08 February 2008

Sampul TEMPO kok diprotes?



Oleh Cak Hurek

Andai saja beberapa aktivis Katolik di Jakarta tidak protes, saya rasa penjualan majalah TEMPO edisi 50/XXXVI/04, 10 Februari 2008, biasa-biasa saja. Di Surabaya dan sekitarnya majalah ini sejatinya tidak begitu laku.

"Buat apa jual TEMPO? Wong gak payu," ujar agen media cetak di kawasan Waru, Sidoarjo.

Tapi, itu tadi, karena diprotes Hermawi Taslim dan kawan-kawan majalah ini pun laku keras. Saya cari di mana-mana sudah habis. Artinya, protes sejumlah elemen Katolik--kemudian disusul Protestan, dan Partai Damai Sejahtera--membuat TEMPO dicari orang. TEMPO beroleh promosi gratis gara-gara protes sampul majalah yang memparodikan lukisan Perjamuan Terakhir Yesus Kristus karya Leonardo da Vinci.

Toriq Hadad, pemimpin redaksi TEMPO, kemudian meminta maaf kepada umat Kristen sehubungan dengan penerbitan gambar sampul edisi terakhir majalah tersebut. “Kami membuat gambar itu sebagai interpretasi atas lukisan da Vinci, bukan mengilustrasikan kejadian di Kitab Suci. Kami sama sekali tidak bermaksud melecehkan atau merendahkan agama mana pun," tegas Toriq Hadad.

Sebagai penggemar TEMPO [saya aktif membaca majalah ini sejak sekolah menengah pertama di Larantuka, Flores Timur, meski dengan meminjam dari Bruder Nobert SVD, majalah bekas pula], saya tahu persis ilustrasi Pak Harto di sampul itu tidak dibuat untuk melecehkan agama Kristen. Itu semata-mata keisengan kreatif ala TEMPO. Sejak dulu TEMPO diperkuat reporter, penyunting, penata letak, penulis, yang berani berpikir beda, kreatif, dan "nakal" dalam arti positif.

Bahwa kemudian gambar Yesus bersama para murid diparodikan, dijadikan ilustrasi untuk Pak Harto dan anak-anaknya, saya kira, merupakan bagian dari kinerja kreatif orang-orang TEMPO. Kali pertama melihat sampul majalah itu saya hanya tersenyum geli. Sama sekali saya tidak marah, apalagi merasa dihina gara-gara gambar Yesus dipelesetkan oleh TEMPO.

"Kok iso ae konco-konco TEMPO iki. Idenya ada-ada saja," komentar saya dalam hati.

Makanya, saya terkejut ketika malamnya saya membaca berita-berita di internet tentang protes Hermawi dan kawan-kawan ke kantor TEMPO. Pak Hermawi mengaku mewakili umat Katolik di Indonesia. Lha, sejak kapan Pak Hermawi dapat mandat itu? Saya sebagai umat Katolik kok tidak pernah kasih mandat.

Pak Hermawi juga katanya mewakili forum alumni PMKRI [Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia]. Lha, saya juga alumni PMKRI, tapi kok tidak merasa perlu memprotes TEMPO? Kenapa tidak protes atas nama pribadi? Kenapa membawa-bawa nama jemaat atau organisasi tertentu?

Yah, memang lain orang lain selera, lain persepsi. Ada yang lekas tersinggung, macam Pak Hermawi, lalu mendesak TEMPO minta maaf; tapi ada juga yang malas marah macam saya. Saya tenang-tenang saja dan "kagum" dengan imajinasi TEMPO.

Kenapa saya tenang-tenang saja? Selain karena yakin bahwa TEMPO tidak bermaksud melecehkan Yesus Kristus [ingat, selama ini TEMPO paling konsisten membela kaum minoritas di Indonesia], parodi, pelesetan, ilustrasi macam itu sudah terlalu banyak di dunia. Lihat saja film-film Barat: begitu banyak guyonan yang menertawakan gereja dan apa saja yang berbau Kristen.

Yang paling konyol lagi lawakan Mr Bean yang sangat digemari di Indonesia. Di sejumlah episode si Bean ini bikin lawakan di dalam gereja. Alkisah, Mr Bean kesasar di gereja saat kebaktian atau misa. Jemaat, kebanyakan orangtua, menyanyikan lagu bernuansa Paskah yang sangat dikenal di Indonesia. Notasinya kira-kira begini:

1 12 31 34 5 i7 6 5 . :// i7 6 5 i7 6 5 43 2 1 //

Namanya juga pelawak, Mr Bean bingung karena tidak tahu lagu itu. Maka, dia pun hanya bisa menjawab: "Haleluya! Haleluya! Haleluya!" Penonton grrr melihat tingkah pola Mr Bean di dalam gereja. Sampai sekarang setiap kali mendengar lagu itu di gereja, kalau tak salah Puji Syukur Nomor 525, saya selalu ingat Mr Bean. Hehehe....

