14 February 2008

Liem Ou Yen tokoh Tionghoa Surabaya




Oleh NOVILAWATI ANISA

Kerukunan antara warga Tionghoa dan non-Tionghoa di Kota Surabaya tak bisa dilepaskan dari peran LIEM OU YEN. Pengusaha di kawasan Kembang Jepun ini selalu menjadi jembatan penghubung untuk menciptakan kerukunan itu.

Gong Xi Fa Cai. Selamat tahun baru Imlek.

“Ooo, terima kasih, terima kasih. Semoga kita semua jauh lebih baik di tahun baru ini. Tahun tikus tanah katanya memang lebih baik dari sebelumnya. Semoga memang demikian adanya.”

Bagaimana awal mula berdirinya Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya?

“Paguyuban itu terbentuknya sudah lama sekali. Tahun 1983 kita sering kumpul-kumpul. Awal mulanya di paguyuban ini hanya ada dua-tiga yayasan. Kita kerja tidak sendiri, tapi ada juga suku Jawa, khususnya yang muslim.

Kita buka puasa bersama atau halal bi halal. Lalu ada bencana di Gunung Kelud (1983). Kita ngumpul-ngumpulin duit buat nyumbang. Ternyata itu mendapat respons yang bagus dari yayasan lain. Sampai sekarang kita sudah menaungi sekitar 70 yayasan.”

Apa peran Paguyuban Masyarakat Tionghoa dalam masyarakat kita?

“Kegiatan utama kita sebenarnya bakti sosial. Memberikan bantuan kepada mereka yang mendapat bencana. Tak selalu bencana alam, karena masyarakat Madura yang kena pemadaman listrik pun kita bantu. Lalu, kita juga membantu masyarakat yang jadi korban bentrok antaretnis, Madura dengan Dayak (dikenal dengan peristiwa Sampit-Sambas). Masyarakat yang terkena bencana banjir di Situbondo juga menjadi salah satu target bantuan kita. Kita juga membantu korban tsunami, gempa di Jogja, dan korban banjir di Bojonegoro, Tuban, Ponorogo, dan Lamongan.”

Apa sebenarnya visi atau misi PMTS?

“Visi dan misi kita hanya satu, yaitu bakti sosial saja. Kita membantu korban bencana karena dilandasi rasa kemanusiaan. Jadi tidak ada bau-bau politik atau yang lainnya.”

Berapa anggota paguyuban ini?

“Beragam. Tergantung besar kecilnya yayasan. Ada yang anggotanya 2.000. Kalau yang kecil sekitar 200-an. Di Surabaya ini kira-kira jumlah warga Tionghoanya sekitar 4.000-an.”

Apa saja program paguyuban ke depan?

“Kita ini fleksibel saja. Kalau ada bencana, ya kita kumpulin duit untuk nyumbang. Semoga saja tahun-tahun mendatang Indonesia tak ada bencana lagi, jadi kita bisa membantu ke sektor lain, misalnya pendidikan. Pendidikan itu penting. Kalau negara mau maju, rakyatnya jangan bodoh. Bagaimana negara kita mau maju, kalau rakyatnya bodoh. Pengusaha juga jangan lemah. Karena kalau lemah, ekonomi kita akan terganggu. Ayo semua sektor maju bersama untuk kejayaan Indonesia.”

Bagaimana Anda bisa ditunjuk sebagai koordinator paguyuban?

“Ya, karena saya dianggap dekat dengan masyakarat di luar suku Tionghoa. Misalnya saya dekat dengan NU (Liem bahkan bersahabat dengan Abdurahman Wahid alias Gus Dur, mantan presiden yang juga mantan ketua umum PBNU dan ketua Dewan Syura PKB). Saya juga dekat dengan kalangan pemerintahan. Dengan anak jalanan pun saya dekat, misalnya dengan anak-anak Sanggar Alang-Alang.

Saya memang berusaha dekat dengan siapa saja. Dari kedekatan itu, ternyata muncul satu pemikiran. Karena waktu itu negara kita dilanda banyak bencana, maka siapa yang harus memberi bantuan kalau bukan kita. Saya ini kan juga warga Indonesia. Akhirnya, ya saya yang ditunjuk sebagai koordinatornya.”

