30 March 2008

Andrie Wongso: Selamat Pagi! Luar Biasa!



"Selamat pagi! Luar biasa!!!"
"Selamat pagi! Luar biasa!!!"

Seorang pria 30-an tahun menyapa Andrie Wongso dengan penuh semangat. Pak Andrie Wongso, motivator ulung itu, pun menjawab dengan lebih semangat lagi. Macam baru habis makan atau hendak perang saja! Saat itu pukul 10 malam atawa pukul 22.00 WIB di Surabaya.

"Tengah malam begini kok selamat pagi? Bukan selamat malam? Apa saya tidak salah dengar?" saya menggerutu dalam hati.

Tak lama, datang lagi rombongan orang, usianya variasi. Mereka pun mengucapkan salam itu: "Selamat pagi! Luar biasa!"

Pak Andrie Wongso menjawab: "Selamat pagi! Luar biasa!!!"

Akhirnya, saya pun sadar bahwa beginilah gaya Andrie Wongso. Cara pria asal Malang, lahir Desember 1954, dalam menyuntikkan motivasi kepada pendengarnya. "Selamat pagi! Luar biasa!" Kalimat ini diucapkan dengan tegas, pendek, ala tentara.

Saya pun coba menyapanya: "Selamat pagi! Luar biasa!" Hehehe... Pak Andrie Wongso pun menjawab seperti itu. Gayanya sudah terpola. "Mereka-mereka yang sudah ikut pelatihan Andrie Wongso pasti sudah hafal dengan ucapan itu. Semacam ciri khas lah. orang yang belum kenal Andrie Wongso, ya, pasti heran, malam-malam kok selamat pagi? Siang-siang selamat pagi?"

Begitulah. Andrie Wongso, yang mengaku bergelar SDTT [Sekolah Dasar Tidak Tamat], hanya mengenal PAGI. Tidak ada siang, sore, senja, malam, subuh.... Pagi itu identik dengan kegairahan, kesegaran, semangat. Maka, jangan sekali-kali engkau mengatakan 'selamat malam' atau 'selamat sore'. Harus selalu PAGI, PAGI, PAGI. Semangat, semangat, semangat!

Ceramah-ceramah Andrie Wongso memang penuh semangat. Namanya juga motivator. Sejak 1989 dia menjadi pembicara di mana-mana. Kerjanya memompa semangat, motivasi untuk sukses. Istilah lawasnya: maju terus pantang mundur! Jangan pernah punya semangat kalah. Target harus tinggi. Jadilah pemenang, bukan pecundang!

Karena itu, Andrie Wongso pernah dibayar khusus oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk memotivasi kontingen Pekan Olahraga Nasional XVI di Palembang. Para atlet dipacu semangatnya untuk merebut emas sebanyak-banyaknya. Andrie juga dibayar lagi untuk 'memprovokasi' semangat atlet-atlet Piala Thomas dan Piala Uber.

Menang semua? Hehehe.... Lawan-lawan pun bayar motivator juga. Mereka juga latihan, persiapan lama, punya bakat dan catatan prestasi. Maka, ada yang menang, ada yang kalah. Kalau engkau tidak berlatih, fisik lemah, bakat kurang, ya, tak akan menang meskipun tiap hari dipompa oleh Andrie Wongso.

"Emangnya Andrie Wongso ini tukang sulap? Dia kan cuma jual omongan. Isone ya ngacor tok. Hehehe...," kata teman saya, Cak Mamat.

Apa pun kata orang, di zaman kompetisi macam ini orang-orang kota selalu butuh motivasi lebih untuk maju. Jangan heran manusia-manusia yang pandai bicara macam Andrie Wongso, Tanadi Santoso, James Gwee [dan seabrek nama lagi] beroleh lahan pekerjaan. Kerjanya ya ngomong-ngomong-ngomong! Dan orang suka dengar meskipun setelah pulang baru sadar kalau kata-kata di ceramah itu tidak sesederhana di alam nyata.

Andrie Wongso selalu menceritakan masa kecilnya yang sengsara di Malang. Anak kedua dari tiga bersaudara ini lahir dari keluarga Tionghoa miskin. Ia tidak tamat sekolah dasar, putus kelas enam, karena sekolah Tionghoa ditutup pemerintah Orde Baru. Tak putus asa, Andrie kecil menjual kue-kue di pasar dan toko-toko di Malang.

"Saya tidak pernah malu karena saya dan orang tua harus survive. Kalau nggak jualan ke pasar-pasar, kami makan apa?" ujar Andrie Wongso di Surabaya beberapa waktu lalu.

Seperti kisah sukses baba-baba Tionghoa lain, yang memulai usaha dari nol, jualan kelontong, Andrie Wongso berkembang seperti sekarang. Jadi pembicara di mana-mana. Termasuk menceramahi profesor doktor. Menulis buku yang laris manis. SDTT menjadi kecap manis tersendiri bagi Andrie Wongso sebagai motivator.

"Masa, saya yang SD tidak tamat saja bisa (sukses), lha wong kalian yang sarjana, tamat SMA, lahir dari keluarga mampu, nggak sukses?" begitu kira-kira logika Pak Andrie. Maka, berbahagialah orang yang miskin, sekolah rendah, tapi sukses!

Beberapa waktu lalu Andrie Wongso memberikan tips untuk menghadapi tahun 2008. Kuncinya: pikir dan aksi! THINK and ACTION! "Proses THINK tanpa disertai ACTION hanya akan berujung pada kesia-siaan. Sebaliknya, ACTION tanpa THINK akan bias ke mana-mana," pesan pemilik situs www.andriewongso.com ini.

Selamat pagi! Luar biasa!
Selamat pagi! Luar biasa!
Selamat pagi! Luar biasa!
Selamat pagi! Luar biasa!
Selamat pagi! Luar biasa!
Selamat pagi! Luar biasa!
Selamat pagi! Luar biasa!

Hehehehe.... Apanya yang luar biasa, Cak?

29 March 2008

Vegetarian di Surabaya

Banyak teman dan kenalan saya di Surabaya dan Sidoarjo ternyata vegetarian. Sama sekali tidak makan daging serta produk-produk makanan hewani. Susu dan telur pun tak. Tapi ada juga vegetarian pemula yang masih suka makan telur ayam.

"Yang penting bukan ayam kampung. Kalau ayam petelur kan bukan hasil pembuahan," kilah Budi, sahabat saya di Sidoarjo.


Fefe alias Fenny lain lagi. Gadis Tionghoa ini vegetarian ketat. Bahkan, sebagai aktivis sebuah wihara besar di Surabaya, Fefe sudah mengikuti sumpah setia menjadi pemakan tumbuh-tumbuhan seumur hidup. Tidak akan makan daging, ikan, telur, susu, dan sejenisnya. Apa tidak berat?

"Hurek, ini tuntutan agama saya. Kalau sudah menjadi keyakinan pasti tidak berat. Jangan dibayangkan orang-orang vegetarian itu menderita lho. Kami biasa-biasa saja kok," ujar Fefe.

Dia juga aktif mempromosikan pentingnya diet vegetarian kepada siapa saja, termasuk saya. dia punya buku, brosur, seminar, tentang vegetarian. Saya sudah banyak membaca tulisan-tulisan para pegiat vegetarian. Saya sangat menghargai pandangan mereka meskipun saya masih berat mengikuti pola makan macam begitu.

Setelah saya cermati, gaya hidup 'herbivora' semakin beroleh tempat di kota-kota besar macam Surabaya. Ketika usia menginjak 40, orang mulai serius berpikir tentang kesehatan. Jadi vegetarian. Tidak minum kopi atau teh. Tidak minum minuman keras. Olahraga teratur. Banyak minum air putih.

TIDAK SULIT

Sudah 28 tahun NUGROHO alias NJOO TIONG HOO menjadi vegetarian. Ini bukan sekadar gaya hidup, apalagi ikut-ikutan, melainkan karena terkait dengan keyakinannya sebagai penganut Buddha.


"Memang kami diajarkan untuk tidak membunuh mahkluk hidup," ujar Nugroho yang saya temui di kediamannya, kawasan Pondok Jati Sidoarjo.

Berdasar pengalamannya, menjadi vegetarian itu tidak sesulit bayangan banyak orang. Dia pun mengaku tak pernah kurang gizi atau loyo hanya karena pantang mengonsumsi segala makanan hewani. "Gizinya sama saja kok. Protein di tumbuh-tumbuhan sama saja dengan yang di hewan," tutur pria 45 tahun ini lalu tersenyum.

Nugroho kemudian mencontohkan anjing milik temannya di Malang yang selalu menjuarai berbagai kontes tingkat nasional. Anjing itu, kata Nugroho, ternyata vegetarian alias tidak pernah makan daging atau pakan hewani lainnya. "Saya hanya ingin menunjukkan bahwa kita yang hanya makan tumbuh-tumbuhan tetap bisa beraktivitas seperti biasa," tegasnya.

Mengutip sejumlah penelitian, Nugroho mengingatkan bahwa makanan hewani, khususnya lemak jenuh, berdampak kurang baik pada kesehatan manusia. Apalagi kalau dikonsumsi secara berlebihan.

"Terus terang saja, penyakit-penyakit yang ganas saat ini, kalau dicermati, akibat pola konsumsi yang tidak sehat. Terlalu banyak makan daging itu bahaya, Bung."

Menurut pria asal Surabaya ini, sedikitnya ada tiga alasan menjadi vegetarian.
Kondisi kesehatan yang buruk, gaya hidup, dan alasan agama atau keyakinan. "Tapi, yang paling penting itu niat. Kalau punya niat yang kuat, saya yakin siapa pun tidak sulit menjadi vegetarian," ujar Nugroho.

Namun, buru-buru ia menambahkan, melakoni hidup sebagai vegetarian harus selalu diimbangi dengan perilaku yang baik. "Jangan sok, seakan-akan kita lebih hebat daripada orang lain. Ini malah kontraproduktif," tandas pria yang juga rohaniwan Buddha itu.

Bagaimana dengan tren restoran khusus vegetarian di kota-kota besar, termasuk Surabaya? Nugroho terdiam sejenak. "Silakan saja kalau orang berbisnis restoran vegetarian. Tapi, sebetulnya, makanan-makanan vegetarian itu tidak harus mahal-mahal kayak di restoran. Seharusnya biaya makanan untuk kaum vegetarian itu lebih murah, bukan malah lebih mahal," paparnya.

Nugroho mengaku kurang sreg dengan menu-menu vegetarian di restoran yang serba palsu. Daging palsu, opor ayam palsu, sate palsu, sea food palsu, dan seterusnya. Sebab, pada dasarnya menu-menu palsu itu dibuat dari tepung terigu. "Mereka ambil saripatinya, sehingga volume tepung tinggal separuh. Makanya, harga makanan menjadi mahal," ujar Nugroho lalu tertawa kecil.

Dengan menu-menu palsu tersebut, lanjut dia, seakan-akan orang dikondisikan untuk membayangkan makanan-makanan hewani seperti dari sapi, kambing, ikan, dan sebagainya. "Tapi, sudahlah, kalau ada saudara-saudara kita yang bisnis restoran vegetarian, ya, nggak apa-apa. Yang penting, jangan sampai menimbulkan imej seakan-akan makanan vegetarian itu mahal."

TAK INGIN SAKITI BINATANG

Pada 1940-an, secara tak sengaja LIM KENG yang masih anak-anak melihat orang menyembelih ayam kampung. Binatang itu tak langsung mati, tapi masih sempat menggelepar mencoba melawan maut. Darah muncrat ke mana-mana.


"Waduh, saya nggak tahan kalau ingat kejadian itu. Saya trauma melihat ayam yang disembelih," tutur pelukis terkenal Surabaya yang dikenal sebagai 'raja sketsa' itu kepada saya.

Sejak itulah Lim Keng memutuskan untuk tidak makan daging ayam dan semua makanan dari hewan. Alasannya, itu tadi, simpati pada ayam yang disembelih. "Jadi, saya ini vegetarian bukan karena agama, tapi untuk kesehatan. Saya tidak ingin menyakiti binatang," tuturnya.

Pria kelahiran Tanggulangin, Sidoarjo, 9 Maret 1934, ini beragama Kristen Protestan. Di sela-sela kesibukan melukis, Lim Keng menikmati hari tuanya sambil menjaga tokonya di Jl Undaan 125 Surabaya. Kini, di usia 78 tahun, Lim Keng tetap produktif, tak punya gangguan kesehatan apa pun.

"Jangan lupa, sebagai orang beragama, kita harus selalu mendekatkan diri pada Tuhan, pasrah kepada-Nya," lulusan Akademi Seni Rupa Jogja ini.

Sahabat, anda tertarik dengan vegetarian? Silakan coba. Hitung-hitung bisa menekan anggaran untuk beli daging, susu, telur, kopi, teh. Anda juga akan lebih tenang, tak cemas, dengan penyakit-penyakit hewan macam sapi gila, antraks, flu burung, rabies, dan sebagainya.

26 March 2008

Pietche Ranitoa rilis album ketiga




Pietche Ranitoa baru saja merilis album ketiga. Judulnya: Lonceng Gereja. Yah, sudah jelas lagu-lagu rohani, gospel songs. Pietche pemuda asal Bajawa, Flores bagian barat, yang semangatnya tinggi, optimistis, selalu merasa bisa menghadapi tantangan seberat apa pun.

"Bung sudah tahu belum, saya punya album ini sudah dibahas di Radio Merdeka FM lho. Katanya, kualitas album saya bagus. Nggak kalah lah sama album-album major label," ujar Pietche Ranitoa kepada saya di Surabaya, 25 Maret 2008.

"Bung rugi kalau nggak koleksi saya punya album. Hehehe...."

Pietche Ranitoa belajar musik pada almarhum Pater Petrus [Piet] Wani SVD, komponis musik liturgi asal Flores. Lagu-lagu misa Piet Wani banyak dinyanyikan di gereja-gereja Katolik di seluruh Indonesia. Piet Wani mengantungi gelar magister music sacrae dari Roma, Italia.

