27 February 2008

Jika Persebaya menjadi PT

Oleh: DAHLAN ISKAN
Radar Surabaya 26 Februari 2008

Karena klub-klub anggota Persebaya ingin jadi pemegang saham PT Persebaya yang akan dibentuk, maka kesibukan utama kini harus terjadi di masing-masing klub. Ini baik sekali agar klub-klub juga mulai memikirkan keberadaan mereka di masa depan.

Sebentar lagi akan berdiri PT Suryanaga Kuning Emas, atau PT Maesa Pe Torang (saya contohkan tiga kata karena nama PT tidak boleh hanya satu kata), PT Sakti Putra Gundala, PT Indonesia Muda Belia, PT Assyabaab Khoirun Jiddan dan seterusnya.

Pekerjaan itu tidak sulit. Tinggal mencari nama yang disenangi, lalu pergi ke notaris, minta dibuatkan akta pendirian PT. Banyak notaris di Surabaya. Ada yang tarifnya mahal sekali, ada juga yang untuk keperluan begini bisa minta tolong untuk digratiskan. Gratis itu penting, karena saya tahu kondisi keuangan mayoritas klub anggota Persebaya.

Pak atau Bu Notaris kemudian akan bertanya: siapa saja pendirinya? Mana KTP-nya? Untuk menjawab pertanyaan pertama itu mulai sedikit harus berpikir. Cukup ketua dan sekretaris klub saja atau semua pengurusnya? Ini tidak masalah, karena pendiri tidak bisa diartikan sebagai pemilik. Begitulah menurut hukum. Sebagai pendiri, ia hanya akan bangga bahwa namanya tercatat dalam sejarah. Tapi pendiri tidak harus ikut bertanggung jawab dan tidak bisa minta pertanggungjawaban.

Prinsipnya, pendiri sebuah PT hanyalah mewakili calon pemegang saham untuk menghadap notaris. Memang, umumnya yang menghadap itu adalah calon pemegang saham sendiri. Tapi banyak juga (seperti saya ketika mau mendirikan sebuah PT) yang mengutus orang lain untuk menghadap notaris.

Pertanyaan kedua Pak/Bu Notaris adalah: berapa modal dasar dan modal yang disetor?

Sampai pertanyaan kedua itu berpikirnya mulai harus agak keras: tidak ada aturan modal dasar sebuah PT harus berapa banyak. Yang ada peraturan adalah, pemegang sahamnya tidak boleh hanya satu orang atau satu badan hukum.

Penetapan modal dasar ini terkait dengan cita-cita pemegang sahamnya. Kalau cita-citanya tinggi dan panjang, modalnya juga harus besar. Kalau cita-citanya hanya sekadar untuk bisa jadi pemegang saham di PT Persebaya saja, modal dasar sekadarnya saja.

Besarnya modal dasar ini juga dikaitkan dengan kemampuan keuangan calon pemegang sahamnya. Kalau calon pemegang sahamnya mampu, kian kian kian baik. Kalau tidak mampu, ya semampunya saja. Bagaimana dengan modal setornya? Ada peraturan, modal yang harus benar-benar disetorkan ke PT baru itu haruslah minimal 25% dari modal dasar yang tertulis.

Kalau, misalnya, PT Haruna Maju Terus menetapkan modal dasar Rp 1 miliar, maka modal yang harus disetor minimal Rp 250 juta. Kalau modal itu belum disetor ke bank, PT yang didirikan tersebut belum akan bisa dimintakan pengesahannya ke Menteri Hukum. Atau kalau PT Sakti Putra Petir menetapkan modal dasarnya Rp 100 juta, maka yang benar-benar harus disetor adalah Rp 25 juta.

Besar-kecilnya modal sebuah PT memang tidak ditetapkan ukurannya. Namun kita juga harus tahu, bahwa PT Sakti Putra Petir itu dibentuk antara lain untuk menjadi pemegang saham di PT Persebaya. Maka dalam menetapkan jumlah modal dasar tersebut juga harus disesuaikan dengan berapa modal yang akan disetorkan PT Sakti Putra Petir ke PT Persebaya.

Kalau modal dasar PT Persebaya nanti, misalnya Rp 10 miliar, maka modal setor PT Persebaya minimal harus Rp 2,5 miliar. Kalau PT-PT (dulu, di awal tahun 2008 namanya masih klub-klub) pemegang saham PT Persebaya itu minta saham 30%, maka berarti harus menyetor kita-kira Rp 830 juta. Kalau Rp 830 juta itu harus ditanggung bersama klub-klub, maka tiap klub (eh, PT) akan menyetor kira-kira Rp 25 juta.

Maka klop. Kalau PT Sakti Putra Petir didirikan dengan modal dasar Rp 100 juta, modal setor Rp 25 juta, maka semua modal yang dihimpun PT Sakti Putra Petir tersebut harus disetorkan semua ke PT Persebaya. Habis. PT Sakti yang semula, ketika didirikan, punya modal Rp 25 juta, kini habis sama sekali. Yang dimiliki PT Sakti bukan lagi uang cash, tapi asset berupa yang disebut 'penyertaan' senilai Rp 25 juta di Persebaya (atau senilai kira-kira 1,2% saham di PT Persebaya).

Pertanyaan berikutnya dari Pak/Bu Notaris kepada orang yang menghadap untuk mendirikan PT Assyabaab Khoirun Jiddan (atau yang lain) adalah: siapa saja pemegang saham PT Assyabaab Khoirun Jiddan yang akan dibentuk itu?
Jawabnya: terserah klub itu sendiri. Tetapkan dulu siapa saja yang akan jadi pemegang saham di PT Assyabaab Khoirun Jiddan atau di PT Torang Pe Maesa, lalu masing-masing akan menyetorkan uang berapa.

Katakanlah modal yang harus disetor tadi Rp 25 juta, lalu bagi saja beban itu ke para pemegang sahamnya. Boleh dibagi rata, boleh juga siapa yang setor lebih banyak, dia akan memegang saham lebih banyak. Yang akan berubah secara mendasar adalah: tidak ada lagi yang disebut anggota klub.

Selama ini, yang disebut anggota klub adalah siapa saja yang terdaftar sebagai anggota di klub itu. Biasanya pengurusnya sampai semua pemainnya. Nah, apakah semua anggota klub (sampai ke semua pemain yang terdaftar) harus jadi pemegang saham di PT itu, sekali lagi, terserah harus musyawarah di klub-klub yang bersangkutan.

Bagaimana kalau proses itu dianggap sulit dan berat?

Masih ada pilihan lain. Dirikan saja yayasan: misalnya Yayasan Assyabaab atau Yayasan Maesa. Kalau masih ruwet juga, dirikan saja koperasi. Misalnya Koperasi Assyabaab atau Koperasi Gelora Dewata. Bentuk PT atau Yayasan atau Koperasi sudah bisa menjadi pemegang saham di PT Persebaya. Tapi kalau hanya akan punya 1% saham di Persebaya, untuk apa sih?

Setelah klub-klub itu berubah menjadi PT atau yayasan atau koperasi, maka di samping sebagai pemegang saham minoritas di PT Persebaya, kedudukan PT-PT jelmaan klub-klub tersebut tidak di bawah PT Persebaya, tapi di atas PT Persebaya. Mereka berhak ikut menentukan nasib PT Persebaya. Maksudnya, akan menerima keuntungan kalau bisa laba, dan menanggung utang, kalau rugi.

Rasanya, sampai 10 tahun ke depan, kok masih akan banyak ruginya. Tapi untung atau rugi, tergantung kehebatan siapa yang akan jadi Direktur Utamanya atau CEO-nya. Sebuah PT, kalau utangnya sudah lebih besar dari modalnya, maka secara hukum PT tersebut akan dinyatakan bangkrut. Untuk menghindari kebangkrutan harus diadakan RUPS.

Keputusan yang akan diambil ada dua: 1) dibiarkan bangkrut. 2) Semua pemegang saham diminta menyetorkan modal baru lagi. Kalau ada pemegang saham tidak mampu menyetor modal tambahan, maka prosentase sahamnya akan turun secara proporsional. Kalau kelak begitu lagi, ya turun lagi. Begitu seterusnya.

Posisi direktur utama atau CEO ini akan diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Semua pemegang saham boleh usul siapa yang akan dipilih, tapi kalau deadlock, akan dilakukan voting. Pemegang saham mayoritas akan menang dan tidak bisa diganggu gugat. RUPS adalah lembaga tertinggi dalam sebuah PT.

Di lain pihak, kedudukan PT-PT jelmaan klub-klub tersebut juga sejajar dengan PT Persebaya. PT Persebaya, PT Assyabaab, PT Sakti dan seterusnya, akan sama-sama menjadi anggota PSSI cabang Surabaya. Dengan demikian yang disebut 'kompetisi internal Persebaya' sudah tidak relevan lagi.

Kalau tidak ada lagi kompetisi internal Persebaya, lha untuk apa ada PT-PT jelmaan klub tadi? Mengapa klub-klub tidak bubar saja? Bubar? Saya tidak tahu, ketika PSSI menetapkan aturan baru dulu itu, apakah sudah dipertimbangkan semua konsekuensi yang saya gambarkan tersebut. Yang jelas, kelihatannya ada keinginan bahwa ke depan kalau mau mengurus bola tidak boleh setengah-setengah.

26 February 2008

Romo Eko Budi Susilo motor dialog antaragama



Oleh: Wartawan UCA News

Pastor Yosef Eko Budi Susilo [biasa disapa Romo Eko] telah ikut aktif dalam berbagai kegiatan antaragama selama 11 tahun sebagai ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Surabaya. Pada Juli 2007, ia menjadi delegasi keuskupan pada Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang dibentuk oleh wali kota Surabaya, ibukota Provinsi Jawa Timur yang mayoritas Muslim.

Unit-unit FKUB telah dibentuk di 21 propinsi, 110 kabupaten, dan 29 kota sejak Maret 2006, ketika Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri mengeluarkan Peratuaran Bersama (Perber) tentang pembangunan tempat ibadah. Perber itu diatur pemerintah untuk memfasilitasi pembentukan forum-forum itu di tingkat-tingkat daerah.

Menurut Perber itu, komunitas agama minoritas pengguna tempat ibadah harus berjumlah sedikitnya 90 orang dan didukung 60 warga setempat dari agama lain untuk mendapatkan ijin pendirian rumah ibadah. Pejabat setempat harus menjelaskan persyaratan ini, serta FKUB kabupaten/kota dan kepala Kantor Wilayah Departemen Agama harus mengeluarkan rekomendasi tertulis.

Romo Eko Budi Susilo, 46, kepala Paroki Katedral Hati Kudus Yesus di Surabaya, juga melayani sebagai ketua Komisi Kerasulan Awam keuskupannya. Imam itu telah menulis sejumlah buku dalam bahasa Indonesia tentang hubungan antaragama, Gereja Katolik Indonesia, dan teologi ekologi.




Pada wawancara baru-baru ini dengan UCA News, Pastor Susilo berbicara tentang bagaimana membantu meningkatkan hubungan antaragama. Wawancara sebagai berikut:


UCA NEWS: Bagaimana situasi antaragama di Surabaya dan tempat lain di Jawa Timur?

PASTOR YOSEF EKO BUDI SUSILO: Selama tahun 1996, banyak kerusuhan yang terjadi tidak disebabkan oleh persoalan agama. Pada bulan Oktober tahun itu, misalnya, puluhan gedung gereja, sekolah, pertokoan di Situbondo dibakar massa. Namun, pokok persoalannya adalah kesenjangan ekonomi dan sosial. Banyak umat Muslim yang berpikir mengapa umat Kristen yang minoritas tapi menguasai sektor ekonomi. Perasaan seperti itu sungguh berdampak pada hubungan antaragama.

Mereka yang memiliki pendidikan rendah juga dituduh melakukan kerusuhan itu. Mereka mudah terprovokasi oleh pihak luar yang mencoba memperkeruh keadaan.

Bagaimana tanggapan dari FKUB?

Dengan adanya pengalaman itu, kami terdorong untuk mendidik masyarakat sehingga mereka tidak mudah terprovokasi. Sebagai wujud konkret, kami memberikan komputer bekas yang masih bisa dipakai dari SMAK St. Louis dan beberapa SMA kepada sejumlah pondok pesantren di kabupaten itu. Kami memilih pesantren karena kami ingin berdialog dengan umat Islam dan mengetahui bagaimana mereka memahami orang Kristen. Kami juga memberikan pelatihan manajemen kepada para santri.

Kami menyadari bahwa membangun kerukunan antaragama tidaklah mudah, dan itu butuh waktu. Namun kami harus berpikir bahwa kerukunan adalah keharusan. Untuk itu saya kira FKUB perlu menggalakan bentuk-bentuk komunikasi dengan umat yang berbeda, yang memerlukan isi dan semangat yang mencakup tak sekedar teknis dan praktis, tapi juga saya kira dengan pendekatan psikologis, yang mana semua umat beriman didorong untuk memahami setiap komunitas agama dan menghargai satu sama lain.

Apa peran nyata FKUB di Surabaya?

Kami membantu mengadakan berbagai dialog antaragama. Ini terjadi, misalnya, ketika orang Protestan membangun gereja di Rungkut, namun warga di sekitarnya melarang. Pada hal pihak wali kota mengijinkannya. Namun, pelayanan agama mereka yang diiringi dengan musik yang keras, mengganggu warga yang tinggal di sekitarnya. Kami membantu ketegangan itu dengan mengadakan dialog di antara pihak-pihak yang berselisih itu.

Bagaimana dialog itu bisa meningkatkan hubungan antaragama?

Dialog itu merupakan komunikasi dua arah. Ini bisa langgeng kalau para penganut agama bisa saling memahami masalah yang dihadapi namun tidak masuk dalam dogma atau doktrin agama agar kita dapat mencapai solusi.

Ada tiga bentuk dialog: dialog karya, dialog kehidupan, dan dialog iman. Dialog karya adalah sebuah bentuk kerja sama di antara agama dan keyakinan berbeda yang ditujukan pada karya sosial.

