03 March 2008

Budiono Darsono bos Detikcom





Rekan-rekan yang suka main internet, cari informasi di jagat maya, sudah pasti tahu detikcom. Aneh kalau sampai tak tahu! Ini situs berita langsung, breaking news, paling populer di Indonesia. Berita-beritanya pendek, tapi cepat dibarukan dari menit ke menit.

Gara-gara detikcom, banyak wartawan Indonesia yang malas-malasan. Tidak wawancara sendiri, tapi main kutip [copy-paste] detikcom, lalu menipu redakturnya. Maka, setelah saya keliling ke beberapa daerah, saya menemukan berita-berita yang sama di sekian banyak koran.

Ehm, kalau diusut-usut, ternyata ambil dari detikcom. Membeli secara resmi atau main nyolong, kayak maling, saya tak usah bahas lah. Hehehe.... Nanti saya dimarahi lagi sama beberapa oknum yang kebakaran jenggot macam dulu.

Singkatnya, saat ini detikcom paling maju dalam jurnalisme online. Iklannya juga banyak. Saking banyaknya, akhir-akhir ini detikcom rada berat kalau dibuka.

Kalau tidak keliru, awalnya detikcom muncul bersama beberapa situs berita sejenis. Sebut saja satunet, astaga.com, koridor.com, mandiri.com pada awal-awal internet mulai menjamur di awal reformasi. Sekadar mengingatkan, gerakan reformasi mulai merebak 1997, disusul lengsernya Pak Harto pada 21 Mei 1998.

Nah, siapa di balik www.detik.com yang luar biasa [karena dikutip media dari Aceh sampai Papua] itu? Dia punya nama BUDIONO DARSONO. Orangnya agak kurus, kumis tebal, kacamata tebal [banyak baca sih]. Muka tidak begitu tampan, tapi cerdas. Buat apa ganteng, tapi goblok to?

Baru-baru ini Bung Budiono Darsono [orang Bojonegoro] bagi-bagi pengalaman sama adik-adik mahasiswa di Surabaya tentang sejarah dia bikin detikcom. Benar, dimulai saat ramai-ramai reformasi, tepatnya 9 Juli 1998. Namanya juga orang Jawa Timur, modalnya nekat, bondho nekat alias bonek.

"Modal saya hanya tiga: semangat, tape recorder, dan HT [handy talkie]," cerita Budiono Darsono. Ini juga iseng-iseng setelah media tempat Bung Budiono bekerja, tabloid Detik, dibredel pemerintah Orde Baru. Tabloid Detik diberangus bersama-sama majalah TEMPO dan EDITOR.

Justru pada saat kehilangan pekerjaan, kepepet, otak Bung Budiono bekerja keras. Ide-ide segar, kreativitas, muncul. Dengan modal tiga tadi, Bung Budiono menyebarkan berita-berita seputar unjuk rasa mahasiswa, pergolakan politik, yang memang sangat marak saat itu.

Liputan pertama detikcom adalah tragedi Semanggi tahun 1998. Ini peristiwa penembakan mahasiswa yang unjuk rasa di Jembatan Semanggi Jakarta. Gara-gara tragedi ini suhu politik mendidih [ah, macam air saja]. Demo meluas. Dan hasilnya kitorang semua so tau semua to!

Sejak Bung Budiono masuk jagat maya, redaksi media massa buka detikcom untuk mengikuti perkembangan peristiwa secara cepat dan akurat. [Hmm.. soal akurasi ini dulu detikcom sering dikecam. Karena ingin cepat-cepat, cek-recek kurang, sehingga informasinya meleset. Memang ada koreksi setelah itu, tapi paling afdal harus akurat sejak awal.]

Disebut detikcom karena Bung Budiono ini membayangkan tiap detik harus ada berita. Kenapa tunggu besok kalau detik ini juga anda sudah tahu informasi? Begitu kira-kira slogan Bung Budiono.

"Alhamdulillah, masyarakat ramai-ramai mengakses detikcom," ujar kakak kandung Budi Sugiarto ini. Bung Budi Sugiarto sekarang dipercaya memimpin www.detiksurabaya.com, anaknya www.detik.com.

Harga yang harus dibayar Budiono Darsono cukup mahal. "Saya kurang tidur. Gimana bisa tidur, saya harus selancar terus di internet, meng-update informasi. Kalau ada informasi, kita cek, wawancara, menulis, lalu posting," ujarnya. Saking semangatnya browsing, "Saya sampai lupa browsing istri sendiri."

Hehehe... iso-iso ae Cak! Bung Budiono, memang istri itu juga perlu di-browsing untuk menambah energi dan kreativitas! "Kasihan istri saya jadi janda cyber," ujar Bung Budiono disambut tawa mahasiswa ITS Surabaya.

Kita ringkas saja ceritanya ya. Kerja keras Budiono Darsono akhirnya berbuah. Situs-situs berita lain macam satunet, astaga, koridor, mandiri... tak mampu bertahan. detikcom melaju sendiri dengan karakternya yang khas: berita-berita pendek, gaya rada genit, dibumbui sedikit banyolan.

Iklannya banyak, sehingga detikcom bertumbuh sampai tahun 2008 ini. Pekerjanya banyak. Punya kantor bagus. Fasilitas oke. Kesejahteraan pekerja pun saya dengar bagus. Cak Uglu sudah bisa beli rumah baru di Sidoarjo. Hehehe....

Meskipun demikian, saudara-saudara, Bung Budiono mengakui bahwa bisnis berita online di Indonesia sekarang belum terlalu menggiurkan. Kenapa? Pengguna internet di Indonesia masih sedikit. Kalau jauh sama negara-negara kecil macam Brunei, Singapura, bahkan Mongolia.

Tapi dia optimistis budaya internet akan terus menjadi gaya hidup di tanah air. Pengguna internet niscaya bertambah meski tidak drastis. Kalau sudah begitu, saya yakin Bung Budiono punya waktu lebih banyak buat browsing istri di rumah. Sebab, bikin berita, wawancara, browsing internet, cari iklan, pemasaran... akan dilakukan oleh puluhan anak buahnya.

Bung Budiono yang pada awal reformasi kumus-kumus, kini, sudah jadi bos. Pendiri, pemilik, bos besar detikcom yang punya omzet tidak sedikit. Saya ingat terus tiga modal Bung Budiono: SEMANGAT, TAPE RECORDER, HT!

Dan dari tiga hal ini saya bisa pastikan bahwa yang paling penting adalah SEMANGAT.

7 comments:

  1. wah, bagus bung informasi anda. sukses selalu!

    ReplyDelete
  2. wah mantabssss... budiono darsono sifatnya bagus banget, harusnya dia sendiri yang pegang detiksurabaya.com

    ReplyDelete
  3. wah...wah...saya salut sama pak Budi...dengan suksesnya media yang dia punya saat ini

    ReplyDelete
  4. dapet link ini dari twitter

    asyik tulisannya, mengalir. gak heran wartawan sih yah hehehe

    ReplyDelete
  5. ini cerita sukses pebisnis media. yg gak sukses jauh lebih buanyaaaak...

    ReplyDelete
  6. aq kira modal semangat, kerja keras, kerja cerdas.

    ReplyDelete
  7. keren :), hampir sebagian berita yang beredar di Indonesia datang dari sini..sangat influence banget :D

    ReplyDelete