16 March 2008

Benteng Lohayong tonggak awal Katolik di Flores




Hari ini, Minggu 16 Maret 2008, adalah Minggu Palem. Kami di pelosok Flores menyebut Minggu Palma. Momen penting dalam Gereja Katolik sebagai awal memasuki pekan suci Paskah. Karena orang Flores itu hampir semuanya Katolik, perarakan Minggu Palma berlangsung besar-besaran.

Jalan kaki 1-2 kilometer, membawa daun palem, merenungkan dimulainya misteri Paskah: sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus. Meski sudah lama di Jawa, beta punya kenangan terhadap arak-arakan Minggu Palma ini tidak bisa hilang. Beta hafal di luar kepala lagu gregorian khas Palem:

Hosanna, Hosanna filio David.
Benedictus qui venit in nomine Domini.


Maklum, beta ini kan kadang-kadang dipercaya sebagai solis. Dulu beta punya suara cukup bagus lah. Ungkapan bahasa Latin itu tak lain seruan umat Israel tempo doeloe saat menyambut Kristus yang masuk ke Yerusalem dengan naik keledai muda. Pujian ini hanya di bibir thok. Sebab, beberapa hari kemudian orang-orang yang sama menghukum dan menyalibkan Kristus yang tadinya dielu-elukan sebagai Sang Raja.

Ah, kemunafikan selalu ada di mana-mana! Sepanjang masa.

Saya tidak mau melanjutkan cerita Minggu Palma yang sudah jadi pengetahuan umum ini. Nanti dikira berkhotbah. Emangnya aku romo? Hehehe... Biarlah tugas berkhotbah, ceramah, kita serahkan kepada pater-pater alias romo-romo yang memang punya kapasitas untuk itu. Beta sebagai umat biasa, yang rada malas, cukup mendengar dan syukur-syukur melaksanakan to?




Nah, mumpung sudah masuk pekan suci, sebentar lagi Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Paskah [di Larantuka ada tambahan Rabu Trewa], beta cerita sedikit tentang masuknya agama Katolik di Flores Timur, khususnya Solor dan Larantuka. Ini penting karena umat Katolik di sana boleh dikata paling tua di Indonesia. Kalau orang Jawa baru dipermandikan sebagai jemaat Katolik pada 14 Desember 1904 di Sendangsono, Kabupaten Kulonprogo, Jogjakarta, di Solor dan Larantuka bahkan sejak abad ke-16.

Artinya, orang Flores Timur lebih dulu 300 tahun ketimbang orang Jawa. Tapi bukan berarti orang perilaku orang Flores lebih baik. Bisa saja lebih brengsek karena keyakinan agama hanya di bibir atau KTP saja. Bukankah lebih banyak orang yang hanya memuji Tuhan dengan bibir dan bukan tindakan?

Merunut catatan sejarah, pedagang Portugis mulai tinggal di Solor, pulau kecil di depan Larantuka, kira-kira lima kilometer, sejak 1520. Mula-mula berdagang, cari rempah-rempah di kawasan timur. Mereka bikin rumah-rumah sederhana. Karena orang Portugis ini beragama Katolik, mereka berdoa ala Katolik di sana. Baru pada 1561 empat pater Ordo Dominikan dikirim dari Melaka ke Solor.

Empat pater itu menetap di Solor. Selain melayani pedagang-pedagang Portugis, para misionaris itu mewartakan Injil ke penduduk lokal. Kehadiran orang asing, agama baru, tidak diterima begitu saja. Terjadi sejumlah perlawanan berdarah-darah. Asal tahu saja, orang Flores pada abad-abad itu dikenal suka perang dan berburu. Lihat saja, tari perang sangat populer sampai sekarang, bukan?

Untuk melindungi diri dari serangan penduduk lokal, pada 1566 Pastor Antonio da Cruz membangun benteng di Lohayong, Kecamatan Solor Timur sekarang. Penyebaran agama Katolik di Kepulauan Solor [sekarang Kabupaten Flores Timur] sukses besar. Berdasar catatan Mark Schellekens dan Greg Wyncoll, penulis dan fotografer yang baru saja melakukan reportase di Solor, di dalam banteng itu dibangun asrama, gereja, dan fasilitas lain.