Namun, seperti kebanyakan orang Flores, Pietche Ranitoa tidak intens belajar musik klasik serta paduan suara. Setelah merasa 'bisa', meski belum optimal, dia sudah membina beberapa paduan suara anak muda di Jawa. Bosan dengan paduan suara, Pietche menjual suara sebagai penyanyi solo. Mengisi acara-acara perkawinan, persekutuan doa, dan sebagainya.

"Saya mau hidup dari musik. Dari menyanyi. Kita punya suara ini kan aset yang sangat berharga," ujar Pietche Ranitoa yang sudah punya album ini.

Ketiga-tiga album [kaset/CD] dicetak 2.000-3.000 kopi. Dia menjual sendiri di halaman gereja-gereja, promosi di persekutuan, atawa event yang banyak umatnya. Namanya juga cari makan, bukan?


Demi membantu sahabat dari Bajawa ini, saya membeli album Lonceng Gereja. Harganya Rp 50 ribu. Saya cermati suara Pietche Ranitoa cukup bagus. Bariton, ambitusnya lebar, ada sedikit vibrasi, agak tebal. Mirip penyanyi-penyanyi Maluku pada 1980-an. Teknik vokalnya klasik, namanya juga pelatih paduan suara.

"Saya nyanyikan The Prayer ini dengan tangga nada asli. Tidak saya turunkan sama sekali," akunya bangga. Pietche hanya ingin bilang The Prayer yang aslinya dibawakan Andrea Bocelli, tenor asal Italia, selalu diturunkan tonnya oleh penyanyi-penyanyi anak negeri, termasuk Delon Indonesian Idol.

Berarti kamu lebih hebat dari Delon, dong?

"Hehehe... Bukan begitu, Bung. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa orang Flores pun bisa menyanyi dengan standar yang tinggi. Dunianya Delon dengan saya kan beda," ujar Pietche Ranitoa.

Selain The Prayer, masih ada sembilan lagu di album ini. Ada Sobat yang Setia, Dengar Lonceng Gereja, Ave Maria [Schubert], Jiwaku Mengharapkan Tuhan*, Pujilah Tuhan*, Oh Indahnya**, Apa Maksudnya*, Lihatlah Penebusmu*, An Tungga Lama Tua* [bahasa daerah Rote, NTT].

Lima lagu ditulis sendiri oleh Pietche. Satu lagu rohani diindonesikan liriknya sama Pietche. "Jelek-jelek begini saya bisa menulis dan mengaransemen lagu. Kata teman-teman sih bagus. Bagaimana pendapat Bung?" todongnya. Beta hanya tertawa mendengar gaya si Bajawa ini yang khas dan periang.

Aransemen musik digarap Denny dari Nada Musica Studio Surabaya. Ada nuansa klasik, country, pop lawas, praise and worship, hingga etnik Rote di Nusa Tenggara Timur. Pietche Ranitoa rupanya masih mencari-cari bentuk yang pas.

"Mas Denny ini agamanya Islam, tapi kami bisa ketemu di gelombang yang sama. Musik itu memang universal, tidak mengenal batas-batas ras atau agama," tutur Pietche Ranitoa. Dia juga memuji kehebatan Denny yang bisa menafsirkan lagu klasik Ave Maria dengan baik.

Setelah mendengar 10 lagu di album ini, menurut saya, mutu rekaman sudah jauh lebih bagus ketimbang sebelumnya. Kita seakan dibawa ke masa sebelum 1980-an ketika lagu-lagu rohani masih bernuansa tenang, berbasis himne, tidak hingar bingar. Pietche Ranitoa seakan mengajak pendengar untuk lebih merenung, mendekatkan diri pada Tuhan, Sang Pencipta.

Tidak dijual di Flores sana?

"Tunggu dulu. Saya harus bikin VCD-nya. Kenapa? Orang-orang di Flores itu kan butuh hiburan. Kalau cuma CD saja akan sulit laku," kata si Pietche Ranitoa.

Omong-omong, kenapa tidak mencoba mendekati major label di Jakarta?

"Bung bisa bantukah? Saya sih maunya begitu. Tapi Bung tahu sendiri kita sulit sekali masuk ke sana karena sekarang ini kompetisinya luar biasa."

Okelah, Bung Pietche Ranitoa! Mudah-mudahan album ketiga ini sukses!

NOMOR KONTAK
Pietche Ranitoa
081 553 904880

25 March 2008

Mungkinkah belis disederhanakan? (2)




Bung, apakah bisa disederhanakan belis di Flores itu? Rasanya kok berat banget. Suwun.

Taufan, Malang


Pertanyaan ini menanggapi artikel KOMPAS 21 Juli 1996 yang mengkritik sistem belas di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Flores, khususnya lagi di Flores Timur, yang dirasa sangat memberatkan. Apa masih relevan? Sudah modern, abad ke-21, kok masih kolot? Di mana otaknya orang Flores?

Begini. Sebelum diramaikan di KOMPAS, sebetulnya sudah lama ada gagasan untuk menyederhanakan belis di Flores Timur. Pada era 1980-an, ketika Bupati Flores Timur dijabat Bapak Anton Buga Langoday kemudian Bapak Markus Weking, wacana itu sudah cukup ramai.

Saya masih ingat para camat [dulu ada 13 kecamatan: tiga di Flores Timur daratan, 2 di Adonara, 2 Solor, 6 Lembata] secara halus menggulirkan ide penyederhanaan belis. Okelah, belis gading masih ada, tapi dipermudah. Kan kasihan kalau sampai orang tak bisa kawin hanya karena sukunya tak punya gading.

Tapi wacana ini beroleh reaksi keras dari para tetua adat. Lama-lama pemerintah daerah takut untuk menggulirkan kebijakan yang lebih berani lagi. Budaya belis gading berlanjut terus. Orang-orang tua ngotot mempertahankan sistem lama karena masyarakat Lamaholot tidak bisa menghapus sistem belis gading sampai kapan pun.

Pada 1990-an, ketika tua-tua adat sudah sangat uzur, banyak yang meninggal dunia, mulai muncul keberanian untuk mereduksi budaya belis gading. Ini ditambah dengan membaiknya tingkat pendidikan masyarakat. Tak sedikit generasi muda yang menantang tua-tua adat.

Saya masih ingat ada beberapa mahasiswa yang kuliah di Jogja secara terang-terangan
mengecam sistem belis gading. Tulisan-tulisan mereka dimuat di DIAN, surat kabar mingguan yang terbit di Ende. Bahkan, anak-anak muda itu melakukan perlawanan dengan tidak menikahi orang Flores Timur [NTT umumnya] melainkan pacarnya yang asal Jawa.

Gerakan tolak belis ini pelan-pelan meluas. Teman-teman mahasiswa di luar NTT umumnya sangat kritis pada budaya belis. Boleh dikata sebagian besar menikah dengan gadis setempat yang zonder pakai belis gading. Hehehe....

"Lebih enak kawin di luar ketimbang kawin di kampung. Bikin kepala sakit," begitu alasan teman-teman yang rata-rata kelahiran pertengahan 1970-an.

Ini semua soal waktu sajalah. Tua-tua adat pada berpulang. Orang-orang muda Flores Timur punya wawasan yang makin luas dan modern. Saya percaya pelan tapi pasti adat lama itu akan terus mengalami penyesuaian.

Bagaimanapun juga kita harus percaya bahwa adat istiadat di mana pun selalu dinamis. Tumbuh seiring perkembangan masyarakat. Apa yang sebelumnya cocok belum tentu pas dengan ukuran saat ini. Saya rasa itu pula yang terjadi di Flores Timur.

Kalau mau jujur, adat belis ini sudah lama mengalami penyesuaian di sana-sini. Katakanlah ada orang Flores menikah dengan orang Jawa. Tidak mungkinlah mempertahankan sistem adat sendiri. Harus kompromi! Okelah, adat jalan, liturgi berlaku, tapi sangat dipermudah.

Bahkan, kalau orang Flores Timur mau menikah dengan gadis Flores Barat, sulit sekali mempertahankan sistem adat belis ala Lamaholot. Pasti ada kompromi di sana-sini.

Samuel Octora, wartawan KOMPAS, menulis:

"Tahun 2006 terdapat 19 kasus suami yang merantau untuk mencari uang guna melunasi belis. Namun, akhirnya istri dan anak ditelantarkan di kampung. Sebanyak 5 kasus lainnya, keluarga istri mengintimidasi suami untuk melunasi belis. Karena tertekan, suami memperlakukan istrinya dengan kekerasan."

Kasus-kasus macam ini tidak bisa dimungkiri terjadi di kampung-kampung Flores Timur. Tapi, menurut saya, jumlahnya sudah jauh berkurang dari tahun ke tahun. Sebelum 1980 memang banyak sekali kasus-kasus belis yang bikin miris. Tapi setelah tahun 2000, silakan teliti lagi, angka-angkanya sudah jauh berkurang.

Saya optimistis suatu ketika terjadi penyederhanan sistem belis yang luar biasa. Bukankah semua orang makin maju? Makin luas wawasannya? Percayalah, adat atau tradisi yang tidak luwes, tidak mampu beradaptasi dengan kemajuaan peradaban manusia, pasti akan ditinggalkan. Menjadi konsumsi museum dan sejarah.

BACA JUGA
Mungkinkah belis disederhanakan? (1)
Kawin belis gading di Flores Timur.

24 March 2008

Paduan suara Katolik yang bagus di Surabaya



Yulius Kristanto, dirigen dan pelatih KPMG, lagi nyanyi sama anak buahnya.

Paskah tahun ini membuka mata saya bahwa di Surabaya ternyata ada beberapa paduan suara anak muda Katolik yang berkualitas. Kualitas menurut standar amatir, bukan profesional, tentu saja. Teman-teman ini rata-rata di bawah 30 tahun. Sudah lulus universitas, ada yang mahasiswa, ada lagi yang baru menikah.

Latar belakang mereka kebanyakan bekas aktivis paduan suara mahasiswa di kampus. Setelah lulus dan kerja, hobi berpaduan suara ini terbawa-bawa. Maka, cara paling mudah ya bikin paduan suara di gereja. Kor-kor ini bersifat kategorial atawa lintas paroki. Tinggal di Sidoarjo, latihan kor di Katedral. Tinggal di Ngagel gabung Bintang Samudera. Dan sebagainya.

Kenapa tidak menggerakkan paduan suara di paroki masing-masing? Idealnya begitu. Tapi tidak mudah. Sebab, materi penyanyi di lingkungan atau paroki rata-rata masih terlalu mentah. Teman-teman itu kurang kerasan kalau harus "kembali ke titik nol" bersama umat kebanyakan.

Kesannya mereka jadi elitis, sok jago, hanya ingin show. Menurut saya, lebih baik terlibat paduan suara meski bukan di parokinya ketimbang tidak punya aktivitas apa-apa yang bersifat gerejawi.

Nah, pada pekan suci kemarin [20-23 Maret 2008] paduan suara di Gereja Katedral Surabaya tampil cukup bagus. Anggotanya anak-anak muda, kebanayakan di bawah 30. Bagi saya, ini angin baik bagi dunia paduan suara di Keuskupan Surabaya. Merekalah motor musik liturgi di keuskupan yang meliputi Jawa Timur bagian barat ini.

Setelah saya cek, ada beberapa paduan suara yang tampil pada pekan suci. Kelompok Pelayanan Musik Gerejawi (KPMG), pimpinan Yulius Kristanto, menjadi motor misa malam Paskah di Katedral. Sesuai dengan namanya, KPMG dibentuk untuk menjadi semacam "teladan" bagi kor-kor di Keuskupan Surabaya dalam membawakan lagu-lagu liturgi.

Reputasi Yulius Kristanto sebagai dirigen dan pelatih sudah tak diragukan lagi. Ia bekas aktivis paduan suara mahasiswa Unversitas Airlangga. Kemudian menimba pengalaman belajar musik klasik, teknik direksi, aransemen, pada sejumlah guru musik ternama. Yulius juga dikenal sebagai dirigen utama pada tahbisan Mgr Sutikno Wisaksono di Surabaya pada 29 Juni 2007 lalu.

Ada lagi BINTANG SAMUDRA. Paduan suara anak-anak muda, plus karyawan muda, ini saya dengar fokus pada liturgi inkulturasi. Lagu-lagu dengan latar musik Nusantara dapat tempat utama.

Bintang Samudra ingin membuktikan bahwa orang Katolik di Indonesia seharusnya memuji dan memuliakan Tuhan menurut tradisi budayanya sendiri. Namun, mereka juga piawai menyanyikan nomor-nomor klasik Barat atau khasanah musik gerejawi universal berbahasa Latin.

GEMA INVENTA. Ini juga paduan suara yang diperkuat anak-anak muda dari Surabaya dan
sekitarnya. Mereka mampu membawakan nomor-nomor sulit. Gema Inventa pun beberapa kali menggelar konser di Surabaya dan sukses besar. Sukses di sini bukan dalam arti banyaknya aplaus, tapi bagaimana paduan suara itu mengantar pendengar untuk merasakan kebesaran Tuhan lewat bahasa musik.

Saya juga baca pengumuman tentang konser ELIATA CHOIR. Mereka juga menekuni musik-musik gerejawi universal dengan pendekatan klasik. Barangkali masih ada lagi kor-kor Katolik di Surabaya yang bagus, tapi selama ini lolos dari pantauan saya. Saya berharap teman-teman ini rajin berlatih, mengembangkan diri, banyak belajar, disiplin, agar kor-kor yang sudah ada ini maju dan lestari.

Sebab, berdasar pengalaman, bikin kor itu gampang, tapi merawat dan mengembangkan itu yang sulit. Qui bene cantat bis orat! Anda mau bergabung?

