16 February 2008

Hmm... shisa di Surabaya




Oleh RATNO DWI SANTO

Budaya merokok ala Timur Tengah alias shisa mulai merambah Surabaya. Meski belum menjadi tren seperti Jakarta dan di Kalimantan, namun penggemar Shisa di Kota Pahlawan cukup fanatik. Menariknya, penggemarnya tak lagi didominasi warga keturunan Arab.

Selasa (12/2/2008), café shop di Hotel Grand Kalimas terlihat lengang. Suasana itu menjadi pemandangan sehar-hari di hotel yang berlokasi di Jalan KH Mas Mansyur, Surabaya.

Dua lelaki bersama tiga orang perempuan tampak berbincang santai. Mereka duduk melingkar di atas sofa hitam. Di sela obrolannya, seorang laki-laki asyik mengisap selang kecil yang menghubung ke sebuah tabung setinggi 30 centimeter yang berdiri di atas meja. Dia kemudian menghembuskan asap putih lewat hidung dan mulutnya.

"Rasanya enak, seperti apel sungguhan. Tidak sesak di dada, berbeda dengan rokok tembakau biasa," ujar ZULFIRMAL.

Rokok yang tembakaunya berbentuk pasta dengan beragam rasa buah, seperti apel, stroberi, blackberry, mint, dan cappucino, itu telah menjadi prestise tersendiri. Penggunaannya yang mesti dilakukan lebih dari dua orang, membuat gaya merokok ini membentuk sebuah komunitas.

Zulfirman dan kawan-kawannya merupakan satu di antara pengguna shisa. Biasanya, dua sampai tiga kali seminggu, mereka datang ke Grand Kalimas. "Kebetulan saya suka suasana di sini, rumah saya juga dekat," katanya.

Shisa hanya bisa dinikmati dengan alat khusus berupa tabung, berbentuk seperti guci, namun memiliki leher lebih panjang. Di bagian atas terdapat tungku arang dilapisi alumunium foil untuk pembakaran pasta.

Tabung dari kristal itu umumnya juga dihiasi berbagai ukir-ukiran, sehingga terlihat lebih eksklusif. Pun, cara mengisap shisa, tak kalah unik. Berbeda dengan rokok biasa, mengisap shisa harus perlahan. Begitu pula saat menghembuskan asapnya. "Ini agar aromanya bisa berasa," kata Zulfirman.

Soal rasa, tergantung bahan pasta yang dipilih. Jika rasa apel atau stroberi, maka asap akan terasa seperti buah sebenarnya. Aroma asap yang dihembuskan pun tercium wangi.
Keunikan itulah tampaknya membuat shisa laris dan menarik perhatian banyak kalangan. Bahkan, kaum wanita pun tak segan mengisapnya. Sebab, shisa tak mambuat batuk. Kadar nikotinnya sangat rendah.


MUHAMMAD WAHYUDIN HUSEIN, pemilik Hotel Grand Kalimas Surabaya, menuturkan kehadiran shisha di Surabaya cukup lama. Namun, sebelumnya hanya tersedia terbatas di rumah-rumah warga Arab. Mereka menggunakan shisha di rumahnya sendiri-sendiri.

"Lalu, saya membuka tempat khusus layaknya kafe, apalagi ini menjadi tren di kota lain."

Wahyudin pun merombak beberapa ruang di dekat kafe. Ruang-ruang itu ada yang disekat. Di dalamnya dipakai ruangan khusus untuk pengunjung yang ingin lesehan. Daya tampungnya bisa 10 orang. "Shisha harus digunakan lebih dua orang biar meriah," ujar pria yang saat ini tercatat sebagai anggota DPRD Kota Surabaya.

Nuansa Arabian pun dihadirkan di kafe tersebut. Misalnya, salah satu ruangan diberi nama Abunawas. Dekorasi interior seakan memasuki tenda Arab. Plafon dihias dengan kain satin berwarna-warni panjang menjuntai sampai menutup dinding.

Lukisan suasana pesta di Arab, terpampang di beberapa sudut ruangan. Agar kental nuansa Arabnya, sofa pun di buat persis sofa kerajaan. "Kursi ini membuat sendiri, sebab tidak ada yang jual."

Bisa jadi karena kekhasan itulah, banyak pengunjung yang rela berlama-lama menghabiskan waktunya. Menu masakan Arab pun disediakan, seperti roti kubus Lebanon hingga kebab.

Untuk menghabiskan satu porsi shisha ternyata cukup lama, sekitar 90 menit. Itu pun harus dinikmati minimal tiga orang. Tak sedikit di antara pengunjung yang awalnya hanya coba-coba, tapi ketagihan habis.

Banyak alasan untuk kembali menikmati shisa. Salah satunya enak menemani kongkow-kongkow. Selain itu, harganya relatif tak mahal. Untuk satu porsi shisha dibandrol Rp 35 ribu rupiah. Tentu ini bakal ringan bila dibeli patungan.

Wahyudin tak menampik, sejak soft opening menu shisha, secara perlahan menjadi tren. Tak jarang, beberapa siswa yang masih berseragam mempir ke kafenya hanya sekadar menikmati shisa. Wahyudin yakin, shisha akan semakin digemari di Surabaya. Kehadiran shisha di Jakarta pada mulanya pun adem ayem, tak jauh beda dengan di Surabaya.

"Dulu, hanya tersedia di berbagai restoran Timur Tengah sehingga penikmatnya pun masih terbatas pada keturunan Arab,” itu," tutur pria kelahiran Gresik, ini.

5 comments:

  1. Di Swiss juga banyak merokok Shisa.
    Bahkan alat2nyapun dipublikasikan.
    Banyak masyarakat di Swiss yang rata2 50% adalah para pendatang : dari Egypten/Mesir, Turkey, Marokko dll dari daerah timur. Jadi nggak heran kalo Budaya Shissa juga sudah lama ada di Swiss. Tapi dengar2, hal itu sudah mulai ditentang dan tidak perlu dikembang biakkan terhadap masyarakat yang lain. Ya, hanya mereka dengan mereka saja-lah ... Salam.

    ReplyDelete
  2. Halo kae ivan ada sudah ada lagu2 daerah manggarai yang baru lagi kalau ada beritahu saya ya thank di
    http://pencintamusick.multiply.com/ dan juga di:http://arykom-manggaraibarat.blogspot.com/

    ReplyDelete
  3. pengen nanya...jual bara dan berbagai rasanya dimana ya???aku punya tabungnya tp bingung beli bara dan tabungnya...mohon informasinya ya di email wanbenny@rocketmail.com

    ReplyDelete
  4. om di surabaya ada ga yg jual shisha lengkap dengan cara merakit, meramu N membersih kan shisha?????? minta tlng ya om klo ada bsa di infokan ke dimas_kuch@gmail.com
    "urgent"

    THX B4.....

    ReplyDelete
  5. Om mau nanya yang jual perlengkapan SHISHA di sekitar SURABAYA ada nggak ( bukan online) .... Tlong info ke sye.cack@gmail.com

    ReplyDelete