17 February 2008

Anita Lie jadi profesor





Tujuh tahun bukan waktu yang singkat bagi Anita Lie untuk mendapat surat keputusan pengangkatannya sebagai guru besar dari Menteri Pendidikan Nasional. Anita mengajukan berkas-berkas persyaratan menjadi guru besar sejak 2001.

Saat itu, dia masih menjabat sebagai dekan Fakultas Sastra Universitas Kristen Petra Surabaya. Sedangkan SK pengangkatannya sebagai guru besar, baru diterimanya Oktober 2007. "Kalau SK-nya sih, keluar November 2006. Tapi saya baru menerimanya Oktober tahun lalu," kata Anita Lie.

Selama menunggu tujuh tahun itu, ibu satu anak ini mengaku sempat hopeless. Ia mengaku jujur sempat dilanda galau. "Tahun pertama hingga ketiga, saya sempat berharap-harap cemas kapan SK itu keluar. Namun, setelah melewati tahun keempat, jadi terbiasa. Sekarang, saya gembira sekali karena akhirnya SK itu saya terima," kata perempuan yang sejak kecil bercita-cita menjadi guru ini.

Ia tidak tahu pasti kenapa SK tersebut begitu lama diproses. Padahal, segebok berkas dan persyaratan pengajuan menjadi guru besar telah dilengkapi. "Berkasnya segini," kata Anita sembari menggambarkan tumpukan berkas yang tingginya kira-kira 30 cm.

Beberapa kali pula peraih gelar Master of Arts dari Baylor University, Inggris, ini mengecek keberadaan berkasnya. "Di fakultas ada, di universitas juga lengkap. Juga di kopertis, semua lengkap. Mungkin karena saya sempat pindah universitas ,jadi prosesnya lama," kata mantan staf ahli Pusat Penelitian UK Petra periode 1995-1997.

Namun, ia tak patah semangat. Di sela penantiannya menjadi guru besar, ia justru makin disibukkan dengan seabrek kegiatan akademik. Tak hanya menjadi dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unika Widya Mandala yang dilakoninya sampai sekarang. Ia juga menjadi sekjen di Dewan Pendidikan Jatim.

Kegiatan di luar kampus sebagai fasilitator pelatihan guru juga dijalaninya. "Saya memang nggak bisa jauh dari kehidupan guru," kata Anita yang mengaku semasa kecilnya suka bermain sekolah-sekolahan.

Anita memang pandai dalam hal manajemen waktu. Menjadi fasilitator pelatihan guru yang harus dijalaninya dengan berkeliling Indonesia, dari Aceh hingga ke Papua, bahkan harus masuk ke daerah pedalaman, tak sedikit pun mengurangi jatahnya bertemu mahasiswa Widya Mandala.

Padahal, itu dijalaninya selama dua tahun sejak 2005 sampai 2007. Ia menyebut Kota Meulaboh, Aceh Barat, lalu Sumatera Utara, Riau, NTT, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, hingga Papua, telah disinggahinya untuk memberikan pelatihan dan ketrampilan khusus kepada guru-guru di sana.

"Saya ajari mereka bagaimana membuat rencana pembelajaran yang implementatif," kata perempuan yang selalu tampil dengan potongan rambut pendek ini.

Selama menjelajah pedalaman, Anita mengaku melihat pemandangan berbeda di setiap daerah. Ia menyebut, kehidupan para guru di Aceh pascabencana tsunami lebih mewah daripada para guru di pedalaman Riau atau Papua. "mungkin karena setelah tsunami banyak sekali bantuan untuk Aceh," kata ibu dari putri tunggal, Felippa Amanta (14) ini.

Sementara di pedalaman Papua, ia menyaksikan siswa yang bertelanjang kaki, ketiadaan buku tulis dan buku pelajaran, sekolah yang hanya punya dua guru, hingga guru yang harus membuat soal ujian dengan mesin ketik yang sudah berkarat dan usang.

"Di Riau, mungkin lucu dan aneh. Jika ada guru yang memukul bel tanda selesai belajar atau waktu istirahat, yang keluar kelas bukan siswanya. Tapi yang datang justru gajah besar-besar. Kalau sudah gajah yang datang, semua ngumpet di dalam kelas. Maklum, letak sekolahnya di dekat hutan," papar Anita.

Atas gelar akademik tertinggi yang resmi disandangnya hari ini, Anita menjelaskan jika itu diraihnya atas panggilan hati. "Keluarga saya tidak ada yang jadi guru. Tapi entah kenapa sejak kecil saya sudah bercita-cita jadi guru. Saya yakin, guru adalah profesi yang tiada duanya," kata istri Haryanto Amanta ini.