Parodi-parodi macam ini selain di film dan televisi, bisa dengan mudah dijumpai di buku-buku. Buku Davinci Code pun jelas sekali sebentuk parodi atau pelesetan untuk menertawai ajaran Kristen. Alur cerita dan semuanya diracik sedemikian rupa sebagai tandingan Alkitab. Toh, buku ini laris manis, dibahas di mana-mana.

Kok buku ini tidak diprotes oleh Pak Hermawi dan kawan-kawan? Kalau benar mau protes barangkali waktu kalian habis hanya untuk memelototi film, program TV, buku, karikatur, majalah, koran...

Ironisnya, dan ini makin membuat saya geli, setelah TEMPO diprotes, koran-koran di daerah menulis panjang lebar berita Pak Hermawi dan kawan-kawan mendatangi kantor TEMPO di Jakarta. Sebagai ilustrasi, gambar sampul TEMPO yang diangga bermasalah itu dimuat utuh.

Harian SURYA di Surabaya memuatnya dua kali di halaman satu: 6 Februari dan 8 Februari! Bahkan, pada edisi 8 Februari SURYA menjadikan ilustrasi TEMPO ini sebagai foto utama alias lead photo [lihat foto di atas]. Hehehe... ludrukan khas Jawa Timur!

Situs Radio Suara Surabaya juga memotret sampul majalah TEMPO dan menayangkan di internet. Beritanya: PDS Surabaya memprotes sampul majalah TEMPO yang memparodikan Yesus Kristus dengan Soeharto. Hehehe... Sejak awal saya sudah menduga alur ceritanya akan seperti ini. Centang perenang!

Apakah Pak Hermawi dan kawan-kawan bakal memprotes SURYA, SUARA SURABAYA, dan entah media apa lagi yang menayangkan kembali sampul majalah TEMPO?

Mumpung sekarang masa prapaskah, bulan puasa Katolik, menurut saya, sebaiknya kita melakukan refleksi, berdiam diri, tidak usah melakukan protes macam-macam yang terbukti kontraproduktif.

Capek deh!

12 comments:

  1. ah, masa gambar kayak gitu aja dianggap menghina
    tapi ada hikmahnya kan bagi tempo
    gara2 diprotes, malah lebih laris
    berarti, supaya suatu media lebih laris, perlu bikin sesuatu yg memancing protes, ya kan? :P
    au ah, bingung
    kita sama2 orang kampung :D

    ReplyDelete
  2. maju terus bro HUREK...
    salut atas tulisan2 anda...

    saya ada menyalin dari web ini... minta izin yaaaa...

    http://ae-studio.my2gig.com/sblog/index.php?cat=7

    ReplyDelete
  3. KWI Minta Kasus Tempo Jangan Diperlebar
    Jumat, 08 Februari 2008, 20:18:16 WIB

    Laporan: Tri Soekarno Agung

    Kontroversi pemuatan ilustrasi “perjamuan terakhir Soeharto” versi Majalah Berita Mingguan (MBM) Tempo pada edisi 01-10 Februari 2008 harus segera dihentikan. Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) meminta semua pihak jangan emosi.

    Romo Beni Susetyo dalam wawancaranya dengan myRMnews, Jumat malam ini (8/2) mengatakan, secara hierarkis, umat Katolik di Indonesia menilai bahwa pemuatan ilustrasi yang mengadopsi “The Last Supper” di Tempo tersebut bukan sebagai bentuk penistaan terhadap agama.

    “Tidak perlu dibesar-besarkan lagi. Secara hierarkis tidak ada masalah. Yang menganggap itu masalah hanya perseorangan. Sudah selesai dengan permintaan maaf secara terbuka oleh Tempo itu,” papar Romo Beni yang juga pengurus pusat KWI.

    Jadi, tegasnya, kontroversi cover Tempo yang dianggap oleh kalangan muda sebagai bentuk pelecehan agama Nasrani tak usah diperlebar masalahnya. “Cukup!” tukasnya.

