalah hal yang biasa yang harus dihormati dan dicarikan jalan tengahnya. Dengan melihat kesamaan itu, saya kira orang akan cenderung bisa saling mengerti.

Tentang demonstrasi yang selalu tak pernah dihindarkan oleh konsulat. Bagaimana Anda menanggapinya?

Saya kira itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Dalam sebuah negara demokrasi menyatakan pendapat adalah hal yang biasa. Caranya juga banyak.Tinggal bagaimana kita membuka ruang dialog setelah itu dan ada solusi yang membuat satu sama lain bisa menerima. Apalagi saya juga paham jika orang Surabaya punya karakter yang terbuka dalam mengungkapkan pendapatnya. Selama tidak menimbulkan hal-hal yang merugikan, konsulat menerima semua bentuk dialog termasuk demonstrasi. Itu hanyalah satu cara membangun dialog dan hubungan yang lebih baik.

Tampaknya Anda sangat menikmati tugas Anda. Kira-kira apakah ada yang membuat Anda berat?

Terus terang tidak ada. Bertugas di Surabaya justru termasuk yang saya harapkan setelah sebelumnya pernah di berbagai kota di dunia. Karena wilayah konsulat amat luas hingga Indonesia Timur kecuali Papua, saya justru makin menikmati tugas-tugas saya. Sebab dalam sebulan pasti ada kunjungan ke berbagai wilayah. Itu membuat saya senang karena bisa bertemu banyak orang. Saya sendiri pun bisa refreshing karena saya juga menyukai traveling selain membaca buku.

Apa yang menarik ketika Anda bertemu dengan banyak orang di berbagai tempat tersebut?

Seperti yang saya tekankan dalam strategi konsulat tentang dialog, bertemu dan berbincang-bincang tentang apa yang terjadi adalah hal yang menarik saya. Saya selalu meminta waktu khusus untuk melakukannya karena hanya dengan dialog langsunglah kita tahu isi kepala kita masing-masing.

Niat baik tak bisa hanya dalam tataran ide. Atau program tak hanya bagus di atas kertas. Tapi semua perlu diwujudkan dan dialog adalah pintu pertama untuk memahami keinginan satu sama lain. Baru dilanjutkan dengan langkah-langkah nyata untuk mewujudkannya. Baru itu dialog yang bermanfaat. Bukan hanya terbatas omong-omong tanpa melakukan sesuatu.


Nama : Caryn R McClelland
Lahir : New Brunswick (negara bagian New Jersey)
Orang Tua : Catherine (ibu)
Robert (ayah)
Warna Favorit: Ungu dan biru
Hobi :- traveling
- membaca
- teka-teki silang (crossword puzzle)
- outdoor activities
Bahasa yang dikuasai:
- Rusia
- Indonesia
Pendididikan:
- Bachelor of Arts untuk Sastra Inggris dari University of California at Los Angeles (UCLA)
- Master of Arts di bidang Hubungan Internasional dari San Fransisco State University
- Peraih gelar di bidang Strategi Keamanan Nasional dari National War College of the National Defense University

Karir :
- Departemen Luar Negeri AS sejak 1990
- Pejabat Bidang Kebijakan Perdagangan di Kuala Lumpur, Malaysia
- Pejabat di Bidang Politik-Ekonomi di Asghabat, Turkmenistan
- Pejabat Urusan Visa di Dublin, Irlandia
- Konselor Politik dan Ekonomi di Baku, Azerbaijan
- Penasehat Senior Kebijakan Caspian Energy Diplomacy Washington DC
- Regional Energy Officer Washington DC.

1 comment: