18 February 2008

Ong Khing Kiong Bapak Tri Dharma

Ong Khing Kiong menjadi ketua Perhimpunan Tempat Ibadah Tri Dharma Seluruh Indonesia sejak 1983. Bagi umat Tri Dharma, dia adalah salah seorang penjaga tradisi suci agama tersebut.

Oleh Doan Widhiandono
Sumber: Jawa Pos 3 Februari 2008


Apa sesungguhnya makna Imlek bagi umat?

Memang, saya mengakui bahwa masih banyak salah kaprah dan salah sangka tentang Imlek atau tentang berbagai hal. Misalnya, ada omongan bahwa Imlek terkait dengan festival-festival atau kue keranjang. Bukan itu. Memang, saat Imlek, toko-toko, plaza, dan hotel berhias merah. Saya tidak memungkiri dan tidak mempermasalahkan. Boleh-boleh saja para pedagang memanfaatkan momen-momen hari raya tertentu. Tapi, makna Imlek yang sejati bukan itu.


Bagaimana penggambaran makna Imlek tersebut?

Imlek (Sin Cia Wan Tan) amat penting. Itu adalah hari pertama dan timbulnya matahari pertama. Itu berbarengan juga dengan detik terakhir tahun yang lama. Peredaran satu tahun adalah lingkaran yang dikatakan wan. Artinya, permulaan dan titik pertama. Itu berarti permulaan kehidupan atau dunia baru yang baru saja meninggalkan malapetaka. Dapat juga dikatakan sebagai penyucian alam. Pada saat itu, alam menurunkan banyak air yang seakan-akan mencuci semua yang lama, yang membawa pergi kotoran dan menjadi suci bersih.

Irama alam juga berbentuk lingkaran. Karena itu, umat meniru alam yang baru saja menyelesaikan lingkaran satu tahun dengan sempurna. Demikian pula, umat mengadakan penyatuan kembali. Antaranggota keluarga bersatu. Mulai yang paling tua hingga yang baru lahir, disambung yang akan lahir dan menghubungi yang wafat. Itulah yang dinamakan lingkaran besar dan pada saat itulah dikatakan manunggaling kawula gusti.


Karena itu, Imlek selalu hujan?

(Akiong tertawa). Betul. Tapi, secara hukum alam tidak bisa dijelaskan begitu. Imlek adalah awal musim semi. Musim yang dihitung dengan perhitungan peredaran bulan yang cocok dengan peredaran musim. Musim semi kan berarti hujan. Artinya, kalau musim semi tidak hujan, ya berarti ada yang tidak benar dalam siklus alam tersebut.


Terkait dengan tahun yang baru, apa arti terbesar Imlek?

Rek rek sin, yu rek sin. Ada hari, ada pembaruan. Semangat pembaruan itulah yang penting. Tapi, pembaruan yang bagaimana? Jin ai sin ming. Pembaruan yang positif, yang mewujudkan cinta kasih, layaknya orang tua dan anak atau raja dengan rakyat.

Rojo iku lak onok sanepane. Apa sanepa raja? Rojo itu Roh kang ngejawantah, Tuhan yang menjelma. Itulah makanya ada sabdha pandhita ratu. Titah raja itu suci. Dalam bahasa Mandarin, Raja itu wang. Tulisannya, tiga garis mendatar dihubungkan satu garis tegak. Raja itu menghubungkan langit (Tuhan), manusia, dan bumi.

Lha kalau romo (ayah) itu berarti roh kang utama. Itu sebabnya anak harus berbakti kepada orang tuanya.


Anda sudah mengetuai Perhimpunan Tempat Ibadah Tri Dharma (PTITD) Seluruh Indonesia selama lebih dari 20 tahun. Bagaimana ceritanya?

Saya juga tidak tahu. Itu mungkin bagian dari karma saya. Memang, kebetulan, Pak Ong Kie Tjay adalah ayah saya. (Ong Kie Tjay adalah penggagas dan pendiri PTITD. Pada 15 Mei 1967, PTITD tingkat Jatim lahir. Setahun kemudian, pada 25 Desember 1968, PTITD seluruh Indonesia didirikan. Dengan itu, PTITD resmi menjadi wadah tunggal TITD (kelenteng-kelenteng) di Indonesia. Ong Kie Tjay lantas menjadi ketua PTITD seluruh Indonesia hingga wafat pada 1985. Dia pun digelari Bapak Tri Dharma Indonesia.)

Tapi, meski begitu, pemilihan ketua tersebut berlangsung sangat demokratis. Walaupun Papa saya menjadi ketua begitu lama, pemilihannya juga tetap menjunjung demokrasi. Itu juga terjadi pada saya. Padahal, dalam perhimpunan tersebut, banyak yang lebih senior dan berpengalaman dibandingkan saya. Saya juga tidak tahu mengapa saya terpilih. Namun, saya tetap berusaha menjalankan tugas dan kepercayaan ini sebaik mungkin. Wong saya ini kalau ndak ada kertas suara ya ndak berani jalan.