    Bahkan, Romo Beni yang juga aktivis perdamaian lintas agama itu mengingatkan, “daripada membesar-besarkan masalah itu, ada masalah lebih besar lagi bangsa ini untuk dipikirkan. Masalah banjir, krisis pangan, kemiskinan. Itu yang harus dikedepankan”.

    Ditambahkan Romo Beni, sejauh KWI tidak menyatakan sikap apa-apa dalam kasus cover Tempo tersebut. Arus bawah umat Katolik pun adem ayem. “Umat Katolik tidak akan over. Semua sudah dewasa, karena kalau tidak begitu maka akan ditinggalkan,” imbuhnya.

    Siang tadi, Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Kristen bersama dengan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) serta Dewan Pemuda Gereja Indonesia kembali mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Metro Jaya untuk melaporkan Tempo.

    “Menurut saya, temen-temen muda itu hanya reaktif. Sedikit kegenitan saja, karena sama sekali tak ada pengaruhnya cover Tempo itu bagi umat Katolik,” pungkasnya.

    ReplyDelete
  4. Terima kasih atas komentar dan perhatian kawan2, juga tambahan info dari KWI. Moga2 kita semua makin dewasa dan tetap menjaga selera humor. Salam!

    ReplyDelete
  5. Thx Bos atas comment&opininya.TOP bgt!Saya pribadi sih sebenarnya gak ambil pusing dgn cover TEMPO.Tp,ya gitu deh,tau kan.....?!
    Ya,amat disayangkan aja,majalah sekelas TEMPO kok kayak gitu.Eman2!Ya,mudah2an aja,di Hari PERS Nasional yang jatuh pada 9 Februari ini menjd refleksi buat rekan2 PERS dalam negeri khususnya,agar tidak menjadi PERS yg KEBABLASAN.

    ReplyDelete
  6. Saya cuma bisa geleng kepala, heran dan tidak mengerti, kok bisa-bisanya tokoh-tokoh agama
    Katolik bisa jadi begini cupet. Betul betul aku tak mengerti dan tidak masuk akal saya sama sekali. Kemunduran kedewasaan beragama.

    Menurut saya, (maaf) memalukan. Bukankah lukisan Leonardo da Vinci bukan lagi milik agama Katolik seperti nama Yesus? Apakah kalau ada orang Islam memakai nama Yesus untuk anaknya lantas diprotes? Lha, ini lukisan milik dunia yang berbicara mengenai "Last Supper", kisah perpisahannya dipinjam sebagai bahasa.

    Rupanya akibat dari Don Brown tentang Da Vinci Code telah menjadikan Katolik muda sensitif,
    sedikit saja tersinggung. Grogi ketakutan ketergoyahan iman....

    Ibu Verina

    ReplyDelete
  7. Salam, saya seoarang protestan.
    Dan jujur ketika melihat berita protes ini mencuat, dalam hati saya langsung berfikir (kampungan sekali ini orang2 Katolik)

    Yah,..untunglah setelah membaca blog ini,..saya jadi tersadar bahwa tidak semua orang Katolik itu kampungan seperti anak2 KMPRI yang kata romo "genit"

    Dengan ini kemungkinan urutan nilai intelektualitas umat bergeser:

    1. Kristen Protestan
    2. Buddha/Hindu
    3. Katolik
    4. Islam

    Katolik turun keperingkat 3 menurut versi saya :D

    Maju terus TEMPO, maju terus Indonesiaku ^^

    ReplyDelete
  8. For a more complete comments, I would advise you to be more detailed information, for example
    here

    ReplyDelete
  9. saya sebagai umat katholik pun jd merasa malu dg protes yg di ekspos begitu banyak media...hal tersebut memperlihatkan betapa teman2 kita itu bak pinang dibelah dua dengan sang katak yg berada dibawah tempurung....

    ReplyDelete
  10. perlu ditambahkan: hermawi taslim itu pengurus DPP PKB (Partai Kebangkitan Bangsa0. harap maklum lah kalo wawasannya cekak kayak politisi2 kita umumnya. salam.

    anton, jogja

    ReplyDelete
  11. daniel dan teman2 anonim, terima kasih atas komentar kalian. tapi sebetulnya saya kurang suka komentar anonim, lebih2 yg menyangkut topik sensitif macam begini. salam!

    ReplyDelete
  12. Kalau sudah masuk wilayah politik (seperti anggota partai yang protes), motifnya pasti sudah berbeda. Saya pribadi sebagai penganut Katholik tidak merasa dilecehkan. Protes2 semacam ini sudah biasa, ribut2 dulu di media, terus lenyap tak berbekas bak kentut yang bisa meletus dimana saja.

    ReplyDelete