30 January 2008

Romo Paul Klein SVD dan KB alamiah


Paul Klein SVD itu pastor alias romo. Biarawan Societas Verbi Divini alias SVD yang tentu saja terikat kaul kemurnian alias tidak menikah. Tapi pengetahuan dan pengalamannya di bidang keluarga berencana luar biasa.

Pater Paul lah promotor Keluarga Berencana Alamiah (KBA) di Indonesia sejak 1970-an. Ia menganggap Metode Ovulasi Billings (MOB) sebagai pilihan yang paling efektif bagi suami-isteri yang ingin mendapatkan anak atau mencegah kehamilan.

Pastor asal Jerman yang baru saja merayakan ulan tahun ke-70 ini memang sangat gencar kampanye KBA, khususnya di Flores dan Nusa Tenggara Timur, umumnya. Kini, di usia senja, Paul Klein mengembangkan sayap di Malang, Jawa Timur. Dia juga mengajar di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Widya Sasana di Malang [seminari, tempat pendidikan calon pastor], dan sudah menjadi warga negara Indonesia.

Berikut percakapan dengan Dr. Paul Klein SVD tentang Dr. John Billings [wafat 1 April 2007] di Australia di usia 89 tahun. Billings adalah penggagas metode KBA yang kini dikembangkan di Indonesia oleh Paul Klein dan kawan-kawan, khususnya kelompok pro-life.

Apa kesan Anda tentang Dokter John Billings?

Saya mengenal Dokter John Billings dan isterinya, Dokter Evelyn, sejak Kongres Internasional MOB di Melbourne tahun 1978. Pada waktu itu, saya ikut delegasi Konferensi Waligereja Indonesia yang terdiri atas beberapa dokter dan bidan. Tugas kami ialah mengevaluasi MOB dan memberi jawaban atas pertanyaan para uskup Indonesia apakah metode KBA bisa juga digunakan di Indonesia. Evaluasi delegasi itu positif.

Kemudian saya bertemu beberapa kali dengan Dokter John Billings. Sejak saat pertama, Dokter John Billings menunjukkan minat besar untuk mempromosikan MOB di Indonesia. Kami juga terus berkontak lewat korespondensi dan e-mail, sampai tahun lalu. Saya menganggap Dokter John Billings sebagai sahabat.

Saya kagum terhadap pribadi orang ini, yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk perkembangan dan promosi KBA di seluruh dunia, termasuk Cina. Dia yakin bahwa penemuan MOB merupakan satu sumbangan penting untuk membela martabat hidup manusia serta membawa berkat yang luar biasa untuk para pasutri (pasangan suami-istri) yang rela menggunakannya.

Dalam ceramah dan wawancaranya, Dokter John Billings selalu berbicara secara ilmiah sebagai otoritas yang sangat profesional dan meyakinkan. Dalam hidup pribadi, dia adalah seorang yang rendah hati, tidak menuntut pelayanan khusus, penuh humor, dan sabar mendengar orang besar maupun kecil. Sumber hidup spiritualnya memang adalah iman Katolik yang dalam dan kerelaan berkorban demi kepentingan semua orang yang membutuhkan bantuannya.

Apa yang Anda lakukan setelah kongres internasional itu?

Saya menjadi promotor MOB untuk seluruh Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Alasan mengapa MOB begitu cepat berkembang di NTT adalah karena para uskup di NTT mendukung sepenuhnya, atas dasar ajaran Paus Paulus VI dalam ensiklik "Humanae Vitae" tahun 1968 yang mengajak para pasutri Katolik di seluruh dunia untuk memakai metode KBA.

Namun, ketika Dokter John Billings mendengar bahwa di Indonesia, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) hanya mempromosikan metode-metode kontrasepsi, apalagi kebanyakan pasutri Katolik tidak ikut metode KBA, dia memang kecewa. Tapi dia terus berusaha untuk memahami situasi di Indonesia, termasuk politik. Dia tidak ragu bahwa di waktu yang akan datang, MOB akan diterima juga oleh masyarakat Indonesia.

Betapa bahagia dia ketika saya memberitahu WOOMB (World Organization Ovulation Method Billings) di Melbourne bahwa MOB sudah secara resmi diakui pemerintah tahun 1983, meskipun waktu itu hanya untuk NTT.

Saya mengundang Dokter John Billings dan isterinya ke Indonesia tahun 1989 pada perayaan Hari Ulang Tahun Ke-10 Lembaga Kesejahteraan Keluarga Katolik Indonesia (LK3I), yang merupakan motor promosi MOB. Mereka bertemu dengan para pasutri Katolik yang menerima MOB dan menginap di Wisma Nazaret di Nele, yang saya bangun untuk menjalankan berbagai kursus KBA. Pemerintah Indonesia mengakui secara resmi MOB untuk seluruh Indonesia pada 28 Desember 1990.

Bagaimana masyarakat Indonesia menanggapi metode KBA?

Pada awal sejarah KBA, promosi metode-metode KBA seperti kalender, temperatur, dan lainnya oleh masyarakat tertentu dilihat sebagai "metode Katolik.” Tetapi dengan perkembangan MOB, pendapat tentang metode KBA yang paling canggih ini, yang sangat bisa diandalkan bukan saja untuk mencegah kehamilan tetapi juga untuk mendapatkan anak, pelan-pelan berubah. Justru para promotor gerakan ekologi dan emansipasi wanita menganggap MOB sebagai metode yang paling tepat untuk menghindari "pencemaran tubuh wanita."

Promosi MOB di Indonesia secara nyata merupakan satu tantangan baik untuk industri yang memproduksi alat-alat kontrasepsi seperti kondom, spiral, suntikan, dan susuk, maupun untuk dunia medis seperti dokter, bidan, dan perawat yang tetap mendukung metode artifisial walaupun secara nyata metode ini mempunyai efek samping yang merugikan kesehatan fisik dan mental.

Promosi MOB tidak mengenal batas-batas budaya, agama, dan ras. Para pasutri beragama Islam semakin tertarik dengan MOB, misalnya di Pusat Informasi Metode Ovulasi Billings (PUSIMOB) Indonesia di Malang. Setengah dari staf Pembina KBA beragama Islam. MOB dilihat sebagai metode yang memanfaatkan “hukum-hukum biologis” saja, yang ditanamkan oleh Sang Pencipta sendiri ke dalam tubuh suami-isteri demi kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga.

Program pemerintah yang diperkenalkan BKKBN sejak zaman mantan Presiden Soeharto memang berhasil mengurangi pertumbuhan penduduk secara drastis. BKKBN mengakui MOB secara resmi tahun 1983 dan 1990, tetapi secara operasional dan finansial belum mendukung MOB dan memandang promosi KBA sebagai tugas dari organisasi-organisasi swasta dan agama.

Bagaimana Gereja Katolik menanggapi MOB?

Gereja Katolik adalah perintis promosi MOB di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Walaupun para uskup se-Indonesia pada tahun 1972 mengeluarkan satu dokumen tentang penjelasan pastoral KB, toh jelas bahwa Gereja Katolik di Indonesia tetap mengutamakan penggunaan metode KBA, khususnya MOB. Hal ini terbukti dengan beberapa fakta, seperti pedoman pastoral 1975 untuk melengkapi dokumen 1972 tersebut.

MOB kini diperkenalkan dalam kursus-kursus persiapan perkawinan. Komisi Keluarga level keuskupan dan Seksi Keluarga level paroki serta karya PUSIMOB Indonesia di Malang menawarkan maupun menyelenggarakan kursus-kursus MOB di seluruh nusantara, baik untuk pasutri Katolik maupun non-Katolik. Namun, boleh dikatakan, di masa depan MOB akan berkembang di Indonesia secara memuaskan jika umat Islam makin lama makin mengambilalih komando untuk mempromosikan KBA-MOB.