KONTAK PERSON PEMBINA PADUAN SUARA

PADUAN SUARA KPMG
Yulius Kristanto 031 5949036, 081 653 1917
Hendry 031 705 36500

BINTANG SAMUDRA
Adolf 085 850 564044, 031 561 1247
Anik 081 5535 884499

PS WILAYAH 4 HKY
Evi/Heri 031 567 3932, 081 2328 4501

GEMA INVENTA
Alex 081 739 5906
Adit 081 331 605846
Dewi 031 71707048

ELIATA CHOIR
Adry 081 33191 5000
Audrey 081 231 42420
Reny 0856 4811 7711

23 March 2008

Kor Paskah di Jawa dan Flores



Teks paduan suara SATB "Hai Makhluk Semua (Martin Runi) yang sangat terkenal di Flores pada 1980an dan 1990an. Teman-teman paduan suara Katolik di Jawa Timur pun suka.

Sabtu, 22 Maret 2008
Pukul 22:00 WIB.

Saya baru saja pulang dari Gereja Katolik Santo Paulus, Jalan Raya Bandara Juanda, Sidoarjo. Misa malam Paskah berlangsung hampir tiga jam, mulai 18:30, dipimpin Pater Sonny Keraf SVD. Pastor yang cermat berbahasa Indonesia kebetulan berasal dari daerah yang sama dengan saya: Lembata, Flores Timur.

Misa tiga jam tak terasa karena liturginya bagus. Paduan suara meski ada beberapa lagu yang kedodoran cukup ciamik dan semangat. Umat tepuk tangan panjang setelah kawan-kawan paduan suara menuntaskan Ave Verum Corpus [WA Mozart] dan Hallelujah [GF Handel]. Dua komposisi ini terbilang sulit untuk kebanyakan paduan suara di Indonesia.

Saya ikut tepuk tangan. Saya tahu betapa sulitnya mempersiapkan paduan suara untuk puncak perayaan Paskah macam begini. Latihan harus sering. Materi anggota yang mutunya bagus. Organis bagus. Kostum cukup mentereng lah. "Pasukan kuning [maksudnya paduan suara] sudah nyanyi bagus, tapi ongkos jahitnya belum bayar," ujar Pater Sonny Keraf. Hehehe... Umat tertawa lalu salam-salaman: Selamat Paskah!

Malam Paskah dituntaskan dengan lagu Hai Makhluk Semua karya Martin Runi. Refreinnya banyak kata "alleluia", sesuai dengan tema Paskah. Ini lagu liturgi 1980-an khas Flores yang sangat populer di Jawa Timur, mungkin seluruh Indonesia. Pertama karena melodinya bagus; kedua karena orang-orang Flores selalu terlibat di paduan suara gereja Katolik di seluruh Indonesia.

Lagu lama yang syairnya diubah [disesuaikan] berkali-kali ini sangat membekas di hati saya. Benar-benar khas lagu misa malam Paskah ala Flores. Maka, saat mampir di kafe, santai sambil ngopi, saya merefleksikan paduan suara gereja di Jawa dan di Flores. Meskipun, sekali lagi, anggota paduan suara dan dirigen di Jawa pun didominasi orang Flores, ciri khas paduan suara Paskah berbeda nyata.

Kalau di Jawa Timur [seluruh Jawa umumnya], paduan suara lebih mengutamakan lagu-lagu klasik sebagai nomor favorit. Tingkat kesulitan tinggi, perlu latihan lama, penyanyi harus pintar. Lagu-lagu macam ini sangat menantang dan sungguh memuaskan jiwa setelah dibawakan - dan sukses. Tak sia-sialah jerih payah latihan selama ini.

Dus, saya tak heran kalau tadi teman-teman di Gereja Paulus Juanda memilih lagu klasik untuk ordinarium misa. Pakai bahasa Latin lagi! Risikonya, umat menjadi pendengar pasif. Kor nyanyi sendiri.

Bagaimana dengan di Flores?

Sebagai pulau berpenduduk mayoritas Katolik, misa pekan suci, khususnya Malam Paskah dan Minggu Paskah selalu menjadi ajang memperkenalkan lagu-lagu misa yang baru. Tiga bulan sebelum Paskah umat di stasi-stasi, kelompok paduan suara, sudah menyiapkan diri dengan berlatih lagu-lagu baru.

Di Flores selalu ada ordinarium misa baru karena pengarang lagu liturgi sangat banyak. Kita masih ingat nama-nama legendaris macam Pater Anton Sigoaman Letor SVD, Pater Pustardos SVD, Pater Daniel Kiti SVD, Martin Runi, Jan Riberu, Mateus Wari Weruin, Apoly Bala, Fredi Levy... dan seterusnya. Lagu-lagu mereka sudah lama masuk buku Madah Bakti dan Puji Syukur, dinyanyikan di seluruh Indonesia.

Nah, agar lagu-lagu baru itu dikenal umat, hits, maka harus dinyanyikan oleh paduan suara pada misa Paskah. Ordinarium harus lengkap: pembukaan, kyrie, gloria, antarbacaan, persembahan, sanctus, anak domba, komuni, syukur, penutup. Lagu komuni biasanya dibuat banyak karena misa Paskah di Flores berlangsung lebih lama daripada di Jawa. Sebab, biasanya misa di lapangan bola dengan ribuan umat dari berbagai kampung.

Pola lagu-lagu litugi ala Flores sederhana saja, tapi melodinya kuat. Si pengarang harus menemukan melodi yang lekas mendarat di hati umat. Harus gampang dinyanyikan. Tidak berbelit-belit. Sebaiknya menghindari nada-nada kromatis atau tengahan [di, ri, fis, sel, sa] karena rata-rata orang Flores kesulitan membunyikan nada-nada miring.

Lagu ala Flores tak panjang dan rumit macam klasik. Partitur Hallelujah [Handel] tiga halaman. Lagu liturgi Flores cukup setengah halaman, bahkan seperempat halaman saja. Ini juga karena biaya penggandaan lagu sangat mahal di Flores. Semua lagu ditulis tangan oleh kita sendiri, ya, anggota paduan suara. Menurut saya, kebiasaan ini sangat bagus untuk belajar memahami musik dan khususnya harmoni: sopran, alto, tenor, bas.

Bagian solo [solis] sangat penting di Flores. Bagian refrein dinyanyikan bersama [tutti], kemudian solo tiga suara perempuan/laki-laki, tutti, dan seterusnya. Perhatikan lagu-lagu misa gaya Flores di Madah Bakti atau Puji Syukur. Selalu ada bagian solo. Ini penting karena di pelosok Flores itu ada tradisi untuk memamerkan kita punya solis yang suaranya bagus.

Ini menjadi nilai tambah tersendiri bagi paduan suara kita. Karena itu, menjadi aneh manakala lagu-lagu Flores yang menuntut solis dibawakan sama-sama seperti sering terjadi di Jawa Timur. Paduan suara tanpa solo itu ibarat sayur tanpa garam.

Pada malam Paskah seperti tadi umat dimanjakan dengan lagu-lagu baru. Dibawakan semenarik mungkin. Pakai iringan gitar, suling, perkusi, tarian. Karena lagu-lagu ala Flores itu mudah, bisa dipastikan selepas misa umat jalan kaki sambil menirukan lagu-lagu baru tadi. Dulu, saya perhatikan beberapa orang merekam pakai tape recorder, lalu diputar di sepanjang jalan. Jika lagu itu punya melodi yang kuat, secara komposisi bagus, bisa dipastikan akan bertahan lama di gereja.

Pak Martin Runi salah satu hits maker lagu-lagu liturgi Flores. Tahun 1980-an dia menyusun sejumlah ordinarium misa. Yang terkenal sampai sekarang adalah Misa Syukur dan Misa Senja. Mula-mula, ya, disosialisasikan lewat kor-kor kampung pada saat misa Paskah macam begini. Pak Martin menulis lagu dengan bagian solo yang melodius, tidak sulit, lekas mendarat di ingatan orang banyak.

Saya kira Pak Martin Rutin tak pernah menyangka kalau 'Hai Makhluk Semua' akhirnya menjadi lagu abadi di Indonesia. Tiap kali misa malam Paskah atau Minggu Paskah lagu ini selalu dinyanyikan. Begitu juga dengan Misa Senja yang pada akhir 1980-an disosialisasikan pada perayaan Paskah di kampung-kampung Flores.

Dengan pola dan tradisi seperti ini, lagu-lagu liturgi akan selalu bermunculan di Flores dari waktu ke waktu. Musik liturgi Flores yang inkulturatif tidak akan pernah stagnan. Selalu ada yang baru! Ini jelas beda dengan di Jawa Timur, di mana kor-kor gereja cenderung membawakan lagu-lagu yang itu-itu saja meskipun dari sisi kualitas dan tingkat kesulitan jauh lebih tinggi ketimbang di Flores.

Artinya, Flores dengan tradisi musik liturginya yang khas dan panjang akan tetap menjadi pemasok lagu-lagu liturgi populer di Indonesia. Sebaliknya, kor-kor di Jawa akan tetap bermain di 'level atas', menekankan kualitas performansi, terus menjajal repertoar-repertoar klasik yang berat-berat.

Ini sekaligus menjelaskan mengapa lagu-lagu liturgi bernuansa non-Flores, non-NTT [Nusa Tenggara Timur], kurang muncul di Indonesia. Selamat Paskah!

22 March 2008

Benny Susetyo pastor aktivis



Oleh Lambertus Hurek

Tidak banyak pastor muda yang melejit secepat Romo Antonius Benny Susetyo Pr. Ditahbiskan pada 1996, kemudian ditempatkan di Situbondo dan Bondowoso dua pekan kemudian, kini Benny Susetyo menjadi staf Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Tepatnya, sekretaris Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan (HAK).

Posisi yang memungkinkan Benny leluasa bergerak ke mana-mana, menembus sekat-sekat agama, kepercayaan, serta latar belakang lainnya. Sebagai pastor kategorial, Benny Susetyo tidak punya paroki. Tidak secara langsung 'menggembalakan domba-domba' layaknya pastor biasa. Dia bisa ke mana-mana, kapan saja, bergerak di seluruh Indonesia. ''Yah, saya mendapat penugasan sebagai pastor kategorial. Saya berusaha melaksanakan itu dengan sebaik-baiknya,'' ujar pria 39 tahun ini saat saya temui di Gereja Katedral Surabaya, Kamis (21/3/2008).

Yang menarik, hampir 10 tahun terakhir Benny Susetyo selalu wara-wiri Surabaya-Jakarta. Saat Natal atau pekan suci Paskah, seperti sekarang, dia senantiasa berada di Surabaya. "Kebetulan saya diminta Romo Eko untuk membantu perayaan ekaristi pekan suci," tuturnya.

Romo Eko tak lain Pastor Paroki Hati Kudus Yesus (Katedral) Surabaya Romo Yosef Eko Budi Susilo Pr. Sebelum ini Romo Benny juga membantu melayani misa di Gereja Aloysius Gonzaga, kawasan Satelit, dan Gereja Redemptor Mundi, Dukuh Kupang Barat. Karena itu, Benny sudah sangat paham karakter umat di Kota Pahlawan ini.

"Kita kan sama-sama orang Jawa Timur. Karakter orang Surabaya kan hampir sama dengan Malang," tutur pria kelahiran Malang 10 Oktober 19868 ini.

Menurut dia, seperti warga Surabaya umumnya, karakter umat Katolik di Surabaya dan sekitarnya dinamis, terbuka, blak-blakan. Kepekaan sosial umat juga cukup tinggi. Buktinya, Keuskupan Surabaya selalu terlibat dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan seperti bakti sosial serta kegiatan lintas agama. Pergaulan antartokoh agama di Jawa Timur pun sangat baik.

"Di Algonz, misalnya, selalu ada event penyembelihan hewan kurban saat Idul Adha. Hewannya disumbang oleh umat Katolik, sementara teman-teman muslim yang menyembelih dan membagikan kepada saudara-saudara kita yang berhak," paparnya.

Belum lagi acara sahur keliling bersama Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid yang berlangsung setiap tahun. Menurut Benny Susetyo, KWI sangat menghargai berbagai aksi sosial kemasyarakat yang dilakukan umat Katolik di Keuskupan Surabaya.

"Bagus lah. Aksi-aksi konkret seperti itu perlu dicontoh di tempat-tempat lain," kata lulusan Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana Malang tahun 1996 ini.

Karakter umat Surabaya yang blak-blakan dan kritis ini pernah meresahkan hierarki. Sebuah kritik terbuka dilontarkan sejumlah umat, umumnya pemikir dan aktivis, dalam bentuk Surat Domba. Ini fenomena tersendiri karena belum pernah ada di lingkungan Katolik. Pada tahbisan Uskup Surabaya Mgr Sutikno Wisaksono tahun lalu, 29 Juni 2007, Ketua KWI Mgr Martinus Dogma Situmorang OFMCap sempat menyindir Surat Domba tersebut.

"Kami senang dengan kegairahan umat di Surabaya. Tapi mudah-mudahan ke depan tidak ada lagi surat-surat seperti itu," ujar Mgr Situmorang. Ribuan umat yang memadati Stadion TNI AL di Bumimoro pun ger-geran.

Apakah pihak KWI tidak suka dengan keterbukaan ala arek Suroboyo?

"Hehehe.... Saya kira, ketua KWI hanya guyon saja. Toh, pihak hierarki nggak masalah. Karakter orang Jawa Timur memang begitu lah," ujar romo yang sejak mahasiswa terlibat di sejumlah kelompok diskusi lintas agama ini.

^^^^^^

Sebelum puncak perayaan Paskah, 22 Maret 2008, umat Katolik menjalani Aksi Puasa Pembangunan (APP) selama 40 hari. Tahun ini KWI mengajak umat Katolik di seluruh Indonesia untuk fokus pada lingkungan hidup. Ketika berkhotbah di Gereja Katedral Surabaya, 20-22 Maret, Romo Benny Susetyo juga banyak membahas persoalan lingkungan.