Anita akan dkukuhkan dalam tiga bidang sekaligus di depan sidang Senat UK Widya Mandala, Sabtu (16/2/2008). Yakni, di bidang sastra Afrika Amerika (Afro American Lecture), metodologi pengajaran bahasa (Language Teaching Methodology), dan membaca (Reading).

Putri tunggalnya, Fellipa Amanta, juga suami tercintanya, Haryanto Amanta, dikatakan Anita adalah guru terbaiknya. "Fellipa adalah guru utama saya yang senantiasa menginspirasi saya untuk menemukan teori-teori yang selama ini saya pelajari. Dia juga yang bisa mengurai ketakutan-ketakutan saya sebagai manusia dan guru. Fellipa selalu mengingatkan saya agar jangan melulu belajar teori, tapi yang penting praktek," urai peraih SEAMO Jasper Fellowship Award for Best Research Study dari pemerintah Kanada pada 2000 ini.

Kalaupun saat ini Fellipa lebih menyukai dunia politik, dan belum ada keinginan menjadi guru sepertinya, Anita tak mempermasalahkannya. "Cita-citanya selalu berganti setiap minggu. Jadi biarlah," kata Anita lalu tertawa.

Dalam pidato pengukuhannya, perempuan kelahiran Surabaya, 1 Juni 1964 ini akan mengulas topik 'Guru : Perjalanan dan Panggilan'. Dalam pidatonya itu, Anita mengkritik sedikitnya guru yang menjadi guru karena panggilan hati. Namun banyak orang yang menjadi guru justru karena paksanaan atau mengejar kemudahan.

Profesi guru juga dipandang sebagai pekerjaan saja. Akibatnya guru hanya memenuhi kewajibannya sebagai pendidik dan hanya menunggu-nunggu gaji saja. Siswa yang diajar guru seperti ini biasanya akan minimalis dan tidak bisa berkembang.

Beda jika seseorang tersebut menjadi guru karena panggilan hati. Mereka bisa memberi dampak pada siswa dan masyarakat sekitar. Sebab, mereka mengajar benar-benar dengan hati. "Mereka juga akan selalu diingat dan dikenang terus oleh siswanya karena mereka sudah bisa mengubah hidup seseorang," pungkasnya.

BIODATA SINGKAT

- Nama : Dr. Anita Lie (43)
- Suami : Haryanto Amanta (44)
- Anak : Felippa Ann Amanta (14)
- Pendidikan : S3 Bidang Kurikulum dan Pengajaran dari Baylor University (1994)
- Profesi : Dosen FKIP dan Pasca Sarjana Unika Widya Mandala (UWM) Surabaya
- Pengalaman Lain:
- Dosen Tamu SEAMEO RELC Singapura
- Direktur EduBisnis Consulting dan Direktur Akademis Sentra Foreign Languages.
- Sekjen Dewan Pendidikan Jatim 2003-2006 dan Anggota Dewan Pakar Jatim 2003-2005.
- Anggota dan salah satu pendiri Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (www.komunitasdemokrasi.or.id).

Prestasi :

- Rotary International Ambassador of Good Will pada 1990.
- ACUCA Fellowship pada 1998.
- SEAMEO Jasper Fellowship dari pemerintah Kanada untuk penelitiannya mengenai
pendidikan multikultural dan kurikulum bahasa Inggris 1994.


BACA JUGA
Anita Lie sang pendidik

4 comments:

  1. Dear Ibu Anita Lie,

    Nama saya adalah Sammy Lie Wie Liong, asal Bandung, kemudian setelah berkelana di Malaysia, Macau RRC, dan Indonesia selama 45 tahun, sekarang bermukim di Sydney. Saya sebenarnya pindah ke Sydney tahun 75 untuk study di Macquarie University jurusan linguistics, setelah menamatkan Theologia di UNAI, Bandung tahun 1962.
    Saya sangat tertarik dan bangga dengan prestasi Anda.
    Tuhan Yesus kiranya memberkati dalam pelayanan Anda.

    Email saya adalah: victoryglobalvision@gmail.com saya sangat berbahagia kalau dapat bertukar pikiran dengan Anda mengenai FAKTA(Fenomena Aksara Kuno Tionghoa Tegguhkan Alkitab) dan juga bagaimana belajar Mandarin dan beberapa pelatihan otak lainnya dapat menunda kepikunan.

    Salam dalam kasih Kristus,

    Sammy Lee
    HP 61-415682170

    ReplyDelete
  2. ibu anita , you give me an aspiration

    ReplyDelete
  3. i like her way of teaching...

    ReplyDelete
  4. mohon bantuannya..
    dimana saya bisa menghubungi ibu anita lie? saya ingin bertanya tentang model pembelajaran kooperatif tipe kancing gemerincing pada beliau..
    saya mohon sekali kpd siapa yang tahu u/ memberikan informasi pada saya..
    sebelumnya saya ucapkan terima kasih

    ReplyDelete