Bantuan bagi para korban bencana semburan lumpur di Porong adalah sebuah contoh. [Peristiwa di Porong, Jawa Timur, terjadi semburan lumpur panas akibat pengeboran sumur gas dan yang menimbulkan pipa meledak yang menewaskan 13 orang dan mencedrai yang lainnya. Semburan sumur gas itu merendam lebih dari 1.810 rumah serta bangunan lainnya di 12 desa dari tiga kecamatan, mengakibatkan 13.000 orang kehilangan tempat tinggal.]

Dialog kehidupan adalah sebuah bentuk aksi konkret yang bertujuan untuk meningkatkan saling menghargai dan hidup rukun, seperti mengunjungi dan menyampaikan ucapan selamat kepada mereka yang merayakan pesta keagamaan. Dialog iman adalah bentuk kerja sama yang bertujuan untuk membahas permasalahan tertentu berdasarkan pandangan teologis, seperti sebuah sesi diskusi tentang masalah semburan lumpur.

Jika kita memahami permasalahan yang dialami warga setempat namun kita mengabaikan masalah itu dan tidak melakukan dialog, keadaan itu secara bertahap mempengaruhi hubungan antaragama. Namun jika kita memahami masalah yang dihadapi warga setempat dan menanggapi melalui dialog, kita meningkatkan hubungan antaragama. Dialog karya yang baik kalau semua umat beriman menghormati dan memahami satu sama lain.

Apa yang menjadi prioritas FKUB di Surabaya?

Kami ingin memperbaiki hubungan antaragama. Dengan model kerukunan yang sudah dibangun dan akan terus dibangun diharapkan mampu mendorong FKUB untuk sedikit melakukan perubahan dan kehidupan beragama menjadi lebih baik. Tapi, tentu saja hal ini memerlukan transformasi dan energi. Dengan kesalehan sosial yang akan dibangun oleh FKUB diharapkan umat beragama semakin kristis menepis provokasi dan memiliki daya juang untuk merekat kerukunan. Dalam jangka panjang, melalui karya bersama itu kami akan mendirikan lembaga pendidikan FKUB.

Apa yang dilakukan Gereja Katolik lokal untuk meningkatkan dialog antaragama?

Faktanya, kita ini kelompok kecil. Namun, kita bisa menyuarakan ide-ide, harapan-harapan bersama yang lain berdasarkan nilai-nilai Kristiani.

Dalam perjuangannya Gereja Katolik memiliki patokan yang jelas, sesuai dengan ajaran para Bapa Gereja termasuk Nostra Aetate, atau “Deklarasi tentang Hubungan Gereja dengan agama non-Katolik” (Konsili Vatikan II, 1965). Namun, Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Surabaya melihat bahwa masyarakat akar rumput masih tidak memiliki pemahaman yang baik tentang deklarasi itu. Maka, komisi itu mengadakan pertemuan secara berkala di paroki-paroki.

BACA JUGA
Buku keempat Romo Eko Budi Susilo.

Win Hendrarso bupati lumpur




Akhir-akhir ini saya kasihan melihat Bupati Win Hendrarso. Bupati kami di Sidoarjo, Jawa Timur, ini menghadapi persoalan lumpur lapindo yang makin tak jelas juntrungannya. Menyembur dahsyat di Desa Siring, Kecamatan Porong, sejak 29 Mei 2006, dampak semburan kian melebar, melebar, dan melebar.

Kalau tahap awal korban lumpur "hanya" 20.000 orang, kini sedikitnya tujuh desa lagi terkena lumpur panas. Tanggul jebol. Air lumpur meluber. Jalan Raya Porong tergenang. Pipa air minum rusak. Rel kereta api terendam. Jalan rusak. Bayangkan, Pak Win sebagai orang nomor satu di Sidoarjo harus memikirkan semua ini.

Pekan lalu, 20 Februari 2008, ribuan warga Siring Barat, Mindi, Jatirejo, Kedungcangkring, Besuki, demo besar-besar. Jalan raya diblokade. Jembatan diduduki. Rel kereta api ditutup. Jalan alternatif dibuntu. Mereka ini korban lumpur di luar daerah terdampak. Tuntutan mereka: wilayahnya yang belum terendam habis, tapi sudah didatangi lumpur masuk peta.

Sebab, kalau tidak masuk peta versi Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2007, Lapindo Brantas Inc tak akan membayar ganti rugi. Lha, lantas siapa yang membayar rumah dan lahan mereka yang habis direndam lumpur? Bukankah Lapindo yang punya proyek gas di Porong, sebagai biang kerok semburan? Begitu kira-kira logika warga yang memang masuk akal.

Pak Win, bupati Sidoarjo, pun turun menemui warga di jalan raya, jembatan, arena demonstrasi. "Saya minta Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu menghentikan aksi blokade. Sebab, aspirasi sampeyan sudah saya sampaikan ke pemerintah pusat," ujar Pak Win di atas truk.

Tapi, apa daya, imbauan Pak Win sia-sia. Bupati kelahiran Surabaya 12 Juli 1954 ini bahkan sempat menitikkan air mata. "Yah, kalau sampeyan tidak percaya lagi sama saya, ya, sudah," ujarnya.

Pak Win kemudian beranjak ke lokasi demo lain. Gagal lagi. Maka, selama 12 jam ruas lalu lintas utama di Sidoarjo, Surabaya, Malang lumpuh total. Pengguna jalan terpaksa menempuh jalur alternatif. Harus tambah dua jam perjalanan. Itulah harga dari musibah lumpur panas yang entah kapan akan berakhir.

Meski tidak begitu dekat, saya kenal Pak Win Hendrarso. Saat bertugas di liputan Sidoarjo, saya kerap menulis berita-berita seni budaya, human interest, nyadran nelayan, hingga konser-konser musik. Pak Win ternyata sangat senang. Sampai-sampai saya diundang secara khusus untuk menikmati sajian Panji Kelana, grup musik-tari asal Sidoarjo, yang hendak berkunjung ke Australia.

"Hurek, saya selalu baca tulisan anda. Saya suka," kata Pak Win.

Hmmmm!!! Entah basa-basi atau bukan, saya tentu senang. Ah, ternyata tulisan-tulisan saya yang ringan, mengangkat objek-objek wisata dan kesenian di Kabupaten Sidoarjo diperhatikan Pak Bupati. Saya juga mau dikasih penghargaan sebagai wartawan yang peduli seni budaya di Kabupaten Sidoarjo. Penghargaan serupa telah saya peroleh dari kalangan budayawan senior. Hehehe....

Kemudian, berkat tulisan saya [nggak ge-er lho], Dewan Kesenian mulai dihidupkan. Wacana pembangunan gedung kesenian di Sidoarjo pun begulir kencang. Pak Win bahkan bikin tim khusus, kemudian studi banding ke Jawa Barat segala. Ia sangat bersemangat mewujudkan gedung kesenian yang sebenarnya sudah digagas sejak tahun 1980-an.

"Pak Win memang bupati yang langka. Beliau sangat peduli pada kesenian. Kita beruntung punya bupati seperti beliau. Insya Allah, gedung kesenian akan berdiri," kata Hartono, ketua Dewan Kesenian Sidoarjo, waktu itu.

Pada 2004-2005 Pak Win memang terlihat sangat dekat berbagai kalangan di Sidoarjo, khususnya seniman. Ia tak segan-segan menyanyi di beberapa acara. Pak Win punya moto yang masih sangat ingat betul:

"Dengan AGAMA hidup menjadi teratur.
Dengan ILMU hidup menjadi mudah.
Dengan SENI hidup menjadi indah."


Kata-kata Pak Win ini selalu dikutip teman-teman seniman Sidoarjo dalam berbagai kesempatan. Agama, ilmu, seni! Tiga hal ini ingin selalu dikembangkan Pak Bupati yang mulai menjabat sejak 2000 itu. Ia juga mencanangkan Sidoarjo sebagai kota festival: pusat festival apa saja baik di tingkat regional maupun nasional.

Pada 11 September 2005, Pak Win Hendrarso bersama Pak Saiful Ilah menang telak dalam pemilihan bupati langsung. Menang sekitar 70 persen karena dua pasangan lawannya memang lemah. Pasangan Nadhim-salam serta Sjamsu-Fatma boleh dikata hanya calon pelengkap yang tak punya massa pendukung.

Win-Saiful [keduanya dari Partai Kebangkitan Bangsa] pun mulai memasuki masa lima tahun kedua, 2005-2010. Lima tahun pertama Sidoarjo meraih banyak prestasi. Lomba apa saja Sidoarjo selalu menang. Jadi kabupaten teladan di Jawa Timur, bahkan Indonesia.

"Saya ingin fokus ke pendidikan dan investasi," kata Pak Win. Ayah satu anak [Praditya Ardinugroho, mahasiswa Universitas Airlangga] hasil perkawinan dengan Dr Emy Susanti, dosen sosiologi Universitas Airlangga, ini ingin mengakhiri kepemimpinan dengan manis. Happy ending lah!

Saya dengar-dengar Pak Win punya rencana untuk menggratiskan biaya pendidikan dasar di Kabupaten Sidoarjo. Dengan APBD yang tinggi, investasi yang lancar, perkembangan Sidoarjo yang pesat, infrastruktur luar biasa... sebetulnya program ini masuk akal.

Namun, malang tak dapat dielak. Lumpur menyembur dari Sumur Banjarpanji I milik Lapindo Brantas Inc pada 29 Mei 2006. Bencana besar dan berkelanjutan ini membuyarkan program prestisius Win Hendrarso. Mau tidak mau Pak Win harus mengurus rakyatnya yang kelelep akibat lumpur.

Pada awal bencana hampir tiap hari Pak Win harus menerima pengunjuk rasa yang geram karena harta bendanya ludes. Dimaki-maki, dituduh macam-macam. Pak Win bahkan sempat masuk rumah sakit selama dua atau tiga minggu karena stres. Yah, lumpur lapindo memang pukulan teramat berat bagi Sidoarjo, kabuten berpenduduk 1,6 juta orang ini. [Sekarang penduduk Sidoarjo, termasuk yang tidak terdaftar, mungkin 2 juta lebih lah.]

"Saya tidak bisa apa-apa karena kasus Lapindo ini ditangani langsung oleh pusat. Kapasitas pemerintah daerah tidak akan memadai untuk menanggulangi dampak lumpur yang demikian besar," ujar Pak Win. Namun, bagi korban lumpur, ke mana lagi akan mengadu kalau bukan ke Pak Bupati dan DPRD Sidoarjo?

Tak ayal, bencana lumpur juga nyaris menenggelamkan nama Sidoarjo. Pak Win mengibaratkan Sidoarjo sebagai gadis cantik yang ditinggalkan para pelamar. Minat investor turun drastis. Bisnis perumahan mandek. Pusat wisata Tanggulangin macet. Begitu juga sentra-sentra usaha kecil dan menengah.

Pak Win pun teriak-teriak. "Yang kena lumpur itu hanya 3 persen saja dari Kabupaten Sidoarjo. Yang 97 persen tidak terpengaruh," tegas Pak Win.

Kabupaten Sidoarjo itu punya 18 kecamatan dan 353 desa/kelurahan. Yang kena lumpur itu beberapa desa di Kecamatan Porong, Tanggulangin, dan Jabon. Pemerintah melalui Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo [BPLS] bertugas melokalisasi dampak semburan tersebut.

Pekan lalu, Pak Win mengampanyekan Gerakan Sidoarjo Bangkit. Jangan tinggalkan Sidoarjo meski sampai sekarang lumpur masih menyembur di Porong! "Insya Allah, apa yang sudah kita raih di masa lalu bisa dipulihkan dengan promosi investasi di Sidoarjo," harapnya.

Yah, selama masih bernapas, manusia wajib memelihara harapan. Jangan pernah putus asa! Saya pun masih berharap Pak Win Hendrarso menyanyi lagi, ceria lagi, seperti dulu. Mumpung masih ada waktu dua tahun memimpin Kabupaten Sidoarjo.

Ayo, Pak Win, bangkit dan maju! Insya Allah, Sidoarjo jaya lagi!

24 February 2008

Kang Abik penulis Ayat-Ayat Cinta

Habiburrahman El-Shirazy, penulis novel laris Ayat-Ayat Cinta, Sabtu (23/2), membagikan pengalamannya sebagai penulis. Melalui karya-karyanya, Habiburrahman ingin menyebarkan 'virus' cinta kepada sesama sekaligus berdakwah.

Kehadiran Habiburrahman El-Shirazy (31) mejadi daya tarik tersendiri bagi para pelajar sekolah menengah atas di Perpustakaan Kota Malang. Para remaja ini ingin melihat dari dekat Kang Abik, sapaan akrab Habiburrahman El Shirazy, yang sangat fenomenal di dunia sastra islami. Anak-anak muda kota dingin ini pun ingin mengetahui kiat-kiat Kang Abik dalam menulis cerpen, puisi, drama, atau novel.

"Alhamdulillah, akhirnya aku ketemu Kang Abik. Orangnya cool banget," ujar Santi, pelajar sebuah SMA negeri di Malang. Para pelajar ini rata-rata sudah membaca Ayat-Ayat Cinta, novel terlaris di Indonesia, yang baru saja difilemkan itu.

Dalam paparannya, Habiburrahman mengatakan bahwa siapa saja punya potensi menjadi seorang penulis. Penulis apa saja, tak harus cerpen atau novel. Kang Abik mengutip sebuah pepatah yang mengatakan, kalau azab itu kuat, jalan akan terbuka lebar.

"Intinya di sini adalah niat yang harus dikuatkan," kata pria yang lahir di Semarang pada 30 September 1976 itu.

Pada 1990-an Kang Abik sudah malang melintang di dunia kesusastraan di Surakarta, Jawa Tengah. Ia beroleh banyak penghargaan mulai dari lomba baca puisi, pidato bahasa Arab, hingga karya ilmiah remaja. Kang Abik kian produktif ketika studi di Kairo. Di ibukota Mesir itu dia menulis beberapa naskah drama bernapaskan Islam dan sekaligus menjadi sutradara. Di antaranya, Wa Islama (1999), Sang Kyai dan Sang Durjana (2000), Darah Syuhada (2000).

