19 January 2008

Perempuan enggan memasak


Begitu masuk ke blognya Mbak Judith [www.dapur-judith.blogspot.com], perempuan Jawa yang nikah sama laki-laki Swiss, saya langsung merasa segar. Belum apa-apa kita disuguhi aneka makanan lezat.

Masakannya macam-macam: masakan kampung, agak kota, hotel berbintang, hingga barat. Melihat gambarnya saja, saya langsung ngiler. Tapi, karena sejak tahun 2006 kadar kolesterol saya sedikit di atas normal, saya pun tahu diri lah. Kalau nafsu makan dituruti, wah... makin sulit kita menjaga kebugaran. Hehehe....

Judith, mama dari lima precil [bocah-bocah manis] ini sangat senang memasak. "Masak dengan cinta hasilnya lezat," tulis Mbak Judith yang pernah tinggal cukup lama di Ternate, Maluku.

Memang, apa pun, kalau dilakukan dengan cinta, hasilnya niscaya lebih baik. Tadi malam, teman saya 'terpaksa' menggarap grafis kasus perampokan di Surabaya. Tidak ikhlas, marah-marah. Maka, hasilnya pun tidak bagus. Maka, saya senang membaca ungkapan Mbak Judith di Swiss: "masak dengan cinta hasilnya lezat".

Sambil minum kopi dan dengar reportase radio soal kesehatan Pak Harto, saya merenung sejenak tentang budaya masak-memasak. Tradisi di kampung saya, Pulau Flores: memasak itu urusan perempuan alias istri. Tugas laki-laki bukan di dapur, tapi di luar rumah. Anak laki-laki janganlah dipaksa memasak.

Kalaupun laki-laki masak, ya, masak air atau kalau terpaksa, misalnya berkemah, ikut pramuka, atau karena tidak ada perempuan. Selama ada perempuan, ya, dia yang masak. Masih di Flores, sebelum 1990-an, gadis yang belum bisa masak, hanya bisa macak atau merias diri, dianggap tidak pantas dinikahi.

"Lha, kalau istrimu nggak bisa masak, terus bagaimana. Jangan-jangan suami yang disuruh ke dapur," begitu kata-kata orang kampung di Flores.

Tradisi patriarkis ini pelan-pelan memudar karena kini perempuan sudah makan sekolah. Kalau sudah sekolah tinggi, pekerjaan bagus, biasanya tugas memasak didelegasikan kepada pembantu. Istri yang tak pandai masak, apa boleh buat, hanya bisa makan, makan, makan... dan perintah sana sini. Dia tidak bisa kasih petunjuk atau komando kepada pembantu harus masak begini, begini, begini, komposisi bumbu, dan sebagainya.

Bagaimana dengan di Jawa?

Dulu, sekali lagi dulu, memasak pun jadi urusan perempuan. Istri itu tugasnya tiga: masak, manak [melahirkan], macak [berdandan, menjaga kerapian rumah tangga]. Bagaimana kalau istri tidak bisa masak karena sejak kecil dimanja orang tuanya?

"Yah, mau bagaimana lagi. Saiki kan jaman moderen, nasi iso tuku," ujar Slamet, teman saya. Maksudnya, makanan bisa dibeli di mana-mana.

Istrinya wanita karier yang tidak bisa memasak. Jangankan memasak, masuk ke dapur pun tak mau. Kompor gas di rumahnya sudah setahun ini nganggur. Slamet yang juga manusia modern mengaku tak mempermasalahkan 'kelemahan' istrinya yang tidak bisa masak.

"Aku kan udah tahu sejak pacaran. Aku terima kelebihan dan kekurangannya," tutur pekerja di hotel berbintang di Surabaya ini. "Justru aku yang sekali-sekali masak. Aku dan istri makan bersama. Hehehe...."

Saya pernah iseng-iseng 'mensurvei' 20 gadis remaja, lulusan SMA, usia di bawah 21 tahun, di Sidoarjo. Kebetulan saat itu mereka baru diterima sebagai staf marketing sebuah media massa terkenal di Jawa Timur. Pertanyaan saya sederhana saja:

"Apakah anda bisa memasak? Berapa harga beras di pasar? Harga telur? Apakah anda pernah berbelanja bersama ibu anda?"

Hasilnya hanya satu cewek, namanya Eni, yang bisa memasak dan sangat menikmati pekerjaan ini. Sekitar 99 persen responden saya ternyata tidak bisa memasak. "Tapi aku kan bisa masak air. Hehehe..," ujar Wati disambut tawa teman-temannya. Lucu memang!

Yanti, lulusan SMA swasta di Buduran, secara terus terang mengatakan, dia tidak suka memasak, tapi sangat senang makan. Lalu, siapa yang memasak di rumah? "Ya, ibu saya," jawabnya enteng.

"Anda ikut belanja sama mamamu di pasarkah?" tanya saya.

