26 February 2008

Romo Eko Budi Susilo motor dialog antaragama



Oleh: Wartawan UCA News

Pastor Yosef Eko Budi Susilo [biasa disapa Romo Eko] telah ikut aktif dalam berbagai kegiatan antaragama selama 11 tahun sebagai ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Surabaya. Pada Juli 2007, ia menjadi delegasi keuskupan pada Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang dibentuk oleh wali kota Surabaya, ibukota Provinsi Jawa Timur yang mayoritas Muslim.

Unit-unit FKUB telah dibentuk di 21 propinsi, 110 kabupaten, dan 29 kota sejak Maret 2006, ketika Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri mengeluarkan Peratuaran Bersama (Perber) tentang pembangunan tempat ibadah. Perber itu diatur pemerintah untuk memfasilitasi pembentukan forum-forum itu di tingkat-tingkat daerah.

Menurut Perber itu, komunitas agama minoritas pengguna tempat ibadah harus berjumlah sedikitnya 90 orang dan didukung 60 warga setempat dari agama lain untuk mendapatkan ijin pendirian rumah ibadah. Pejabat setempat harus menjelaskan persyaratan ini, serta FKUB kabupaten/kota dan kepala Kantor Wilayah Departemen Agama harus mengeluarkan rekomendasi tertulis.

Romo Eko Budi Susilo, 46, kepala Paroki Katedral Hati Kudus Yesus di Surabaya, juga melayani sebagai ketua Komisi Kerasulan Awam keuskupannya. Imam itu telah menulis sejumlah buku dalam bahasa Indonesia tentang hubungan antaragama, Gereja Katolik Indonesia, dan teologi ekologi.




Pada wawancara baru-baru ini dengan UCA News, Pastor Susilo berbicara tentang bagaimana membantu meningkatkan hubungan antaragama. Wawancara sebagai berikut:


UCA NEWS: Bagaimana situasi antaragama di Surabaya dan tempat lain di Jawa Timur?

PASTOR YOSEF EKO BUDI SUSILO: Selama tahun 1996, banyak kerusuhan yang terjadi tidak disebabkan oleh persoalan agama. Pada bulan Oktober tahun itu, misalnya, puluhan gedung gereja, sekolah, pertokoan di Situbondo dibakar massa. Namun, pokok persoalannya adalah kesenjangan ekonomi dan sosial. Banyak umat Muslim yang berpikir mengapa umat Kristen yang minoritas tapi menguasai sektor ekonomi. Perasaan seperti itu sungguh berdampak pada hubungan antaragama.

Mereka yang memiliki pendidikan rendah juga dituduh melakukan kerusuhan itu. Mereka mudah terprovokasi oleh pihak luar yang mencoba memperkeruh keadaan.

Bagaimana tanggapan dari FKUB?

Dengan adanya pengalaman itu, kami terdorong untuk mendidik masyarakat sehingga mereka tidak mudah terprovokasi. Sebagai wujud konkret, kami memberikan komputer bekas yang masih bisa dipakai dari SMAK St. Louis dan beberapa SMA kepada sejumlah pondok pesantren di kabupaten itu. Kami memilih pesantren karena kami ingin berdialog dengan umat Islam dan mengetahui bagaimana mereka memahami orang Kristen. Kami juga memberikan pelatihan manajemen kepada para santri.

Kami menyadari bahwa membangun kerukunan antaragama tidaklah mudah, dan itu butuh waktu. Namun kami harus berpikir bahwa kerukunan adalah keharusan. Untuk itu saya kira FKUB perlu menggalakan bentuk-bentuk komunikasi dengan umat yang berbeda, yang memerlukan isi dan semangat yang mencakup tak sekedar teknis dan praktis, tapi juga saya kira dengan pendekatan psikologis, yang mana semua umat beriman didorong untuk memahami setiap komunitas agama dan menghargai satu sama lain.

Apa peran nyata FKUB di Surabaya?