Apakah MOB bisa secara efektif menekan pertumbuhan penduduk?

Dengan jujur harus diakui, dengan melihat perkembangan dan akseptan MOB pada masa ini, sumbangan metode-metode KBA untuk mengurangi laju pertumbuhan penduduk itu relevan, namun tidak terlalu besar. Alasan-alasan seperti salah paham masih kuat mengakar dalam opini masyarakat. Kalangan staf medis masih menyamakan MOB dengan metode kalender yang sudah lama tidak diusulkan oleh para ahli karena kegagalannya tinggi.

Dalam banyak penelitian di banyak negara, seperti Australia, menunjukkan bahwa MOB bekerja secara efektif seperti pil, yakni 97-100 persen. Hasil studi World Health Organization (WHO) di beberapa negara seperti di Afrika dan Amerika Latin menunjukkan bahwa MOB 97 persen efektif.

Di Indonesia, BKKBN dan Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (Perdhaki) melaporkan bahwa MOB itu 98 persen efektif. Namun penelitian-penelitian yang dilakukan sendiri oleh Dokter John Billings menunjukkan bahwa MOB itu 100 persen efektif.

Apa peran PUSIMOB dalam mempromosikan MOB?

Saya mendirikan PUSIMOB Indonesia di Malang tahun 1998 pada saat semangat di banyak tempat di Indonesia, seperti poliklinik dan tempat praktek dokter, menurun dan pada saat organisasi-organisasi swasta yang dulu rajin terlibat dalam promosi KBA mulai berhenti bekerja karena kekurangan dana.

Sejak PUSIMOB didirikan, pusat ini memiliki tugas utama untuk mempersiapkan kader-kader MOB dan untuk mensosialisasikan KBA di Indonesia melalui media massa, seminar, kursus, ceramah, dan konsultasi pribadi. PUSIMOB juga mempublikasikan brosur-brosur dan booklet-booklet berisi informasi tentang MOB dan bekerja sama dengan pemerintah, khususnya BKKBN di masing-masing kabupaten, untuk mempromosikan MOB.

PUSIMOB juga mengundang umat Islam, khususnya para bidan yang tergabung dalam Ikatan Bidan Indonesia (IBI), untuk terlibat lebih aktif dalam promosi MOB di Indonesia.

[ditambah bahan dari UCAN News]

3 comments:

  1. Asiik critae. Herr Klein ist mein Tochter. :) Saya (dan istri) diajar tentang MOB saat kursus perkawinan di Malang (Juni 2004). Gara2 "ilmu" itu, saya sekarang punya bayi lucu berumur 15 bulan.. haha...
    Pasti Bang Hurek belajar langsung MOB ke Vatter Klein ya? hahaha
    Sukses selalu.. (mbok sekali2 kita ketemu sambil ngopi2 di Graha Pena gitu. Saya ajarono bikin blog dan tulisan yang apik2..hehehe)

    Salam dari penggemar,
    -doan widhiandono-

    ReplyDelete
  2. Wah, terima kasih banyak mas doan. Aku merasa tersanjung, hehehe... Padahal, menurut saya, blog ini hanya berisi catatan-catatan ringan sekadar informasi dan bagi2 pengalaman belaka.
    Yah, Pater Paul Klein memang luar biasa untuk urusan KBA. Sebagian besar waktunya dipakai untuk KBA dan pendampingan keluarga. Sekarang dia bikin rumah retret di Ledok, kawasan Prigen.

    Sekali lagi, matur sembah nuwun untuk Mas Doan.

    ReplyDelete
  3. bagaimana sih, bentuk konkret promosi KBA yang bisa dijalankan di INdonesia? soalnya udah terlanjur dengan kampanye besar-besaran KB buatan veris pemerintah...

    ReplyDelete