05 February 2008

Albert Maramis PSM Universitas Airlangga


Bicara paduan suara di Surabaya, Jawa Timur umumnya, tak afdal kalau tidak menyebut nama Albert Maramis. Ia dokter ahli jiwa lulusan Universitas Airlangga [Unair] yang sangat fasih paduan suara. Sejak kecil Albert sudah diperkenalkan dengan musik klasik oleh ayahnya, Pak Maramis, dokter terkenal di Surabaya.

Bagaimana tidak terkenal? Pak Maramis ini kerap muncul di Radio Salvatore [sekarang Sonora FM] sebagai pakar kesehatan. Dulu, Albert Maramis pun mengasuh "kiat hidup tanpa stres" di radio tersebut. Maklumlah, keluarga Maramis ini punya hubungan erat dengan Radio Sonora Surabaya.

Mula-mula saya "mengenal" Bang Albert Maramis lewat partitur. Sebagai aktivis paduan suara mahasiswa [PSM] Universitas Jember, kami harus menyiapkan diri ikut lomba paduan suara tingkat nasional di Unair. Materinya cukup berat: lagu wajib "Musim Berganti" karya Franz Joseph Haydn. Bang Albert, sebagai pembina PSM Unair, sekaligus panitia lomba, yang bikin lirik versi Indonesia. Komposisi ini sangat indah, tapi cukup sulit dipelajari paduan suara pemula.

Sejak itu saya sadar bahwa Albert Maramis merupakan orang penting di PSM Unair. Muda, cerdas, musikal, punya dedikasi sangat tinggi pada paduan suara mahasiswa. Siapa pun tahu beban kuliah di Fakultas Kedokteran jauh lebih tinggi daripada fakultas-fakultas lain. Sehingga, jika ada orang FK yang habis-habisan di paduan suara, jelas dia benar-benar cinta pada seni musik vokal yang satu itu.

Albert Maramis mengakui intensitasnya di PSM Unair tersebut. Di situs pribadinya [http://www.geocities.com/almarams/albert.html] Albert Maramis menulis:

"Waktu kuliah saya terlibat di kegiatan Senat Mahasiswa Fakultas maupun Universitas, tetapi waktu saya tersita terutama oleh Paduan Suara Mahasiswa Unair. Keterlibatan saya dengan Paduan Suara Mahasiswa Unair merupakan masa-masa yang indah yang menghiasi masa studi saya.

"Bersama dengan dr. Soepardi Kartohardjo, dosen saya waktu itu, yang memelopori kegiatan paduan suara di Unair, serta teman-teman lainnya kami mengembangkan PSM Unair yang sampai sekarang masih tetap aktif kegiatannya meskipun telah mengalami berpuluh, bahkan beratus kali pergantian anggota.

"Kegiatan PSM Unair tetap saya pantau sebab saya adalah salah seorang pembina Unit Kegiatan tersebut di samping sesekali menjadi juri lomba vokal atau paduan suara."

Keberadaan Albert Maramis membuat PSM Unair sangat disegani pada 1980-an hingga 2000-an. Melihat repertoar yang dipilih Bang Albert, Musim Berganti [Haydn], saya dan beberapa teman PSM Universitas Jember pada 1990-an geleng-geleng kepala. Wah, ini berarti Unair sangat serius membina paduan suara mahasiswanya. Masuk jajaran elite paduan suara mahasiswa di Indonesia.

Pada 1990-an yang disebut PSM elite antara lain Universitas Indonesia [Paragita], Universitas Pajajaran, Universitas Parahyangan, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gajah Mada. Disebut elite karena pilihan repertoarnya klasik murni, konser rutin, dana melimpah, pembinaan intensif. Hampir semua kampus negeri dan swasta punya paduan suara mahasiswa, tapi rata-rata hanya membawakan lagu-lagu nasional dan daerah. Masih sulit membawakan nomor-nomor klasik dengan tingkat kesulitan tinggi.

Di awal reformasi, ketika saya baru menjadi reporter koran di Surabaya, teman-teman PSM Unair mengundang saya untuk jumpa pers. Wah, saya senang sekali karena sepertinya saya kembali ke komunitas paduan suara mahasiswa. Lebih senang lagi, saya bisa bertemu langsung dengan Albert Maramis. Pelatih plus dirigen PSM Unair ini sangat ramah, murah senyum, dan enak menjelaskan rencana konser PSM Unair. Kalau tak salah, waktu itu Ronny Kleden dan kawan-kawan menampilkan komposisi-komposisi era Barrock.

Saya bisa merasakan sambutan Bang Albert yang ramah dan hangat. Ia melebur bersama anggota PSM Unair, seakan tak ada jarak. Maklum, sama-sama muda [Albert lahir pada era Orde Lama, begitu ditulis di situsnya]. Gayeng, penuh kekeluargaan. Suasana macam ini--juga di PSM-PSM lain--membuat kita yang pernah aktif di PSM selalu rindu untuk bertemu dengan kawan-kawan lama. Saya sendiri, dulu, aktif di beberapa organisasi ekstrakampus, tapi tidak ada yang menandingi PSM dari segi kekeluargaan.