Memimpin begitu lama, Anda pasti mengalami diskriminasi atau pengekangan saat kebudayaan Tionghoa coba diberangus. Seperti apa?

(Akiong tak langsung menjawab). Saya pribadi berpendapat bahwa tidak ada diskriminasi. Buktinya, tempat ibadah Tri Dharma masih tetap ada. Saya punya wayang potehi (wayang boneka khas Tiongkok) yang juga masih tiap hari tampil. Barongsai saya pun masih bisa tampil untuk upacara-upacara ritual.


Tapi, apakah itu berarti tidak ada masalah selama ini?

Saya tidak mengatakan itu. Tapi, apakah saya harus mengatakan bahwa ada diskriminasi, padahal saya tidak merasa didiskriminasi. Tapi, saya dan rekan-rekan memang pernah memperjuangkan untuk menghapus Inpres No 14/1967 yang dalam pelaksanaannya banyak distorsi. (Inpres No 14/1967 mengatur tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China. Dalam inpres itu, warga Tionghoa memang diistilahkan sebagai China. Salah satu poin dalam inpres, pelaksanaan tata cara ibadat Tionghoa harus dilakukan secara intern dalam hubungan keluarga atau perorangan. Perayaan pesta agama dan adat istiadat pun tidak boleh dilakukan secara mencolok di depan umum. Dalam perkembangannya, inpres tersebut ditindaklanjuti Keputusan Bersama Medagri dan Jaksa Agung No 76/1980 dan Inmendragri No 455.2-360).


Apa yang Anda nilai tidak pas pada inpres tersebut?

Dalam inpres disebut tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat China. Artinya, apakah ada agama China (Tionghoa). Itu yang saya rasa harus diperbaiki. (Inpres tersebut akhirnya dicabut dengan Kepres No 6/2000 pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid).


Banyak yang mengkritik, anak muda sekarang kian jauh dari agama. Bagaimana menurut Anda?

Itu tidak benar. Wong tempat-tempat ibadah agama di mana-mana semakin banyak. Tapi, yang membikin saya prihatin justru anak-anak muda yang tidak menjalankan nilai-nilai agama dan adatnya. Yang pesta narkoba lah, dan sebagainya.

Sebagai warga Tionghoa, Anda terlihat menyukai bahkan menguasai filosofi Jawa.

Haha... (Akiong tertawa lepas). Saya kan dilahirkan di tanah Jawa. Saya ini tidak berpendidikan. Pendidikan saya rendah. Tapi lha kok iso koyok ngene? Itu karena saya banyak belajar secara otodidak. Saya pengusaha. Saya sering mendapat kesempatan berkeliling ke daerah-daerah. Itu juga saya gunakan untuk bertemu orang-orang pandai, orang-orang yang dituakan. Saya banyak belajar dari mereka.


Apa saja yang Anda pelajari?

Ada petuah yang saya terima begini, "Ngger, kowe ojo bodho-bodho. Kowe iki kudu ngerti papan pancer. Kudu ngerti papan dununge." Apa maksudnya? Artinya, saya harus menyadari tempat saya berpijak. Saya harus menyadari karma-karma saya.


Anda dikenal sebagai pribadi yang tidak suka diekspos, tidak suka tampil di media. Mengapa?

(Akiong tersenyum) Saya ini bukan siapa-siapa. Saya ini pelayan, bukan tokoh. Saya memang tidak suka tampil di media. Tapi, saya sempat kecolongan. Saat saya memimpin upacara, besoknya ada foto saya di koran. (Akiong tersenyum lagi). Saya sebenarnya kaget. Bagaimana bisa ada foto saya? Tapi, ternyata ada umat yang berkata, "Lha, ngene gelem masuk koran." Artinya apa? Kadang ada juga umat yang ingin pemimpinnya tampil. Itu juga karma saya. Jadi, meski saya tidak bersekolah, saya juga punya karma untuk memberikan pencerahan.


Tentang Ong Khing Kiong

Nama lengkap : Ong Khing Kiong
Nama akrab : Akiong
Alamat: : Jl Urip Sumoharjo
Istri : dra Oei Kong Mee MPd
Anak : 1. Ming Shan Wang
2. Ming Tan Wang
Pendidikan : SD Si Hwa
SMP Sin Cung
Jabatan : - Ketua I (Bidang Keagamaan) dan Ketua Harian Perhimpunan Tempat Ibadah Tri Dharma Indonesia.
- Ketua I dan Ketua Harian Tempat Ibadah Tri Dharma Hong Tik Hian, Jalan Dukuh.

No comments:

Post a Comment