Namun, novel Ayat-Ayat Cinta yang diterbitkan pada 2004 paling fenomenal karena laris manis di pasaran. Oplah novel pop ini sudah lebih dari 300 ribu eksemplar dan terus bergerak naik di pasar buku tanah air. Sastrawan senior Taufiq Ismail sampai geleng-geleng kepala, mengapresiasi prestasi Kang Abik. "Anak ini benar-benar membuat sejarah di dunia kesusatraan kita," puji Taufiq.

Dampak ekonominya sangat nyata. Kang Abik tak ayal menjadi miliarder baru berkat kepiawaiannya mengolah kata. Betapa tidak. Royalti Ayat-Ayat Cinta tak kurang dari Rp 1,5 miliar. Kemudian royalti buku-buku lain sedikitnya Rp 100 juta per judul. Luar biasa!

Nah, kepada pelajar di Kota Malang, suami Muyasaratun Sa'idah ini memaparkan bahwa berdasarkan pengalamannya, menjadi penulis itu sebuah proses yang panjang. Tidak bisa instan atau muncul tiba-tiba. Kang Abik mengaku mulai tertari di dunia tulis-menulis saat duduk di bangku sebuah madrasah aliyah di Solo. Itu pun sebatas menjadi pengisi rubrik di majalah dinding (mading) sekolah. Lalu, lahirlah karya-karya lain sampai akhirnya tercipta novel Ayat-Ayat Cinta yang meledak hebat itu.

"Sampai saat ini saya tidak pernah puas dengan karya-karya saya. Tapi, dari sekian banyak karya, Ayat-Ayat Cinta inilah yang penuh perjuangan," ujarnya.

Menurut Kang Abik, apa pun profesi atau pekerjaan seseorang, semua harus diawali dengan niat yang baik. Niat ini membangkitkan motivasi untuk meraih keberhasilan di bidang apa pun. "Semua kembali lagi pada niat. Kalau yakin, pasti ada saja jalan keluar. Insya Allah," ujar pria yang juga dikenal sebagai ustadz itu.

Lalu, bagaimana dengan novel Ayat-Ayat Cinta? Sayang, Kang Abik enggan membeberkan secara gamblang baik novel maupun filmnya. "Secara global Ayat-Ayat Cinta adalah sebuah pesan bagi para pelajar untuk mencintai prestasinya. Berlaku akhlaqul karimah dan memiliki toleransi tinggi," katanya, diplomatis.

Sekadar mengingatkan, Ayat-Ayat Cinta ini berisi cerita cinta layaknya novel remaja lainnya. Hanya saja, Kang Abik sebagai pendakwah memoles ceritanya dalam sudut pandang Islam yang sangat kental. Novel dakwah lah!

Syahdan, Fahri bin Abdillah, pelajar Indonesia studi di Al Ahzar, Mesir, bertetangga dengan Maria Girgis di sebuah flat. Meski beragama Kristen Koptik, Maria mengagumi Alquran. Gadis itu pun menganggumi Fahri. Kekaguman yang berubah menjadi cinta. Sayang, cinta Maria hanya tercurah dalam diari saja.

Gara-gara novel ini, Kang Abik kebanjiran undangan ceramah dan diskusi bedah buku. Ada yang mengundangnya semata-mata untuk mengisi pengajian, ada juga yang sengaja menyelipkan jadwal ceramah di tengah acara bedah buku dan talkshow. "Pernah di Palembang, dalam dua hari saya harus mengisi delapan acara baik bedah buku dan talkshow maupun mengisi ceramah agama," tutur peraih Pena Award 2005 itu.

Mengenai sumber ide, Kang Abik mengaku bisa datang dari mana dan di mana saja. Ide sering muncul tanpa diundang. Misalnya, saat sedang duduk sendiri, bersenda gurau, pengalaman pribadi, atau pengalaman orang lain. Menulis dari pengalaman pribadi, kata dia, akan lebih mudah. Selain benar-benar menjiwai, penulis juga bebas mengeskpresikan atau menata alur cerita. Sehingga, isi cerita akan terasa lebih nyata.

Kang Abik membuktikan bahwa orang bisa kaya-raya dengan menjadi pengarang. Nah, siapa yang mau mengikuti jejak sang ustadz muda ini?

Kredit foto: http://novrianti.multiply.com

BACA JUGA
Ayat-Ayat Cinta Satu Miliar [Koran Tempo]

23 February 2008

Tragedi artis lawas - Ucok AKA


Nasib artis di Barat dan di sini berbeda 180 derajat. Sebut saja The ROLLING STONES. Vokalisnya, MICK JAGGER, masih bisa jingkrak-jingkrak, tur ke seluruh dunia. Pendapatannya Rp 4 miliar setahun.

Grup gaek lain macam DEEP PURPLE pun bikin album dan tur dunia. ERIC CLAPTON masih piawai memetik gitar, kaya-raya dari main musik. Tak jelas kapan mereka-mereka ini pensiun karena secara bisnis masih sangat laik. Mutu musik mereka pun boleh lah.

Bagaimana dengan artis kita? Terus terang, saya sangat sedih. Sebab, beberapa idola saya, yang selama ini saya anggap "pahlawan musik", apes nasibnya. Achmad Albar, vokalis God Bless, berada di tahanan gara-gara kasus narkoba. Fariz Rustam Munaf, pemusik serba bisa, pengusung musik pop berkelas, sedang menjalani sidang di Jakarta. Juga gara-gara narkoba, tepatnya ganja.

Kamis, 21 Februari 2008, saya tersentak membaca laporan Mubarok, teman di Kediri. Rocker gaek Ucok AKA Harahap diusir warga Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Rabu (20/2/2008). Ucok dilarang menempati kafe sekaligus studio musiknya di Kelurahan Pojok.

Gara-garanya, warga setempat merasa terganggu dengan musik yang dimainkan Ucok bersama anak-anak muda binaannya. Om Ucok ini memang pemusik lawas yang juga guru musik. Ia buka studio, kursus, serta mengarahkan anak-anak muda tahu musik berikut lika-likunya. Kita perlu angkat topi sama om yang memulai karier dari Apotek Kaliasin, Surabaya, ini.

Yang bikin kaget lagi, warga juga mempertanyakan hubungan Ucok dan Endang. Sebab, warga menduga sepasang sejoli ini bukan suami-istri sah. Kok tinggal satu rumah, satu kamar? Aha, ini barang peka untuk kita di Indonesia. Om Ucok berasalan mereka kawin siri: sah secara Islam, tapi memang tidak terdaftar di kantor urusan agama. Bagaimana bisa menunjukkan surat nikah? Hmmm.. saya tak mau masuk ke soal privasi macam ini.

Yang pasti, saya sangat sedih mengikuti cerita Ucok AKA Harahap. Tidak pernah saya bayangkan seorang rocker legendaris, perintis musik rock Indonesia, musikus hebat pada 1970-an hingga 1980-an itu, bernasib sedemikian apes. Bukannya dielu-elukan, malah diusir dari kediamannya.

Pekan lalu saya kebetulan mampir ke bursa kaset bekas di samping Stadion Gajayana Malang. Saya menemukan beberapa kaset lawas AKA Group dan Duo Kribo [Ucok dan Achmad Albar]. Kasetnya Om Ucok ini paling mahal dibandingkan kaset-kaset lain. "Khusus Ucok dan Duo Kribo Rp 50.000 nggak saya lepas, Mas," kata si pedagang kaset bekas.

Padahal, kaset-kaset lain paling mahal Rp 20.000. Ini membuktikan bahwa karya-karya Ucok Aka sudah menjadi "rock klasik" di Jawa Timur, Indonesia umumnya. Maka, saya geleng-geleng kepala, sedih, tak habis pikir dengan peristiwa pengusiran Ucok di Kediri.

Si raja rocker [sampai hari ini belum ada rocker di Indonesia yang mampu menirukan aksi-aksi Ucok di atas panggung] saja diperlakukan begini, bagaimana pula dengan penyanyi biasa-biasa? Sulit dibayangkan.

Kasus-kasus yang menimpa artis-artis lawas--khususnya Ucok, Albar, Fariz, kemudian Roy Marten--hendaknya menjadi bahan refleksi bagi kita semua. Bahwa popularitas, nama besar, kekayaan, kemashuran, ketampanan, kecantikan... tak pernah abadi. Roda dunia terus berputar, bukan?

BACA JUGA
Ucok AKA & His Gang
Ucok AKA dan lumpur Sidoarjo
Cikal bakal rock di Surabaya

22 February 2008

Religi dan kekatolikan orang Flores




Oleh YOSEPH YAPI TAUM
Dosen Universitas Katolik Sanata Dharma Jogjakarta

Pertanyaan utama yang menggelitik rasa ingin tahu saya ketika menerima topik sarasehan ini adalah, untuk apa menggali ‘rasa religiositas’ sebuah kelompok etnis? Apa sesungguhnya relevansi dan urgensinya? Jawaban atas pertanyaan ini –yang akan diberikan di bagian pengantar ini-- penting sebagai dasar bagi pembahasan selanjutnya.


Beberapa ahli filsafat kebudayaan, seperti Zoetmulder, Driyarkara, Mangunwijaya, Dick Hartoko (dalam Taum, 1997a: 3) mengungkapkan bahwa awal mula segala ilmu pengetahuan dan kebudayaan adalah rasa religiositas. Dengan kata lain, keinginan untuk memuja Sang Pencipta mendorong terbentuknya kebudayaan setiap etnis. Karena itu, menurut saya, memahami 'rasa religiositas' dari sebuah kelompok etnik merupakan kunci memahami kebudayaan etnis tersebut, karena kebudayaan pada awalnya diabdikan untuk mengungkapkan rasa religiositas tersebut.

Dengan memasukkan faktor budaya dalam upaya menuju ke inkulturisasi (musik) liturgi, berarti ada pengakuan yang lebih tegas dan eksplisit mengenai fungsi budaya. Menurut para ahli kebudayaan seperti Galtung (dalam Taum, 1994a), kebudayaan memainkan peranan yang sangat menentukan dalam pergerakan sosial besar yang mengubah masyarakat.

Menurut saya, hal itu berlaku pula dalam hal religi, yakni jika kita mau 'mengubah' masyarakat menuju ke semangat Injil yang (lebih) benar. Untuk mencapai tujuan itu, makalah ini akan membahas lima aspek, yakni: pengantar memahami masyarakat Flores, agama-agama asli di Flores, keutamaan-keutamaan orang Flores, catatan ringkas tentang rasa musikal orang Flkores, dan akan diakhiri dengan catatan tentang inkulturasi musik di Flores.


Nama Pulau Flores berasal dari Bahasa Portugis "Cabo de Flores" yang berarti "Tanjung Bunga". Nama ini semula diberikan oleh S. M. Cabot untuk menyebut wilayah paling timur dari Pulau Flores. Nama ini kemudian dipakai secara resmi sejak tahun 1636 oleh Gubenur Jenderal Hindia Belanda Hendrik Brouwer.

Nama Flores yang sudah hidup hampir empat abad ini sesungguhnya tidak mencerminkan kekayaan Flora yang dikandung oleh pulau ini. Karena itu, lewat sebuah studi yang cukup mendalam Orinbao (1969) mengungkapkan bahwa nama asli Pulau Flores adalah Nusa Nipa (yang artinya Pulau Ular). Dari sudut Antropologi, istilah ini lebih bermanfaat karena mengandung berbagai makna filosofis, kultural dan ritual masyarakat Flores.

Pulau Flores, Alor dan Pantar merupakan lanjutan dari rangkaian Sunda System yang bergunung api. Flores memiliki musim penghujan yang pendek dan musim kemarau yang panjang. Daerah Pulau Flores meliputi enam kabupaten, yakni Kabupaten Manggarai, Ngadha, Ende, Sikka, Flores Timur, dan Lembata.

Sejarah kependudukan masyarakat Flores menunjukkan bahwa Pulau ini dihuni oleh berbagai kelompok etnik yang hidup dalam komunitas-komunitas yang hampir-hampir eksklusif sifatnya.

Masing-masing etnis menempati wilayah tertentu lengkap dengan pranata sosial budaya dan ideologi yang mengikat anggota masyarakatnya secara utuh (Barlow, 1989; Taum, 1997b). Heterogenitas penduduk Flores terlihat dalam sejarah asal-usul, suku, bahasa, filsafat dan pandangan dunia.

Ditinjau dari sudut bahasa dan budaya, ada enam sub-kelompok etnis di Flores (Keraf, 1978; Fernandez, 1996). Keenam sub-kelompok etnis itu adalah: etnis Manggarai-Riung (yang meliputi kelompok bahasa Manggarai, Pae, Mbai, Rajong, dan Mbaen). Etnis Ngadha-Lio (terdiri dari kelompok bahasa-bahasa Rangga, Maung, Ngadha, Nage, Keo, Palue, Ende dan Lio. Kelompok etnis Mukang (meliputi bahasa Sikka, Krowe, Mukang dan Muhang).

Kelompok etnis Lamaholot (meliputi kelompok bahasa Lamaholot Barat, Lamaholot Timur, dan Lamaholot Tengah). Terakhir kelompok bahasa Kedang (yang digunakan di wilayah Pulau Lembata bagian selatan).
Keenam kelompok etnis di Flores sesungguhnya memiliki asal-usul genealogis dan budaya yang sama.

Kristianitas, khususnya Katolik, sudah dikenal penduduk Pulau Flores sejak abad ke-16. Tahun 1556 Portugis tiba pertama kali di Solor. Tahun 1561 Uskup Malaka mengirim empat misionaris Dominikan untuk mendirikan misi permanen di sana. Tahun 1566 Pastor Antonio da Cruz membangun sebuah benteng di Solor dan sebuah Seminari di dekat kota Larantuka.