Malam hari, saya pun menyaksikan penampilan teman-teman Unair. Teknik direksi [dirigen] Albert Maramis sederhana, aba-abanya standar, tidak overacting. Yang penting, para penyanyi dan pemusik bisa menangkap direksinya. Ini penting karena saya sering melihat banyak dirigen, termasuk yang terkenal, berlaku lajak dalam membirama. Ada yang menari-nari, lucu-lucu, dan bikin gerakan-gerakan yang justru sulit dibaca penyanyi.

Bang Albert juga sangat komunikatif. Ia menjelaskan secara singkat komposisi yang akan dibawakan PSM Unair. Ini membantu meningkatkan apresiasi audiens pada musik klasik, khususnya paduan suara. Singkat cerita, konser malam itu sukses. Penonton melimpah, kualitas paduan suara pun tidak mengecewakan. Saya menjabat tangan Bang Albert, Ronny Kleden, dan sejumlah anggota PSM Unair. Di kemudian hari Bang Ronny menjadi sahabat saya dalam diskusi kecil seputar paduan suara di Surabaya.

Persoalan utama paduan suara di kampus, apa lagi kalau bukan regenerasi. Anggota lama lulus, datang anggota baru. Pengurus, pembina berganti. Kinerja yang sudah diraih anggota lama belum tentu bisa dilanjutkan generasi baru. Jika anggota lama [masa keemasan] sudah sampai pada komposisi klasik, dengan tingkat kesulitan tinggi, apa boleh buat, adik-adik baru masih berkutat pada hal-hal elementer: pernapasan, vokalisi, belajar baca not, belajar partitur, dan sejenisnya.

Itu pula yang terjadi dengan Albert Maramis. Sehebat-hebatnya Bang Albert di paduan suara, fokus utamanya, ya, tetap kedokteran. Harus segera menuntaskan kuliah yang mahal itu. Harus praktik. Harus terjun ke pelosok nusantara. Harus menguasai ilmu kedokteran jiwa yang menjadi spesialisasinya. PSM Unair memang tetap jalan, tapi tidak "dikeloni" terus seperti era 1990-an dulu.

"Kegiatan PSM Unair tetap saya pantau, sebab saya adalah salah seorang pembina unit kegiatan tersebut. Sesekali saya menjadi juri lomba vokal atau paduan suara," ujar alumnus SMAK Sint Louis I Surabaya ini.

Cak Albert, ojo lali paduan suara lho!

5 comments:

  1. Wah, saya suka tuh paduan suara. Diswiss aku paling suka Chor-nya Bo Katzman. Beliau penynyi sekaligus pemimpin Chor pada setiap Show2 di seluurh kota2 besar di Swiss.

    Goodluck tuk mas Hurek.Salam dari kami...

    ReplyDelete
  2. Oh, ya, Mbak Judith, di Jogjakarta ada romo asal Swiss namanya Karl Edmund Prier SJ. Pater ini merupakan pendiri Pusat Musik Liturgi [PML], semacam pusat diklat paduan suara dan musik gerejawi, yang sangat terkenal di Indonesia.
    Romo Prier lah yang menerbitkan Madah Bakti, buku nyanyian dan doa untuk gereja katolik, di tanah air. Romo Prier juga menulis beberapa buku musik dan mengaransemen ratusan, bahkan ribuan, lagu berbagai jenis. Wah, orang Swiss yang satu ini hebat benar! Seng ada lawan, kata orang Ambon!
    Good luck!

    ReplyDelete
  3. albert maramis? wow keren banget, thx 4 this article. jadi inget masa mahasiswa dulu cak. assalamualaikum.

    ReplyDelete
  4. Hai Bang Hurek... perkenalkan aku Patrisna, alumni PSM Unair (perhatikan penulisannya, bukan alumni fakultas..., tapi PSM Unair, hehehe). Terkesan sekali baca tulisan Bang Hurek, krn kebetulan aku mnejadi ketua panitia konser klasik yang Abang ceritakan di artikel itu, hehehe. Berarti ketika jumpa pers itu seharusnya kita ketemu ya.... Terima kasih sekali sudah mengapresiasi konser kami. Kalo masih inget sampe th. 2008 berarti cukup berkesan ya.... :) Viva La Musica.

    ReplyDelete
  5. Sama-sama Patrisna. Aku beberapa kali melihat dirimu main piano mengiringi paduan suara. Komentarmu sekaligus koreksi atas beberapa informasi di blog ini. Terima kasih sudah mampir ke sini. Salam musik juga!

    ReplyDelete