Kenapa? "Sekarang ini sampah, air, listrik... bukan saja isu nasional, tapi isu global. Kita ini hidup di satu bumi yang sama yang sedang mengalami global warming," jelas Benny Susetyo.

KWI, sebagai paguyuban para uskup di seluruh Indonesia, akhirnya sepakat mengangkat isu lingkungan menjelang Paskah 2008. Fokusnya ke pengelolaan sampah.

"Sampah ada di mana-mana. Sampah plastik menjadi ancaman terbesar umat manusia. Plastik dijadikan bungkus makanan, bungkus barang belanjaan, dan sebagainya. Padahal, plastik ini tidak bisa didaur ulang," papar Benny bak aktivis lingkungan saja.

Nah, para uskup kemudian sepakat untuk menggulirkan gerakan kelola sampah mulai dari keluarga, sekolah, kantor. Lakukan hal-hal kecil seperti memisahkan sampah organik dan anorganik. Sampah basah dan kering. Menanam pohon-pohon. "Gerakan ini tidak akan berhenti setelah Paskah," tegasnya.

"Apakah gerakan kelola sampah ini akan efektif mengingat umat Katolik di Keuskupan Surabaya sangat sedikit? Hanya sekitar 200 ribu orang?"

"Yah, semua gerakan itu kan selalu berawal dari hal-hal kecil. Kalau 200 ribu orang peduli lingkungan, mengelola sampah dengan baik, pengaruhnya tentu ada. Paling tidak bisa membawa habitus baru di masyarakat," tegas Benny Susetyo.

Namun, penulis 10 buku sosial-politik-keagamaan ini buru-buru menambahkan, pihak gereja juga sudah menyampaikan gerakan kelola sampah kepada tokoh-tokoh agama lain dan pemerintah. Dengan begitu, ini menjadi isu bersama yang lepas dari pertimbangan politik jangka pendek atau kepentingan pragmatis. "Jangan lupa, kerusakan lingkungan yang terjadi sekarang lebih disebabkan oleh budaya serakah," sebutnya.

Mengapa keserakahan terjadi? Mengapa perusahaan-perusahaan raksasa menggunduli hutan? Mengeksploitasi alam untuk pertambangan? Ini semua, kata Benny, hanya bisa distop oleh para penyelenggara negara yang punya moral dan hati nurani. "Selama masih ada korupsi, izin bisa dibeli, politik masih transaksional, maka kehidupan akan rusak. Dan itu merupakan dosa sosial yang sangat berat," katanya.



Ketika Reformasi Jadi Repotnasi'

SEBELUM Presiden Soeharto lengser pada 21 Mei 1998, Benny Susetyo sangat sibuk berdiskusi, bikin aksi, menulis artikel, serta menggembleng para aktivis muda di berbagai tempat di Jawa Timur. Posisinya sebagai pastor pembantu di Paroki Situbondo merupakan 'nilai tambah' tersendiri.


Benny diundang ke mana-mana. Dia makin akrab dengan para tokoh lintas agama, khususnya aktivis muslim dan pemuka Islam. Ketua Pengurus Besar Nahdaltul Ulama (PBNU) KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pun menjadi 'teman dekat' Romo Benny. Begitu juga KH Hasyim Muzadi, KH Ali Maschan Moesa, KH Said Aqil Siradj hingga Ulil Abshar-Abdalla.

Dulu, sebelum reformasi 1998, Gus Dur selalu mengajak Benny Susetyo untuk diskusi atau ceramah di pesantren atau komunitas Islam. Sebaliknya, Gus Dur pun mampir, makan siang atau makan malam, di Pastoran Situbondo. Setiap Lebaran Benny Susetyo bersama sejumlah rohaniawan Katolik, Protestan, serta Konghuchu bersilaturahmi ke rumah-rumah para tokoh Islam.

Pada akhir 1990-an, Konferensi Waligereja (KWI) mengembangkan gerakan 'membangunan persaudaraan sejati' di Indonesia. Forum persaudaraan sejati dan sejenisnya pun tumbuh di mana-mana. Lantas, setelah Pak Harto lengser, para aktivis civil society ini terserap masuk ke ranah politik. Partai-partai baru muncul. Mereka-mereka yang sebelumnya hanya di luar, kini mulai merambah masuk ke pusat kekuasaan.

Gus Dur bahkan terpilih sebagai presiden keempat, 2001. KH Hasyim Muzadi ikut maju sebagai calon wakil presiden pendamping Megawati Soekarnoputri, 2004, tapi kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono. Sebentar lagi KH Ali Maschan Moesa, tokoh lintas agama yang juga ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, maju dalam pemilihan gubernur. Aktivis-aktivis mahasiswa sudah banyak yang menjadi politisi.

Bagaimana pendapat Benny Susetyo?

"Yah, itu kan pilihan kawan-kawan karena situasi menuntut demikian. Tapi hubungan kami tetap baik meskipun tidak sering berkumpul seperti dulu," ujarnya.

Yang jelas, Benny mengaku kecewa dengan gerakan reformasi yang sudah berlangsung 10 tahun ini. Reformasi bukannya membawa kebaikan, tapi justru menimbulkan persoalan baru yang tak kalah kompleks. "Sekarang kan bukan reformasi, tapi repotnasi. Sejak awal reformasi hanya untuk menjatuhkan Pak Harto. Orang-orang Orba (Orde Baru, red) membajak reformasi dan berkuasa sampai hari ini," ujar Benny Susetyo dengan nada tinggi.

Para politisi sekarang, yang nota bene tadinya aktivis-aktivis prodemokrasi dan civil society, dilihat Benny Susetyo tak lebih sebagai penikmat posisi. Politik jual-beli alias traksaksional jadi panglima. Partai-partai politik tidak melakukan pendidikan politik. "Hasilnya, ya, pemimpin yang transaksional. Karena punya uang, dia beli sampan lewat partai untuk maju di pilkada," ujarnya.

Benny Susetyo juga prihatin dengan partai-partai kita yang sama sekali tidak punya ideologi. Idealisme perjuangan untuk rakyat tidak ada. "Ironis, partai tidak membina kader sehingga punya akar. Ideologinya, ya, hanya uang."

Lalu, apa solusinya?

"Carilah pemimpin yang tidak punya uang, tapi punya keutamaan. Pemimpin harus punya wawasan kebudayaan. Pemimpin yang mampu memberi harapan untuk keluar dari feodalisme ke sistem yang egaliter," urainya.

Apakah ada pemimpin macam itu?

"Jelas ada lah. Orang Indonesia kan ratusan juta," katanya diplomatis.

Benny Susetyo enggan menyebut nama, namun rohaniwan muda ini mengagumi almarhum Sri Sultan Hamengkubuwono IX. "Beliau memberikan harta miliknya untuk RI tanpa mau jasanya dicatat. Takhtanya benar-benar untuk rakyat," ujarnya memuji mantan wakil presiden RI serta raja Kraton Jogjakarta itu.

^^^^^

Di sela-sela kesibukannya sebagai pastor, Romo Benny Susetyo selalu menyempatkan waktu untuk menulis. Kebiasaan ini, menurut dia, sudah berlangsung sejak masih mahasiswa menjadi mahasiswa STFT Widya Sasana di Malang. Tiap hari, kalau ada ide, Benny menulis apa saja. Merespons isu-isu yang berkembang saat itu.

''Menulis itu kan pergumulan. Selama kita masih bergumul dengan berbagai masalah, ya, selalu akan ada tulisan-tulisan saya yang lahir,'' tuturnya.

Usai ditahbiskan sebagai pastor pada 1996, Romo Benny ditempatkan di Paroki Situbondo. Sepekan sebelumnya, terjadi kerusuhan hebat di kota santri di kawasan tapal kuda ini. Sedikitnya selusin gereja dibakar habis, termasuk Gereja Katolik Situbondo.

Benny yang baru beberapa hari menjadi pastor diamanatkan oleh Uskup Malang Mgr HJS Pandoyoputro OCarm untuk 'membangun persaudaraan sejati' dengan para tokoh dan kaum muslim di Situbondo dan Bondowoso.

Sejak itulah pergumulan Benny kian mendalam. Dia punya banyak pengalaman baru bertemu dengan para kiai, berkunjung ke pesantren, hingga menggelar sejumlah acara bersama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Saat itu Gus Dur tokoh masyarakat sipil, pelopor dialog antariman, yang sulit dicari tandingannya. Pelan-pelan nama imam muda asal Malang ini karena sering diundang bicara tentang kerusuhan Situbondo serta menyikapi persoalan sosial-politik menjelang akhir rezim Orde Baru.

Nah, pengalaman-pengalaman lapangan ini kemudian dijadikan bahan tulisan oleh Benny Susetyo. ''Saya diimbau oleh Romo Mangunwijaya agar membuat tulisan tentang apa yang saya alami di Situbondo,'' kenangnya.

Almarhum Romo YB Mangunwiajaya--budayawan, sastrawan, arsitek, aktivis sosialùtermasuk salah satu tokoh idola Benny. Jangan heran, hampir di semua artikelnya, Benny sadar atau tidak mengutip pandangan-pandangan Mangunwijaya.

Benny pun menjadi penulis artikel yang sangat produktif. Lalu, sejumlah rekan-rekannya, yang nota bene aktivis mahasiswa dan mantan aktivis mahasiswa Islam, meminta agar artikel-artikel tersebut dibukukan. Benny oke-oke saja. Dan 'Orde Para Bandit' menjadi buku pertama Benny Susetyo.

''Kalau nggak salah, terbit tahun 2001. Teman-teman seperti Syaiful Arif yang minta agar artikel-artikel saya dibukukan,'' kenangnya. Syaiful bekas aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang belakangan menekuni penerbitan buku-buku tentang sosial, politik, agama, budaya.

Sementara itu, tulisan-tulisan Benny semakin lancar mengalir ke mana-mana. ''Itu yang dimuat. Yang nggak dimuat juga tidak sedikit. Hehehe,'' ujar pria yang suka blak-blakan ini.

Singkat cerita, sampai Maret 2008 ini Benny sudah merilis 10 buku yang diterbitkan sejumlah penerbit, termasuk Penerbit Kompas. ''Saya malah sudah tidak ingat persis judulnya apa saja,'' paparnya.

Beberapa buku karya Benny Susetyo, yang sejatinya kumpulan artikel, antara lain berjudul Politik Penguasa terhadap Agama, Hancurnya Etika Politik, Politik Pendidikan Penguasa, Peranan Kaum Awam dalam Pembangunan Ekonomi, Kasih Pembebasan, Vox Populi Vox Dei, Tragedi Situbondo. Sudah dapat banyak royalti dong?

"Royalti opo? Kalaupun ada yang dapat ya teman-teman yang menerbitkan. Dananya untuk gerakan, pemberdayaan, membangun jaringan, dan sebagainya. Aku sendiri malah nggak ngurus royalti."

Ihwal tulisan-tulisannya yang to the point, blak-blakan, Benny mengatakan, hal itu tidak bisa dielakkan dalam kondisi politik yang karut-marut sejak 'reformasi' 1998. Reformasi dikasih tanda petik oleh Benny karena, menurut dia, reformasi yang digembor-gemborkan itu sesungguhnya hanya kulit belaka. Ini menuntut penulis untuk berpihak.

"Berpihak pada siapa? Tentunya kepada rakyat banyak yang menjadi korban seperti kasus lumpur Lapindo. Ini karya misi profetis, misi kenabian, untuk berada bersama rakyat," tegasnya.

Realitas yang semakin telanjang, papar Benny, di mana korupsi berlangsung terbuka, politik uang, perusakan lingkungan, dan sebagainya, menuntut kolumnis atau penulis mana pun untuk bicara apa adanya. Harus dengan bahasa terang.

"Sehingga, pesannya tidak ditafsirkan macam-macam dan arah keberpihakan jelas. Itulah jurnalisme profetis," tegas romo yang kerap tampil dalam diskusi di sejumlah stasiun televisi itu.

Lantas, buku apa lagi yang bakal terbit?

"Hehehe... Itu urusan teman-teman. Saya sendiri malah nggak banyak ngurus," pungkasnya.


BIODATA SINGKAT

Nama : Antonius Benny Susetyo Pr.
Lahir : Malang, 10 Oktober 1968.
Pendidikan: Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana Malang.
Pekerjaan : Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan (HAK) Konferensi Waligereja Indonesia.
E-mail: benny1@indo.net.id

AKTIVITAS SEKARANG

Setara Institute Jakarta .
Forum Kajian Demokrasi dan Hak Asasi Manusia.
Forum Komunikasi Antarumat Beragama
Forum Kerja Kemanusiaan.
Visi Anak Bangsa.
Kolumnis sejumlah media nasional.

AKTIVITAS SEBELUMNYA

Pembina kaum muda Katolik di Keuskupan Malang.
Pastor pembantu di Situbondo.
Pembina frater-frater praja di Malang.
Penggiat dialog antaragama di Malang.
Mengisi pekan suci, pelatihan, dialog, seminar, di Surabaya.

Traffic report Radio Suara Surabaya



Iman Dwihartanto, penyiar Radio SSFM, sedang memandu traffic report.

Naskah : Ratno Dwi Santo
Foto : Abdullah Munir
Editor : Lambertus L. Hurek
Sumber : Radar Surabaya, 18 Maret 2008

Suatu ketika seorang pemilik mobil BMW menelepon ke Radio Suara Surabaya FM 100. Mobilnya dibawa kabur oleh dua montir bengkel. Dengan segera penyiar SS mengimbau para pendengar untuk menginformasikan kalau melihat BMW dengan ciri-ciri yang disebut si empunya.

Tak berapa lama kemudian, ada informasi penemuan mayat. Setelah diceritakan ciri-cirinya, korban ternyata mirip salah satu montir itu. Seorang pendengar perempuan ikut nimbrung. "Saya lihat BMW kuning melaju ke arah Jombang," lapor si pendengar lewat Radio SS.