Tahun 1577 saja sudah ada sekitar 50.000 orang Katolik di Flores (Pinto, 2000: 33-37). Kemudian tahun 1641 terjadi migrasi besar-besaran penduduk Melayu Kristen ke Larantuka ketika Portugis ditaklukkan Belanda di Malaka. Sejak itulah kebanyakan penduduk Flores mulai mengenal kristianitas, dimulai dari Pulau Solor dan Larantuka di Flores Timur kemudian menyebar ke seluruh daratan Flores dan Timor. Dengan demikian, berbeda dari penduduk di daerah-daerah lain di Indonesia, mayoritas masyarakat Pulau Flores memeluk agama Katolik.

Meskipun kristianitas sudah dikenal sejak permulaan abad ke-16, kehidupan keagamaan di Pulau Flores memiliki pelbagai kekhasan. Bagaimanapun, hidup beragama di Flores –sebagaimana juga di berbagai daerah lainnya di Nusantara (lihat Muskens, 1978)-- sangat diwarnai oleh unsur-unsur kultural yaitu pola tradisi asli warisan nenek-moyang.

Di samping itu, unsur-unsur historis, yakni tradisi-tradisi luar yang masuk melalui para misionaris turut berperan pula dalam kehidupan masyarakat. Kedua unsur ini diberi bentuk oleh sistem kebudayaan Flores sehingga Vatter (1984: 38) menilai di beberapa tempat di Flores ada semacam percampuran yang aneh antara Kristianitas dan kekafiran.

Orang Flores memiliki kepercayaan tradisional pada Dewa Matahari-Bulan-Bumi. Kepercayaan yang bersifat astral dan kosmologis ini berasal dari pengalaman hidup mereka yang agraris, yang hidup dari kebaikan langit (hujan) dan bumi (tanaman) (Fernandez, 1990). Lahan pertanian yang cenderung tandus membuat orang Flores sungguh-sungguh berharap pada penyelenggaraan Dewa Langit dan Dewi Bumi.

Selain itu, hampir semua etnis masyarakat Flores memiliki tempat-tempat pemujaan tertentu, lengkap dengan altar pemujaannya yang melambangkan hubungan antara alam manusia dengan alam ilahi.

Altar-altar adat merupakan tempat dilaksanakannya persembahan hewan korban dalam upacara ritual formal, misalnya: upacara panen, pembabatan hutan, pendirian rumah, perkawinan adat, dan sebagainya. Upacara ritual itu sendiri menduduki posisi penting sebagai sarana pembentukan kohesi sosial dan legitimasi status sosial. Ritus persembahan di altar tradisional itu mempengaruhi berbagai struktur dan proses sosial di Flores.

Sebelum agama Katolik tiba di Flores, masyarakat di sana sudah mengenal Tuhan yang Kuasa, yang disebut ‘Lera Wulan Tanah Ekan’ atau Tuhan Langit dan Bumi. Orang Flores memiliki rasa syukur dan penyerahan diri yang begitu dalam kepada Tuhan. Untuk memperkuat kenyataan bahwa seseorang bertindak benar dan jujur, sekaligus memperingatkan lawannya, mereka berucap:

"Lera Wulan Tanah Ekan no-on matan": Tuhan mempunyai mata (untuk melihat), yang berarti Tuhan mengetahuinya, ia maha tahu, ia maha adil, ia akan bertindak adil. Pada peristiwa kematian, orang biasanya berkata: "Lera Wulan Tanah Ekan guti na-en": Tuhan mengambil pulang miliknya.

Pada perayaan syukur sebelum panen, ada kewajiban bagi para anggota masyarakat untuk mempersembahkan sebagian hasil panen itu sebagai tanda ucapan syukur kepada Tuhan sebelum menikmati hasil panen tersebut. 4.2 Kejujuran dan Keadilan

Kepercayaan yang kuat dan penyerahan diri seutuhnya pada Tuhan menimbulkan nilai-nilai keutamaan lainnya yang juga dijunjung tinggi orang Flores seperti kejujuran dan keadilan. Nilai ini muncul sebagai keyakinan bahwa ‘Tuhan mempunyai mata’ (Lera Wulan Tanah Ekan no-on matan) . Tuhan melihat semua perbuatan manusia, sekalipun tersembunyi. Dia menghukum yang jahat dan mengganjar yang baik.

Sifat dan tabiat kejujuran ini sangat menarik perhatian Vatter (1984: 56). Dia mencatat, hormat terhadap hak milik oang lain tertanam sangat kuat di benak orang Flores. Pencurian termasuk pelanggaran berat di Flores. Pada zaman dahulu dikenakan hukuman mati, dan saat ini pencuri dikenai sangsi adat berupa denda yang sangat besar.

Studi Graham (1985) mengungkapkan bahwa dalam kehidupan sosial-budaya masyarakat Flores Timur, ada empat aspek yang memainkan peranan penting, yaitu episode-episode dalam mitos asal-usul, dan tiga simbol ritual lainnya yakni nuba nara (altar/batu pemujaan), korke (rumah adat), dan namang (tempat menari yang biasanya terletak di halaman korke). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa orang Flores memiliki penghargaan yang sangat tinggi akan adat-istiadat dan upacara-upacara ritual warisan nenek-moyangnya.

Mitos cerita asal-usul dipandang sebagai unsur terpenting dalam menentukan otoritas dan kekuasaan. Melalui episode-episode dalam mitos asal-usul itulah legitimasi magis leluhur pertama dapat diperoleh. Mitos asal-usul yang sering dikeramatkan itu biasanya diceritakan kembali pada kesempatan-kesempatan ritual formal seperti membangun relasi perkawinan, upacara penguburan, terjadi sengketa tanah, persiapan perang, pembukaan ladang baru, panen, menerima tamu, dan sebagainya.

Nuba-nara atau altar/batu pemujaan merupakan simbol kehadiran Lera Wulan Tanah Ekan. Ada kepercayaan bahwa Lera Wulan turun dan bersatu dengan Tanah Ekan melalui Nuba Nara itu. Korke yang dilengkapi dengan Nama adalah "gereja" tradisional, pusat pengharapan dan penghiburan mereka.

Sangat kuat dan menonjolnya peranan devosi kepada Bunda Maria di kalangan orang Flores di satu pihak menunjukkan unsur historis (warisan zaman Portugis) tetapi sekaligus kultural (pemujaan terhadap Ibu Bumi, seperti dalam ungkapan Ama Lera Wulan-Ina Tanah Ekan).


Ikatan kolektif yang sangat kuat dalam masyarakat Lamaholot terjadi pada tingkat kampung atau Lewo. Masyarakat Lamaholot pada umumnya memiliki keterikatan yang khas dengan Lewotanah atau tempat tinggal. Melalui ukuran kampung, mereka membedakan dirinya dengan orang dari kampung lainnya. Kampung merupakan kelompok sosial terbesar, dan kesadaran berkelompok hampir tidak melampaui batas kampung (Vatter, 1984: 72-73).

Di Flores sebetulnya tidak ada kesadaran akan persatuan yang bertopang pada pertalian genealogis, historis maupun politis. Seperti disebutkan di atas, keterikatan mereka lebih disebabkan faktor kesamaan tempat tinggal atau kampung. Sekalipun demikian, pola organisasi kampung selalu dibangun dengan semangat dan pemikiran tentang kohesi sosial yang berpangkal pada kerangka genealogis. Dalam kampung-kampuang itu tinggal orang-orang dari berbagai kelompok imigran, yang kemudian digolong-golongkan dalam suku (istilah untuk suku adalah Ama).

Itulah sebabnya orang Flores cenderung menyapa sesamanya dengan sebutan kekerabatan (Om, Tante, Kakak, Adik atau mengaku sebagai saudara). Mereka juga bisa menghargai perbedaan politis, agama, etnis bila mereka telah diikat dalam satu kesatuan tempat tinggal. Rasa kesatuan seperti ini, kadang-kadang membuat orang Flores menjadi sedikit bersifat etnosentris.

Sekalipun di Flores tidak banyak ditemukan alat-alat instrumen musik, rasa musikal orang Flores tergolong cukup istimewa. Hal ini dapat dilihat dalam pandangan Max Weber, yang dikutip dari J. Kunst (1942) berikut ini:

“Of musical instruments I did not see much, although, as a matter of fact, the population of Flores seemed to me to be more musically talented than the kindred Indonesian tribes whose acquaintance I made in Sumatra, Java and Celebes, where I never heard any tolerable voices sing agreeable melodies. It was different in Flores.

Many a sonorous male voice, rendering simple songs at the river bank, still sounds in my ears; melodies which might well please the European ear, too. And where is the Florinese who could paddle without singing his pantuns, complete with soli and refrain sung in chorus? Among these soloists there were some voices that might, with better training, have been turned out as good tenor, soprano and bass voices.

But this hardly seems to me to apply to the treble voices of the genuine Malay people, including the Buginese and Macassarians. It would seem that we have here to do with a morphological distinction in the vocal means of expression, which may well amount to a support of my view concerning the kinship of the Florinese with tribes living further east” (p. 32).


Berikut ini terjemahannya:

“Tentang musik instrumen saya tidak banyak menemukan, tetapi adalah sebuah fakta bahwa penduduk Flores memiliki bakat musikal yang lebih dibandingkan suku-suku bangsa Indonesia lainnya yang saya jumpai di Sumatra, Jawa dan Sulawesi. Saya tidak pernah mendengar suara nyanyian yang kompak dan serasi dengan melodinya. Ini berbeda di Flores.

Banyak terdengar suara pria yang dalam, gema nyanyian di sepanjang sungai, tetap terngiang-ngiang di telingaku, melodinya menyenangkan telinga Eropa juga. Dan di manakah orang Flores yang berjalan tanpa menyanyikan pantunnya, lengkap dengan solo dan refrainnya dalam koor? Di antara penyanyi-penyanyi solo ini, terdapat beberapa suara yang, dengan latihan yang lebih baik, akan menjadi penyanyi tenor, sopran dan bass yang baik.

Tetapi hal ini jelas hampir tidak terlihat pada suara penduduk Melayu asli, termasuk Bugis dan Makasar. Barangkali inilah pembedaan morfologis dalam ekspresi vokal, yang mendukung gagasanku tentang kekeluargaan di Flores dengan suku-suku yang hidup di timur jauh" (h. 32).

Orang Flores, seperti terungkap dalam kutipan di atas, memiliki bakat musikal yang sangat tinggi, khususnya dalam nyanyian koor. Sebagian (kecil) lagu-lagu Flores sudah diakomodasikan dalam liturgi dan sudah termuat dalam buku Madah Bhakti. Tetapi buku ini kurang disenangi di Flores karena kurang variatif dan terasa seperti menekan kreativitas.

Masih ada satu hal yang penting menjadi catatan. Jika orang Flores, menurut Max Weber, mempunyai bakat musikal yang sangat tinggi, pertanyaannya adalah, mengapa tidak ada orang Flores yang kemudian menonjol sebagai penyanyi nasional? Adakah kendala budaya yang menghambat pencapaian ini?

Beberapa studi (Vatter, 1984; Graham, 1985; Taum, 1997b) mengungkapkan bahwa keluarga di Flores (dalam hal ini Flores Timur) memainkan peranan yang sangat kecil dalam proses pendidikan dan sosialisasi anak. Keluarga bukan tujuan melainkan sarana bagi pembentukan kelompok sosial yang menjadi inti masyarakat dan menentukan suku.

Suku itulah basis sosial terkecil dan otonom. Semua hak dan kewajiban individual diarahkan kepada kebersamaan suku. Itulah sebabnya ruang bagi ekspresi dan aktualisasi potensi pribadi menjadi lebih terbatas, sebaliknya kebersamaan menjadi lebih bernilai. Mungkin ini salah satu kendala budaya yang menghambat hal itu, di samping faktor-faktor teknis lain seperti peluang, modal, dan sebagainya.

Agama Katolik hanya bisa berakar dalam kebudayaan sebuah kelompok etnis jika Katolik sudah terungkap dalam pola pikir, pola sikap, dan pola tindakan masyarakat pendukung etnis itu, dan bahkan memimpin dan mengarahkan kehidupan sosial-budaya setempat. Injil sudah harus ikut mempengaruhi, membentuk, mengarahkan, dan merasuk ke dalam sistem nilai dan sistem budaya lokal. Agama Katolik hanya akan berakar, sejauh ia mampu menginjili sistem keagamaan masyarakat. Jika tidak, Katolik akan tetap tinggal di luar.

Dalam kaitan dengan ini, maka proses inkulturisasi, bagi saya, adalah mengangkat nilai-nilai dasar dan paham-paham inti budaya kelompok etnis tertentu ke dalam interaksi dinamis dengan Kitab Suci dan tradisi gereja. Dalam interaksi ini paham-paham budaya asli akan bertemu dengan ilham esensial gereja sebagai wahyu dan konteks-konteks wahyu itu sendiri. Hal ini membutuhkan proses yang panjang, dan di sisi akademis membutuhkan studi dan diskusi yang mendalam.

Khusus dalam hal inkulturisasi musik liturgi di Flores, perlu dipahami bakat musikal orang Flores itu. Lagu-lagu yang sudah direduksi menjadi satu suara sangat membosankan orang Flores yang sudah sangat terbiasa menyanyi dalam empat suara. Untuk mendukung inkulturisasi musik liturgi di Flores, perlu diinventarisasikan lagu-lagu rakyat, ditranformasikan menjadi lagu liturgis, dan diterbitkan dalam buku nyanyian khusus dengan pola empat suara.

Lagu-lagu dengan semangat dan warna musik yang sama (seperti dari daerah Minahasa, Ambon, Papua, serta dari daerah lainnya) dapat pula dilibatkan dalam buku nyanyian ini. Penggunaan alat-alat musik tradisional (misalnya gong waning di Sikka, suling bambu di Ende dan Flores Timur, orkes kampung hampir di seluruh Flores) dalam musik liturgi sungguh-sungguh menarik minat dan partisipasi umat, khususnya generasi muda Flores.

