17 February 2008

Apa yang kau cari, Alfredo?


Mayor Alfredo Reinado Alves, Senin (11/2/2008), tewas di tangan pasukan pengawal Jose Ramos Horta di Dili. Sebelumnya, Alfredo memimpin serangan yang menyebabkan presiden Timor Leste itu kritis. Apa yang kau cari Alfredo?

Wajah Alfredo Reinado Alves (51) sebenarnya tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Sebab, dia sempat nongol di acara Kick Andy pada Mei 2007. Secara blak-blakan pria kelahiran Dili pada 1956 ini mengecam keras Ramos Horta (presiden Timor Leste), Xanana Gusmao (perdana menteri), Mari Alkatiri (bekas presiden), serta para pemimpin Timor Leste dari faksi Fretelin.

Alfredo mengklaim sebagai orang yang sangat gigih membela konstitusi negaranya. Sebaliknya, dia menilai Xanana, Horta, dan kawan-kawan sebagai pengkhianat konsitusi. "Saya tidak desersi. Saya bukan pemberontak. Saya justru melayani bangsa dan negara," tegas Alfredo saat diwawancarai Andy F Noya, pengasuh Kick Andy. Wawancara di sebuah tempat yang dirahasiakan di Indonesia ini ditayangkan kembali oleh Metro TV Senin malam.

Seperti diketahui, setelah revolusi bunga di Portugis pada 1975, terjadi kekosongan kekuasaan di Timor Timur. Terjadi pergolakan di dalam negeri karena partai-partai politik seperti Fretelin, Apodeti, UDT, dan Kota gagal mencapai kesepakatan tentang masa depan negerinya. Perang saudara pun pecah. Ribuan warga Timor Timur terpaksa mengungsi ke Indonesia, tepatnya di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.

Lalu, sebagian elemen politik menyatakan berintegrasi dengan Indonesia. Pada Sidang Umum MPR 1976, Timor Timur secara resmi dinyatakan sebagai provinsi ke-27 Republik Indonesia. Sejak itulah Alfredo serta para elemen anti-integrasi, termasuk Xanana Gusmao, bergerilya di hutan-hutan dan ranah diplomasi.

Pada 1976 dia berpisah dari ibunya, asli Timor, dan ayahnya, keturunan Portugis, dan memilih berjuang. Usianya baru 20 tahun. Pasukan TNI dari Batalyon 725/Kendari pernah menjinakkan Alfredo sebagai tenaga bantuan. Beberapa saat kemudian, ia dimasukkan ke dalam kardus dan dikirim ke Kendari lewat kapal laut. Di ibukota Sulawesi Tenggara itu dia tinggal bersama orang Bugis.

"Saya kemudian lari ke Kalimantan, kemudian Surabaya, dan beberapa kota di Jawa," tutur Alfredo. Tak heran, Alfredo bisa berbahasa Indonesia dengan fasih dan diplomatis.

Lama tak ada kabarnya, pascareferendum 1999, yang dimenangi kubu prokemerdekaan, Alfredo turun gunung untuk menikmati euforia kemerdekaan. "Saya dipanggil untuk masuk militer karena saya dianggap punya kemampuan," kenang Alfredo.

Taur Matan Ruak, pentolan gerilyawan Fretelin, menjadi bosnya. Alfredo mengaku diminta membangun unit khusus tentara Timor Leste dari nol.

Yang menarik, pria ganteng ini mengaku sebetulnya tidak ingin menjadi tentara di negara baru tersebut. Ia lebih senang menjadi rakyat biasa, nelayan kecil. Tapi, karena negara membutuhkannya, Alfredo pun akhirnya bersedia berkarir di militer.

"Saya minta cukup empat tahun saja. Sebab, keluarga tidak mau saya jadi militer," papar Alfredo.

Pada 20 Mei 2002, Republik Timor Leste alias Timor Lorosae diakui dunia internasional sebagai negara merdeka. Xanana Gusmao dipercaya sebagai presiden, Ramos Horta perdana menteri. Para bekas gerilyawan pun mendapat posisi penting di negara yang berbatasan dengan Kabupaten Belu, NTT, itu.