Tak lama kemudian, polisi di Jombang berhasil menangkap pengemudi BMW itu. Dan, benar saja, korban tewas itu tak lain montir mobil yang dibunuh oleh temannya sendiri. "Yah, para pendengar merupakan bagian dari program traffic report Radio SS," kata Yoyong Burhanudin, general manager on air Radio SS.

Traffic report! Program interaktif radio yang bermarkas di kawasan Jl Wonokitri Besar 40 ini sudah menjadi bagian dari denyut kehidupan warga yang mobilitasnya tinggi. Saat jalanan macet, traffic report SS menjadi pemandu untuk menemukan jalur alternatif. Bisa juga untuk hiburan atau sekadar katarsis dari kemacetan lalulintas di Surabaya.

Menurut Yoyong, program ini memang dirancang untuk memenuhi kebutuhan masyakarat Surabaya, Jawa Timur umumnya, yang punya mobilitas tinggi. Traffic report dalam perkembangannya menjadi embrio lahirnya jurnalisme radio. Tak melulu soal kemacetan, pola interaksi pendengar dan penyiar ini berkali-kali mampu mengungkap sejumlah tindak kriminalitas.

Yoyong Burhanudin menceritakan pengalaman lain. Suatu ketika ada seseorang yang mengaku akan melakukan transaksi mobil di sebuah hotel. Berdalih menguji mesin, orang itu membawa mobil keluar hotel. Si pemilik mobil akhirnya sadar bahwa dirinya sedang ditipu. Soalnya, si calon pembeli itu tak kunjung pulang.

"Lalu, dia telepon ke Suara Surabaya. Kami menindaklanjuti agar pendengar yang mengetahui keberadaan mobil itu memberikan informasi," tutur Yoyong. Tak berselang lama, ada penelepon mengabarkan telah melihat mobil dengan ciri-ciri tersebut di depan sebuah showroom. Aha, ternyata mobil itu hendak dijual.

"Ada salah satu rekan pemilik showroom yang kebetulan mendengarkan traffic report ini. Lantas, dia mengubungi temannya itu dan menceritakan kalau mobil yang akan ditawarkan itu curian," papar Yoyong. Dia diminta agar proses transasi diulur sampai polisi datang. Bisa ditebak, pelaku ditangkap dan mobil bisa diselamatkan.

Sejatinya, traffic report adalah jurnalisme warga (civic journalism). Masyarakat berperan sebagai reporter yang melaporkan apa saja di sekelilingnya. Mulai kemacetan lalu lintas, kriminalitas, jalan rusak, air PDAM macet, listrik padam, pungutan liar, dan sebagainya. Nah, dari sekian banyak pendengar ada sejumlah nama yang sangat populer saking seringnya bicara di radio.

Ir Sri Utami, misalnya. Direktur Pemasaran PT Kelola Mina Laut ini rajin menginformasikan kondisi lalulintas kepada Radio SS. Ketika meninggalkan kantornya di kawasan Gresik menuju rumahnya di Sidoarjo, Utami selalu menyimak SS. Di tengah jalan tiba-tiba ada informasi kecelakan di ruas Tol Dupak.

Tanpa pikir panjang, Utami keluar dari jalan tol melalui pintu Tol Perak. "Saya nggak bisa membayangkan kalau nggak ada info dari radio. Pasti terjebak macet dan larut malam tiba di rumah," kata Utami.

Nama Dr Ir Iwan Kusmarwanto pun cukup beken di kalangan pendengar SS. Mantan dosen Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) Surabaya ini bahkan selalu nimbrung di sejumlah diskusi udara. "Pak Iwan itu serba bisa. Apa saja dibahas, mulai pendidikan, PDAM, PLN, jalan rusak, luar negeri, UKM, hingga musik tempo doeloe," ujar Benny, pendengar SS di Sidoarjo.

Iwan mengaku sebagai orang lama di dunia radio. Sejak mahasiswa dia selalu berkomunikasi dengan teman-temannya lewat radio amatir. Karena sering diskusi, membahas apa saja, dia pun bisa dengan mudah merespons materi-materi di SS. "Apa yang saya bicarakan itu biasanya terkait dengan kebutuhan masyarakat seperti PDAM dan listrik," ujarnya.

Rudi Santoso, direktur utama sebuah perusahaan jasa kontruksi, mengatakan, mendengarkan radio, khususnya SS, telah menjadi bagian dari hidupnya. "Setiap kali saya ke Malang, saya perlu informasi kemacetan di Porong. Jadi, saya bisa menata time schedule," kata Rudi.

Selain Utami, Iwan, dan Rudi, masih ada segudang nama lain yang aktif berpartisipasi sebagai 'reporter prodeo' di sejumlah radio di Surabaya. Mereka rela menghabiskan pulsa jutaan rupiah untuk berbagi informasi. "Traffic report telah melahirkan komunitas pendengar yang setia," kata Yoyong Burhanudin.



Apakah setiap informasi yang masuk ke newsroom bisa langsung diudarakan? Tunggu dulu. Radio Suara Surabaya punya mekanisme verifikasi yang dilakukan lebih dari dua orang. Para penerima informasi via telepon itu lazim disebut gate keeper.

"Ada empat gate keeper yang bertugas selama enam jam. Jadi, ada empat shift," jelas Iman Dwihartanto, announcer Radio Suara Surabaya.

Sih Wismanti, penyiar sekaligus gate keeper, menambahkan, seleksi informasi sangat dibutuhkan karena SS punya tanggung jawab moral. Jika si pemberi informasi tak mau membuka jati dirinya, dia dilarang on air.

"Jangan sampai radio hanya dijadikan tempat buang hajat," timpal Ema Rahmawati, gate keeper SS.

Wismanti mengaku punya pengalaman tak enak. Tak jarang ada penelepon iseng. "Ada biang ada tabrakan," kata Wismanti.

Informasi ini tentu memiliki bobot informasi yang bagus. Tapi, setelah didesak tabrakan apa, penelepon itu mengatakan, tikus ditabrak sepeda motor. "Untung belum mengudara," tutur penyiar yang pandai menyanyi ini.

Ema Rahmawati lain lagi. Sebagai gate keeper, dia sudah tak asing lagi dengan omelan penelepon. Suatu ketika Ema menerima telepon dari seorang laki-laki. Tiba-tiba pendengar itu mengomel kenapa SS tak menyiarkan kemacetan yang sedang dialaminya.

"Saya tanya, Bapak di mana sekarang? Setelah dijawab, saya langsung balik mengatakan bahwa kemacetan itu sudah disiarkan sejam yang lalu," kata Ema. Mendengar penjelasan Ema, si laki-laki itu buru-buru minta maaf karena dia memang baru tune-in.

Tapi ada juga cerita suka awak SS. Iman Dwihartanto suatu ketika makan di sebuah rumah makan. Tiba-tiba ada orang yang duduk di belakangnya memerhatikannya. "Mas Iman SS, ya?" sapa orang tersebut.

Iman begitu senang meski tak pernah berjumpa dengan orang itu. Tak berhenti di situ. Ketika Iman hendak membayar makanan, tiba-tiba kasir bilang sudah dibayar oleh seseorang. "Waduh, yang mana ya? Orangnya sudah gak ada. Tapi, yang pasti, saya senang karena banyak teman," kata pemilik nama lengkap Meinara Iman Dwihartanto ini.

Ketika berobat ke sebuah rumah sakit swasta, Iman kembali beroleh rezeki. Si kasir menolak ketika manajer pemberitaaan SS ini hendak membayar biaya pengobatannya.


Sih Wismanti, penyiar Radio Suara Surabaya FM 100 punya pengalaman menarik ketika memandu program Kelana Kota pada 23 Juli 2007. Berkat panduan Wismanti dari studio SS, upaya pencurian mobil Kijang Innova akhirnya digagalkan.

Informasi bermula dari telepon Kapolsek Tegalsari AKP Bambang Probo yang diterima Emma Rahmawati, gate keeper SS. Bambang menginformasikan bahwa di Polsek Tegalsari, Wijaya, warga Graha Famili CC-26 Surabaya, telah melaporkan kehilangan mobil Kijang Innova hijau muda nopol L 2536 RB. Pelakunya tak lain sopir sendiri.

Pukul 12.46 WIB, Bambang Probo mengudara dan menyampaikan bahwa dia telah berkoordinasi dengan jajaran lalulintas Polwiltabes Surabaya dan Polres Sidoarjo. Demikian juga dengan petugas jalan tol sebagai antisipasi mobil dilarikan ke arah Malang. Bambang juga meminta bantuan warga yang melihatnya untuk memberikan informasi, kalau bisa mencegatnya.

Enam menit kemudian, Eddy, warga Siwalankerto Selatan, nimbrung di SS. Dia mengaku melihat mobil tersebut melintas di depan Siola ke arah timur. Kemudian, pukul 12.59 WIB, ada warga lain melihat Kijang L 2536 RB putar balik di patung Kerapan Sapi, Jl Urip Sumoharjo, menuju Jl Basuki Rachmat. Tapi tak berselang lama, Aris, warga lainnya, mengaku melihat mobil serupa di Undaan melaju ke arah Pasar Atom.

Sekitar pukul 12.00 WIB, seorang pendengar bernama Benny melaporkan Kijang biru metalik dengan sopir berkemeja putih dan celana cokelat berada di Showroom Santoso, Jl Ngemplak 28. Showroom ini milik Jimmy. Berdasar informasi ini, petugas Garnisun berhasil menangkap pelaku karena kebetulan lokasi showroom dekat dengan Garnisun. Lalu, petugas serse Polwiltabes bersama Polsek Tegalsari menyusul ke lokasi. Selanjutnya, pelaku diproses di Polsek Tegalsari.

"Saya sengaja mengolor waktu. Saya lihat pelaku berkeringat karena surat-suratnya ada kejanggalan," terang Jimmy, bos Showroom Santoso. Jimmy sebelumnya telah mengetahui kalau mobil yang ditawarkan seharga Rp 180 juta itu curian. Ini berkat informasi rekan-rekannya yang menyimak siaran Radio SS.

Anda pendengar Radio Suara Surabaya? Bisa dipastikan Anda tak asing dengan nama Soemarwito [foto]. Pria 55 tahun ini termasuk salah satu dari sekian pendengar yang sangat aktif melaporkan kondisi lalulintas ke radio FM 100 ini.

Tak hanya di SS, bapak enam anak ini juga aktif ber-traffic report di Radio Mercury dan Radio Sonora. Setiap menemukan hal-hal yang dirasa patut diketahui orang banyak, dia selalu menyampaikannya ke radio-radio tersebut. Itu dilakukan hampir setiap hari. "Saya juga aktif di dialog yang digelar Radio SS," kata Soemarwito.

Hidup Soemarwito memang tak bisa dipisahkan dari radio. Jauh sebelum ada program traffic report, Soemarwito mengaku suka kirim salam untuk teman-temannya lewat 'Pilihan Pendengar'. Acara ini sangat populer di radio-radio AM pada 1980-an. "Dulu saya biasa beli kupon, menuliskan pesan, lalu penyiar membacakan pesan itu," beber Soemarwito.

Perkembangan zaman membuat orang seperti Soemawito tak perlu lagi susah-susah membeli kupon. Cukup mengangkat telepon seluler (ponsel) atau telepon rumah, suaranya sudah muncul di radio. "Saya memberi kritik sosial, menyoroti pelayanan publik, hingga masalah lalu lintas."

Tentu saja, apa yang dilakukan Soemarwito menuntut pengorbanan. Setidaknya biaya pulsa, apalagi ketika ponsel CDMA belum musim. "Kalau masih pakai GSM pengeluaran pulsa bisa Rp 1 juta sebulan. Sekarang kan sudah pakai CDMA, jadi jauh lebih hemat," kata Soemarwito.

Bagi warga Perumahan Sidokare, Sidoarjo, ini biaya pulsa yang dikeluarkan tak seberapa bila dibandingkan dengan kepuasan batinnya. Belum lagi sejumlah keuntungan tak sengaja gara-gara namanya kian populer di radio. Misalnya, saat mengurus KTP atau surat-surat lain, Soemarwito mengaku tak pernah mengalami hambatan. Salah satu operator GSM juga sering memberinya voucher gratis.

Suatu ketika, Soemarwito secara tak sengaja menerabas lampu merah. Pria yang ramah ini pun diproses polisi. Eh, begitu mengetahui si pelanggar lalulintas itu Soemarwito, raja traffic report ini pun dipersilakan jalan terus. "Tapi alasan saya masuk akal kok. Saya kan nggak sengaja melabrak lampu merah."

Ceritanya, Soemarwito tak konsentrasi mengemudi gara-gara melirik gadis-gadis SPG (sales promotion girl) di dekat lampu merah. "Saya sampai bengong dengan cewek-cewek muda itu. Saya nggak sadar ada lampu merah," katanya lalu tertawa kecil.

Pernah suatu ketika Soemarwito mengkritik kondisi jalan di wilayah Kabupaten Sidoarjo yang rusak parah. Mungkin waktu itu ada pejabat Pemkab Sidoarjo yang mendengarkan, "Sore hari ketika saya lewat jalan itu tengah diperbaiki," jelasnya.

Menelepon ke stasiun radio populer sebetulnya tidak gampang. Begitu banyak pendengar yang kecewa karena tidak sempat tersambung. Bagaimana Soemarwito bisa masuk dengan mulus?

"Hehehe... Saya sudah tahu punya sendiri. Kalau pakai CDMA, sekitar dua menit sebelumnya sudah pencet dial, karena laju tersambungnya CDMA relatif lebih lama dibanding GSM. Lain lagi kalau pakai GSM. Ketika kita dengar yang lagi mengudara mau selesai, langsung kita pencet. Pasti tersambung deh," beber Soemarwito.