Akhirnya, semoga upaya Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta untuk menuju ke inkulturisasi musik gereja Indonesia dapat berhasil memadukan semangat kebudayaan asli dengan semangat Injil yang (lebih) benar.


DAFTAR ACUAN

Barlow, Colin, Ria Gondowarsito, A.T. Birowo, S.K.W. Jayasurya, 1989. Potensi-potensi Pengembangan Sosial Ekonomi di Nusa tenggara Timur. Canberra; Australian National University.

Daeng, Hans J., 2000. Manusia, Kebudayaan, dan Lingkungan: Tinjauan Anropologis Pengantar Dr. Irwan Abdullah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Fernandez, Inyo Yos., 1996. Relasi Historis Kekerabatan Bahasa Flores: Kajian Linguistik Historis komparatif terhadap Sembilan Bahasa di Flores. Ende: Nusa Indah.

Fernandez, Stephanus Osias, 1990. Kebijakan Manusia Nusa Tenggara Timur Dulu dan Kini. Ledalero: Sekolah Tinggi Filsafat Katolik.

Ghono, John, 1992. “Nilai Religius Budaya NTT Sebelum dan Sesudah Masuknya Pengaruh Kristianitas” Makalah Diskusi Panel Sehari Pelestarian Budaya Lokal. Yogyakarta: Forum Studi Eureka.

Graham, Penelope, 1985. Issues in Social Strukcture in Eastern Indonesia. New York: Oxford University.

Keraf, Gregorius, 1978. Morfologi Dialek Lamalera. Disertasi Doktor Ilmu Sastra Universitas Indonesia. Ende: Percetakan Offset Arnoldus.

Kunst, J., 1942. Music in Flores: A Study of the Vocal and Instrumental Music Among the Tribes Living in Flores. English Translation by Emile van Loo. Leiden: E. J. Brill.

Mubyarto, dkk., 1991. Etos kerja dan Kohesi Sosial Masyarakat Sumba, Rote, Sabu dan Timor Propinsi Nusa Tenggara Timur. Yogyakarta: P3PK UGM.

Muskens, M.P.M., 1979. Partner in Nation Building: The Catholic Church in Indonesia. Aachen: Missio Aktuell Verlag.

Orinbao, Sareng, 1969. Nusa Nipa: Nama Pribumi Nusa Flores Warisan Purba. Ende: Pertjetakan Arnoldus/Penerbitan Nusa Indah.

Pinto da Franca, Antonio. 2000. Pengaruh Portugis di Indonesia. Diterjemahkan oleh Pericles Katoppo dari Portuguese Influence in Indonesia. Jakarta: Sinar Harapan.

Taum, Yoseph Yapi, 1994a. “Intervensi Budaya dalam Pengentasan Kemiskinan” dalam harian BERNAS, 3 Juni 1994.

Taum, Yoseph Yapi, 1994b. “Sastra dan Bahasa Ritual dalam Tradisi Lisan Masyarakat Flores Timur” dalam Basis No. XLIII-6. Yogyakarta: Andi Offset.

Taum, Yoseph Yapi, 1997a. Pengantar Teori Sastra: Ekspresivisme, Strukturalisme, Pascastrukturalisme, Sosiologi, Resepsi. Ende: Nusa Indah.

Taum, Yoseph Yapi, 1997b. Kisah Wato Wele-Lia Nurat dalam Tradisi Puisi Lisan Masyarakat Flores Timur. Jakarta: Yayasan Obor.

Widiyatmika, Munandjar, dkk., 1981. Adat-istiadat Daerah Nusa Tenggara Timur. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Depdikbud.

Vatter, Ernst, 1984. Ata Kiwan. Diterjemahkan dari Ata Kiwan Unbekannte Bergvolker im Tropishen Holland oleh S.D. Sjah. Ende: Nusa Indah.

Paguyuban sepeda ontel Gedangan




Paguyuban Sepeda Kuno Karangbong (PSKK) sangat terkenal di kawasan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo. Seperti juga komunitas sejenis, PSKK ini muncul secara spontan. Beberapa pemilik sepeda kuno [rata-rata produksi tahun 1940-an] yang tinggal di kawasan Karangbong merasa perlu bersepeda bersama.

"Yah, ketimbang sepedanya ditaruh saja di rumah," cerita Kuzairi, ketua PSKK, kepada saya.

Maka, Kuzairi dan kawan-kawan setiap Ahad pagi mengayuh sepedanya mengitari beberapa ruas jalan utama di Gedangan, Buduran, Sidoarjo, dan sekitarnya. Sekali-sekali mereka bersepeda ke Surabaya untuk bergabung dengan sesama penggemar sepeda kuno di Surabaya.

Setiap kali melintas di jalan raya, Kuzairi, Suparno, Kabul, Muslimin, dan kawan-kawan selalu mengenakan busana khas tempo doeloe: topi lebar, celana jengki, mirip pejuang '45. Tentu saja, warga Karangbong ini menjadi pusat perhatian warga. "Teman-teman yang punya sepeda kuno akhirnya datang bergabung," kata Kuzairi.

Kini, PSKK yang berdiri pada 2004 ini punya 100-an anggota. "Sekarang turnya lebih sering. Kita juga diundang mengikuti acara-acara penting di Sidoarjo dan Surabaya," tambah Suparno. Saat tujuh belasan lalu, paguyuban sepeda kuno asal Gedangan ini diajak memeriahkan acara sepeda sehat di Museum Mpu Tantular, Buduran.

"Kita juga sudah touring tiga kali di Kediri, dua kali di Surabaya. Sekarang teman-teman Kediri yang ke Sidoarjo sebagai kunjungan balasan," timpal Muslimin.

Apa sebetulnya kriteria sepeda kuno? Sederhana saja. Semua sepeda yang diproduksi di bawah tahun 1950 baik masih orisinal maupun yang sudah dimodifikasi sudah bisa digolongkan sepeda kuno. Namun, sepeda produksi 1940-an jauh lebih disukai karena penampilannya 'klasik'. Sepeda tua buatan sebelum kemerdekaan, 17 Agustus 1945, lebih disukai karena mengingatkan kita pada pejuang-pejuang kemerdekaan.

Menurut Kuzairi, merek-merek terkenal yang sangat digemari komunitas sepeda kuno antara lain Gasile, Simplex, Hember, BSA, dan Ralleigh. Praktis, sepeda-sepeda tahun 1940-an ini sudah tidak diproduksi lagi sehingga nilai koleksinya sangat tinggi. Hanya kolektor yang benar-benar 'gila' sepeda yang punya.

"Makanya, teman-teman yang punya sepeda kuno ini biasanya karena orang tua atau kakek-neneknya memang punya sepeda kuno. Kalau sepedanya banyak di toko, ya, bukan sepeda kuno namanya," tutur Kuzairi.

Di sinilah letak manfaat menjadi anggota komunitas sepeda kuno. Sebab, mereka bisa memperoleh informasi seputar suku cadang serta hal-hal lain yang berhubungan dengan sepeda dari sesama anggota komunitas. Asal tahu saja, jaringan informasi di antara komunitas sangat baik.

"Kalau ada suku cadang yang tidak ditemukan di Sidoarjo, kita bisa menghubungi teman-teman di Surabaya, Malang, Kediri, Jakarta, dan sebagainya. Memang kita saling mendukung satu sama lain," tambah Kabul.

Bersepeda, apalagi di musim bahan bakar mahal seperti sekarang, jelas sangat bermanfaat. Bersepeda pun merupakan olahraga yang sehat, mudah, murah, bisa dilakukan siapa saja. Namun, dalam praktik bersepeda di Sidoarjo yang makin padat jelas tidak senyaman dulu. Sekarang ini, kata Kuzairi, nyaris tidak ada tempat lagi bagi masyarakat pengguna sepeda ontel. Jalan raya dikuasai oleh sepeda motor dan kendaraan roda empat.

"Kita mau sepedaan di jalan raya sudah susah. Kita sudah tidak dihormati oleh pengguna kendaraan bermotor. Jangan heran anak-anak muda sekarang sudah banyak yang tidak mau naik sepeda ke sekolah. Padahal, dulu anak-anak ke mana-mana naik sepeda," ujar Kuzairi.

Sempitnya fasilitas bersepeda di Sidoarjo dan sekitarnya membuat anggota PSKK hanya
bisa bersepeda santai setiap Minggu pagi di kawasan Aloha, Gedangan, Waru, Sidoarjo, dan Surabaya. Toh, mereka bangga karena bisa mengembangkan kendaraan alternatif yang sangat hemat BBM.

Siapa tahu setelah harga BBM naik, naik, dan naik lagi, makin banyak warga Sidoarjo yang berpaling ke kereta angin, kendaraan favorit di masa perjuangan tempo doeloe.

BACA JUGA
Komunitas sepeda kuno di Surabaya

21 February 2008

Klub Indo Belanda di Surabaya


Eddy Samson [kiri] lagi pimpin rapat Indo Club Surabaya.


Di sebuah siang, rumah EDDY SAMSON Jalan Asem Mulya IV/1 Surabaya riuh oleh sejumlah orang yang berbicara dalam bahasa Belanda. Meski beberapa terlihat berbahasa secara pasif, bahasa mereka masih sangat kental hingga suasana terasa seperti di Negeri Belanda.

Tapi, jangan salah, mereka hanyalah para Indo-Belanda. Bukan Belanda asli. Mereka keturunan Belanda yang tinggal dan sebagian besar lahir di sini.


Mereka tergabung dalam kelompok bernama Indo Club Soerabaya (ICS). Saat ini, ICS telah merekrut sekitar 120 Indo-Belanda. Rata-rata mereka generasi kedua dari pasangan Indonesia-Belanda. Sementara termuda, adalah generasi ketiga atau anak-anak mereka.

"Karena masih tergolong generasi kedua yang lahir pada masa sebelum kemerdekaan, usia mereka cukup lanjut. Yaitu mulai 50 tahun hingga 90 tahun,’’ terang Eddy Samson, ketua ICS.

Darah Belanda itu, menurut tokoh yang berjasa menghidupkan beberapa cagar budaya di Surabaya ini, biasanya didapat dari ibu atau ayah mereka. Ia mencontohkan salah satu sahabatnya yang juga anggota ICS, GEERTRUIDA KOOPMAN, anak FEDRIK KOOPMAN dan RATNA WALTHER yang beribu ALBERTIN WALTHER. Karena sudah tua, bisa jadi inilah angkatan pertama dan terakhir ICS yang masih bisa berbahasa Belanda. Karena, mereka terbiasa memakainya dahulu di lingkungan keluarga.

Berdasarkan kriteria garis keturunan dan usia, ICS yang baru terbentuk pada 2007 terus mencari siap-siapa yang kira-kira tergolong Indo-Belanda. Terlihat sepele, namun awalnya pengurus tak mudah memperoleh sejumlah nama mereka yang tergolong Indo-Belanda.

Memang beberapa sudah ada ketika tercatat sebagai anggota kelab Indo-Belanda yang dibentuk yayasan di luar negeri. Seperti Halin (Hulp an Landgenoten In Indonesie), Mel Fraanje (MF), De Indo, Bambu dan Habini (Hulp aan Behoeften in Indonesie). Tapi jumlahnya terbatas sekali.

YAN FERDINANDUS yang kebagian mendata sejumlah nama, mengembangkannya lagi agar bisa merekrut lebih banyak Indo-Belanda, khususnya yang ada di Surabaya dan Jawa Timur. Salah satunya dengan menitipkan kabar tentang keberadaan ICS kepada siapa saja. Bisa lewat pertemuan, dan di luar pertemuan ICS yang digelar dua bulan sekali.

‘’Kalau ada yang tahu siapa saja yang masih berdarah Belanda, bisa kami catat untuk menjadi anggota ICS,’’ tambah Marcus Dirgo, wakil ketua ICS. Meski ICS terbentuk oleh mayoritas Indo di Surabaya, anggotanya juga datang dari Gresik, Pasuruan, dan beberapa daerah di Jawa Barat.

“Kami hanya saling tularkan info antarteman. Yang tahu ada Indo kenalan mereka atau tahu di sekitar lingkungan mereka, boleh diminta bergabung,’’ ungkap Yan, generasi ketiga dari perempuan Belanda bernama Frolien.

Karena kesulitan mengumpulkan para Indo, pengurus tak menargetkan jumlah anggota. Sambil berjalan, ICS akan terus menelusuri sejumlah Indo tak hanya di Surabaya. Tapi, juga di kota lain. Bahkan, meski ada embel-embel nama Soerabaya, anggota ICS tak hanya dikhususkan bagi para Indo yang ada di Kota Pahlawan. Tapi juga kota-kota lain di luar kota, bahkan luar Jawa.

“Tapi kalau kemudian setiap daerah ada banyak Indo yang bisa membentuk kelab cabang sendiri, ya bisa saja kata ketiga di belakang menunjuk kota yang bersangkutan,’’ tambah Max Grohe, salah satu anggota yang hadir dalam pendirian ICS.

Tak seperti kelab Indo yang dibentuk di luar negeri, di awal pendiriannya ICS tak memiliki dana khusus untuk memberikan santunan kepada anggota layaknya kelab Indo lain yang disokong dana dari luar negeri. Namun bukan berarti ICS tak memiliki niat menyantuni anggotanya. Dalam pertemuan Februari lalu, telah dibuka kas sukarela yang dikumpulkan saat ICS menggelar pertemuan.

Selain mencoba mengumpulkan dana sendiri, sudah banyak lembaga di Belanda atau sejumlah Indo di lembaga di berbagai negara yang siap menyalurkan dana lewat ICS. Mereka ini sudah lama menginginkan ada kelab Indo-Belanda bentukan orang Surabaya sendiri.

MESKI mayoritas beranggotakan para Indo-Belanda, ICS kini mulai membuka diri untuk anggota dari luar. Mereka yang hanya pandai berbicara dalam bahasa Belanda atau yang biasa disebut hollands spreken itu, memperbolehkan siapa saja masuk.

