21 February 2008

Klub Indo Belanda di Surabaya


Eddy Samson [kiri] lagi pimpin rapat Indo Club Surabaya.


Di sebuah siang, rumah EDDY SAMSON Jalan Asem Mulya IV/1 Surabaya riuh oleh sejumlah orang yang berbicara dalam bahasa Belanda. Meski beberapa terlihat berbahasa secara pasif, bahasa mereka masih sangat kental hingga suasana terasa seperti di Negeri Belanda.

Tapi, jangan salah, mereka hanyalah para Indo-Belanda. Bukan Belanda asli. Mereka keturunan Belanda yang tinggal dan sebagian besar lahir di sini.


Mereka tergabung dalam kelompok bernama Indo Club Soerabaya (ICS). Saat ini, ICS telah merekrut sekitar 120 Indo-Belanda. Rata-rata mereka generasi kedua dari pasangan Indonesia-Belanda. Sementara termuda, adalah generasi ketiga atau anak-anak mereka.

"Karena masih tergolong generasi kedua yang lahir pada masa sebelum kemerdekaan, usia mereka cukup lanjut. Yaitu mulai 50 tahun hingga 90 tahun,’’ terang Eddy Samson, ketua ICS.

Darah Belanda itu, menurut tokoh yang berjasa menghidupkan beberapa cagar budaya di Surabaya ini, biasanya didapat dari ibu atau ayah mereka. Ia mencontohkan salah satu sahabatnya yang juga anggota ICS, GEERTRUIDA KOOPMAN, anak FEDRIK KOOPMAN dan RATNA WALTHER yang beribu ALBERTIN WALTHER. Karena sudah tua, bisa jadi inilah angkatan pertama dan terakhir ICS yang masih bisa berbahasa Belanda. Karena, mereka terbiasa memakainya dahulu di lingkungan keluarga.

Berdasarkan kriteria garis keturunan dan usia, ICS yang baru terbentuk pada 2007 terus mencari siap-siapa yang kira-kira tergolong Indo-Belanda. Terlihat sepele, namun awalnya pengurus tak mudah memperoleh sejumlah nama mereka yang tergolong Indo-Belanda.

Memang beberapa sudah ada ketika tercatat sebagai anggota kelab Indo-Belanda yang dibentuk yayasan di luar negeri. Seperti Halin (Hulp an Landgenoten In Indonesie), Mel Fraanje (MF), De Indo, Bambu dan Habini (Hulp aan Behoeften in Indonesie). Tapi jumlahnya terbatas sekali.

YAN FERDINANDUS yang kebagian mendata sejumlah nama, mengembangkannya lagi agar bisa merekrut lebih banyak Indo-Belanda, khususnya yang ada di Surabaya dan Jawa Timur. Salah satunya dengan menitipkan kabar tentang keberadaan ICS kepada siapa saja. Bisa lewat pertemuan, dan di luar pertemuan ICS yang digelar dua bulan sekali.

‘’Kalau ada yang tahu siapa saja yang masih berdarah Belanda, bisa kami catat untuk menjadi anggota ICS,’’ tambah Marcus Dirgo, wakil ketua ICS. Meski ICS terbentuk oleh mayoritas Indo di Surabaya, anggotanya juga datang dari Gresik, Pasuruan, dan beberapa daerah di Jawa Barat.

“Kami hanya saling tularkan info antarteman. Yang tahu ada Indo kenalan mereka atau tahu di sekitar lingkungan mereka, boleh diminta bergabung,’’ ungkap Yan, generasi ketiga dari perempuan Belanda bernama Frolien.

Karena kesulitan mengumpulkan para Indo, pengurus tak menargetkan jumlah anggota. Sambil berjalan, ICS akan terus menelusuri sejumlah Indo tak hanya di Surabaya. Tapi, juga di kota lain. Bahkan, meski ada embel-embel nama Soerabaya, anggota ICS tak hanya dikhususkan bagi para Indo yang ada di Kota Pahlawan. Tapi juga kota-kota lain di luar kota, bahkan luar Jawa.

“Tapi kalau kemudian setiap daerah ada banyak Indo yang bisa membentuk kelab cabang sendiri, ya bisa saja kata ketiga di belakang menunjuk kota yang bersangkutan,’’ tambah Max Grohe, salah satu anggota yang hadir dalam pendirian ICS.

