03 January 2008

Penjual trompet tahun baru



Setiap akhir tahun selalu berulang. Kali ini 60-an pedagang trompet asal Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, 'menyerbu' Sidoarjo. Profesi ini sudah digeluti selama puluhan tahun, turun-temurun.

Bu Martin, misalnya, mengaku sudah tak ingat lagi berapa tahun sudah para pedagang trompet asal Wonogiri datang berjualan di Sidoarjo. Wanita berusia 29 tahun ini mengatakan, profesi tradisional tersebut sudah digeluti sejak kakek-neneknya.

"Kami ini keturunan pembuat dan pedagang trompet. Sejak saya belum lahir, ya, sudah jualan kayak begini," ujar Martin kepada saya.

Tiba di Sidoarjo sejak 19 Desember, Martin berjualan bersama Miren, sang suami. Kalau tahun lalu mereka membawa serta anaknya yang sekarang berusia delapan tahun, tahun ini Martin menitipkan dua anaknya di Wonogiri. Alasannya, ia dan suami harus bekerja keras untuk mengejar rezeki yang hanya datang setiap tahun sekali, pada bulan Desember.

Bersama puluhan pedagang trompet asal Wonogiri, Solo, Martin dan Miren menyewa beberapa kamar kos di kawasan Sidokare, Buduran, Larangan, dan sebagainya. "Pokoknya ada kamar kosong, ya, kami sewa. Kami ini sudah sangat mengenal daerah sini. Nggak asing lagilah," ujar wanita berbusana muslimah ini seraya tersenyum.

Ada dua kecamatan di Kabupaten Wonogiri, begitu cerita Martin panjang lebar, yang secara turun-temurun dikenal sebagai produsen sekaligus penjual trompet. Yakni, Kecamatan Purwantoro dan Kecamatan Bulukerto. Ini sebetulnya pekerjaan sampingan yang hanya dilakukan menjelang tutup tahun. Pekerjaan sehari-hari
warga di dua kecamatan itu adalah bertani dan mracang, berjualan barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Martin sendiri mengaku tidak tahu persis sejak kapan warga Purwantoro dan Bulukerto ramai-ramai menekuni bisnis trompet tahun baru. Yang pasti, sudah puluhan tahun dan kini hampir 80 persen warga dua kecamatan di Wonogiri itu menggeluti trompet kertas. Mereka berjualan ke mana saja, mulai dari Jawa Tengah, Jogja, Jawa Barat, Jakarta, lalu Jawa Timur.

Martin dan suaminya--serta kakek dan neneknya dulu--secara tradisional berburu rezeki di Sidoarjo. "Kami merasa cocok dengan Sidoarjo," ujar pedagang trompet kelas menengah yang sudah empat tahun mendampingi sang suami di Sidoarjo.

Karena sudah kawakan, para pedagang trompet Wonogiri yang berseliweran di Kabupaten Sidoarjo ini sangat menguasai teknik, desain, serta seluk-beluk trompet kertas khas pergantian tahun tersebut. Mereka dengan gampangnya bisa menirukan bentuk alat musik (instrumen) musik apa saja. Trompet biasa macam kerucut, trumpet beneran, trombon, saksofon, tanduk Prancis (French horn), serta alat-alat musik tiup (wind instrument) yang lazim digunakan dalam orkes simfoni klasik.

Untuk itu, sejak Juli dan Agustus para pedagang Wonogiri sudah membuat semacam desain kecil-kecilan di kampungnya. Uji coba dilakukan sampai benar-benar dirasa layak dilempar ke pasar Sidoarjo. Jangan heran, tahun ini model-model trompet tahun baru mengalami banyak kecanggihan. Bentuknya aneh-aneh, dan tentu saja lebih mahal ketimbang trompet kerucut.

Kalau model kerucut hanya berkisar Rp 2.000-3.000, yang agak canggih ala saksofon mencapai Rp 7.500-8.000. Yang lebih besar dan jelimet bisa Rp 15.000. Dasar pedagang, harga trumpet sangat fluktuatif sesuai dengan kesepakatan bersama, juga timing. Sudah pasti, menjelang 31 Desember harga-harga ini membubung dari hari biasa.

Para pedagang trompet Wonogiri di Sidoarjo ini tidak semuanya mengandalkan modal sendiri. Maklum, biaya bahan dan sebagainya cukup besar, sehingga paling sedikit dibutuhkan dana Rp 1,5 juta untuk dana awal. Pedagang yang sudah 'jaya' bisa menghabiskan Rp 8 juta hingga Rp 10 juta untuk pengadaan trompet ke Jawa Timur. Rupiah ini di luar biaya kos-kosan, makan-minum, transportasi, dan uang jajan.

Bagaimana Martin, Miren, dan kawan-kawan bisa mendanai bisnis musiman ini? Ternyata, di Wonogiri ada juragan yang siap mengucurkan modal berapa pun yang diinginkan pembuat trompet. Boleh pinjam uang, isi steples, kertas, dan sebagainya, kapan saja diinginkan. Sang juragan, berdasar pengalaman puluhan
tahun, sangat yakin bahwa uangnya pasti kembali berikut bunganya.

