26 February 2008

Win Hendrarso bupati lumpur




Akhir-akhir ini saya kasihan melihat Bupati Win Hendrarso. Bupati kami di Sidoarjo, Jawa Timur, ini menghadapi persoalan lumpur lapindo yang makin tak jelas juntrungannya. Menyembur dahsyat di Desa Siring, Kecamatan Porong, sejak 29 Mei 2006, dampak semburan kian melebar, melebar, dan melebar.

Kalau tahap awal korban lumpur "hanya" 20.000 orang, kini sedikitnya tujuh desa lagi terkena lumpur panas. Tanggul jebol. Air lumpur meluber. Jalan Raya Porong tergenang. Pipa air minum rusak. Rel kereta api terendam. Jalan rusak. Bayangkan, Pak Win sebagai orang nomor satu di Sidoarjo harus memikirkan semua ini.

Pekan lalu, 20 Februari 2008, ribuan warga Siring Barat, Mindi, Jatirejo, Kedungcangkring, Besuki, demo besar-besar. Jalan raya diblokade. Jembatan diduduki. Rel kereta api ditutup. Jalan alternatif dibuntu. Mereka ini korban lumpur di luar daerah terdampak. Tuntutan mereka: wilayahnya yang belum terendam habis, tapi sudah didatangi lumpur masuk peta.

Sebab, kalau tidak masuk peta versi Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2007, Lapindo Brantas Inc tak akan membayar ganti rugi. Lha, lantas siapa yang membayar rumah dan lahan mereka yang habis direndam lumpur? Bukankah Lapindo yang punya proyek gas di Porong, sebagai biang kerok semburan? Begitu kira-kira logika warga yang memang masuk akal.

Pak Win, bupati Sidoarjo, pun turun menemui warga di jalan raya, jembatan, arena demonstrasi. "Saya minta Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu menghentikan aksi blokade. Sebab, aspirasi sampeyan sudah saya sampaikan ke pemerintah pusat," ujar Pak Win di atas truk.

Tapi, apa daya, imbauan Pak Win sia-sia. Bupati kelahiran Surabaya 12 Juli 1954 ini bahkan sempat menitikkan air mata. "Yah, kalau sampeyan tidak percaya lagi sama saya, ya, sudah," ujarnya.

Pak Win kemudian beranjak ke lokasi demo lain. Gagal lagi. Maka, selama 12 jam ruas lalu lintas utama di Sidoarjo, Surabaya, Malang lumpuh total. Pengguna jalan terpaksa menempuh jalur alternatif. Harus tambah dua jam perjalanan. Itulah harga dari musibah lumpur panas yang entah kapan akan berakhir.

Meski tidak begitu dekat, saya kenal Pak Win Hendrarso. Saat bertugas di liputan Sidoarjo, saya kerap menulis berita-berita seni budaya, human interest, nyadran nelayan, hingga konser-konser musik. Pak Win ternyata sangat senang. Sampai-sampai saya diundang secara khusus untuk menikmati sajian Panji Kelana, grup musik-tari asal Sidoarjo, yang hendak berkunjung ke Australia.

"Hurek, saya selalu baca tulisan anda. Saya suka," kata Pak Win.

Hmmmm!!! Entah basa-basi atau bukan, saya tentu senang. Ah, ternyata tulisan-tulisan saya yang ringan, mengangkat objek-objek wisata dan kesenian di Kabupaten Sidoarjo diperhatikan Pak Bupati. Saya juga mau dikasih penghargaan sebagai wartawan yang peduli seni budaya di Kabupaten Sidoarjo. Penghargaan serupa telah saya peroleh dari kalangan budayawan senior. Hehehe....

Kemudian, berkat tulisan saya [nggak ge-er lho], Dewan Kesenian mulai dihidupkan. Wacana pembangunan gedung kesenian di Sidoarjo pun begulir kencang. Pak Win bahkan bikin tim khusus, kemudian studi banding ke Jawa Barat segala. Ia sangat bersemangat mewujudkan gedung kesenian yang sebenarnya sudah digagas sejak tahun 1980-an.

"Pak Win memang bupati yang langka. Beliau sangat peduli pada kesenian. Kita beruntung punya bupati seperti beliau. Insya Allah, gedung kesenian akan berdiri," kata Hartono, ketua Dewan Kesenian Sidoarjo, waktu itu.