Tak seperti kelab Indo yang dibentuk di luar negeri, di awal pendiriannya ICS tak memiliki dana khusus untuk memberikan santunan kepada anggota layaknya kelab Indo lain yang disokong dana dari luar negeri. Namun bukan berarti ICS tak memiliki niat menyantuni anggotanya. Dalam pertemuan Februari lalu, telah dibuka kas sukarela yang dikumpulkan saat ICS menggelar pertemuan.

Selain mencoba mengumpulkan dana sendiri, sudah banyak lembaga di Belanda atau sejumlah Indo di lembaga di berbagai negara yang siap menyalurkan dana lewat ICS. Mereka ini sudah lama menginginkan ada kelab Indo-Belanda bentukan orang Surabaya sendiri.

MESKI mayoritas beranggotakan para Indo-Belanda, ICS kini mulai membuka diri untuk anggota dari luar. Mereka yang hanya pandai berbicara dalam bahasa Belanda atau yang biasa disebut hollands spreken itu, memperbolehkan siapa saja masuk.

‘’Ini bisa juga menjadi ajang kumpul-kumpul warga Surabaya untuk menjajal kemampuan bahasa Belandanya dengan kami yang memang bisa karena terlahir di lingkungan keluarga Indo,’’ kata Yan Ferdinandus Voskamp.

Beberapa anggota baru yang masuk, namun bukan Indo-Belanda, kini tercatat dalam ICS. Seperti Koento yang bersekolah di HBS, sehingga pria ini fasih berbahasa Belanda. Juga Agus Darmadji alias Thjie Ing Hong yang tinggal di Bhaskara. Meski bersekolah di sekolah Tionghoa, Agus terbiasa berteman dengan para anak Indo.

‘’Eddy Samson adalah teman dan tetangga saya. Ketika bertemu dengan dia lagi saat sudah sama-sama pensiun, saya diajaknya masuk ICS karena saya bisa berbahasa Belanda,’’ katanya.

Karena akan menjadi kumpulan para Indo-Belanda dan hollands spreken, maka ICS bersiap menjadi organisasi yang mampu dijalankan dengan baik. Untuk itu, diperlukan perangkat-perangkat organisasi agar berjalan. Contohnya, memikirkan dana yang menjadi modal organisasi melakukan segala rencana dan program.

“Nah, dana itu bisa diambil dari iuran anggota setiap ada pertemuan,’’ kata Marcus Dirgo de Seriere, wakil ketua ICS.

“Kas itu bisa digunakan untuk membantu kepentingan anggota saat sakit, perlu pengobatan, atau meninggal. Sehingga tak perlu menunggu ada bantuan dari luar negeri," katanya. Namun, Marcus juga menginginkan agar dana yang dihimpun dari anggota itu, sewaktu-waktu bisa dipakai untuk membantu anggota jika ada yang kesusahan.

Ketika dibentuk pada awal 2007, ICS memang belum membuka kas sukarela yang bisa dikumpulkan saat ICS menggelar pertemuan setiap bulanan. Namun, seiring perkembangan waktu, hal itu mulai diakomodir. Usulan lainnya juga disampaikan tentang keikutsertaan anggota di bawah usia 50 tahun.

Ini bertujuan agar ICS bisa menjangkau keanggotaan yang meluas ke generasi di bawah mereka. Sebab, jika hanya mencari anggota di atas usia 50 tahun, atau yang pernah mengalami zaman penjajahan, maka jumlahnya akan makin berkurang.

‘’Lalu, siapa yang mewarisi kita dan yang membuat bahasa Belanda di tengah-tengah keluarga kita bisa bertahan kalau bukan anak cucu. Mereka perlu dilibatkan agar bisa menguasai bahasa Belanda dari pergaulan semacam ini,’’ kata Robert Augustin, Indo yang pernah bersekolah di Zaalberg School di Surabaya.

Sebelum ICS berdiri, sebenarnya sudah banyak kelab Indo-Belanda di Indonesia, termasuk di Surabaya. Bedanya, ICS adalah kelab pertama yang difasilitasi oleh warga negara Indonesia . Sedangkan kumpulan Indo lain seperti Halin, Habini, Bambu, dan De Indo atau Mel Fraanje (MF), selalu difasilitasi dan dananya didukung kelab Indo dari luar negeri.

