23 February 2008

Tragedi artis lawas - Ucok AKA


Nasib artis di Barat dan di sini berbeda 180 derajat. Sebut saja The ROLLING STONES. Vokalisnya, MICK JAGGER, masih bisa jingkrak-jingkrak, tur ke seluruh dunia. Pendapatannya Rp 4 miliar setahun.

Grup gaek lain macam DEEP PURPLE pun bikin album dan tur dunia. ERIC CLAPTON masih piawai memetik gitar, kaya-raya dari main musik. Tak jelas kapan mereka-mereka ini pensiun karena secara bisnis masih sangat laik. Mutu musik mereka pun boleh lah.

Bagaimana dengan artis kita? Terus terang, saya sangat sedih. Sebab, beberapa idola saya, yang selama ini saya anggap "pahlawan musik", apes nasibnya. Achmad Albar, vokalis God Bless, berada di tahanan gara-gara kasus narkoba. Fariz Rustam Munaf, pemusik serba bisa, pengusung musik pop berkelas, sedang menjalani sidang di Jakarta. Juga gara-gara narkoba, tepatnya ganja.

Kamis, 21 Februari 2008, saya tersentak membaca laporan Mubarok, teman di Kediri. Rocker gaek Ucok AKA Harahap diusir warga Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Rabu (20/2/2008). Ucok dilarang menempati kafe sekaligus studio musiknya di Kelurahan Pojok.

Gara-garanya, warga setempat merasa terganggu dengan musik yang dimainkan Ucok bersama anak-anak muda binaannya. Om Ucok ini memang pemusik lawas yang juga guru musik. Ia buka studio, kursus, serta mengarahkan anak-anak muda tahu musik berikut lika-likunya. Kita perlu angkat topi sama om yang memulai karier dari Apotek Kaliasin, Surabaya, ini.

Yang bikin kaget lagi, warga juga mempertanyakan hubungan Ucok dan Endang. Sebab, warga menduga sepasang sejoli ini bukan suami-istri sah. Kok tinggal satu rumah, satu kamar? Aha, ini barang peka untuk kita di Indonesia. Om Ucok berasalan mereka kawin siri: sah secara Islam, tapi memang tidak terdaftar di kantor urusan agama. Bagaimana bisa menunjukkan surat nikah? Hmmm.. saya tak mau masuk ke soal privasi macam ini.

Yang pasti, saya sangat sedih mengikuti cerita Ucok AKA Harahap. Tidak pernah saya bayangkan seorang rocker legendaris, perintis musik rock Indonesia, musikus hebat pada 1970-an hingga 1980-an itu, bernasib sedemikian apes. Bukannya dielu-elukan, malah diusir dari kediamannya.

Pekan lalu saya kebetulan mampir ke bursa kaset bekas di samping Stadion Gajayana Malang. Saya menemukan beberapa kaset lawas AKA Group dan Duo Kribo [Ucok dan Achmad Albar]. Kasetnya Om Ucok ini paling mahal dibandingkan kaset-kaset lain. "Khusus Ucok dan Duo Kribo Rp 50.000 nggak saya lepas, Mas," kata si pedagang kaset bekas.

Padahal, kaset-kaset lain paling mahal Rp 20.000. Ini membuktikan bahwa karya-karya Ucok Aka sudah menjadi "rock klasik" di Jawa Timur, Indonesia umumnya. Maka, saya geleng-geleng kepala, sedih, tak habis pikir dengan peristiwa pengusiran Ucok di Kediri.

Si raja rocker [sampai hari ini belum ada rocker di Indonesia yang mampu menirukan aksi-aksi Ucok di atas panggung] saja diperlakukan begini, bagaimana pula dengan penyanyi biasa-biasa? Sulit dibayangkan.

Kasus-kasus yang menimpa artis-artis lawas--khususnya Ucok, Albar, Fariz, kemudian Roy Marten--hendaknya menjadi bahan refleksi bagi kita semua. Bahwa popularitas, nama besar, kekayaan, kemashuran, ketampanan, kecantikan... tak pernah abadi. Roda dunia terus berputar, bukan?

BACA JUGA
Ucok AKA & His Gang
Ucok AKA dan lumpur Sidoarjo
Cikal bakal rock di Surabaya

1 comment:

  1. kecian deh loe! mbah ucok sebaiknya taubat deh.

    ReplyDelete