Selain memberi bantuan, apa acara rutin lain yang dilakukan oleh paguyuban?

“Intinya memang memberi bantuan. Tapi kita sebenarnya tidak melakukan itu saja. Melalui Yayasan Bhakti Persatuan, kita memberi beasiswa kepada anak-anak non-Tionghoa setingkat SD, SMP, dan SMA yang kemampuan materinya kurang. Ada 500 orang yang kita bantu. Bhakti Persatuan itu yayasannya para pengusaha Tionghoa.”

Setelah pemerintah memberikan pengakuan terhadap hari raya Imlek, bagaimana Anda melihat perkembangannya hingga sekarang ini?

“Tambah tahun saya lihat tambah maju. Perkembangannya semakin bagus. Yang tidak bagus itu kan saat orde baru.”

Maksud Anda?

“Imlek itu kan budaya. Anehnya, kenapa budaya ini tidak diperbolehkan di Indonesia saat masa orde baru dulu. Kenapa budaya Tionghoa dikekang, sedang yang lain tidak? Padahal, menurut sejarah, orang Tiongkok tidak pernah menjajah Indonesia. Tapi kenapa balas dendamnya ke budaya Tionghoa. Kalau mau balas dendam seharusnya ya ke Jepang atau Belanda yang pernah menjajah Indonesia.

Kita bersyukur akhirnya Gus Dur (presiden RI keempat) menyetujui budaya-budaya kita dikembangkan, lalu muncul pertunjukkan liang liong atau barongsai. Begitu juga ketika Presiden Megawati meresmikan hari libur nasional untuk Imlek, nah semua mulai berkembang ke arah yang sangat baik.”

Siapa yang berperan besar dalam menciptakan kerukunan hidup antara suku Tionghoa dan non-Tionghoa?

“Banyak yang berjuang di dalamnya, teman-teman suku Tionghoa, atau suku lainnya juga. Yang paling penting adalah tujuan kita sama, yakni bagaimana negara kita ini maju dan tidak kalah dengan negara lain. Misal kata, kalau negara kita tidak ada gontok-gontokkan, tidak ada diskriminasi antarsuku, tidak ada kesenjangan, saya yakin kita jadi negara makmur. Yang penting kita ini jangan ribut terus.”

Anda ini pengusaha, tapi bisa diterima di segala lembaga.

“Prinsip saya, saya harus bisa kumpul dengan semua lapisan masyarakat. Indonesia ini dibangun oleh tiga lapisan, yakni atas, menengah, dan bawah. Orang miskin pun harus kita perhatikan. Kita harus bisa duduk sama rendah atau berdiri sama tinggi.”

Falsafah hidup Anda?

“Kita hidup jangan cari musuh. Pokoknya jangan sampai bermusuhan dengan siapa pun. Jangan mempersulit orang lain. Kalau satu urusan bisa diselesaikan sekarang, ya lakukan saat itu juga. Jangan disimpan-simpan.”

Kalau Anda diminta mengucapkan terimakasih atas kondisi kerukunan seperti sekarang, kepada siapa Anda akan menyampaikannya?

“Saya harus banyak-banyak berterima kasih kepada pemerintah. Pemerintah kalau tidak membuka keran untuk budaya Tionghoa, kita pasti tetap akan merasa terkekang. Kedua, terimakasih kepada teman-teman Tionghoa. Di yayasan-yayasan, di perhimpunan-perhimpunan yang dekat dengan pemerintahan. Ayo kita maju bersama.”

RAJIN BERENANG

Usianya sudah 63, tapi LIEM OU YEN terlihat masih sangat sehat. Padahal, kakek dua cucu, yakni Vincent Leonard dan Christabel Florencia ini, saban harinya punya kegiatan yang sangat padat.

Mulai pukul 08.00, dia harus ngantor di Jl Kembang Jepun 46 Surabaya. Di UD Gunung Mas itulah, dia mencari penghidupan dengan membuka usaha penjualan pipa. Kalau tidak ada kegiatan yayasan, dia punya kewajiban ngantor sedikitnya delapan jam sehari.

“Kalau lagi banyak acara seperti sekarang ini, ya seringkali kantor ini saya tinggalkan. Mau gimana lagi, kegiatan di yayasan juga penting,” katanya.