Seperti Halin (Hulp an Landgenoten In Indonesie), adalah yayasan Indo-Belanda di Indonesia yang menerima bantuan dari orang Belanda di Belanda. Yayasan yang mengurus Indo-Belanda di Indonesia yang dibentuk oleh orang Belanda yang sudah menjadi warga negara lain, di antaranya adalah Hulp aan Behoeften in Indonesie (Habini), yang didukung orang Belanda di Amerika. Sedangkan Bambu, disokong oleh orang Belanda di Australia.

Anggota Halin, Habini, dan Bambu di Surabaya, mengambil santunan yang diterima tiap dua bulan sekali dalam sebuah pertemuan. Anggota Halin memerima santunan sebesar Rp 200 ribu tiap bulan. Ini belum termasuk jaminan kesehatan jika mereka menderita sakit. Untuk perawatan, mereka bisa mendapatkannya di RS Katolik St Vincentius a Paolo (RKZ) kelas tiga Surabaya.

Berbeda dengan yang diterima anggota Halin, anggota Habini dan Bambu menerima santunan Rp 300 ribu tiap bulan. Meski lebih besar jumlahnya, tapi anggota Habini tak menerima jaminan kesehatan seperti Halin dan MF yang disokong seorang wanita Indo-Belanda warga Belanda, Mel Fraanje.

“Sayang, kini Mel sudah meninggal, otomatis kelab MF bubar,’’ kata Eddy Samson.

Untuk memperoleh santunan, tak sembarang Indo-Belanda bisa bergabung dalam kelab-kelab itu. Rata-rata usia anggota harus mencapai di atas 60 tahun. ‘’Sebab di umur sekian, para Indo-Belanda itu tak bekerja lagi atau tak mendapat pensiun. Kelab-kelab ini memilih kriteria itu agar penerimanya tepat sasaran,’’ terang penggagas tim cagar budaya Von Faber yang kini berusia 72 tahun.

Sementara karena didirikan para Indo-Belanda dari Surabaya, ICS tak memiliki dana khusus untuk memberikan santunan kepada anggotanya. Eddy menyatakan, ada banyak lembaga di Belanda atau sejumlah Indo di lembaga di berbagai negara yang sudah lama menginginkan ada kelab Indo.

‘’Lewat kelab, mereka akan merasa lebih aman kalau memberikan santunan, tidak untuk orang per orang,’’ kata Eddy.

KONTAK PESON

Bapak EDDY SAMSON
Jalan Asem Mulya IV/1 Surabaya
031 547 4877, 031 720 539 10

19 comments:

  1. perkenalkan nama saya wouter aryan ,kebetulan saya mempunyai darah keturunan belanda,saya tidak bisa bahasa belanda krn dlm keluarga saya bahasa belanda tidak dipakai sama sekali.marga dr kakek saya gabler, bisa tidak keturunan belanda hidup dan bekerja di belanda ??
    tolong infonya

    ReplyDelete
  2. saya baru tahu klo ada perkumpulan keturuna belanda di surabaya,
    saya berasal dr malang, sedangkan kakek saya yang orang belanda asli tinggal di blitar

    ReplyDelete
  3. Bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai de INDO Club Soerabaya silahkan anda emailkan biodata & pasphoto anda di:

    yanferdinandus@yahoo.co.id

    Terimakasih...

    ReplyDelete
  4. Luar biasa Bapak Eddy, Bapak Yan, dan pengurus de Indo Club. semoga sukses.

    ReplyDelete
  5. apa indo2 itu gak semakin eksklusif? katanya pembauran, gak boleh exclusive?

    ReplyDelete
  6. menurut aku, bhs belanda emang bakalan ilang dari RI coz kalah ama english.

    ReplyDelete
  7. "apa indo2 itu gak semakin eksklusif? katanya pembauran, gak boleh exclusive?"

    Ngga lah ... takut amat. Pembauran bukan berarti melepas identitas 'kan ?

    ReplyDelete
  8. ada yg bisa beritahu alamat milis/hp de indo club dan yg lainnya juga.yg bisa dihubungi?email saya iikrikafitri@yahoo.com.