Yang menarik, kebiasaan Soemarwito mengudara di radio sebenarnya tidak mendapat restu sang istri. Sebab, menurut Bu Soemarwito, radio hanya dijadikan ajang untuk rasan-rasan saja. Bukan Soemarwito kalau tak pandai berkelit. "Saya bilang sama istri saya, kalau begitu kenapa kamu ikut mendengarkan?" katanya lalu tertawa.

19 March 2008

Paduan suara remaja jelang Paskah '08



Gereja Hati Kudus Yesus alias Katedral Surabaya di Jalan Polisi Istimewa. Gereja ini termasuk salah satu bangunan cagar budaya yang dilindungi undang-undang.

Menjelang pekan suci ini [Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Paskah], beta mampir ke Katedral Surabaya [foto gereja]. Ini beta punya kebiasaan rutin untuk memantau dinamika umat Katolik di Surabaya. Terop-terop sudah disiapkan. Kursi-kursi tambahan menumpuk. Biasalah, misa pekan suci selalu melimpah ruah umat.

Mereka-mereka yang biasanya malas misa hari biasa, menjadi rajin ke gereja. Ikut tuguran sepanjang malam. Bukan main! "Umat Katolik di Surabaya ini memang banyak yang kayak kapal selam. Menyelam terus, lalu baru muncul pada saat Natal dan Paskah," kata Uskup Surabaya Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono di berbagai kesempatan.

Kami di Flores biasa bilang "Katolik Napas": Natal Paskah! Umat "kapal selam", "napas", memang ada di mana-mana. Tapi lebih baik begitu daripada tidak pernah ke gereja sama sekali to? Hehehe...

Beta sempat ngobrol dengan beberapa satpam Katedral: Pak Ketut, Pak Nur, Pak Markus, juga Ferdi yang kerja di Biara Soverdi. Lamat-lamat beta dengar suara indah dari balkon Katedral: Haec Dies, lagu ciptaan Pater Padmaseputra yang biasa dinyanyikan pada malam Paskah. Beta hafal lagu ini, versi Latin dan Indonesia, berikut aransemen paduan suaranya.

Bagaimana tidak hafal? Tahun 1990-an beta selalu melatih paduan suara anak-anak muda Katolik di Jember. Haec Dies lagu yang enak, gampang, tapi berbobot. Bagian kanon [sahut-sahutan] "Ale...lu...ia" dengan nada-nada melismatis sangat menarik. Di mana-mana di lingkungan Katolik di Jawa lagu ini termasuk hit.

Beta kemudian naik ke balkon. Aha, Cak Yulius Kristanto sedang melatih remaja sekolah menengah pertama [SMP]. Latihan serius, tapi gayeng. Beta lihat mereka sangat menikmati paduan suara gerejawi. Apalagi, pelatihnya, Yulius, punya reputasi hebat di Keuskupan Surabaya. Ia bekas aktivis paduan suara mahasiswa Universitas Airlangga. Ikut sekolah musik. Pendidikan dirigen. Menekuni musik liturgi. Yulius pun dipercaya menjadi dirigen utama saat tahbisan Uskup Surabaya Mgr. Sutikno tahun 2007 lalu.

Beta kasih tanda dengan bahasa tubuh ke Yulius. Ia tersenyum. Latihan jalan terus. Anak-anak remaja ini jelas jauh lebih hebat ketimbang beta dan remaja-remaja Flores tempo doeloe. Mereka punya pelatih bagus. Organis kelas nasional. Katedral Surabaya yang punya sejarah panjang.

Beda dengan paduan suara di kampung-kampung Flores yang tak punya piano, organ, dan alat-alat musik moderen. Kalaupun kita bisa beli instrumen, listriknya dari mana? Maka, pelatih-pelatih kor di Flores hanya mengandalkan garputala. Untuk membuat gambaran irama, tempo, pelatih kampung harus mengetuk pakai tongkat atau tepuk tangan.

Harus kasih contoh dengan suara sepanjang latihan dua jam. Kenapa? Orang Indonesia rata-rata tidak pandai membaca not angka. Not balok dijamin macet cet-cet! Bisa dibayangkan seraknya suara pelatih atawa dirigen. Tapi begitulah suka duka membina paduan suara di kampung pelosok yang belum maju.

Tidak lama beta menyaksikan Yulius melatih anak-anak SMP. Tapi beta masih bisa merasakan betapa majunya kor mereka. Partitur-partitur sulit sudah dilahap anak-anak dengan fasih. "Thanks to the Lord!" judul salah satu komposisi yang akan dibawakan anak-anak ini pada malam Paskah.

Yah, terima kasih Tuhan! Musik dan lagu-lagu indah masih mendapat tempat di tengah-tengah kesibukan dan kebisingan Kota Surabaya. Anak-anak ini harus tumbuh lebih baik, lebih bermutu, lebih hebat... daripada generasi orang kampung beta lah! Semua fasilitas ada. Uang, gedung, dukungan orang tua, pemusik hebat, pelatih jempolan.

Selamat merefleksikan Pekan Suci! Selamat Paskah!

17 March 2008

Caryn R McClelland konsul Amerika Serikat





Banyak hal yang menarik dari Surabaya. Itulah yang dirasakan Konsulat Jenderal AS Caryn R McClelland yang baru tujuh bulan bertugas di Kota Pahlawan ini. Berikut penuturan dia kepada Heti Palestina Yunani dari Radar Surabaya:


Bagaimana tugas Anda selama tujuh bulan ini?

Semua berjalan baik. Bahkan makin hari, tugas saya makin menarik.

Apa yang membuat Anda betah bertugas di Surabaya?

Pertama, Surabaya tak sepanas yang dikatakan orang-orang ketika mendengar saya akan ditugaskan di Surabaya. Kedua, sejak pertama kali datang, setiap orang yang saya temui selalu tersenyum. Sambutannya mereka baik. Mudah diajak bicara dan bekerjasama. Ketiga, tugas saya menuntut saya juga traveling ke mana-mana yang itu memang hobi saya. Minggu lalu, saya dari Probolinggo, Maumera dan Kupang.

Ya, saya lihat Anda bisa berhubungan dengan berbagai pihak sejak datang. Mulai anak-anak, para aktivis perempuan hingga tampil di pentas ludruk. Bisa dijelaskan?

Oh.. itu. Selain menjadi tugas saya terkait program konsulat, secara pribadi saya memang tertarik dengan masalah anak-anak dan perempuan. Kebetulan di bulan pertama tugas, sudah masuk bulan Ramadan. Konsulat sengaja ingin menghormati bulan itu dengan merayakan bersama anak-anak di Sanggar Alang-Alang dan Lapindo. Masalah anak-anak menjadi bagian agenda konsulat terkait dengan program pendidikan.

Sementara masalah perempuan saya kira menjadi perhatian semua yang menghormati masalah HAM. Kebetulan saya juga perempuan. Turun ke jalan sebagai bukti jika saya juga bisa bersama-sama berseru tentang semua upaya yang mendorong penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Dan tentang main ludruk itu, agak panjang untuk diceritakan. Haruskah?

Saya kira semua ingin tahu kenapa Anda tertarik bermain ludruk yang merupakan kesenian tradisional yang dikenal di Surabaya. Orang Surabaya belum tentu bisa memainkannya tapi Anda justru berani menjadi bagian pementasan itu?

Terus terang, saya mengiyakan permintaan Wakil Wali Kota Arif Afandi tanpa tahu apa itu ludruk. Justru ketika saya tahu jika ludruk itu sangat melegenda di masyarakat Surabaya, saya sangat terkejut. Lebih-lebih ketika berhadapan dengan publik di pentas.

Ada perasaan takut. Tapi saya bisa mengatasinya. Apalagi melihat penonton antusias dan tertawa di bagian-bagian tertentu yang saya tak tahu mana yang lucu. Tapi saya menikmatinya. Itu pengalaman menarik. Sebab, terakhir kali saya memainkan jenis drama itu ketika berusia 10 tahun.

Bicara soal kebudayaan, apa yang diprogramkan konsulat AS?

Ada dua hal, yaitu pendidikan dan kebudayaan. Dalam lima tahun terakhir, perkembangan di bidang kebudayaan terus didorong. Pertama, lewat pendirian American Corner yang di seluruh Indonesia, ada di 11 lokasi. Dua ada di Jatim, yaitu di Universitas Muhammadiyah Malang dan Universitas Airlangga Surabaya.

Hal lainnya adalah dengan rutin menampilkan salah satu bentuk pementasan dari negeri kami sejak 2003. Bulan ini, pada tanggal 29 Maret, kami akan mementaskan grup musik Ozomatli, di Taman Surya. Kami juga tengah bekerja sama dengan panitia FSS (Festival Seni Surabaya) 2008 untuk mendatangkan satu delegasi untuk berpartisipasi di ajang tahunan itu.

Masih terkait dengan kebudayaan. Apakah Surabaya sudah cukup berbudaya sebagai kota besar?

Saya tak berhak menilai apakah Surabaya cukup berhasil di bidang itu. Tapi saya bisa menilai Surabaya secara umum. Bahwa kota ini sudah sangat peduli dengan kebutuhan masyarakatnya. Berbagai aspek bisa ditemui di kota ini mulai sarana dan prasarana fisik yang menunjang pertumbuhannya sebagai kota besar seperti jalan dan fasilitas umum lainnya.

Di bidang kebudayaan, pemerintah kota saya pikir sudah cukup peduli. Dari pementasan ludruk yang saya ikuti, saya bisa tahu jika kota ini masih sangat menghargai nilai-nilai kesenian tradisonalnya. Bahkan masih dinikmati oleh masyarakatnya yang sedang menuju modernisasi. Dari perhelatan FSS 2008 yang rutin digelar tiap tahun, Surabaya tentu bisa menjaga harmonisasi kotanya agar tak hanya berkembang di bidang fisiknya.

Melihat penjelasan Anda tentang Surabaya, sepertinya tujuh bulan cukup membuat Anda paham tentang kota ini. Seperti apakah Surabaya di mata Anda sebenarnya?

Sebelum bertugas, saya banyak mendapat cerita tentang Surabaya. Ketika datang pertama kali, itulah pertama kali saya ke Surabaya, tapi kedua kalinya saya ke Indonesia karena pernah berkunjung ke Bali. Tapi saya terkejut karena Surabaya tak seperti yang dibilang orang-orang. Surabaya adalah kota yang hijau. Saya terkesan dengan taman-tamannya.

Beberapa sudut Surabaya cukup cantik dibuatnya. Ibu saya yang berkunjung ke Surabaya beberapa waktu lalu juga mengakui jika Surabaya menjadi kota yang lebih hijau karena taman-taman itu. Itu soal fisik. Karakter masyarakatnya lebih membuat saya terkesan. Begitu perkenalan saya di minggu-minggu pertama, sambutannya sangat baik. Orang Surabaya yang sangat terbuka dan mudah diajak bergaul membuat saya langsung bisa bertugas di minggu pertama saya datang.

Apa saja yang Anda emban selama tiga tahun menjadi Konjen?

Tak banyak berbeda dengan program para konjen-konjen sebelumnya. Semua bidang kami tangani. Hingga di masa tugas saya yang berakhir 2010, salah satunya konsulat ingin lebih perhatian dengan masalah pendidikan. Dalam bidang ini, masalah anak-anak yang menjadi sasaran pembinaan pendidikan menjadi perhatian juga. Tentang bidang pendidikan ini, Indonesia cukup mendapat perhatian dari AS. Terbukti di antara beberapa negara Asia, alokasi bantuan untuk Indonesia adalah yang terbesar.

Dengan siapa saja konsulat bekerja sama melakukan programnya?

Prinsipnya semua pihak di luar konsulat adalah partner untuk melaksanakan program. Jadi semua pihak kami ajak bekerjasama sesuai bidang yang bisa dilakukan. Tidak saja pihak-pihak di Surabaya. Karena wilayah konsulat Surabaya tak hanya Jatim tapi Sulawesi, NTT, NTB, Maluku, dan Maluku Utara, maka saya juga harus membina hubungan yang baik dengan berbagai pihak di semua tempat itu. Mulai pemerintah setempat, perguruan tinggi, lembaga sosial dan NGO.

Apa strategi Anda untuk mendekati berbagai pihak tersebut?

Ada empat prinsip yang terangkum dalam 4D, yaitu democracy, development, diplomacy dan dialog. Yang terakhir inilah agaknya yang paling saya utamakan. Dialog sangat penting membangun kedekatan dengan orang lain. Dialog juga membuat kita lebih memahami orang lain. Kita tahu apa yang diinginkan orang lain pada kita dan begitu sebaliknya.

Karena itu, minggu-minggu pertama bertugas, saya banyak bertemu dengan berbagai pihak untuk menyatakan maksud kami dan mengetahui apa yang mereka harapkan dari kami. Setelah hubungan terbina pun, dialog itu juga masih terus kami lakukan. Dialog juga bisa dalam bentuk mengadakan kegiatan bersama-sama, tidak saja dalam tataran bertemu atau tatap muka membahas sesuatu. Dari situ hubungan baik mula terbuka.

Tentang hubungan baik, apakah ada yang patut dikhawatirkan tentang hubungan Indonesia dan AS?

Secara umum, tidak ada. Apa yang ditanamkan dan dibina oleh konjen-konjen sebelumnya cukup kuat. Saya hanya memperhankan apa yang sudah dilakukan. Dan semua tetap harus dirawat terus menerus dan itu menuntut pendekatan personal yang baik.

Apa upaya Anda untuk tetap menjaga hubungan baik?

Konsulat terus berupaya mengembangkan peluang untuk membuka ruang komunikasi dengan siapa saja. Itu akan mendekatkan kami dengan siapa saja dan menutup celah-celah yang bisa membuat keharmonisan hubungan itu terusik. Kepada siapa saja saya juga selalu mengandaikan bahwa Indonesia dan AS adalah dua negara yang memiliki kesamaan ketimbang perbedaan. Misalnya, tentang penegakan demokrasi yang prinsipnya sama-sama untuk mementingkan hak-hak rakyat.