Bahkan, sebuah seminari dibikin di dalam Benteng Lohayong tersebut. Pada tahun 1600 sedikitnya ada 50 siswa [seminaris] yang belajar mempersiapkan diri sebagai rohaniwan Katolik. Beta bisa pastikan inilah seminari Katolik pertama di Indonesia. Ada gereja bernama Nossa Senhora da Piedade. Beberapa tahun kemudian dibangun Gereja São João Baptista. Singkat cerita, hingga 1599 misionaris perintis ini berhasil mendirikan 18 gereja di Solor dan sekitarnya.

Namun, kekuasaan Portugis tidak bertahan lama. Pada 27 Januari 1613 sebuah armada Belanda datang ke Solor. Kapten Manuel Alvares mengerahkan 30 orang Portugis serta seribu penduduk lokal untuk mempertahankan benteng di Lohayong. Portugis ternyata kalah setelah berperang tiga bulan. Pada 18 April 1613 benteng itu jatuh ke tangan Belanda. Kompeni-kompeni Londo ini mengganti nama benteng menjadi Benteng Henricus.

Solor tempo dulu rupanya sangat menggiurkan. Tidak macam Solor sekarang yang kering, terisolasi, kurang maju, dengan penduduk yang suka jualan jagung titi dan atanona (srikaya) di Larantuka. Tahun 1615 Belanda meninggalkan Lohayong [ibukota Solor], tapi datang lagi tiga tahun kemudian. Entah kenapa, Belanda melepaskan benteng pada 1629-30, dan segera diisi kembali oleh Portugis hingga 1646 ketika diusir lagi oleh Belanda.

Yah, Portugis ternyata selalu kalah dengan Belanda meski jumlah pasukannya lebih banyak. Portugis juga cenderung pengecut lah! Tentu saja, perang terus-menerus antara sesama penjajah ini membuat kekatolikan yang masih sangat muda tidak berkembang. Berantakan. Melihat suasana yang tidak kondusif--meminjam bahasanya polisi sekarang--pater-pater Dominikan memindahkan markasnya ke Larantuka.

Selanjutnya, Larantuka yang berada di pinggir laut itu menjadi pusat misi Katolik di Nusa Tenggara Timur, kemudian Timor Timur, bahkan Indonesia. Misi di Larantuka ternyata jauh lebih sukses. Ini karena ada traktat antara Belanda dan Portugis untuk membiarkan para pater Dominikan menyebarkan agama Katolik di seluruh Flores dan sekitarnya. Di dekat Larantuka juga dibikin seminari.

Yoseph Yapi Taum, peneliti dan dosen Universitas Sanata Dharma Jogjakarta, menulis:

"Tahun 1577 saja sudah ada sekitar 50.000 orang Katolik di Flores. Kemudian tahun 1641 terjadi migrasi besar-besaran penduduk Melayu Kristen ke Larantuka ketika Portugis ditaklukkan Belanda di Malaka.

Sejak itulah kebanyakan penduduk Flores mulai mengenal kristianitas, dimulai dari Pulau Solor dan Larantuka di Flores Timur kemudian menyebar ke seluruh daratan Flores dan Timor. Dengan demikian, berbeda dari penduduk di daerah-daerah lain di Indonesia, mayoritas masyarakat Pulau Flores memeluk agama Katolik."


Kota Larantuka juga berkembang sebagai kota pelabuhan yang penting. Karena penduduknya didominasi warga Melayu Katolik pelarian dari Malaka, maka bahasa sehari-hari alias lingua franca pun bahasa Melayu. Hanya saja, bahasa Melayu Larantuka ini sudah tercampur bahasa Lamaholot [bahasa asli di Flores Timur] serta istilah-istilah Portugis.

Orang Larantuka kemudian dikenal sebagai penjaga tradisi Katolik-Portugis sampai hari ini. Setiap Jumat Agung penduduk Larantuka mengadakan perarakan keliling kota sepanjang malam yang disebut Semana Santa. Padahal, konon, di Portugis sendiri tradisi abad ke-16 ini sudah tidak ada lagi. Apalagi, orang Portugis seperti orang Eropa umumnya, makin sekuler dan nyaris tidak berminat lagi pada agama.

Kembali ke Pulau Solor dengan benteng di Lohayong alias Fort Hendricus. Saat ini kondisinya sangat memprihatinkan. Jangankan dirawat sebagai cagar budaya, tonggak sejarah masuknya agama Katolik di Indonesia. Ditengok saja hampir tidak pernah. Ketika beta tinggal di Larantuka medio 1980-an, beta tak pernah melihat ada kunjungan wisata ke Lohayong. Orang-orang Larantuka [Nagi] malah sering melihat orang Solor dengan sebelah mata.