Pada 2004-2005 Pak Win memang terlihat sangat dekat berbagai kalangan di Sidoarjo, khususnya seniman. Ia tak segan-segan menyanyi di beberapa acara. Pak Win punya moto yang masih sangat ingat betul:

"Dengan AGAMA hidup menjadi teratur.
Dengan ILMU hidup menjadi mudah.
Dengan SENI hidup menjadi indah."


Kata-kata Pak Win ini selalu dikutip teman-teman seniman Sidoarjo dalam berbagai kesempatan. Agama, ilmu, seni! Tiga hal ini ingin selalu dikembangkan Pak Bupati yang mulai menjabat sejak 2000 itu. Ia juga mencanangkan Sidoarjo sebagai kota festival: pusat festival apa saja baik di tingkat regional maupun nasional.

Pada 11 September 2005, Pak Win Hendrarso bersama Pak Saiful Ilah menang telak dalam pemilihan bupati langsung. Menang sekitar 70 persen karena dua pasangan lawannya memang lemah. Pasangan Nadhim-salam serta Sjamsu-Fatma boleh dikata hanya calon pelengkap yang tak punya massa pendukung.

Win-Saiful [keduanya dari Partai Kebangkitan Bangsa] pun mulai memasuki masa lima tahun kedua, 2005-2010. Lima tahun pertama Sidoarjo meraih banyak prestasi. Lomba apa saja Sidoarjo selalu menang. Jadi kabupaten teladan di Jawa Timur, bahkan Indonesia.

"Saya ingin fokus ke pendidikan dan investasi," kata Pak Win. Ayah satu anak [Praditya Ardinugroho, mahasiswa Universitas Airlangga] hasil perkawinan dengan Dr Emy Susanti, dosen sosiologi Universitas Airlangga, ini ingin mengakhiri kepemimpinan dengan manis. Happy ending lah!

Saya dengar-dengar Pak Win punya rencana untuk menggratiskan biaya pendidikan dasar di Kabupaten Sidoarjo. Dengan APBD yang tinggi, investasi yang lancar, perkembangan Sidoarjo yang pesat, infrastruktur luar biasa... sebetulnya program ini masuk akal.

Namun, malang tak dapat dielak. Lumpur menyembur dari Sumur Banjarpanji I milik Lapindo Brantas Inc pada 29 Mei 2006. Bencana besar dan berkelanjutan ini membuyarkan program prestisius Win Hendrarso. Mau tidak mau Pak Win harus mengurus rakyatnya yang kelelep akibat lumpur.

Pada awal bencana hampir tiap hari Pak Win harus menerima pengunjuk rasa yang geram karena harta bendanya ludes. Dimaki-maki, dituduh macam-macam. Pak Win bahkan sempat masuk rumah sakit selama dua atau tiga minggu karena stres. Yah, lumpur lapindo memang pukulan teramat berat bagi Sidoarjo, kabuten berpenduduk 1,6 juta orang ini. [Sekarang penduduk Sidoarjo, termasuk yang tidak terdaftar, mungkin 2 juta lebih lah.]

"Saya tidak bisa apa-apa karena kasus Lapindo ini ditangani langsung oleh pusat. Kapasitas pemerintah daerah tidak akan memadai untuk menanggulangi dampak lumpur yang demikian besar," ujar Pak Win. Namun, bagi korban lumpur, ke mana lagi akan mengadu kalau bukan ke Pak Bupati dan DPRD Sidoarjo?

Tak ayal, bencana lumpur juga nyaris menenggelamkan nama Sidoarjo. Pak Win mengibaratkan Sidoarjo sebagai gadis cantik yang ditinggalkan para pelamar. Minat investor turun drastis. Bisnis perumahan mandek. Pusat wisata Tanggulangin macet. Begitu juga sentra-sentra usaha kecil dan menengah.

Pak Win pun teriak-teriak. "Yang kena lumpur itu hanya 3 persen saja dari Kabupaten Sidoarjo. Yang 97 persen tidak terpengaruh," tegas Pak Win.

Kabupaten Sidoarjo itu punya 18 kecamatan dan 353 desa/kelurahan. Yang kena lumpur itu beberapa desa di Kecamatan Porong, Tanggulangin, dan Jabon. Pemerintah melalui Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo [BPLS] bertugas melokalisasi dampak semburan tersebut.