Liem Ou Yen terlibat sedikitnya di 10 yayasan. Hebatnya, di semua yayasan itu dia berperan sangat aktif. Contohnya sebagai penasihat Yayasan HM Cheng Hoo, pagi itu dia harus menyiapkan siapa saja tamu yang akan duduk di deretan undangan VVIP dalam gala dinner perayaan Imlek untuk penggalangan dana korban banjir.

“Saya bukan panitia. Tapi saya dapat tugas nulis-nulis ini untuk tamu-tamu VVIP,” terang pria kelahiran Muara Teweh, Banjarmasin. Kalimantan Selatan.

Lantas, apa resep sehatnya?

Setelah menyunggingkan senyumnya, pria ramah ini mengaku kunci kesehatan ada di mulut. Karena itu, dia selalu berusaha bisa mengontrol makanan yang akan disantapnya.

“Kita ini sudah 60 tahun lebih. Sudah golongan sepuh. Jadi ya harus pandai-pandai memilih makanan. Toh, waktu muda kita bisa menyantap apa saja,” tegasnya.

Selain menjaga makanan, Liem Ou Yen juga selalu berusaha untuk menjaga setiap perkataan yang keluar dari bibirnya. Menurut ayah dua putra ini, perkataan adalah cermin dari diri. “Kalau tutur kata bagus, sudah pasti kita banyak teman. Begitu juga sebaliknya,” jelas suami Listiani ini, ramah.

Selain menjaga makanan dan perkataan, masih ada satu resep lain yang rutin diterapkan Liem Ou Yen untuk menjaga kesehatannya. Pria ini ternyata rajin berenang. “Setiap minggu bisa empat kali berenang. Kalau banyak acara, ya dalam seminggu minimal sekali saya harus menceburkan diri ke kolam”.

Liem biasa berenang di kolam kompleks Surabaya Plaza. Dia sudah melakukan olahraga akuatik ini sejak muda. Selain renang, Liem sebenarnya juga jago main basket. Tapi karena fisik sudah tak mendukung, dia memilih pensiun dari olahraga itu. “Kadang-kadang masih suka kangen main basket, tapi sekarang nggak lah. Tubuh sudah nggak kuat. Basket buat yang muda-muda saja,” pungkasnya diiringi derai tawa.



BIODATA SINGKAT

Nama : Liem Ou Yen atau Djono Antowijono
Lahir : Muara Teweh, 31 Juli 1945
Alamat : Mulyosari Utara XI/28-30, Surabaya
Ayah : Liem Boun Tjie
Ibu : Tio Tjin Tji
Istri : Listiani
Putra : 1. Fredy Koerniawan
2. Hari Santoso
Pekerjaan : Owner UD Gunung Mas

ORGANISASI
1. Koordinator Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya.
2. Wakil Ketua Yayasan Bhakti Persatuan Surabaya.
3. Wakil Ketua Yayasan Fajar Dharma Sosial.
4. Sekjen Kadin Indonesia Komite Tiongkok (KIKT) Jatim.
5. Sekum Indonesia China Business Council (ICBC) Jatim.
6. Wakil Ketua Lembaga Kerjasama Ekonomi Sosial dan Budaya RI-RRT.
7. Wakil Ketua Pembina Yayasan Lima Bhakti.
8. Dewan Penasihat Yayasan HM Cheng Hoo.
9. Bendahara PMI Surabaya.

PENGHARGAAN
1. PMI Pusat mengenai bantuan bencana tsunami Aceh.
2. PMI Jatim mengenai bantuan bencana banjir Situbondo.

3 comments:

  1. maaf, aku chyntia ingin mewawancarainya berkaitan dengan tugas kemahasiswaan saya. bolehkah saya tahu nomor teleponnya? atau email? maukah dia diwawancarai? thank you

    ReplyDelete
  2. pak liem ini tergolong pengusaha yg memberi banyak waktu utk kegiatan sosial. salut.

    ReplyDelete
  3. Pak Ouyen ini sangat terbuka dan bisa menjelaskan banyak hal tentang aktivitas marga Tionghoa, pengusaha Tionghoa, di Surabaya (Jatim). Cuma saya tidak berani cantumkan nomor teleponnya di blog ini karena khawatir disalahgunakan orang. Dunia internet itu sangat rawan lah.

    ReplyDelete