"Gak loh yauw! Aku kalau bangun itu suka kesiangan. Mana sempat ke pasar," tegas Yanti.

Hmmm... saya pun terdiam sejenak. Ternyata, Yanti memperlakukan mamanya sebagai pembantu alias tukang masak. "Wah, kalau di Flores, tindakan si Yanti ini jelas pelanggaran berat. Masa, anak perempuan kok tak pernah bantu mamanya ke pasar atau dapur. Syukur, ini Jawa Timur, kota besar, punya tradisi yang berbeda," pikir saya.

Kemarin, saya bertemu dengan Silvi, profesional muda yang baru menikah. Setelah bicara ngalor-ngidul, saya tanya apakah dia bisa memasak. Masakan kegemarannya apa. "Hehehe... Hare gini disuruh masak? Sorry loh yauw. Kan bisa beli. Toh, jam kerja saya sama suami itu beda banget," ujar teman yang ramah ini.

Saya juga pernah 'survei' kecil-kecilan di kalangan perempuan jurnalis di Surabaya dan Sidoarjo. Hasilnya sami mawon: 95 persen tak pernah memasak. Alasannya: tak ada waktu, makan di luar, sering ditraktir, dan sebagainya. Di rumah pun ada pembantu atau mama yang bertugas menjaga cucu plus masak. "Buat apa masak?" kata teman-teman saya.

Melihat kenyataan ini, sebagian besar perempuan kota tidak bisa memasak [atau tak punya waktu memasak], saya diam-diam bangga dan kagum pada perempuan kota yang gandrung memasak. Contohnya, Stefani, putri pengusaha real estat terkemuka di Sidoarjo. Gadis ini sangat hobi memasak, bahkan sering bikin menu untuk dapur media massa.

Ia juga sering mengundang wartawan, termaasuk saya, mencicipi masakannya. Ia senang sekali kalau masakannya dibilang bagus, istimewa, wuenaaak tenan. "Kok ada ya gadis kota, belajar lama di Sydney, hobinya memasak?" kata saya kepada Stefani.

"Lha iya. Hobi saya sejak dulu memang masak. Kalau ada waktu luang, saya pasti masak, bikin kue, memasak apa sajalah. Kalau kamu pengin makan, silakan datang ke tempat saya," ujarnya lalu tertawa kecil. Sayang sekali, saya sudah trauma dengan makhluk brengsek bernama KOLESTEROL.

Maka, membaca blognya Mbak Judith yang penuh masakan, selalu ada menu baru, dimasak dengan cinta [katanya], juga Stefani yang doyan masak, muncul harapan dalam diri saya. Bahwa tidak semua perempuan kota yang makin gaul, pintar, modern, setara... melarikan diri dari pawon alias dapur.

Cuma, karena zamannya sudah sangat berbeda, orang tua tidak bisa lagi 'memaksa' anaknya untuk memasak seperti di Flores. Ungkapan MASAK, MACAK, MANAK di Jawa pun rasanya tidak relevan lagi. Sekarang banyak lho istri yang enggan melahirkan, apalagi mengurus anak-anak, karena takut kariernya rusak. Apalagi, disuruh masak, berpanas-panas di dapur, korak-korak, umbah-umbah, nyapu-nyapu, ngepel-ngepel.

Prabu Jayabaya berkata: "Polahe wing Jawa kayak gabah diinteri, endi sing bener endi sing sejati. Wanodya padha wani ing ngendi-endi." [Tingkah lakunya orang Jawa ibarat gabah ditampi, tak jelas mana yang benar mana yang salah. Perempuan makin berani di mana-mana.]

Hehehehe....

4 comments:

  1. Aduuuuh mas Hurek ... thanks berat ya hihihi postingan-e. Ojo lali mas aku mamanya 5 anak, hehe bukan 4 anak ... ini aku baru pulang kerja. Aku kerja di Gastro Restaurant Cafe Halal dan hari ini hari terakhirku kerja karena itu restaurant mau tutup dan buka baru lagi nanti akhir bulan Februari di tempat yang baru. Mau buka Take Away aja, biar ndak muahal bayar pajak-e ... hiks hiks .. Sekali lagi thank yaw mas. GBU.

    ReplyDelete
  2. hehehe.. sekaligus diralat Ning. Maaf atas ketidakakuratan. Salam.

    ReplyDelete
  3. masak itu bukan tugas wanita. buktinya, koki2 di hotel kebanyakan laki2. hehehe..

    ReplyDelete
  4. halo mas Hurek,

    nice info..

    kalo menurut aku sih justru kita sebagai laki2 lebih jago dalam memasak.. masak itu juga butuh tenaga dan stamina selain itu pressure nya tinggi, makanya koki pria terhebat mampu menghasilkan masakan yang penuh dengan cita rasa

    ReplyDelete