‘’Ini bisa juga menjadi ajang kumpul-kumpul warga Surabaya untuk menjajal kemampuan bahasa Belandanya dengan kami yang memang bisa karena terlahir di lingkungan keluarga Indo,’’ kata Yan Ferdinandus Voskamp.

Beberapa anggota baru yang masuk, namun bukan Indo-Belanda, kini tercatat dalam ICS. Seperti Koento yang bersekolah di HBS, sehingga pria ini fasih berbahasa Belanda. Juga Agus Darmadji alias Thjie Ing Hong yang tinggal di Bhaskara. Meski bersekolah di sekolah Tionghoa, Agus terbiasa berteman dengan para anak Indo.

‘’Eddy Samson adalah teman dan tetangga saya. Ketika bertemu dengan dia lagi saat sudah sama-sama pensiun, saya diajaknya masuk ICS karena saya bisa berbahasa Belanda,’’ katanya.

Karena akan menjadi kumpulan para Indo-Belanda dan hollands spreken, maka ICS bersiap menjadi organisasi yang mampu dijalankan dengan baik. Untuk itu, diperlukan perangkat-perangkat organisasi agar berjalan. Contohnya, memikirkan dana yang menjadi modal organisasi melakukan segala rencana dan program.

“Nah, dana itu bisa diambil dari iuran anggota setiap ada pertemuan,’’ kata Marcus Dirgo de Seriere, wakil ketua ICS.

“Kas itu bisa digunakan untuk membantu kepentingan anggota saat sakit, perlu pengobatan, atau meninggal. Sehingga tak perlu menunggu ada bantuan dari luar negeri," katanya. Namun, Marcus juga menginginkan agar dana yang dihimpun dari anggota itu, sewaktu-waktu bisa dipakai untuk membantu anggota jika ada yang kesusahan.

Ketika dibentuk pada awal 2007, ICS memang belum membuka kas sukarela yang bisa dikumpulkan saat ICS menggelar pertemuan setiap bulanan. Namun, seiring perkembangan waktu, hal itu mulai diakomodir. Usulan lainnya juga disampaikan tentang keikutsertaan anggota di bawah usia 50 tahun.

Ini bertujuan agar ICS bisa menjangkau keanggotaan yang meluas ke generasi di bawah mereka. Sebab, jika hanya mencari anggota di atas usia 50 tahun, atau yang pernah mengalami zaman penjajahan, maka jumlahnya akan makin berkurang.

‘’Lalu, siapa yang mewarisi kita dan yang membuat bahasa Belanda di tengah-tengah keluarga kita bisa bertahan kalau bukan anak cucu. Mereka perlu dilibatkan agar bisa menguasai bahasa Belanda dari pergaulan semacam ini,’’ kata Robert Augustin, Indo yang pernah bersekolah di Zaalberg School di Surabaya.

Sebelum ICS berdiri, sebenarnya sudah banyak kelab Indo-Belanda di Indonesia, termasuk di Surabaya. Bedanya, ICS adalah kelab pertama yang difasilitasi oleh warga negara Indonesia . Sedangkan kumpulan Indo lain seperti Halin, Habini, Bambu, dan De Indo atau Mel Fraanje (MF), selalu difasilitasi dan dananya didukung kelab Indo dari luar negeri.

Seperti Halin (Hulp an Landgenoten In Indonesie), adalah yayasan Indo-Belanda di Indonesia yang menerima bantuan dari orang Belanda di Belanda. Yayasan yang mengurus Indo-Belanda di Indonesia yang dibentuk oleh orang Belanda yang sudah menjadi warga negara lain, di antaranya adalah Hulp aan Behoeften in Indonesie (Habini), yang didukung orang Belanda di Amerika. Sedangkan Bambu, disokong oleh orang Belanda di Australia.

Anggota Halin, Habini, dan Bambu di Surabaya, mengambil santunan yang diterima tiap dua bulan sekali dalam sebuah pertemuan. Anggota Halin memerima santunan sebesar Rp 200 ribu tiap bulan. Ini belum termasuk jaminan kesehatan jika mereka menderita sakit. Untuk perawatan, mereka bisa mendapatkannya di RS Katolik St Vincentius a Paolo (RKZ) kelas tiga Surabaya.

Berbeda dengan yang diterima anggota Halin, anggota Habini dan Bambu menerima santunan Rp 300 ribu tiap bulan. Meski lebih besar jumlahnya, tapi anggota Habini tak menerima jaminan kesehatan seperti Halin dan MF yang disokong seorang wanita Indo-Belanda warga Belanda, Mel Fraanje.

“Sayang, kini Mel sudah meninggal, otomatis kelab MF bubar,’’ kata Eddy Samson.

Untuk memperoleh santunan, tak sembarang Indo-Belanda bisa bergabung dalam kelab-kelab itu. Rata-rata usia anggota harus mencapai di atas 60 tahun. ‘’Sebab di umur sekian, para Indo-Belanda itu tak bekerja lagi atau tak mendapat pensiun. Kelab-kelab ini memilih kriteria itu agar penerimanya tepat sasaran,’’ terang penggagas tim cagar budaya Von Faber yang kini berusia 72 tahun.

Sementara karena didirikan para Indo-Belanda dari Surabaya, ICS tak memiliki dana khusus untuk memberikan santunan kepada anggotanya. Eddy menyatakan, ada banyak lembaga di Belanda atau sejumlah Indo di lembaga di berbagai negara yang sudah lama menginginkan ada kelab Indo.

‘’Lewat kelab, mereka akan merasa lebih aman kalau memberikan santunan, tidak untuk orang per orang,’’ kata Eddy.

KONTAK PESON

Bapak EDDY SAMSON
Jalan Asem Mulya IV/1 Surabaya
031 547 4877, 031 720 539 10

18 February 2008

Ong Khing Kiong Bapak Tri Dharma

Ong Khing Kiong menjadi ketua Perhimpunan Tempat Ibadah Tri Dharma Seluruh Indonesia sejak 1983. Bagi umat Tri Dharma, dia adalah salah seorang penjaga tradisi suci agama tersebut.

Oleh Doan Widhiandono
Sumber: Jawa Pos 3 Februari 2008


Apa sesungguhnya makna Imlek bagi umat?

Memang, saya mengakui bahwa masih banyak salah kaprah dan salah sangka tentang Imlek atau tentang berbagai hal. Misalnya, ada omongan bahwa Imlek terkait dengan festival-festival atau kue keranjang. Bukan itu. Memang, saat Imlek, toko-toko, plaza, dan hotel berhias merah. Saya tidak memungkiri dan tidak mempermasalahkan. Boleh-boleh saja para pedagang memanfaatkan momen-momen hari raya tertentu. Tapi, makna Imlek yang sejati bukan itu.


Bagaimana penggambaran makna Imlek tersebut?

Imlek (Sin Cia Wan Tan) amat penting. Itu adalah hari pertama dan timbulnya matahari pertama. Itu berbarengan juga dengan detik terakhir tahun yang lama. Peredaran satu tahun adalah lingkaran yang dikatakan wan. Artinya, permulaan dan titik pertama. Itu berarti permulaan kehidupan atau dunia baru yang baru saja meninggalkan malapetaka. Dapat juga dikatakan sebagai penyucian alam. Pada saat itu, alam menurunkan banyak air yang seakan-akan mencuci semua yang lama, yang membawa pergi kotoran dan menjadi suci bersih.

Irama alam juga berbentuk lingkaran. Karena itu, umat meniru alam yang baru saja menyelesaikan lingkaran satu tahun dengan sempurna. Demikian pula, umat mengadakan penyatuan kembali. Antaranggota keluarga bersatu. Mulai yang paling tua hingga yang baru lahir, disambung yang akan lahir dan menghubungi yang wafat. Itulah yang dinamakan lingkaran besar dan pada saat itulah dikatakan manunggaling kawula gusti.


Karena itu, Imlek selalu hujan?

(Akiong tertawa). Betul. Tapi, secara hukum alam tidak bisa dijelaskan begitu. Imlek adalah awal musim semi. Musim yang dihitung dengan perhitungan peredaran bulan yang cocok dengan peredaran musim. Musim semi kan berarti hujan. Artinya, kalau musim semi tidak hujan, ya berarti ada yang tidak benar dalam siklus alam tersebut.


Terkait dengan tahun yang baru, apa arti terbesar Imlek?

Rek rek sin, yu rek sin. Ada hari, ada pembaruan. Semangat pembaruan itulah yang penting. Tapi, pembaruan yang bagaimana? Jin ai sin ming. Pembaruan yang positif, yang mewujudkan cinta kasih, layaknya orang tua dan anak atau raja dengan rakyat.

Rojo iku lak onok sanepane. Apa sanepa raja? Rojo itu Roh kang ngejawantah, Tuhan yang menjelma. Itulah makanya ada sabdha pandhita ratu. Titah raja itu suci. Dalam bahasa Mandarin, Raja itu wang. Tulisannya, tiga garis mendatar dihubungkan satu garis tegak. Raja itu menghubungkan langit (Tuhan), manusia, dan bumi.

Lha kalau romo (ayah) itu berarti roh kang utama. Itu sebabnya anak harus berbakti kepada orang tuanya.


Anda sudah mengetuai Perhimpunan Tempat Ibadah Tri Dharma (PTITD) Seluruh Indonesia selama lebih dari 20 tahun. Bagaimana ceritanya?

Saya juga tidak tahu. Itu mungkin bagian dari karma saya. Memang, kebetulan, Pak Ong Kie Tjay adalah ayah saya. (Ong Kie Tjay adalah penggagas dan pendiri PTITD. Pada 15 Mei 1967, PTITD tingkat Jatim lahir. Setahun kemudian, pada 25 Desember 1968, PTITD seluruh Indonesia didirikan. Dengan itu, PTITD resmi menjadi wadah tunggal TITD (kelenteng-kelenteng) di Indonesia. Ong Kie Tjay lantas menjadi ketua PTITD seluruh Indonesia hingga wafat pada 1985. Dia pun digelari Bapak Tri Dharma Indonesia.)

Tapi, meski begitu, pemilihan ketua tersebut berlangsung sangat demokratis. Walaupun Papa saya menjadi ketua begitu lama, pemilihannya juga tetap menjunjung demokrasi. Itu juga terjadi pada saya. Padahal, dalam perhimpunan tersebut, banyak yang lebih senior dan berpengalaman dibandingkan saya. Saya juga tidak tahu mengapa saya terpilih. Namun, saya tetap berusaha menjalankan tugas dan kepercayaan ini sebaik mungkin. Wong saya ini kalau ndak ada kertas suara ya ndak berani jalan.


Memimpin begitu lama, Anda pasti mengalami diskriminasi atau pengekangan saat kebudayaan Tionghoa coba diberangus. Seperti apa?

(Akiong tak langsung menjawab). Saya pribadi berpendapat bahwa tidak ada diskriminasi. Buktinya, tempat ibadah Tri Dharma masih tetap ada. Saya punya wayang potehi (wayang boneka khas Tiongkok) yang juga masih tiap hari tampil. Barongsai saya pun masih bisa tampil untuk upacara-upacara ritual.


Tapi, apakah itu berarti tidak ada masalah selama ini?

Saya tidak mengatakan itu. Tapi, apakah saya harus mengatakan bahwa ada diskriminasi, padahal saya tidak merasa didiskriminasi. Tapi, saya dan rekan-rekan memang pernah memperjuangkan untuk menghapus Inpres No 14/1967 yang dalam pelaksanaannya banyak distorsi. (Inpres No 14/1967 mengatur tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China. Dalam inpres itu, warga Tionghoa memang diistilahkan sebagai China. Salah satu poin dalam inpres, pelaksanaan tata cara ibadat Tionghoa harus dilakukan secara intern dalam hubungan keluarga atau perorangan. Perayaan pesta agama dan adat istiadat pun tidak boleh dilakukan secara mencolok di depan umum. Dalam perkembangannya, inpres tersebut ditindaklanjuti Keputusan Bersama Medagri dan Jaksa Agung No 76/1980 dan Inmendragri No 455.2-360).


Apa yang Anda nilai tidak pas pada inpres tersebut?

Dalam inpres disebut tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat China. Artinya, apakah ada agama China (Tionghoa). Itu yang saya rasa harus diperbaiki. (Inpres tersebut akhirnya dicabut dengan Kepres No 6/2000 pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid).


Banyak yang mengkritik, anak muda sekarang kian jauh dari agama. Bagaimana menurut Anda?

Itu tidak benar. Wong tempat-tempat ibadah agama di mana-mana semakin banyak. Tapi, yang membikin saya prihatin justru anak-anak muda yang tidak menjalankan nilai-nilai agama dan adatnya. Yang pesta narkoba lah, dan sebagainya.

Sebagai warga Tionghoa, Anda terlihat menyukai bahkan menguasai filosofi Jawa.

Haha... (Akiong tertawa lepas). Saya kan dilahirkan di tanah Jawa. Saya ini tidak berpendidikan. Pendidikan saya rendah. Tapi lha kok iso koyok ngene? Itu karena saya banyak belajar secara otodidak. Saya pengusaha. Saya sering mendapat kesempatan berkeliling ke daerah-daerah. Itu juga saya gunakan untuk bertemu orang-orang pandai, orang-orang yang dituakan. Saya banyak belajar dari mereka.


Apa saja yang Anda pelajari?

Ada petuah yang saya terima begini, "Ngger, kowe ojo bodho-bodho. Kowe iki kudu ngerti papan pancer. Kudu ngerti papan dununge." Apa maksudnya? Artinya, saya harus menyadari tempat saya berpijak. Saya harus menyadari karma-karma saya.


Anda dikenal sebagai pribadi yang tidak suka diekspos, tidak suka tampil di media. Mengapa?

(Akiong tersenyum) Saya ini bukan siapa-siapa. Saya ini pelayan, bukan tokoh. Saya memang tidak suka tampil di media. Tapi, saya sempat kecolongan. Saat saya memimpin upacara, besoknya ada foto saya di koran. (Akiong tersenyum lagi). Saya sebenarnya kaget. Bagaimana bisa ada foto saya? Tapi, ternyata ada umat yang berkata, "Lha, ngene gelem masuk koran." Artinya apa? Kadang ada juga umat yang ingin pemimpinnya tampil. Itu juga karma saya. Jadi, meski saya tidak bersekolah, saya juga punya karma untuk memberikan pencerahan.