Orang-orang Solor sering diejek sebagai "orang Sopung" dengan begitu banyak cerita konyol. Mirip dengan orang Madura di Jawa Timur yang kerap diledek sebagai bahan guyonan. Celakanya, pemerintah daerah pun tidak sadar sejarah. Aset sejarah yang luar biasa ini tak pernah dipromosikan. Alih-alih dipromosikan, sekadar ditengok saja pun tak.

Karena itu, beta sangat gembira ketika membaca di internet ada tulisan/foto karya Mark Schellekens dan Greg Wyncoll. Dua orang ini jauh-jauh datang dari Eropa untuk meneliti semua peninggalan sejarah Portugis di Indonesia. Cerita dan foto tentang peninggalan Portugis di Solor seperti benteng atau meriam tua mendapat porsi paling besar.

Lha, kok kita, orang Flores Timur, justru mengabaikannya. Apa boleh buat, kita terpaksa mempelajari sejarah kampung halaman kita sendiri dengan merujuk pada sumber-sumber di Eropa. Mau bilang apa?

10 comments:

  1. bagus utk nambah referensi. sukses bung!!!

    gaby

    ReplyDelete
  2. oh ya bgm kondisi benteng portugis itu sekarang?

    ReplyDelete
  3. kalo portugis masuk Solor tahun 1561, knapa Proses jumad agung tahun ini dihitung sudah 5 Abad?..

    ReplyDelete
  4. YANG SAYA TAU PENDUDUK LOHAYONG SOLOR 100% MUSLIM.
    gimana tuh ceritanya......

    Blake Sheran Jakarta

    ReplyDelete
  5. Benteng lohayong tonggak awal khatolik di Flores.?' kenapa tdk ada tanda2 kehidupan orang khatolik di lohayong..? yg ada 2 masjid besar dan 5 mosholah bahkan didalam BENTENG ada 1 musholah. Lambertus Hurek pernah ke lohayong..?


    Thomas ata adonara.

    ReplyDelete
  6. Tenang saja Bung Sheran dan Thomas, ata Adonara, dulin alawen....
    Ini memang catatan sejarah. Dan di banyak tempat jejak-jejak sejarah sering berubah sama sekali seiring perjalanan waktu. Lohayong yang ratusan tahun lalu pernah dihuni orang Katolik, berubah menjadi permukiman Islam. Normal saja. Tak usah marah-marah lah.

    Saya tiga kali ke Lohayong. Dan memang begitulah kenyataan yang bisa dinikmati sekarang. Tempo dulu Kerajaan Sriwijaya yang Buddha berpusat di Sumatera Selatan. Kok hari ini (hampir) tidak ada lagi orang Buddha di Palembang?

    Majapahit, kerajaan hebat itu, dulu berpusat di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Majapahit itu kerajaan Hindu. Hindu pada zaman Majapahit menjadi semacam agama negara. Kok hari ini hampir tidak ada orang Mojokerto asli yang Hindu dan semuanya Islam?

    Nah, analogi macam ini bisa ditemukan di mana-mana. Ama, ina, kaka ari... ake berekenger. Begitulah sejarah.

    ReplyDelete
  7. mau nanya.... sebelum portugis masuk di solor, disana sudah pa belum agama yang dianut masyarakat solor khususnya lohayong. kalau suda apa agamanya

    ReplyDelete
  8. Saya salut atas tulisan ama Lambert. Saya yakin tidak semua generasi baru Solor, tahu cerita tentang Solor masa dulu. Dengan tulisan ama, orang menjadi tahu ten tang kebenaran sejarah masa lalu Solor.Tentang suara-suara yang meragukan tulisan ama, saya kira hanya
    lah suara orang yang tidak mau tahu tentang sejarah masa lalu.maju terus ama.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. sangat sedih ama setelah membaca dimane orang asli solor? orang lohayong asli? atau orang solor? kenapa tidak dipertahankan? dimana ketua kepala desa?
      onek belara ama no e...

      Delete
  9. sangat sedih membaca kenapa jadi begitu ye? kenapa tidak dipertahankan? dimane orang asli solor lohayong atau semua solor?

    ReplyDelete