Keberagaman yang dimiliki Indonesia dan AS juga sama karena kami dengan 50 negara bagian sementara Indonesia terdiri dari 33 provinsi. Dengan keberagaman itu, perbedaan adalah hal yang biasa yang harus dihormati dan dicarikan jalan tengahnya. Dengan melihat kesamaan itu, saya kira orang akan cenderung bisa saling mengerti.

Tentang demonstrasi yang selalu tak pernah dihindarkan oleh konsulat. Bagaimana Anda menanggapinya?

Saya kira itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Dalam sebuah negara demokrasi menyatakan pendapat adalah hal yang biasa. Caranya juga banyak.Tinggal bagaimana kita membuka ruang dialog setelah itu dan ada solusi yang membuat satu sama lain bisa menerima. Apalagi saya juga paham jika orang Surabaya punya karakter yang terbuka dalam mengungkapkan pendapatnya. Selama tidak menimbulkan hal-hal yang merugikan, konsulat menerima semua bentuk dialog termasuk demonstrasi. Itu hanyalah satu cara membangun dialog dan hubungan yang lebih baik.

Tampaknya Anda sangat menikmati tugas Anda. Kira-kira apakah ada yang membuat Anda berat?

Terus terang tidak ada. Bertugas di Surabaya justru termasuk yang saya harapkan setelah sebelumnya pernah di berbagai kota di dunia. Karena wilayah konsulat amat luas hingga Indonesia Timur kecuali Papua, saya justru makin menikmati tugas-tugas saya. Sebab dalam sebulan pasti ada kunjungan ke berbagai wilayah. Itu membuat saya senang karena bisa bertemu banyak orang. Saya sendiri pun bisa refreshing karena saya juga menyukai traveling selain membaca buku.

Apa yang menarik ketika Anda bertemu dengan banyak orang di berbagai tempat tersebut?

Seperti yang saya tekankan dalam strategi konsulat tentang dialog, bertemu dan berbincang-bincang tentang apa yang terjadi adalah hal yang menarik saya. Saya selalu meminta waktu khusus untuk melakukannya karena hanya dengan dialog langsunglah kita tahu isi kepala kita masing-masing.

Niat baik tak bisa hanya dalam tataran ide. Atau program tak hanya bagus di atas kertas. Tapi semua perlu diwujudkan dan dialog adalah pintu pertama untuk memahami keinginan satu sama lain. Baru dilanjutkan dengan langkah-langkah nyata untuk mewujudkannya. Baru itu dialog yang bermanfaat. Bukan hanya terbatas omong-omong tanpa melakukan sesuatu.


Nama : Caryn R McClelland
Lahir : New Brunswick (negara bagian New Jersey)
Orang Tua : Catherine (ibu)
Robert (ayah)
Warna Favorit: Ungu dan biru
Hobi :- traveling
- membaca
- teka-teki silang (crossword puzzle)
- outdoor activities
Bahasa yang dikuasai:
- Rusia
- Indonesia
Pendididikan:
- Bachelor of Arts untuk Sastra Inggris dari University of California at Los Angeles (UCLA)
- Master of Arts di bidang Hubungan Internasional dari San Fransisco State University
- Peraih gelar di bidang Strategi Keamanan Nasional dari National War College of the National Defense University

Karir :
- Departemen Luar Negeri AS sejak 1990
- Pejabat Bidang Kebijakan Perdagangan di Kuala Lumpur, Malaysia
- Pejabat di Bidang Politik-Ekonomi di Asghabat, Turkmenistan
- Pejabat Urusan Visa di Dublin, Irlandia
- Konselor Politik dan Ekonomi di Baku, Azerbaijan
- Penasehat Senior Kebijakan Caspian Energy Diplomacy Washington DC
- Regional Energy Officer Washington DC.

16 March 2008

Benteng Lohayong tonggak awal Katolik di Flores




Hari ini, Minggu 16 Maret 2008, adalah Minggu Palem. Kami di pelosok Flores menyebut Minggu Palma. Momen penting dalam Gereja Katolik sebagai awal memasuki pekan suci Paskah. Karena orang Flores itu hampir semuanya Katolik, perarakan Minggu Palma berlangsung besar-besaran.

Jalan kaki 1-2 kilometer, membawa daun palem, merenungkan dimulainya misteri Paskah: sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus. Meski sudah lama di Jawa, beta punya kenangan terhadap arak-arakan Minggu Palma ini tidak bisa hilang. Beta hafal di luar kepala lagu gregorian khas Palem:

Hosanna, Hosanna filio David.
Benedictus qui venit in nomine Domini.


Maklum, beta ini kan kadang-kadang dipercaya sebagai solis. Dulu beta punya suara cukup bagus lah. Ungkapan bahasa Latin itu tak lain seruan umat Israel tempo doeloe saat menyambut Kristus yang masuk ke Yerusalem dengan naik keledai muda. Pujian ini hanya di bibir thok. Sebab, beberapa hari kemudian orang-orang yang sama menghukum dan menyalibkan Kristus yang tadinya dielu-elukan sebagai Sang Raja.

Ah, kemunafikan selalu ada di mana-mana! Sepanjang masa.

Saya tidak mau melanjutkan cerita Minggu Palma yang sudah jadi pengetahuan umum ini. Nanti dikira berkhotbah. Emangnya aku romo? Hehehe... Biarlah tugas berkhotbah, ceramah, kita serahkan kepada pater-pater alias romo-romo yang memang punya kapasitas untuk itu. Beta sebagai umat biasa, yang rada malas, cukup mendengar dan syukur-syukur melaksanakan to?




Nah, mumpung sudah masuk pekan suci, sebentar lagi Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Paskah [di Larantuka ada tambahan Rabu Trewa], beta cerita sedikit tentang masuknya agama Katolik di Flores Timur, khususnya Solor dan Larantuka. Ini penting karena umat Katolik di sana boleh dikata paling tua di Indonesia. Kalau orang Jawa baru dipermandikan sebagai jemaat Katolik pada 14 Desember 1904 di Sendangsono, Kabupaten Kulonprogo, Jogjakarta, di Solor dan Larantuka bahkan sejak abad ke-16.

Artinya, orang Flores Timur lebih dulu 300 tahun ketimbang orang Jawa. Tapi bukan berarti orang perilaku orang Flores lebih baik. Bisa saja lebih brengsek karena keyakinan agama hanya di bibir atau KTP saja. Bukankah lebih banyak orang yang hanya memuji Tuhan dengan bibir dan bukan tindakan?

Merunut catatan sejarah, pedagang Portugis mulai tinggal di Solor, pulau kecil di depan Larantuka, kira-kira lima kilometer, sejak 1520. Mula-mula berdagang, cari rempah-rempah di kawasan timur. Mereka bikin rumah-rumah sederhana. Karena orang Portugis ini beragama Katolik, mereka berdoa ala Katolik di sana. Baru pada 1561 empat pater Ordo Dominikan dikirim dari Melaka ke Solor.

Empat pater itu menetap di Solor. Selain melayani pedagang-pedagang Portugis, para misionaris itu mewartakan Injil ke penduduk lokal. Kehadiran orang asing, agama baru, tidak diterima begitu saja. Terjadi sejumlah perlawanan berdarah-darah. Asal tahu saja, orang Flores pada abad-abad itu dikenal suka perang dan berburu. Lihat saja, tari perang sangat populer sampai sekarang, bukan?

Untuk melindungi diri dari serangan penduduk lokal, pada 1566 Pastor Antonio da Cruz membangun benteng di Lohayong, Kecamatan Solor Timur sekarang. Penyebaran agama Katolik di Kepulauan Solor [sekarang Kabupaten Flores Timur] sukses besar. Berdasar catatan Mark Schellekens dan Greg Wyncoll, penulis dan fotografer yang baru saja melakukan reportase di Solor, di dalam banteng itu dibangun asrama, gereja, dan fasilitas lain.

Bahkan, sebuah seminari dibikin di dalam Benteng Lohayong tersebut. Pada tahun 1600 sedikitnya ada 50 siswa [seminaris] yang belajar mempersiapkan diri sebagai rohaniwan Katolik. Beta bisa pastikan inilah seminari Katolik pertama di Indonesia. Ada gereja bernama Nossa Senhora da Piedade. Beberapa tahun kemudian dibangun Gereja São João Baptista. Singkat cerita, hingga 1599 misionaris perintis ini berhasil mendirikan 18 gereja di Solor dan sekitarnya.

Namun, kekuasaan Portugis tidak bertahan lama. Pada 27 Januari 1613 sebuah armada Belanda datang ke Solor. Kapten Manuel Alvares mengerahkan 30 orang Portugis serta seribu penduduk lokal untuk mempertahankan benteng di Lohayong. Portugis ternyata kalah setelah berperang tiga bulan. Pada 18 April 1613 benteng itu jatuh ke tangan Belanda. Kompeni-kompeni Londo ini mengganti nama benteng menjadi Benteng Henricus.

Solor tempo dulu rupanya sangat menggiurkan. Tidak macam Solor sekarang yang kering, terisolasi, kurang maju, dengan penduduk yang suka jualan jagung titi dan atanona (srikaya) di Larantuka. Tahun 1615 Belanda meninggalkan Lohayong [ibukota Solor], tapi datang lagi tiga tahun kemudian. Entah kenapa, Belanda melepaskan benteng pada 1629-30, dan segera diisi kembali oleh Portugis hingga 1646 ketika diusir lagi oleh Belanda.

Yah, Portugis ternyata selalu kalah dengan Belanda meski jumlah pasukannya lebih banyak. Portugis juga cenderung pengecut lah! Tentu saja, perang terus-menerus antara sesama penjajah ini membuat kekatolikan yang masih sangat muda tidak berkembang. Berantakan. Melihat suasana yang tidak kondusif--meminjam bahasanya polisi sekarang--pater-pater Dominikan memindahkan markasnya ke Larantuka.

Selanjutnya, Larantuka yang berada di pinggir laut itu menjadi pusat misi Katolik di Nusa Tenggara Timur, kemudian Timor Timur, bahkan Indonesia. Misi di Larantuka ternyata jauh lebih sukses. Ini karena ada traktat antara Belanda dan Portugis untuk membiarkan para pater Dominikan menyebarkan agama Katolik di seluruh Flores dan sekitarnya. Di dekat Larantuka juga dibikin seminari.

Yoseph Yapi Taum, peneliti dan dosen Universitas Sanata Dharma Jogjakarta, menulis:

"Tahun 1577 saja sudah ada sekitar 50.000 orang Katolik di Flores. Kemudian tahun 1641 terjadi migrasi besar-besaran penduduk Melayu Kristen ke Larantuka ketika Portugis ditaklukkan Belanda di Malaka.

Sejak itulah kebanyakan penduduk Flores mulai mengenal kristianitas, dimulai dari Pulau Solor dan Larantuka di Flores Timur kemudian menyebar ke seluruh daratan Flores dan Timor. Dengan demikian, berbeda dari penduduk di daerah-daerah lain di Indonesia, mayoritas masyarakat Pulau Flores memeluk agama Katolik."


Kota Larantuka juga berkembang sebagai kota pelabuhan yang penting. Karena penduduknya didominasi warga Melayu Katolik pelarian dari Malaka, maka bahasa sehari-hari alias lingua franca pun bahasa Melayu. Hanya saja, bahasa Melayu Larantuka ini sudah tercampur bahasa Lamaholot [bahasa asli di Flores Timur] serta istilah-istilah Portugis.

Orang Larantuka kemudian dikenal sebagai penjaga tradisi Katolik-Portugis sampai hari ini. Setiap Jumat Agung penduduk Larantuka mengadakan perarakan keliling kota sepanjang malam yang disebut Semana Santa. Padahal, konon, di Portugis sendiri tradisi abad ke-16 ini sudah tidak ada lagi. Apalagi, orang Portugis seperti orang Eropa umumnya, makin sekuler dan nyaris tidak berminat lagi pada agama.

Kembali ke Pulau Solor dengan benteng di Lohayong alias Fort Hendricus. Saat ini kondisinya sangat memprihatinkan. Jangankan dirawat sebagai cagar budaya, tonggak sejarah masuknya agama Katolik di Indonesia. Ditengok saja hampir tidak pernah. Ketika beta tinggal di Larantuka medio 1980-an, beta tak pernah melihat ada kunjungan wisata ke Lohayong. Orang-orang Larantuka [Nagi] malah sering melihat orang Solor dengan sebelah mata.

Orang-orang Solor sering diejek sebagai "orang Sopung" dengan begitu banyak cerita konyol. Mirip dengan orang Madura di Jawa Timur yang kerap diledek sebagai bahan guyonan. Celakanya, pemerintah daerah pun tidak sadar sejarah. Aset sejarah yang luar biasa ini tak pernah dipromosikan. Alih-alih dipromosikan, sekadar ditengok saja pun tak.

Karena itu, beta sangat gembira ketika membaca di internet ada tulisan/foto karya Mark Schellekens dan Greg Wyncoll. Dua orang ini jauh-jauh datang dari Eropa untuk meneliti semua peninggalan sejarah Portugis di Indonesia. Cerita dan foto tentang peninggalan Portugis di Solor seperti benteng atau meriam tua mendapat porsi paling besar.

Lha, kok kita, orang Flores Timur, justru mengabaikannya. Apa boleh buat, kita terpaksa mempelajari sejarah kampung halaman kita sendiri dengan merujuk pada sumber-sumber di Eropa. Mau bilang apa?

Triba, band Belanda konser di Surabaya



Oleh Ken, Jawa Pos, 16 Maret 2008

Gaung Java Jazz sampai juga di Surabaya. Triba Band, kelompok asal Belanda, menghibur pencinta jazz metropolis di Gedung Cak Durasim, kompleks Taman Budaya Jawa Timur, tadi malam. Mereka tampil ciamik, membawakan lebih dari 10 lagu.