Pekan lalu, Pak Win mengampanyekan Gerakan Sidoarjo Bangkit. Jangan tinggalkan Sidoarjo meski sampai sekarang lumpur masih menyembur di Porong! "Insya Allah, apa yang sudah kita raih di masa lalu bisa dipulihkan dengan promosi investasi di Sidoarjo," harapnya.

Yah, selama masih bernapas, manusia wajib memelihara harapan. Jangan pernah putus asa! Saya pun masih berharap Pak Win Hendrarso menyanyi lagi, ceria lagi, seperti dulu. Mumpung masih ada waktu dua tahun memimpin Kabupaten Sidoarjo.

Ayo, Pak Win, bangkit dan maju! Insya Allah, Sidoarjo jaya lagi!

6 comments:

  1. Dear Sir,
    I appreciate to all your articles, especially the article about "Win Hendrarso Bupati Lumpur" and Ayat Ayat Cinta. You write with all your heart. I hope, you will success as a writer.

    Warm Regards

    ERny Setyawati,
    http://www.baliglobalmarket.com
    erny@baliglobalmarket.com

    ReplyDelete
  2. Terima kasih banyak Mbak Erny. Saya senang dengan apresiasi dan doa anda. Again, thanks and good luck too.

    ReplyDelete
  3. Salam Mas Hurek,

    Posting yg informatif ttg posisi Pak Win. Sebelum bencana lumpur, sy sangat bangga dg Pak Win, karena integritas dan visi2nya dlm membangun sidoarjo. Mgkn sampeyan pernah dgr dulu pak bupati kerap sholat jum'at dan sholat subuh di musholla dan masjid di berbagai pelosok sidoarjo. Jalan aspal di seluruh desa, prestasi2 nasional yg diraih sidoarjo, bangga deh.

    Tetapi pas terjadi bencana lumpur lapindo ini, dimata sy Pak Win 'gagal' membuktikan bahwa dia adalah 'people' leader, pimpinane wong darjo. Karakter birokrat-nya justru yg lebih menonjol. Dia gagal mengedepankan kepentingan warga, dan untuk berdiri pasang badan atas penderitaan warga.

    Bupati jg gagal membuktikan bahwa dia cukup 'smart'. Maksudnya gini. Diapa-apakan, dari awal kasus Lapindo ini, posisi bupati akan terjepit. Dari atas ditekan, dari bawah juga didorong. Instead of menetralisir, byk pernyataan bupati yg justru membuat dia jadi bumper, dan membuat kelihatan posisinya yg tidak tegas dan mungkin jg peragu.

    Yg ketiga, yang justru lebih parah adalah, menempatkan masa depan masyarakat yg lebih luas di Sidoarjo dalam situasi yg membahayakan. Ini terkait dg upayanya yang sistematis untuk menunjukkan bahwa Sidoarjo Bangkit.

    Bahwa bencana ini memang pahit, dan kita tidak boleh terus menerus larut dalam kemurungan dan harus siap menghadapi kenyataan, iya saya sangat sepakat. Tetapi itu tidak dilakukan dengan cara menganggap seolah2 masalah lumpur ini tidak serius, dan tidak berdampak besar, dan sudah selesai, dan tidak membahayakan masyarakat yang lebih luas.

    Misalnya pernyataan yang selalu diulang-ulang bahwa wilayah yang tenggelam cuma 3 persen dari total luas wilayah Sidoarjo, sehingga dia meyakinkan orang dari luar bahwa lumpur tidak berdampak besar ke Sidoarjo. Ini kan sangat konyol.

    Kalo 678 ha itu di tengah tambak di pesisir sana, ya mungkin gak ngaruh. Lha 678 ha ini pas di daerah yang, bisa jadi lebih strategis dari wilayah Sidoarjo kota, secara ekonomi, baik Sidoarjo maupun Jatim. Lha apa nggak konyol kalau bupati yang seharusnya sebagai pihak pertama yang merasa jadi korban, malah mengkampanyekan kalau kita gak apa2.

    Belum lagi fakta bahwa semburan ini dampaknya terus meluas ke wilayah lain. Dan inipun pemerintah praktis tidak melakukan apa-apa untuk antisipasi.

    Sehingga alih-alih menuntut pemerintah pusat atau Lapindo untuk lebih tegas menangani dampak yang lebih luas dari semburan lumpur, dia justru tengah secara (menurut dugaan sy) tidak sadar, sedang menjadi 'humas' Lapindo dan BPLS bahwa masalah lumpur lapindo 'sudah selesai'.