Tentang Ong Khing Kiong

Nama lengkap : Ong Khing Kiong
Nama akrab : Akiong
Alamat: : Jl Urip Sumoharjo
Istri : dra Oei Kong Mee MPd
Anak : 1. Ming Shan Wang
2. Ming Tan Wang
Pendidikan : SD Si Hwa
SMP Sin Cung
Jabatan : - Ketua I (Bidang Keagamaan) dan Ketua Harian Perhimpunan Tempat Ibadah Tri Dharma Indonesia.
- Ketua I dan Ketua Harian Tempat Ibadah Tri Dharma Hong Tik Hian, Jalan Dukuh.

Ingrid Fernandez penyanyi legendaris NTT




Jalan-jalan ke bursa kaset lawas Malang, 18 Februari 2008, tiba-tiba saya ketemu kasetnya INGRID FERNANDEZ. Judulnya: Putus Cinta, volume I, produksi PT Libra Nada Recod Jakarta. Tak ada tahun terbit, tapi bisa  dipastikan tahun 1980-an.

Puji Tuhan, saya terkejut dan bersyukur luar biasa bisa menemukan kaset lawas ini. Sejak masih bocah di kampung, Lembata, Flores Timur, nama Ingrid Fernandez sering disebut-sebut sebagai penyanyi hebat. Dia nyanyi lagu-lagu daerah Nusa Tenggara Timur, dan meledak di mana-mana. Suaranya manis, sedikit vibrasi, tenang, penuh penghayatan.

Tapi, terus terang saja, saya belum pernah lihat Ingrid punya kaset. Baru tahun 2008 saya lihat, itu pun secara kebetulan di luar Stadion Gajayana Malang, lapak pedagang kaset-kaset lawas. Karena itu, saudara-saudara, jangan remehkan tempat-tempat loakan, rombengan. Banyak mutiara berharga bisa kita dapatkan di sana.

Sampul kaset masih lumayan bagus: Ingrid Fernandez remaja, mungkin usia 25-an, masih langsing, tersenyum. Tangan kiri pegang rambut atau garuk-garuk kepala? Hehehe.... Manis banget Oa Ingrid pada 1980-an itu ternyata. Busananya juga gaul ala artis era 1980-an. Daftar lagu, penulis lagu, penata musik Bartje van Houten, bisa dibaca di gambar sampul album pertama Ingrid Fernandez yang saya tayangkan di bawah.

Tentu saja, saya langsung membeli kaset itu tanpa banyak cincong lagi. Harganya Rp 8.000 saja. "Jangankan delapan ribu, 80 ribu pun saya mau," kata saya dalam hati. Mana ada kaset Ingrid Fernandez di era sekarang, bukan?

Saya sudah sering tanya ke sana ke mari, tapi tak ada satu pun orang NTT yang punya album Ingrid. Di internet pun tak ada. Sebab, tidak ada orang yang menulis cerita tentang Ingrid Fernandez. Maka, mau tidak mau, saya tulis di blog biar ada dokumentasi tentang Ingrid Fernandez, meskipun tidak lengkap, di internet to?

Kembali ke pertengahan 1980-an. Waktu saya sekolah di Larantuka, SMP Pankratio [sore], San Dominggo, Larantuka, saya bisa rasakan betapa Ingrid Fernandez punya tempat khusus di hati orang Nagi [Larantuka]. Di mana-mana orang bicara Ingrid Fernandez, gaya nyanyi, keindahan suara, dan segalanya lah. Orang Nagi, juga Flores Timur umumnya, sangat bangga punya penyanyi di Jakarta, bisa keluar di Televisi republik Indonesia [TVRI], satu-satunya televisi pada era 1980-an.

"Eeee... noka le Ingrid Fernandez keluar di TVRI semalam ka. Dia pu suara pu enak le," begitu gumaman khas orang Nagi. ["Bagus sekali Ingrid Fernandez keluar di TVRI semalam. Suaranya sangat enak."]

Orang Larantuka menggunakan bahasa Nagi, sejenis bahasa Melayu pasar, akibat pengaruh pedagang dari berbagai daerah di Nusantara yang mampir di pelabuhan Larantuka sejak abad ke-16. Sejak itu pula Larantuka menjadi pusat misi Portugis, sehingga orang Nagi [Larantuka} pakai fam [family name] ala Portugis macam Fernandez, Riberu, da Costa, da Silva, dan sebagainya.

Nah, meskipun dulu yang hanya televisi hitam-putih, kami [anak-anak asrama Pankratio] menunggu munculnya Ingrid Fernandez di depan layar kaca. Bayangkan, 60-an orang lihat satu televisi hitam putih rame-rame!

Sekali-sekali Ingrid tampil di acara Kamera Ria, Album Minggu, Nada dan Irama, Musik Nusantara, dan sebagainya. Sejatinya album perdana Ingrid, PUTUS CINTA, tidak sukses di pasaran alias sedang-sedang saja. Sehingga, tidak bisa muncul di Aneka Ria Safari atau Selekta Pop - program TVRI paling populer.

Bisa dipahami karena masa itu industri musik dikuasai  JK Records yang menelorkan artis-artis manis, plus lagu-lagu manis, ala Ria Angelina, Lidya Natalia, Meriam Bellina, Dian Piesesha, dan sejenisnya. JK Records diam-diam "kerja sama" dengan Edy Sud, bos Aneka Ria Safari dan Selekta Pop, sehingga sulit bagi penyanyi-penyanyi label kecil untuk nongol. Ingrid kan hanya penyanyi Libra Nada, label kecil masa itu. Perusahaan rekaman ini pun sudah lama tak ketahuan rimbanya.



Suatu ketika Ingrid Fernandez membawakan lagu pop daerah Larantuka di TVRI. Liriknya kira-kira demikian [hafalan kita 20-an tahun lalu]:

"Emak, emak, sayang....
Inga, inga, papa so terada
Emak so sendiri kasian piatu

Emak, emak sayang...
Inga inga jasa budi emak
Emak so piara torang ini

Susah sengsara emak
bukan satu bukan seribu
tengok lia sampe kini
trima kasih emak, emak sayang
Ooooo...

Emak, emak sayang
Inga, inga sorga di kaki emak
Sembah, minta bensa
Bensa emak"


Saya pastikan orang Nagi [Flores Timur umumnya] yang dengar lagu ini bisa menangis. Air mata jatuh mengenang mama yang sudah "terada" [tidak ada]. Bisa ditebak, setelah dibawakan dengan penuh penghayatan oleh Ingrid Fernandez di TVRI, lagu Emak ini meledak luar biasa. Meledak dalam arti dinyanyikan di mana-mana. Di pesta nikah, di pasar, di jalan raya, di kebun, bahkan di gereja. Di mana sajalah orang-orang Flores Timur menyanyikan lagu Emak.

Ungkapan "minta bensa emak" pun jadi terkenal. Artinya, minta restu mama karena doa mama sangat ampuh. Surga ada di telapak kaki mama. Saya sendiri sampai sekarang terharu, tak kuat, mendengarkan lagu Emak. Langsung ingat mama yang sudah "terada", juga membayangkan suara Ingrid Fernandez yang manis, dengan vibrasi tipis.

Ingrid Fernandez, yang pernah main film sebagai figuran, juga semakin terkenal di NTT setelah terlibat dalam proyek De Rozen Group. Ini grup band pimpinan MT de Rosari yang merilis lagu-lagu rakyat dari 12 kabupaten di NTT. Ingrid diajak sebagai vokalis di beberapa lagu. Sukses besar! Luar biasa!

Ingat saja lagu-lagu macam Bale Nagi, Flobamora, Tebe Onana, More, Bei Benga, Molele Iku Aro, Doan Kae, Rumpu Rampe, Manunggo.... Sepanjang sejarah NTT, yang resmi menjadi provinsi pada 20 Desember 1958, belum pernah ada grup band sesukses De Rozen. Kalau tidak salah grup yang dimotori sejumlah pemusik asal Larantuka ini punya empat album. Lantas, muncul beberapa grup kecil yang mencoba mengikuti jejak De Rozen. Tapi mana ada peniru yang menyamai biangnya, bukan?

Boleh dikata, Ingrid Fernandez merupakan penyanyi asal NTT pertama yang masuk dapur rekaman. Menasional. Pada 1970-an ada nama Yonas Pareira, asal Maumere, yang lebih dikenal sebagai penulis lagu. Salah satu ciptaan Yonas adalah Bukit Berbunga, dibawakan Uci Bing Slamet. Lain dari itu belum ada. Kalau sekadar bikin album lagu daerah [indie label] sih banyak, tapi tidak punya gaung ke seluruh Indonesia. Hanya Ingrid Fernandez yang mencorong.

"Ingrid Fernandes itu modal suaranya bagus. Orang-orang NTT umumnya bagus-bagus suaranya karena terbiasa menyanyi," ujar Bartje van Houten, gitaris D'Lloyd, yang juga penata musik rekaman Ingrid Fernandez, kepada saya di Surabaya suatu ketika.

Hanya saja, menurut Bartje, album perdana Ingrid tidak sukses secara komersial karena kalah promosi. Juga nasib saja yang kurang mujur. "Memang dunia rekaman itu sulit ditebak. Ada penyanyi biasa-biasa saja, lagu sederhana, bisa meledak. Sebaliknya, artis yang bagus, lagu-lagu berbobot malah nggak jalan. Sudah diatur oleh Tuhan," kata Bartje van Houten.

Pria asal Maluku ini masih eksis sebagai pemusik, penulis lagu, dan penata musik sampai hari ini. Terakhir, Bartje van Houten menggarap album "Rinduku Padamu" milik Susilo Bambang Yudhoyono, presiden Republik Indonesia. Om Bartje bilang, suara orang-orang NTT itu ibarat mutiara yang terpendam. "Umumnya kita orang Indonesia Timur punya talenta menyanyi," kata Bartje.

Selepas Ingrid Fernandez, ada beberapa penyanyi asal NTT yang menasional. Paling top siapa lagi kalau bukan Obbie Messakh. Meski suaranya kalah jauh sama Ingrid Fernandez, Obbie sangat produktif menciptakan lagu pop manis untuk artis-artis JK Records. Karena "menguasai" TVRI, khususnya Aneka Ria Safari dan Selekta Pop, artis-artis JK merajalela di belantika musik 1980-an.

Album Dian Piesesha [Tak Ingin Sendiri] bahkan terjual hingga 1,5 juta keping - rekor tertinggi dalam sejarah musik di Indonesia. Obbie Messakh, setelah sukses sebagai penulis lagu, "dipaksa" merilis album "Kau dan Aku Satu" dan ternyata sukses juga. Nama besar Obbie Messakh belum hilang sampai sekarang. Apalagi, lagu hitnya, "Hati yang Luka" yang dibawakan Betharia Sonata dibredel Menteri Penerangan Harmoko.

Vonny Sumlang, penyanyi pop-jazz, kelahiran Kupang yang sukses dengan album pop kreatif. Dia juga bintang jazz, pernah tampil di festival jazz internasional. Tapi Vonny tidak pernah dianggap sebagai penyanyi asal NTT karena fam "Sumlang" itu jelas Sulawesi Utara. "Dia kan cuma numpang lahir saja di Kupang," kata beberapa teman asal Flores.

Kini, era 2000-an, siapa penyanyi NTT yang masional? Tidak banyak lah. Saya hanya tahu Ivan Nestorman  [asal Manggarai, Flores Barat], vokalis Nera Band yang beraliran jazz etnik atau world music. Kia AFI, peserta Akademi Fantasi Indosiar [AFI], pernah muncul sejenak, kemudian tenggelam lagi. Kesimpulannya: sepanjang sejarah NTT baru Ingrid Fernandez yang benar-benar menasional dan dikenal publik NTT secara paripurna.

Kenapa anak-anak NTT sulit menembus industri rekaman?

Jimy Sianto, pelaku dunia hiburan di Kupang, menyebut kendala biaya. Bikin satu album itu sedikitnya perlu Rp 100 juta. Belum promosi di televisi dan media massa lain. Itu pun belum tentu untung atawa balik modal.

Kendala lain: produser di Jakarta belum berminat menemukan talenta-talenta muda di bumi Flobamora. Selain itu, penyanyi-penyanyi NTT lebih suka membawakan lagu-lagu daerah atau lagu-lagu rohani. Dus, kalaupun terkenal, ya, hanya di kalangan terbatas.

Eh, omong-omong bagaimana keadaan Ingrid Fernandez sekarang?
Apa kesibukannya?
 Apa masih nyanyi di lingkungan terbatas?

Yang jelas, sudah 20-an tahun beta sonde pernah dengar kabar beritanya. Informasi di media massa pun "terada". Saya bayangkan, Tante Ingrid Fernandez sekarang sudah 50-an atau mendekati 60 tahun, punya keluarga bahagia, menimang cucu, dan bahagia di usia yang semakin senja.


17 February 2008

Pelesir di Toko Oen Malang



Ha... ini oma turis Belanda lagi liat gambar tempo doeloe di Toko Oen Malang. Sudah tua maar masih tjakep.

Lama kita orang tidak jalan-jalan ke Malang. Kota dingin di Jawa Timur ini punya hawa sejuk, bersih, lalu lintas belum macet, en punya begitu banyak gedung-gedung tua. Yah, itu lho peninggalan Londo kolonial ada tersebar di seantero kota. Kita orang bisa jalan kaki, potret, sambil membayangkan suasana Malang tempo doeloe.

Nah, Minggu, 17 Februari 2008, beta menyempatkan jalan-jalan di Malang. Tra terlalu jauh sih: alun-alun bunder [balai kota], Kayutangan, alun-alun besar, pertokoan, kota lama, bali kucing ke Kayutangan. Ini pusat keramaian Malang tempo doeloe en tempo sekarang. Gerimis sedikit, tapi bagus lah untuk melenyapkan kita punya lelah, bukan?