Pekan lalu, kelompok tersebut tampil di Java Jazz, Jakarta. Kelompok itu beranggota Rick Van Hek (piano/synthesizer), Nancy van Hek-Koymans (lead vocal), Richard Pattiselanno (gitar), Mike Booth (terompet), Taco Gorter (drum), Cyrille Oswald (saxophone), dan Taco Niewenhuizen (bas). Namun, pada lawatan tadi malam, Taco absen. Posisinya digantikan Patrick Lauwerends.

Lantunan vokal Nancy yang berat mengalun apik dalam ruang dengar penonton yang memenuhi gedung tersebut. Iringan jazz yang easy listening mendominasi atmosfer gedung. Racikan aroma Latin, funk, dan ballad mewarnai lagu-lagu yang kebanyakan berlirik bahasa Inggris tersebut.

Dua lagu dibawakan dalam bahasa Spanyol dan Portugis. "Saya suka pada lafal lirik dua bahasa itu," ungkap Nancy sebelum tampil kemarin siang.

Kelompok band tersebut tak hanya menampilkan jazz yang rancak. Suasana melankolis pun mereka hadirkan. Itu terasa pada lagu Child of Mine yang bernuansa mellow. Lagu berjudul Night in Jakarta yang ditampilkan dalam Java Jazz pekan lalu pun mereka hadirkan. "Lagu itu sangat spesial bagi kami," kata wanita 51 tahun tersebut.

Selain itu, mereka membawakan dua lagu instrumen berjudul Chick Moves dan Mister & Mister.

Improvisasi jazz yang dihadirkan memang terkesan rumit. Namun, kelompok yang dibentuk pada 2001 tersebut tetap mencoba tampil easy listening. Selain itu, Triba memadukan iramanya dengan bebob, liukan nada yang sangat jazzy. "Kami menampilkan lagu-lagu yang semula bernada easy listening, kemudian naik menjadi lebih sulit," ungkap Nancy.

Selain menghadirkan lagu-lagu andalan seperti Let’s Play, Allegra, Sinna, dan Take A Vow, pemusik yang berkomitmen tetap di jalur musik jazz tersebut melantunkan lagu Living in A World. Lagu itu punya versi bahasa Indonesia yang berjudul Tersiksa Lagi. Yang membawakan adalah Glen Fredly. (ken/dos)

15 March 2008

Gadis cilik dikalahkan kanker

Mas Hurek yang baik,

Apa kabar? lama saya tidak mampir ke blog Mas Hurek, tapi hari ini saya sempatkan untuk membaca borongan karena sudah ketinggalan banyak tulisan.

Begini Mas, kemarin pada saat blogwalking mencari informasi tentang kemo untuk teman saya yg menderita kanker ovarium, saya terhenti pada satu blog memoriam seorang anak perempuan berusia 12 tahun yg akhirnya harus menyerah kalah pada kanker yg menggerogotinya.

Kisah perjuangan Anne Satya Andhika [foto], ketabahan dan keimanan-nya yg luar biasa membuat saya merenung tentang arti bersyukur dan lain sebagainya. Kisah Anne bisa dibaca di sini:

http://anne1995.wordpress.com

Setelah membaca tulisan tentang Anne, saya kemudian menghubungi ayah Anne dan baru mengetahui ternyata ayah Anne hanyalah karyawan yg bekerja di percetakan Kanisius di Yogya. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana gaji karyawan percetakan buku2 agama Katolik ini bisa menutupi biaya rumah sakit dan perawatan Anne yg tentunya sangatlah berat untuk ditanggung keluarga ini.

Oleh karena itu, saya kemudian memberanikan diri untuk menyumbang sedikit uang yg saya harap dapat bermanfaat meski jumlahnya tidaklah seberapa.

Dari pembicaraan dengan ayah Anne, saya dapat merasakan beban ekonomi keluarga ini begitu berat. Apalagi biaya yg tidak sedikit itu juga harus ditebus dengan kepergian Anne. Suatu cobaan yg sangat luar biasa berat, bahkan saya sendiri pun mungkin akan menyerah sebelum berusaha.

Namun mereka tetap menjalankan semua pengobatan bagi Anne meski sepeninggal Anne hutang2 masih harus dilunasi dan entah sampai kapan pemotongan gaji ayah Anne akan berakhir.

Maksud saya menulis kepada Mas Hurek adalah ... saya berharap Mas mau menulis tentang Anne dan utamanya adalah syukur2 ada donatur yg bersedia membantu meringankan beban keluarga ini. Betapapun kecilnya bantuan itu, tentu sangat berarti bagi keluarga Anne. Maafkan saya kalau saya lancang menulis dengan cara seperti ini, mudah2an saya tidak dianggap preman ya ... hehehe!

Alamat ayah Anne dan nomor hape ada di website Anne di bagian "terima kasih."

Terima kasih Mas Hurek mau membaca email saya, mudah2an media tempat Mas bekerja tertarik untuk memuat artikel tentang Anne?

Salam dalam Kristus,
Elyani


ALAMAT KELUARGA ANNE SATYA ANDHIKA
Bapak Sri Kahono
Jalan Gejayan Santren Gang Menur 5-C
Jogjakarta 55281, HP: 08562950628
Website: http://anne1995.wordpress.com/


14 March 2008

Soetanto Soepiadhy, SAS, Larantuka

Juru Tulis: Lambertus L. Hurek

LARANTUKA

Lagu: Arthur Kaunang
Syair: Soetanto Soepiadhy

Oh…oh Larantuka
oh…oh Larantuka

Di ujung timur Flores
ada bencana gempa
Tanah gerak
bumi bergoncang retak
Oh…Larantuka

Derita hamba Tuhan
dalam kesengsaraan
manusia di hamparan musibah
Oh…oh.. Larantuka
oh…oh... Larantuka


Anda penggemar musik rock tanah air? Aha, anda tentu pernah dengar, mungkin hafal, lagu ini. Pada 1980-an lagu ini sangat terkenal. Bahkan, sampai hari ini pun grup-grup band anak muda di Jawa Timur masih memainkannya. Syair LARANTUKA yang sarat empati kemanusiaan ditulis oleh Soetanto Soepiadhy.

Bung Tanto dulunya seniman, penggerak teater, suka menulis puisi, pernah jadi pelatih dan dirigen paduan suara. Seniman komplet lah. Sekarang, tahun 2008, Soetanto Soepiadhy lebih dikenal sebagai doktor hukum tata negara. Bung Tanto juga aktif menulis buku. Akhir-akhir ini dia getol memperjuangkan hadirnya calon independen dalam pemilihan kepala daerah [bupati, wali kota, gubernur] hingga pemilihan presiden.

"Saya akan terus berjuang bersama teman-teman, dan insya Allah, gol," ujar Dr Soetanto Soepiadhy SH MH kepada saya di Surabaya, Jumat 14 Maret 2008. Namanya juga seniman, meski sudah jadi dosen senior, pakar tata negara di Universitas 17 Agustus Surabaya [lazim disingkat Untag], Bung Tanto enak diajak bicara.

Obrolan kami mengalir, apalagi saya fokus ke lagu Larantuka yang dipopulerkan SAS Group pada 1980-an. Saya memang berasal dari Flores Timur, kabupaten dengan ibukota Larantuka. Saya masih kecil ketika bencana dahsyat itu terjadi, namun masih belum lupa efek bencana tersebut. Gempa bumi dahsyat menewaskan ribuan orang.

Larantuka sebuah kota tua di ujung timur Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sejak abad ke-16 menjadi kota pelabuhan yang dibina para pedagang dan misionaris Portugal. Larantuka juga dikenal sebagai pusat misi Katolik mula-mula di Indonesia. Yoseph Yapi Taum, dosen Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta, menulis:

"Tahun 1641 terjadi migrasi besar-besaran penduduk Melayu Kristen ke Larantuka ketika Portugis ditaklukkan Belanda di Malaka. Sejak itulah kebanyakan penduduk Flores mulai mengenal kristianitas, dimulai dari Pulau Solor dan Larantuka di Flores Timur, kemudian menyebar ke seluruh daratan Flores dan Timor. Dengan demikian, berbeda dari penduduk di daerah-daerah lain di Indonesia, mayoritas masyarakat Pulau Flores memeluk agama Katolik."

Banyak lagi catatan-catatan sejarah tentang Larantuka alias Nagi alias Kota Reinha Rosari, kata penduduk setempat. Tapi, di balik, sejarahnya yang panjang, Larantuka beberapa kali diguncang bencana hebat. Pada 27 Februari 1979 terjadi banjir bandang. Seluruh kota itu habis diluberi banjir lumpur dari Gunung [Ile] Mandiri. Saya ingat karena kebetulan ada lagu yang sangat terkenal di sana untuk mengenang bencana tersebut:

"Dua tujuh malam Rabu,
Februari bulan itu,
Tujuh sembilan yang kelabu
Tak dapat kulupakan

Lumpur batu yang mengganas
Tak berperi dan berbelas
Merenggut harta korban jiwa
Tak dapat kulukiskan...."


Beberapa tahun kemudian, kalau tak salah 1983, terjadi gempa bumi mencapai 6 Skala Richter. Kembali ribuan penduduk meninggal dunia. Rumah-rumah habis. Berantakan. Nah, saat itulah Soetanto Soepiadhy, seniman arek Surabaya, menulis syair berjudul LARANTUKA.

"Saya ikut merasakan penderitaan warga Larantuka pada saat itu. Makanya, saya menulis syair itu," papar Bung Tanto yang baru saja merilis buku berjudul "Meredesain Konstitusi".

Pak Tanto waktu itu sangat dekat dengan para seniman. Gondrong rambutnya. Bergerak melawan penguasa yang sewenang-wenang, kritik sosial, lewat jalur kesenian. Dia kemudian menawarkan syair itu kepada Arthur Kaunang, basis dan pemimpin SAS Group. Arthur setuju, dan LARANTUKA menjadi lagu andalan sekaligus judul album SAS. Lagu ini meledak, dimainkan di mana-mana.

Artinya, Soetanto Soepiadhy secara efektif memperkenalkan Larantuka, di ujung timur Flores, ke seluruh Indonesia. Setiap kali SAS [Arthur Kaunang, Sunatha Tandjung, Syekh Abidin] manggung, lagu LARANTUKA selalu dibawakan. Bahkan, pada awal 2005 lagu ini dibawakan lagi di Surabaya untuk penggalangan dana untuk korban bencana gempa bumi dan tsunami Aceh-Sumatera Utara. Arthur Kaunang bersama grup Boomerang, juga asal Surabaya, mengganti kata LARANTUKA dengan NANGGROE ACEH.

Soetanto Soepiadhy ini ternyata selalu bekerja sama dengan SAS untuk urusan penulisan lirik. Jangan heran di album-album SAS selalu tertulis kata-kata: "Terima kasih kepada Saudara Soetanto Soepiadhy yang sudah menulis lirik-lirik lagu di album ini". "Saya memang tidak bisa dipisahkan dari SAS," kata Soetanto Soepiadhy yang piawai berceramah ini.

Berapa banyak lagu-lagu SAS yang melibatkan anda sebagai penulis lirik?

"Wah, banyak sekali. Saya sampai lupa. Kalau gak salah lebih dari tujuh album. Banyak sekali lah," ujar Soetanto Soepiadhy.

Kerja sama macam ini sangat menguntungkan band-band rock masa lalu. Musik bagus, lirik tidak kacangan. Sebagai penyair dan budayawan, Soetanto Soepiadhy mengangkat berbagai fenomena kehidupan ke dalam syair lagu. SAS-lah yang memopulerkan lagu itu ke masyarakat.

Saya akui bobot syair SAS Group memang sangat tinggi. Tidak melulu berisi jatuh cinta ala remaja, naksir sana sini, ala band-band tahun 2000-an. Simak saja lirik SANSEKERTA karya Soetanto Soepiadhy di album SAS berjudul sama:

Ingin kusunting kelam senja
di antara serpih kata
Bertaut asmara birahi sansekerta
di mana adanya
Penghantar gejolak bahana
merambat di arcapada
Naik suralaya dibuai senja kala
oh sansekerta

Bidadari turun dari suralaya sansekerta
Bidadari pelepas hasrat gejolak rasa

Dekaplah untaian asmara
jangan lewatkan jua
Desir bayu bajra
hempas ombak samudra
oh sansekerta


Wah, wah... mana ada lirik lagu pop Indonesia macam itu sekarang?

Gara-gara sering mengangkat fenomena sosial, beberapa lagu [yang liriknya ditulis Bung Tanto dicekal penguasa Orde Baru. Kita tahu Presiden Soeharto waktu itu tidak suka suara-suara kritis. Orang-orang kritis macam Bung Tanto dianggap antipembangunan, anti-Pancasila, dan seterusnya. "Saya masih ingat lagu saya, SUMINAH, dicekal pemerintah," tuturnya lalu tertawa kecil.

Bung Tanto menggambarkan Suminah sebagai orang desa yang bekerja di Jakarta. Bukannya sukses, perempuan itu terlunta-lunta di ibukota. Lagu ini dianggap memperuncing kesenjangan sosial. Rakyat jelata, miskin, bisa mengamuk dan bikin kerusuhan. "Tapi saya menikmati masa-masa genting tersebut," ujar pembelajar sejati ini. [Bung Tanto kuliah strata satu sastra, kemudian S-2 dan S-3 hukum.]

Kini, Bung Tanto bukan lagi penulis lirik, seniman gondrong, atau tokoh yang diwaspadai penguasa. Sebagai akademisi, ia berjuang lewat jalur intelektual untuk mewujudkan daulat rakyat. Ia juga kritik reformasi yang masih tanggung. "Reformasi yang berlangsung selama ini belum menyentuh persoalan bangsa yang paling hakiki. Pancasila tak lebih sebuah slogan," tulisnya.

Di mana-mana pejuang sejati tak pernah mati. Caranya saja berbeda, disesuaikan dengan tuntutan zaman. Bung Tanto, terima kasih untuk lagu LARANTUKA yang fenomenal itu. Maju terus, Bung!