Kami membantu mengadakan berbagai dialog antaragama. Ini terjadi, misalnya, ketika orang Protestan membangun gereja di Rungkut, namun warga di sekitarnya melarang. Pada hal pihak wali kota mengijinkannya. Namun, pelayanan agama mereka yang diiringi dengan musik yang keras, mengganggu warga yang tinggal di sekitarnya. Kami membantu ketegangan itu dengan mengadakan dialog di antara pihak-pihak yang berselisih itu.

Bagaimana dialog itu bisa meningkatkan hubungan antaragama?

Dialog itu merupakan komunikasi dua arah. Ini bisa langgeng kalau para penganut agama bisa saling memahami masalah yang dihadapi namun tidak masuk dalam dogma atau doktrin agama agar kita dapat mencapai solusi.

Ada tiga bentuk dialog: dialog karya, dialog kehidupan, dan dialog iman. Dialog karya adalah sebuah bentuk kerja sama di antara agama dan keyakinan berbeda yang ditujukan pada karya sosial.

Bantuan bagi para korban bencana semburan lumpur di Porong adalah sebuah contoh. [Peristiwa di Porong, Jawa Timur, terjadi semburan lumpur panas akibat pengeboran sumur gas dan yang menimbulkan pipa meledak yang menewaskan 13 orang dan mencedrai yang lainnya. Semburan sumur gas itu merendam lebih dari 1.810 rumah serta bangunan lainnya di 12 desa dari tiga kecamatan, mengakibatkan 13.000 orang kehilangan tempat tinggal.]

Dialog kehidupan adalah sebuah bentuk aksi konkret yang bertujuan untuk meningkatkan saling menghargai dan hidup rukun, seperti mengunjungi dan menyampaikan ucapan selamat kepada mereka yang merayakan pesta keagamaan. Dialog iman adalah bentuk kerja sama yang bertujuan untuk membahas permasalahan tertentu berdasarkan pandangan teologis, seperti sebuah sesi diskusi tentang masalah semburan lumpur.

Jika kita memahami permasalahan yang dialami warga setempat namun kita mengabaikan masalah itu dan tidak melakukan dialog, keadaan itu secara bertahap mempengaruhi hubungan antaragama. Namun jika kita memahami masalah yang dihadapi warga setempat dan menanggapi melalui dialog, kita meningkatkan hubungan antaragama. Dialog karya yang baik kalau semua umat beriman menghormati dan memahami satu sama lain.

Apa yang menjadi prioritas FKUB di Surabaya?

Kami ingin memperbaiki hubungan antaragama. Dengan model kerukunan yang sudah dibangun dan akan terus dibangun diharapkan mampu mendorong FKUB untuk sedikit melakukan perubahan dan kehidupan beragama menjadi lebih baik. Tapi, tentu saja hal ini memerlukan transformasi dan energi. Dengan kesalehan sosial yang akan dibangun oleh FKUB diharapkan umat beragama semakin kristis menepis provokasi dan memiliki daya juang untuk merekat kerukunan. Dalam jangka panjang, melalui karya bersama itu kami akan mendirikan lembaga pendidikan FKUB.

Apa yang dilakukan Gereja Katolik lokal untuk meningkatkan dialog antaragama?

Faktanya, kita ini kelompok kecil. Namun, kita bisa menyuarakan ide-ide, harapan-harapan bersama yang lain berdasarkan nilai-nilai Kristiani.

Dalam perjuangannya Gereja Katolik memiliki patokan yang jelas, sesuai dengan ajaran para Bapa Gereja termasuk Nostra Aetate, atau “Deklarasi tentang Hubungan Gereja dengan agama non-Katolik” (Konsili Vatikan II, 1965). Namun, Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Surabaya melihat bahwa masyarakat akar rumput masih tidak memiliki pemahaman yang baik tentang deklarasi itu. Maka, komisi itu mengadakan pertemuan secara berkala di paroki-paroki.

BACA JUGA
Buku keempat Romo Eko Budi Susilo.

No comments:

Post a Comment