Habis baca-baca dan beli dua buku di Gramedia [buku jurnalisme dan bahasa pernak-pernik Indonesia], beta mampir ke tokoh sebelah. Toko OEN namanya, berdiri sejak tahun 1930. Dus, ini tempat makan-makan atawa restoran bersuasana tempo doeloe, paling terkenal di Kota Malang. Bule-bule Belanda en dia punya keturunan belum pas kalau belum mampir satu dua menit di Toko OEN.

Ada tulisan besar-besar di tempat kasir:

WELKOM IN MALANG. TOKO "OEN" DIE SINDS 1930 AAN DE GASTEN GEZELLIGHEID GEEFT.

Apa artinya, silakan tuan-tuan terjemahkan sendiri karena saya kurang paham bahasa Belanda. Dulu pernah ikut kursus dasar bahasa Belanda di Surabaya, maar beta sudah lupa-lupa ingat. Bahasa itu kalau jarang dipake, gak dibiasakan, lama-lama, ya, hilang. Kira-kira artinya: Selamat datang di Malang. Toko "Oen" berdiri sejak 1930.

Kalau saiki tahun 2008 berarti Toko Oen punya usia 78 taon. Cukup tua, tapi beta kira belum terlalu berumur untuk ukuran gedung-gedung kolonial. Kita orang kan merdeka taon 1945. Jadi, si Oen ini baru buka toko es krim, roti, en restoran 15 tahun sabelomnya proklamasi 17 Agustus 1945. Tapi rupanya directeur Toko Oen sengaja mengangkat nuansa tempo doeloe sebagai added value dia punya toko.

"A colonial landmark and prominent resaturant," begitu slogan Toko Oen.

Kalau beta tra salah hitung, ada 18 meja di sini. Menurut pelayan-pelayan yang pakai seragam kemeja putih lengan panjang dan panatalon item, semua meja dan kursi di Toko Oen masih orisinal. Mereka rawat semua meja kursi dan perkakas-perkakas laen dengan sangat baik sehingga taham zaman. Mereka usahakan agar suasana era Hindia-Belanda tahun 1930-an bisa dirasakan kita orang di taon 2008.

"Selamat siang, selamat datang," berkata laki-laki pelayan badan kurus dengan ramah.

Keramahan standar restoran internasional lah. Lalu, dia kasih liat itu daftar makanan dan minuman mulai yang Barat, Indonesia, es krim, jus buah, camilan, dan sebagainya. Saya dikasih waktu kira-kira 10 menit untuk merenung, barangkali, lalu dia datang lagi. "Cukup nasi goreng, kopi, jus apel," kata saya. "Oke, tunggu beberapa menit ya! Dank u wel," kata teman kita ini.

Saya lalu buka buku baru tadi, baca-baca selintas, sambil tunggu itu pesanan makanan en minuman. "Ini kopinya, Pak," kata pelayan ramah.

Sambil baca, sekali-sekali nyeruput kopi, saya perhatikan pengunjung Toko Oen. Ada lima menja yang terisi, dus agak sepi. Tidak ada musik lamat-lamat untuk sekadar hiburan. Akan sangat bagus, misalnya, diputar lagu-lagu pop era Hindia-Belanda, 1930-an, entah itu krontjong, stamboel, atawa Heintje, penyanyi bocah ajaib yang sangat terkenal tempo doeloe. Rupanya teman-teman di Toko Oen ini kurang kreatif atau kenapa, beta tak sempat tanya.

Ada perempuan yang rupanya mirip orang Eropa bicara keras-keras, ngalor-ngidul, pakai bahasa gado-gado: Indonesia, Jawa, Belanda, Inggris. Tapi paling banyak bau Londonya, sehingga saya bisa pastikan ibu 60-an tahun ini keturunan Belanda alias Indo.

Hehehe.... barangkali dia mau kasih pamer dia punya bahasa Belanda yang diwariskan papa-mama serta oma-opanya. Baguslah! Bahasa itu kalau tidak pernah dipakai, lama-lama bisa hilang, bukan? Tak sabrapa lama kemudian nongol dua orang bule: oma-opa jalan bersama. Mesra banget en bisa bikin kita orang iri. Siapa yang tra senang lihat suami-istri bisa rukun damai, bahagia, romantis, sampai oma-opa, bukan? Kita orang musti contoh itu meskipun orang Indonesia belum umum bermesraan, cium-ciuman, dengan pasangan di muka umum.

Si Oma omong bahasa Belanda sama suaminya [beta masih tangkap een beitje atawa sedikit-sedikit lah], lalu jeprat-jepret suasana di dalamnya Toko Oen. Gambar-gambar di dinding juga difoto untuk kenang-kenangan kalau sudah balik ke Belanda. Beta hitung ada tujuh buah gambar Malang tempo doeloe yang dipajang di dalemnya Toko Oen. Termasuk gambar Gereja Hati Kudus Yesus, Kayutangan, yang persis berada di depan Toko Oen.

Beta lihat oma-opa turis ambil gambar para jemaat Katolik yang hendak misa kudus, maar mereka rupanya tak berminat masuk ke dalemnya gereja. Bisa jadi dorang heran dengan kita di sini: kok masih pigi gereja dan menghabiskan waktu 90 menit untuk misa dan dengar khotbahnya romo-romo yang kadang bikin ngantuk itu. Hehehe....

Pukul 17.00 datang rombongan turis sekitar 20 orang. Tujuh orang masuke ke dalemnya Toko Oen, sedangkan yang laen terus jalan kaki ke arah alun-alun. Tambah sore suasana tambah meriah. Dari 18 meja tinggal empat meja yang belom terisi. En itu berarti beta harus tahu diri.

Toh, beta sudah menghabiskan waktu kira-kira 90 menit menikmati suasana Malang tempo doeloe di dalemnya Toko Oen. Alhasil, tagihan yang harus saya bayar Rp 39.000 plus pajak 10%. Dank u wel! Tot straks!

Kalau saudara-saudari tertarik, catet baik-baik alamatnya Toko Oen:
Jalan Basuki Rachmat Nomor 5 Malang, Jawa Timur.
Teleponnya: (0341) 364 052

Anita Lie jadi profesor





Tujuh tahun bukan waktu yang singkat bagi Anita Lie untuk mendapat surat keputusan pengangkatannya sebagai guru besar dari Menteri Pendidikan Nasional. Anita mengajukan berkas-berkas persyaratan menjadi guru besar sejak 2001.

Saat itu, dia masih menjabat sebagai dekan Fakultas Sastra Universitas Kristen Petra Surabaya. Sedangkan SK pengangkatannya sebagai guru besar, baru diterimanya Oktober 2007. "Kalau SK-nya sih, keluar November 2006. Tapi saya baru menerimanya Oktober tahun lalu," kata Anita Lie.

Selama menunggu tujuh tahun itu, ibu satu anak ini mengaku sempat hopeless. Ia mengaku jujur sempat dilanda galau. "Tahun pertama hingga ketiga, saya sempat berharap-harap cemas kapan SK itu keluar. Namun, setelah melewati tahun keempat, jadi terbiasa. Sekarang, saya gembira sekali karena akhirnya SK itu saya terima," kata perempuan yang sejak kecil bercita-cita menjadi guru ini.

Ia tidak tahu pasti kenapa SK tersebut begitu lama diproses. Padahal, segebok berkas dan persyaratan pengajuan menjadi guru besar telah dilengkapi. "Berkasnya segini," kata Anita sembari menggambarkan tumpukan berkas yang tingginya kira-kira 30 cm.

Beberapa kali pula peraih gelar Master of Arts dari Baylor University, Inggris, ini mengecek keberadaan berkasnya. "Di fakultas ada, di universitas juga lengkap. Juga di kopertis, semua lengkap. Mungkin karena saya sempat pindah universitas ,jadi prosesnya lama," kata mantan staf ahli Pusat Penelitian UK Petra periode 1995-1997.

Namun, ia tak patah semangat. Di sela penantiannya menjadi guru besar, ia justru makin disibukkan dengan seabrek kegiatan akademik. Tak hanya menjadi dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unika Widya Mandala yang dilakoninya sampai sekarang. Ia juga menjadi sekjen di Dewan Pendidikan Jatim.

Kegiatan di luar kampus sebagai fasilitator pelatihan guru juga dijalaninya. "Saya memang nggak bisa jauh dari kehidupan guru," kata Anita yang mengaku semasa kecilnya suka bermain sekolah-sekolahan.

Anita memang pandai dalam hal manajemen waktu. Menjadi fasilitator pelatihan guru yang harus dijalaninya dengan berkeliling Indonesia, dari Aceh hingga ke Papua, bahkan harus masuk ke daerah pedalaman, tak sedikit pun mengurangi jatahnya bertemu mahasiswa Widya Mandala.

Padahal, itu dijalaninya selama dua tahun sejak 2005 sampai 2007. Ia menyebut Kota Meulaboh, Aceh Barat, lalu Sumatera Utara, Riau, NTT, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, hingga Papua, telah disinggahinya untuk memberikan pelatihan dan ketrampilan khusus kepada guru-guru di sana.

"Saya ajari mereka bagaimana membuat rencana pembelajaran yang implementatif," kata perempuan yang selalu tampil dengan potongan rambut pendek ini.

Selama menjelajah pedalaman, Anita mengaku melihat pemandangan berbeda di setiap daerah. Ia menyebut, kehidupan para guru di Aceh pascabencana tsunami lebih mewah daripada para guru di pedalaman Riau atau Papua. "mungkin karena setelah tsunami banyak sekali bantuan untuk Aceh," kata ibu dari putri tunggal, Felippa Amanta (14) ini.

Sementara di pedalaman Papua, ia menyaksikan siswa yang bertelanjang kaki, ketiadaan buku tulis dan buku pelajaran, sekolah yang hanya punya dua guru, hingga guru yang harus membuat soal ujian dengan mesin ketik yang sudah berkarat dan usang.

"Di Riau, mungkin lucu dan aneh. Jika ada guru yang memukul bel tanda selesai belajar atau waktu istirahat, yang keluar kelas bukan siswanya. Tapi yang datang justru gajah besar-besar. Kalau sudah gajah yang datang, semua ngumpet di dalam kelas. Maklum, letak sekolahnya di dekat hutan," papar Anita.

Atas gelar akademik tertinggi yang resmi disandangnya hari ini, Anita menjelaskan jika itu diraihnya atas panggilan hati. "Keluarga saya tidak ada yang jadi guru. Tapi entah kenapa sejak kecil saya sudah bercita-cita jadi guru. Saya yakin, guru adalah profesi yang tiada duanya," kata istri Haryanto Amanta ini.

Anita akan dkukuhkan dalam tiga bidang sekaligus di depan sidang Senat UK Widya Mandala, Sabtu (16/2/2008). Yakni, di bidang sastra Afrika Amerika (Afro American Lecture), metodologi pengajaran bahasa (Language Teaching Methodology), dan membaca (Reading).

Putri tunggalnya, Fellipa Amanta, juga suami tercintanya, Haryanto Amanta, dikatakan Anita adalah guru terbaiknya. "Fellipa adalah guru utama saya yang senantiasa menginspirasi saya untuk menemukan teori-teori yang selama ini saya pelajari. Dia juga yang bisa mengurai ketakutan-ketakutan saya sebagai manusia dan guru. Fellipa selalu mengingatkan saya agar jangan melulu belajar teori, tapi yang penting praktek," urai peraih SEAMO Jasper Fellowship Award for Best Research Study dari pemerintah Kanada pada 2000 ini.

Kalaupun saat ini Fellipa lebih menyukai dunia politik, dan belum ada keinginan menjadi guru sepertinya, Anita tak mempermasalahkannya. "Cita-citanya selalu berganti setiap minggu. Jadi biarlah," kata Anita lalu tertawa.

Dalam pidato pengukuhannya, perempuan kelahiran Surabaya, 1 Juni 1964 ini akan mengulas topik 'Guru : Perjalanan dan Panggilan'. Dalam pidatonya itu, Anita mengkritik sedikitnya guru yang menjadi guru karena panggilan hati. Namun banyak orang yang menjadi guru justru karena paksanaan atau mengejar kemudahan.

Profesi guru juga dipandang sebagai pekerjaan saja. Akibatnya guru hanya memenuhi kewajibannya sebagai pendidik dan hanya menunggu-nunggu gaji saja. Siswa yang diajar guru seperti ini biasanya akan minimalis dan tidak bisa berkembang.

Beda jika seseorang tersebut menjadi guru karena panggilan hati. Mereka bisa memberi dampak pada siswa dan masyarakat sekitar. Sebab, mereka mengajar benar-benar dengan hati. "Mereka juga akan selalu diingat dan dikenang terus oleh siswanya karena mereka sudah bisa mengubah hidup seseorang," pungkasnya.

BIODATA SINGKAT

- Nama : Dr. Anita Lie (43)
- Suami : Haryanto Amanta (44)
- Anak : Felippa Ann Amanta (14)
- Pendidikan : S3 Bidang Kurikulum dan Pengajaran dari Baylor University (1994)
- Profesi : Dosen FKIP dan Pasca Sarjana Unika Widya Mandala (UWM) Surabaya
- Pengalaman Lain:
- Dosen Tamu SEAMEO RELC Singapura
- Direktur EduBisnis Consulting dan Direktur Akademis Sentra Foreign Languages.
- Sekjen Dewan Pendidikan Jatim 2003-2006 dan Anggota Dewan Pakar Jatim 2003-2005.
- Anggota dan salah satu pendiri Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (www.komunitasdemokrasi.or.id).

Prestasi :

- Rotary International Ambassador of Good Will pada 1990.
- ACUCA Fellowship pada 1998.
- SEAMEO Jasper Fellowship dari pemerintah Kanada untuk penelitiannya mengenai
pendidikan multikultural dan kurikulum bahasa Inggris 1994.


BACA JUGA
Anita Lie sang pendidik