05 January 2008

Pak Topo ungsikan ular Lapindo



Kamis, 3 Januari 2007, lumpur panas membanjiri Desa Ketapang, Tanggulangin, Sidoarjo, akibat tanggul jebol. Sebanyak 135 penduduk pontang-panting mengungsi. Termasuk SUTOPO, penjual menu ular korba, di kawasan Ketapang, dekat perlintasan rel kereta api.

Pekan lalu saat omong-omong sama Pak Sutopo. Ada sekitar 50 ular kobra di dalam akuarium. Ular yang sangat berbisa itu menggeliat-geliat mencari mangsa. Namun, Sutopo [59 tahun], si pemilik kobra, tetap santai. Tetap cerita pengalamannya berbisnis ular kobra.

Ia malah mengambil seekor kobra, kemudian mengalungkan di lehernya. "Kalau saya sih nggak apa-apa, tapi jangan sampai ditiru orang lain. Kobran itu ular yang paling berbisa dan berbahaya," ujar pria kelahiran Trenggalek tahun 1948 itu. [Sutopo lupa tanggal dan bulan kelahirannya.]

Beberapa saat kemudian seorang pria setengah baya (50-an tahun) berhenti di stand Ular Kobra. Rupanya, sudah jadi pelanggan tetap. Tanpa banyak cincong, Sutopo mengambil seekor ular dan langsung 'mengamankannya'. Darah segar ditampung di gelas, dicampur arak sedikit, plus beberapa ramuan lain.

Bejo, sebut saja begitu, kemudian meneguk tonikum kobra di dalam gelas kecil itu. "Segaaaarrrr. Rasanya plong," ujar Bejo seraya
tersenyum lebar.

Konsumen puas, Sutopo pun ikut tersenyum puas. Si kobra kemudian dikuliti, siap digoreng. Kebetulan di sebelah kanan akuarium ada wajan lengkap dengan minyak goreng untuk menggoreng daging kobra.

"Hampir semua bagian dari ular kobra itu bisa dimanfaatkan," tutur Sutopo yang didampingi istrinya.

Darah segar, empedu, sumsum, daging, hingga kulit praktis tak terbuang sia-sia. Menurut dia, ada sejumlah penyakit berat dan ringan yang bisa diatasi dengan mengonsumsi tonikum kobra seperti lever, ginjal, kencing manis, stroke, darah tinggi, lemah syahwat, atau sekadar penambah nafsu makan.

Beberapa waktu lalu, cerita Sutopo, ada anak sekolah dasar yang menderita penyakit kulit kronis. Upaya pengobatan medis sudah berkali-kali dilakukan, tapi hasilnya nihil. Oleh sang ayah, si anak SD itu dibawa ke markas Sutopo di Jl Demak RT 07/RW 02 Desa Ketapang, Kecamatan Tanggulangin.

"Anak itu dikasih minum darah kobra. Hasilnya, sekarang sudah sembuh total," ujar Sutopo, bangga.

Bagaimana kisah Sutopo masuk ke dunia ular, kemudian mendapatkan nafkah hidup dari kobra, si raja ular berbisa? Ceritanya panjang. Sejak anak-anak Sutopo mengaku sering ikut memburu ular di kampung halamannya, Trenggalek. Ular apa saja diburu, dan itu membuat Sutopo akrab dengan ular.

Dari sekian jenis ular, Sutopo justru tertarik dengan ular kobra lantaran reputasinya sebagai ular paling berbisa, paling berbahaya, dan 'paling-paling' lainnya. Rasa ingin tahu Sutopo pun muncul. Ia mempelajari secara khusus karakter kobra berikut bisa berdosis tinggi itu. "Saya jadi tahu kalau bisa kobra
dapat digunakan untuk obat," tuturnya.

Maka, sejak remaja Sutopo berkeliling dari kampung ke kampung di Jawa Timur untuk berjualan tonikum kobra. Pada 1960-an, Sutopo sudah menetap di kawasan Waru sembari menjual menu kobra ini ke Surabaya dan sekitarnya.

"Malang, Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, dan banyak daerah lain sudah saya datangi. Langganan saya banyak sekali," cerita Sutopo, yang sudah tidak pernah lagi ikut berburu kobra di hutan.

Tiga puluh tahun lalu, Sutopo pindah ke kawasan Tanggulangin, di dekat tempat mangkalnya sekarang. Sutopo mengaku mantap di Tanggulangin setelah punya rumah sendiri di sana. Dengan pangkalan yang tetap, permanen, Sutopo lebih mudah dijangkau oleh konsumen.

"Kalau saya keliling lagi kayak dulu nanti orang sulit mencari saya," ujar pria yang mengandalkan pasokan kobra hidup dari Tulangan [Sidoarjo] dan Malang.

Siapa saja boleh menggeluti usaha seperti ini. Namun, Sutopo mewanti-wanti agar para pemula ekstra hati-hati terhadap ular kobra. Belum lama ini, cerita Sutopo, seorang pedagang tonikum kobra tewas di tempat ketika tengah menjinakkan si kobra.

Bagaimanapun juga kobra tetap kobra, tetap saja berbisa!

No comments:

Post a Comment