08 January 2008

Sulitnya menjual surat kabar


"Bikin majalah atau koran itu gampang. Jualnya itu yang sulit."

Kata-kata ini selalu saya dengar setiap kali ketemu Setyo Utomo alias Pak Tommy di kawasan Joyoboyo, belakang Kebun Binatang Surabaya. Ia sudah 20 tahun lebih menjadi agen surat kabar dan majalah di Kota Surabaya. Karena itu, ia tahu betul suka-duka, lika-liku, bisnis yang satu ini.

"Bang Hurek, selera pembaca atau pembeli di Surabaya dan Sidoarjo itu sangat sulit ditebak. Kalian bisa saja bilang koran ini bagus, kelas, bermutu. Tapi apakah bisa dijual? Bermutu tapi gak payu, lapo. Hehehe...," ujar Pak Tommy yang pernah menjadi fotografer lepas spesialis pertandingan-pertandingan Persebaya itu.

"Lalu, media apa yang gampang dijual di Surabaya?" tanya saya.

"Hanya Jawa Pos," tegasnya. "Kalau Jawa Pos, saya jamin jalan. Media-media lain saya nggak jamin."

"Tapi media-media lain kan bagus juga kualitasnya. Liputannya lengkap, halamannya banyak, lumayan mendalam," saya menyela.

"Hehehe... Itu kan menurut sampean. Pembaca itu kan punya penilaian sendiri. Buktinya, saya sulit menjual media-media di luar Jawa Pos. Koran Jakarta yang namanya Kompas saja nggak laku, padahal dijual seribu," tegas Pak Tommy. Saya kemudian minum kopi tubruk yang disediakan pria kelahiran Madura ini.

Pak Tommy bicara ngalor-ngidul membahas bisnis media, isi surat kabar, serta mutu wartawan masa kini yang ia nilai kurang tangguh, kurang tekun. "Masa, ada wartawan yang minta-minta berita sama teman. Nggak turun ke lapangan. Nulisnya nggak enak. Apa nggak malu sama diri sendiri? Kalau nggak bisa jadi wartawan ya leren [berhenti] saja," papar Pak Tommy.

Pria berkulit gelap [sering kena matahari] ini tak asal bicara. Sebab, dia kerap kali berkumpul dengan wartawan di berbagai pos. "Saya sering heran, Bang, wartawan nggak datang ke acara, tapi kok beritanya ada. Eh, isinya meleset karena kebetulan saya berada di sana. Hehehe...," kritik Pak Tommy.

Begitulah. Kalau Pak Tommy [60-an tahun, penggemar fanatik Deep Purple] bicara, saya tidak bisa apa-apa. Jikapun saya menyanggah, ia akan membeberkan fakta-fakta baru yang saya akui akurat. Ia bukan pakar media, pemantau media [media watch], bukan wartawan, tapi tahu banyak isi perut media.

"Saya sudah 20 tahun lebih jualan media, Bang. Jam tiga pagi saya sudah di terminal sama istri. Kalau nggak begini, mau makan apa? Hidup itu berat, tapi harus disyukuri. Alhamdulillah, anak-anak saya bisa sekolah dan mandiri," ujar Pak Tommy.

Saya diam. Merenungkan kata-kata loper koran bernama Pak Tommy. "Bikin media itu gampang, tapi jualnya itu lho... wuangeeeeel tenan!"

Bikin media gampang? Bisa jadi. Internet memang memberi begitu banyak kemudahan. Mau tahu berita-berita apa saja tinggal masuk ke internet, baca situs online... dan kelar. Televisi swasta pun menyiarkan berita-berita kapan saja. Mau cari foto? Gampang. Klik google dan dapat. Situs berita macam www.detik.com banjir berita setiap hari. Wawancara tinggal telepon, bersurat elektronik, dan sebagainya.

Tak heran sejumlah media hanya mengandalkan segelintir pasukan redaksi untuk bikin koran, tabloid, majalah, dan sebagainya. Liputannya dari mana? Internet. Maka, saya tidak kaget ketika melihat sejumlah tulisan saya di blog ini terbit dalam edisi cetak. Kok gak izin saya sebagai penulis? Kok nongol begitu saja tanpa permisi? Bagaimana kalau tulisan itu digugat di pengadilan? Apakah saya harus bertanggung jawab?

Instan, semua serba instan. Era internet membuat manusia modern cenderung mengalpakan proses. Tapi, mengutip loper koran di Joyoboyo, Pak Tommy, media-media instan yang asal comot, asal jadi, asal terbit, asal-asalan, sulit dijual di Surabaya. "Teriak-teriak, jual seribu, pun nggak laku. Pembaca sekarang kan pintar-pintar, bukan orang bodoh. Mereka tahu mana media berkualitas dan mana yang asal-asalan," tegas Pak Tommy.

Kini, selain berjualan surat kabar, Pak Tommy buka warung soto di rumahnya. Saya nilai masakannya lumayan atau nilainya C. Ia dan istri harus berusaha keras agar soto ayam itu naik menjadi B, bahkan A, bahkan A+. "Namanya juga baru belajar. Hehehe...," ujar Pak Tommy. Ia tertawa ketika mendengar komentar saya bahwa sotonya masih bernilai C.

"Kenapa anda merintis usaha warung? Apa jualan koran nggak cukup?" tanya saya.

"Untuk siap-siap lah. Nanti kalau koran-koran sudan tidak bisa dijual lagi, semua orang beralih ke televisi atau internet, paling tidak saya dan keluarga masih bisa makan. Kita kan tidak tahu sampai kapan media-media cetak ini akan bertahan. Kondisi sekarang ini ngeri lho, Bang. Susah cari uang!" tegas Pak Tommy.

No comments:

Post a Comment