    ReplyDelete
  9. ibu saya berasal dari zaalberg school juga keluarganya dari keluarga van rehmrev yang dulu di soerabaya juga.begitu juga dengan kakak2nya,mereka adalah RENEE,JOSEPH,TJULITSE,IDA WILHELMINA,ANNA ELEONORA,LEENDERT,MELANIE RHEMREV.TERIMA KASIH.MOHON MENGHUBUNGI EMAIL SAYA UTK ALAMAT MILIS, HP DAN TOLONG KABARI JIKA ADA KEGIATAN2 REUNI LAGI.

    ReplyDelete
  10. kalau ada salah satu dari mereka yang memiliki keluarga de wilde, mohon kontak saya :)

    ReplyDelete
  11. Kenapa gak coba merambah ke kalangan selebritis? Di antara mereka banyak ko. Yang punya darah Indo-Belanda seperti Rudy Salam, Roy Marten, ama Indra L. Brugman.

    ReplyDelete
  12. Saya punya kenalan orang Belanda yang sedang mencari kakaknya, bernama Frans Shepens, dulu tinggal di Makasar. Sekarang tidak tahu sudah pindah kemana atau sudah berganti name. Bila ada yang mengetahuinya mohon email saya ke dwi.soerabaia @gmail.com. Maturnuwun :)

    ReplyDelete
  13. Selamat mlm, sy msh keturunan belanda dr ibu sy. Tp sayang sampai sekarang kami tdk mengetahui keberadaan kakek sy. Bisakah bpk membantu menemukan keluarga kakek sy yg tinggal di belanda? Nama kakek sy van hook kalo ga salah, kami tdk punya foto nya sama sekali, beliau dl sebagai MP atau PM , dulu beliau dinas di padang sumbar, beliau kembali ke belanda sewaktu ibu sy berumur 6 thn, sekitar thn 1955. Kalau bpk bisa membantu kami sangat menghargainya, trm ksh sebelumnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga mempunyai darah Belanda dari ibu saya. Ayah dari ibu saya juga bermarga Van Hook yang dulu bermukim di Semarang, tapi beliau pulang ke Belanda tahun 1967. Dan sampai sekarang kami tidak tahu bagaimana kabar beliau.

      Delete
  14. Selamat mlm. Sy keturunan belanda dr ibu sy, ayah ibu sy seorang belanda asli bernama van hook kalau ga salah, kami tdk mempunyai fotonya sama sekali, sy sangat ingin mencari beliau. Kakek saya dulu berdinas di padang sumbar sebagai MP atau Militer Police. beliau pulang ke negaranya sekitar thn 1955 ketika ibu sy berumur 6 thn. Bisakah bpk menolong kami menemukan kakek sy, atau menemukan keluarganya? Kalau bpk bs membantu kami sangat menghargainya.., trm ksh sebelumnya..

    ReplyDelete
  15. Selamat mlm, sy msh keturunan belanda dr ibu sy. Tp sayang sampai sekarang kami tdk mengetahui keberadaan kakek sy. Bisakah bpk membantu menemukan keluarga kakek sy yg tinggal di belanda? Nama kakek sy van hook kalo ga salah, kami tdk punya foto nya sama sekali, beliau dl sebagai MP atau PM , dulu beliau dinas di padang sumbar, beliau kembali ke belanda sewaktu ibu sy berumur 6 thn, sekitar thn 1955. Kalau bpk bisa membantu kami sangat menghargainya, trm ksh sebelumnya..

    ReplyDelete
  16. Saya juga punyA garis keturunan belanda dari kakek saya,tapi saya juga tidak fasih berbahasa belanda...saya berasal dari sumatra barat sebenarnya masih bnyak orng indo di sana tapi kami sudah berbaur dg orng minang dan susah mncari identitas kami lagi.. By.ricky nofriansyah

    ReplyDelete
  17. Calvin de Wilde10:14 AM, May 17, 2014

    apakah saya bisa meminta email eddy samson ataupun keturunannya?

    ReplyDelete
  18. Halo Saya Maria Anastasia, keturunan fam van Aagtens. Masih ada bbrp family member di Surabaya...kl ada info kluarga van aagtens, tolong dibantu email: marianasputri@yahoo.com

    ReplyDelete