22 February 2008

Paguyuban sepeda ontel Gedangan




Paguyuban Sepeda Kuno Karangbong (PSKK) sangat terkenal di kawasan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo. Seperti juga komunitas sejenis, PSKK ini muncul secara spontan. Beberapa pemilik sepeda kuno [rata-rata produksi tahun 1940-an] yang tinggal di kawasan Karangbong merasa perlu bersepeda bersama.

"Yah, ketimbang sepedanya ditaruh saja di rumah," cerita Kuzairi, ketua PSKK, kepada saya.

Maka, Kuzairi dan kawan-kawan setiap Ahad pagi mengayuh sepedanya mengitari beberapa ruas jalan utama di Gedangan, Buduran, Sidoarjo, dan sekitarnya. Sekali-sekali mereka bersepeda ke Surabaya untuk bergabung dengan sesama penggemar sepeda kuno di Surabaya.

Setiap kali melintas di jalan raya, Kuzairi, Suparno, Kabul, Muslimin, dan kawan-kawan selalu mengenakan busana khas tempo doeloe: topi lebar, celana jengki, mirip pejuang '45. Tentu saja, warga Karangbong ini menjadi pusat perhatian warga. "Teman-teman yang punya sepeda kuno akhirnya datang bergabung," kata Kuzairi.

Kini, PSKK yang berdiri pada 2004 ini punya 100-an anggota. "Sekarang turnya lebih sering. Kita juga diundang mengikuti acara-acara penting di Sidoarjo dan Surabaya," tambah Suparno. Saat tujuh belasan lalu, paguyuban sepeda kuno asal Gedangan ini diajak memeriahkan acara sepeda sehat di Museum Mpu Tantular, Buduran.

"Kita juga sudah touring tiga kali di Kediri, dua kali di Surabaya. Sekarang teman-teman Kediri yang ke Sidoarjo sebagai kunjungan balasan," timpal Muslimin.

Apa sebetulnya kriteria sepeda kuno? Sederhana saja. Semua sepeda yang diproduksi di bawah tahun 1950 baik masih orisinal maupun yang sudah dimodifikasi sudah bisa digolongkan sepeda kuno. Namun, sepeda produksi 1940-an jauh lebih disukai karena penampilannya 'klasik'. Sepeda tua buatan sebelum kemerdekaan, 17 Agustus 1945, lebih disukai karena mengingatkan kita pada pejuang-pejuang kemerdekaan.

Menurut Kuzairi, merek-merek terkenal yang sangat digemari komunitas sepeda kuno antara lain Gasile, Simplex, Hember, BSA, dan Ralleigh. Praktis, sepeda-sepeda tahun 1940-an ini sudah tidak diproduksi lagi sehingga nilai koleksinya sangat tinggi. Hanya kolektor yang benar-benar 'gila' sepeda yang punya.

"Makanya, teman-teman yang punya sepeda kuno ini biasanya karena orang tua atau kakek-neneknya memang punya sepeda kuno. Kalau sepedanya banyak di toko, ya, bukan sepeda kuno namanya," tutur Kuzairi.

Di sinilah letak manfaat menjadi anggota komunitas sepeda kuno. Sebab, mereka bisa memperoleh informasi seputar suku cadang serta hal-hal lain yang berhubungan dengan sepeda dari sesama anggota komunitas. Asal tahu saja, jaringan informasi di antara komunitas sangat baik.

"Kalau ada suku cadang yang tidak ditemukan di Sidoarjo, kita bisa menghubungi teman-teman di Surabaya, Malang, Kediri, Jakarta, dan sebagainya. Memang kita saling mendukung satu sama lain," tambah Kabul.

Bersepeda, apalagi di musim bahan bakar mahal seperti sekarang, jelas sangat bermanfaat. Bersepeda pun merupakan olahraga yang sehat, mudah, murah, bisa dilakukan siapa saja. Namun, dalam praktik bersepeda di Sidoarjo yang makin padat jelas tidak senyaman dulu. Sekarang ini, kata Kuzairi, nyaris tidak ada tempat lagi bagi masyarakat pengguna sepeda ontel. Jalan raya dikuasai oleh sepeda motor dan kendaraan roda empat.

"Kita mau sepedaan di jalan raya sudah susah. Kita sudah tidak dihormati oleh pengguna kendaraan bermotor. Jangan heran anak-anak muda sekarang sudah banyak yang tidak mau naik sepeda ke sekolah. Padahal, dulu anak-anak ke mana-mana naik sepeda," ujar Kuzairi.

Sempitnya fasilitas bersepeda di Sidoarjo dan sekitarnya membuat anggota PSKK hanya
bisa bersepeda santai setiap Minggu pagi di kawasan Aloha, Gedangan, Waru, Sidoarjo, dan Surabaya. Toh, mereka bangga karena bisa mengembangkan kendaraan alternatif yang sangat hemat BBM.

Siapa tahu setelah harga BBM naik, naik, dan naik lagi, makin banyak warga Sidoarjo yang berpaling ke kereta angin, kendaraan favorit di masa perjuangan tempo doeloe.

BACA JUGA
Komunitas sepeda kuno di Surabaya

8 comments:

  1. Wah sepedane antik tenan ya mas ...
    Memang begitu, di Swiss sepeda begini juga masih laku lho... Kalo disolo disebute sepeda Jengky. he he ..

    Ngomong2 mas Hurek piye kabare?...

    Salam.

    ReplyDelete
  2. Suwun Ning Judith selalu mampir ke rumah mayaku. Aku baik2 saja, cuma rada gak segar gara2 sering melekan liat bal2an di tv: champion league. Soale Ning, di Indonesia ini siaran langsung di atas jam 02.00 dini hari. Lha wong aku wis kecanduan bal2an!

    Salamku untuk precil2e sampeyan sing manis lan bapake anak2. GBU.

    ReplyDelete
  3. buat pecinta sepeda antik...
    aq mau jual sepeda columbia made in USA pembuatan tahun (perkiraan) 1923, warna hitam, frame 22, model ontel, orsinil (kecuali jok).

    ReplyDelete
  4. hidup sepeda onthel!!!!

    ReplyDelete
  5. kayaknya dijaman sekarang dimana harga bbm sangat melambung tinggi, kayaknya kita mesti balik lagi pake sepeda ontel kaya dulu ....

    salam kenal semua ..

    ReplyDelete
  6. Buat Teman2 semua ..
    mau jual jaket nih motif sepeda ontel..
    harga 80 rb aja.
    ym: sijenggot_03@yahoo.com
    022-30153400

    terima kasih

    http://uploading.com/files/JSQA2SVX/CIMG0877.jpg.html

    ReplyDelete
  7. Di gedangan ada yang mau jual onthel ga mas?natal nt daku mo pulang ke gedangan,rumahku di komp AP belakang pabrik new era,kalo ada email ke adhitya@amtmail.com ya....

    ReplyDelete
  8. antik banget sepedanya... jadi pengen

    ReplyDelete