"Nanti kita pulang ke Wonogiri, ya, sekalian bayar utang," ujar Ny Martin lalu tertawa kecil.

Setiap tahun pedagang trompet asal Wonogiri, Jawa Tengah, ini pasti bertambah. Ini tak lepas dari kebiasaan mereka yang suka 'mengader' pedagang trompet baru yang akan bersaing dengan pedagang lama. Bagi-bagi rezekilah!

Menurut Bu Martin, semua pedagang trompet asal Wonogiri ini membawa 'anak buah' yang benar-benar pendatang baru di bisnis trompet kertas khas tahun baru. Selain membantu bosnya, pedagang lama, si muka baru ini juga belajar membaca lokasi, peta persaingan, karakter pembeli di Sidoarjo, hingga biaya hidup di Sidoarjo.

"Seperti magang," papar Martin. Wanita asal Wonogiri ini, bersama suaminya, membawa seorang anak magang. Tahun depan, si magang ini tidak boleh magang lagi pada pedagang plus pembuat trompet lama. Ia harus bisa menjadi 'bos', punya armada sendiri. Ia pun diharapkan membawa serta salah satu (atau dua) warga Kecamatan Purwantoro dan Kecamatan Bulukerto untuk dimagangkan di Sidoarjo.

Begitu seterusnya, sehingga rombongan pedagang trompet yang 'menyerbu' Sidoarjo meningkat terus dari tahun ke tahun. "Namanya juga cari uang, Mas," ujar wanita yang di kampungnya bekerja sebagai buruh tani itu.

Pedagang-pedagang asal Wonogiri ini memang sangat guyub, rukun. Meski bersaing dalam bisnis, mereka pun saling membagikan pengalaman kepada sesamanya. Di samping mengkader anak magang, mereka juga ikhlas memberikan pola atau resep model trompet versi baru. Siapa yang menemukan pertama, papar Martin, punya
kewajiban untuk memberikan semacam 'kursus' gratis kepada pedagang lain.

"Makanya, kita ini dibilang bersaing, ya, bersaing. Tapi kerja samanya lebih banyak," ujar Martin yang mengaku banyak belajar pada para senior sejak di kampung halamannya.

Persaingan paling keras, papar Martin, justru terjadi saat memesan 'empetan', semacam peluit dari bambu untuk membunyikan trompet. 'Empetan' khas Wonogiri ini jumlahnya terbatas, sehingga harus dipesan jauh-jauh sebelumnya.

Juli atau Agustus, sang pedagang--apalagi pedagang besar--harus sudah mengoleksi 'empetan' dalam jumlah besar. "Soalnya, yang bikin itu sedikit. Kalau telat, kita nggak dapat apa-apa. Bisa-bisa nggak jadi jualan di Sidoarjo," tambah ibu beranak dua ini.

Bisa saja 'empet-empetan' itu dibeli di Sidoarjo, Surabaya, atau kota lain. Namun, Martin mengingatkan bahwa 'empet-empetan' semacam itu sangat jelek sehingga kurang disukai konsumen. Bila Anda menemukan trompet yang hanya bisa ditiup beberapa kali, lalu hilang bunyinya, hampir pasti itu karena empet-empetannya' palsu. Para pedagang Wonogiri, demikian Ny Martin, rata-rata
tidak mau mengambil risiko dalam soal ini.

"Kalau trompetnya cepat rusak, masa depan kita bisa hancur. Kita kan jualan nggak tahun ini saja, tapi kalau bisa sampai seterusnya," ujar Martin, yang menguasai wilayah alun-alun Sidoarjo.

Yang pasti, jerih lelah sekitar 60 pedagang trompet asal Wonogiri ini tidak akan sia-sia. Sejauh ini belum pernah ada cerita pedagang trompet Wonogiri rugi, apalagi gulung tikar, setelah berjualan di Sidoarjo. Berapa keuntungan mereka?
"Tergantung modalnya, Mas. Kalau yang modalnya gede, untungnya juga gede. Kalau yang jualan sedikit, ya, sedikit. Pokoke bisa makan dan bayar utang di juragan."

Juragan tak lain 'investor' alias pengusaha besar di Wonogiri yang memberikan modal kepada mereka. Laba dari berjualan trompet berkisar Rp 2 juta hingga Rp 8 juta. Pedagang besar, biasanya berjualan di Surabaya dan kota besar, bisa menembus Rp 10 juta. "Juga tergantung nasib. Kalau lagi apes, nggak laku, ya, dapatnya sedikit. Pokoknya bisa kembali modal saja sudah bagus," ujar Bu Martin.

Setelah meninggalkan kampung halaman sejak awal Desember, sebagian malah November, Martin dan kawan-kawan pulang secara bergelombang sekitar 1-3 Januari. Mereka yang untung besar rata-rata pulang pada 1 Januari. Bahkan, ada yang pada 31 Desember sudah bisa mengucapkan selamat tinggal Sidoarjo.

1 comment:

  1. Halo,

    Kalau ada dan tidak keberatan, boleh saya tahu alamat & no kontak pembuat trompet? Saya tertarik untuk memasarkannya. tolong infokan ke alamat email saya.

    Thanks

    Regards
    -Verga-
    dhengga@yahoo.com

    ReplyDelete