Meskipun merdeka, Timor Leste tidak mampu menjamin ketertiban dan keamanan di dalam negeri. Maka, pasukan asing pun dikerahkan ke sana, mayoritas berasal dari Australia. Sampai sekarang pun Timor Leste masih mengandalkan pasukan Australia untuk menjaga stabilitas nasional negara miskin itu. Bukan itu saja. Sejak awal kemerdekaan, pemerintah Timor Leste melakukan kerja sama ekonomi dengan Australia, khususnya dalam rangka eksploitasi minyak di celah Timor.

Nah, Alfredo ternyata sangat menentang kerja sama serta ketergantungan pada Australia. Dia menilai hal ini sebagai 'memerkosa' konstitusi. "Kehadiran pasukan internasional itu melanggar konstitusi. Dan saya seorang nasionalis yang ingin membela konstitusi," tegas Alfredo.

Dia juga menuduh Horta, Xanana, Mari Alkatiri, serta petinggi Fretelin melakukan rekayasa politik sedemikian rupa agar bisa berkuasa hingga 50 tahun ke depan. Termasuk memaksakan ideologi komunisnya di Timor Leste.

Namanya juga mantan gerilyawan, diam-diam Alfredo menyusun kekuatan. Pada 28 April 2006, dia bersama 591 tentara Timor Leste membuat kerusuhan di Dili, ibukota Timor Leste. Sejumlah orang terbunuh dan sekitar 150 ribu warga mengungsi, termasuk ke Indonesia. Sejak itulah Alfredo menjadi buronan pemerintah. Xanana, yang saat itu menjadi presiden dan Horta menjabat menteri luar negeri meminta pasukan Australia untuk menangkap Alfredo.

Setelah bernegosiasi dengan pemerintah, pada 25 Juli 2006 Alfredo menyerahkan diri. Pria yang istrinya tinggal di Australia ini juga menyerahkan sebagian senjata. Namun, kesempatan itu dimanfaatkan oleh pemerintah untuk menahan 'sang pemberontak', begitu julukan pemerintah Timor Leste pada Alfredo.

"Saya ditahan tanpa alasan yang jelas. Katanya, saya membawa senjata ilegal, melakukan revolusi, meninggalkan dinas. Saya tidak diberi kesempatan untuk membela diri. Padahal, semua tuduhan itu fitnah," katanya.

Menurut Alfredo, 80 persen petinggi Timor Leste sekarang, termasuk Xanana dan Ramos Horta, pembohong karena pernyataan mereka berbeda dengan praktik sehari-hari. Dia juga kecewa dengan Xanana yang berubah setelah menjadi orang penting di Timor Leste.

"Xanana saat perjuangan dengan Xanana sekarang sudah lain. Saya kecewa karena Xanana memfitnah hati nuraninya hanya karena alasan ekonomi dan kekuasaan," tegasnya.

Sebulan kemudian, tepatnya 30 Agustus 2006, Mayor Alfredo kabur dari penjara Becora, Timor Leste. Mantan kepala polisi militer sekaligus pemimpin tentara desersi itu melarikan diri bersama 56 tahanan lainnya setelah menjebol beberapa tembok di sisi timur penjara. Kepala Penjara Becora Carlos Sarmento mengatakan, beberapa tahanan yang dulu menjadi milisi pro-Indonesia juga ikut kabur.

"Siapa bilang saya kabur? Saya dan teman-teman bisa keluar dengan santai. Kami kan militer, jadi punya kemampuan," ujar Alfredo lalu tertawa kecil.

Sejak itulah Alfredo seperti lenyap ditelan bumi. Tiba-tiba saja dia membuat geram pemerintah Timor Leste karena muncul di talkshow Metro TV pada Mei 2007. Setahun kemudian, tepatnya 11 Februari 2008, Alfredo kembali bikin ulah dengan menyerang Ramos Horta, presiden negara miskin itu. Kudeta ini gagal. Sang pemberani ini pun tewas. Lalu, dia dimakamkan dengan iringan lagu Ungu Band, Andai Kutahu.

"Pemberontak yang benar-benar gaul," celetuk Mr Pecut di Jawa Pos.

Apa yang kau cari Alfredo?

2 comments:

  1. Turut Berbelasungkawa ...

    Semoga Keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan kesabaran dari Tuhan YME.

    Salam.

    ReplyDelete
  2. Alfredo mencari yang tidak sesuai dengan keadaan yang ada ......
    Viva Major Alfredo
    I love You so much ...

    Love _ R.Felisita

    ReplyDelete