    Bagi saya kayaknya bupati ingin mengambil 'kredit' bahwa dia berhasil mengatasi atau meminimalkan dampak lumpur. Padahal, bahwa Sidoarjo tengah terpuruk ini semua orang tahu bahwa itu bukan salahnya.

    Dalam situasi seperti sekarang, agar dia bisa dianggap sebagai pemimpin yang berhasil, harusnya bupati mengambil repositioning, untuk mengambil posisi bahwa pemkab adalah bagian dari korban, wong Darjo. Dari situ, dia mengambil kepemimpinan untuk membangkitkan solidaritas bagi wong Jawa Timur, yg juga terimbas langsung bencana ini.

    Lalu, untuk apa? Ya untuk memaksa pemerintah pusat lebih tegas menyelesaikan masalah lumpur lapindo ini. Nah, dg posisi nothing to lose ini (W1 dah periode ke dua, dan oleh pemerintah pusat maupun Bakrie toh dianggap gak bisa mengendalikan warga), sebenarnya Jatim1 bisa jadi justru jadi kemungkinan kedepan buat dia.

    Gak tau lagi kalau Pak Win memang ada 'pertimbangan' lain.

    Bagaimana menurut sampeyan?


    korbanlapindo

    ReplyDelete
  4. Walaupun sudah begitu lama tulisan ini dibuat, tapi saya baru saja berkesempatan membaca. Tanggapan saya, tulisan sdr Hurek sangat obyektif, sedangkan tulisan yang mengaku korban lumpur justru sangat "subyektif". Menurut saya, pendapat si korban lumpur hanya melihat apa yang dilakukan bupati Sidoarjo Win Hendrarso dari sudut pandang pribadinya sendiri tanpa fakta yang memadai. Mungkin kalau dia yang jadi bupati Sidoarjo ya seperti yang dia sampaikan itu. Tapi kalau pak Win (yang kebetulan jadi Bupatinya), saya yakin jelas tidak akan berpikir miring dan negatif seperti yang disampaikan dia. Saya yakin pak Win telah memberikan yang terbaik bagi korban lumpur, dan lagi masyarakat Sidoarjo yang diurusi memang banyak. Dari dulu tugas Bupati mengurusi seluruh masyarakat, jadi kalau Bupati Sidoarjo mengurusi masyarakat Sidoarjo yang tidak terkena lumpur dengan program Sidoarjo Bangkit, ya jangan ditafsirkan tidak mengurusi masyarakat Sidoarjo yang menjadi korban bencana lumpur dong. Saya rasa pemikiran demikian tidak adil dan berlebihan. Apalagi menuduh ada keinginan dan maksud lain dari pak Win, itu sudah keterlaluan. memang manusia tidak ada yang sempurna, tapi yang dilakukan pak Win jelas untuk kebaikan masyarakat Sidoarjo secara keseluruhan. Jangan kita dijejali oleh pikiran kotor yang hanya bisa berkata tapi tidak bisa berbuat, yang hanya bisa menuduh. Lihatlah bagaimana orang lain berbuat dan hargailah apa yang diperbuatnya, sementara itu berkacalah apa yang sudah kita perbuat, apakah lebih baik dari yang diperbuat orang lain? Demikian tanggapan saya, semoga menjadi lebih seimbang gambaran tentang pak Win Hendrarso. Kalau pak Win memang baik, kenapa keberatan dengan pendapat demikian? Soal lumpur Lapindo, kenapa kritik tidak disampaikan kepada pihak-pihak yang harus lebih bertanggung jawab? Kenapa pak Win tidak boleh berbuat baik untuk masyarakat Sidoarjo yang dipimpinnya? Terima kasih atas perhatiannya.

    ReplyDelete
  5. Saya sangat setuju tulisan sdr. Hurek tentang pak Win, terkesan lebih obyektif dan dilengkapi dengan data dan fakta. Sementara itu saya tidak setuju pendapat yang mengaku "korban lumpur" karena pendapatnya sangat subyektif dari sudut pandang pribadinya tanpa data dan fakta yang memadai.

    ReplyDelete
  6. salam kenal,
    saya mau menanyakan
    1. apakah nomor sppt (nop) pbb ada yg disebut dengan blok untuk mengetuai luas tanah dan bangunan?
    2. fungsi npwp itu apa?
    3. syarat penghapusan pajak pbb apa saja? terimakasih smoga sukses slalu

    ReplyDelete