23 January 2008

Natal bersama di Sidoarjo


Jumat, 18 Januari 2008, sekira 6.000 jemaat mengikuti perayaan Natal bersama di GOR Sidoarjo, Jawa Timur. Ini perayaan tingkat provinsi Jawa Timur. Gubernur Imam Utomo hadir, juga sejumlah petinggi daerah.

Yah, liturgi atau misa atau kebaktian Natal memang sudah berlangsung pada 24/25 Desember lalu. Namun, lazimnya, perayaan syukur digelar sepanjang Januari hingga awal Februari.

"Kita sengaja cari momen yang pas. Maklum, para pejabat dan tokoh masyarakat itu kan orang sibuk. Kita sesuaikan lah dengan jadwal mereka," ujar Lina Simatupang, salah satu anggota panitia kepada saya.

Berkat kerja keras dan hubungan baik Lina serta suaminya, Agus Susanto, Natal bersama kali ini dihadiri cukup banyak tokoh masyarakat yang bukan Kristen. Selain Pak Gubernur, juga Anwar Nasution [ketua Badan Pemeriksa Keuangan], Kiai Haji Hasyim Muzadi [ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama], serta 20-an kiai. Sejak dulu kerja sama di antara para pemimpin agama di Jawa Timur berlangsung sangat baik.

Ulama Islam ikut Natalan? Eitt... tentu saja mereka tidak ikut kebaktian, nyanyi-nyanyi, pasang lilin, dan liturgi Natal. Para ulama serta pejabat baru masuk tempat acara usai kebaktian. Acaranya pun hanya pidato-pidato, hiburan, tak ada lagi unsur ibadat atau kebaktian. Tak ada ajakan agar orang bukan Kristen menjadi pengikut Yesus Kristus.

Penjelasan ini penting agar teman-teman bukan Nasrani tidak alergi atau curiga macam-macam. Asal tahu saja, di Indonesia ada fatwa majelis ulama agar umat Islam tidak menghadiri undangan perayaan Natal di mana pun. Alih-alih hadir, sekadar mengucapkan selamat Natal saja pun dilarang. Saya lupa kapan tepatnya fatwa itu dikeluarkan, tapi selalu dibahas di media massa, termasuk televisi di Jawa Timur.

Prof Anwar Nasution, ekonom terkemuka asal Tapanuli, diberi kesempatan bicara. Ia senang dengan tema kebersamaan yang sengaja dipilih panitia, Mas Agus dan kawan-kawan. Menurut Pak Anwar, kebersamaan, saling mengormati, toleransi... sangat penting bagi bangsa Indonesia yang jumlahnya 200 juta lebih, yang punya agama/keyakinan berbeda-beda.

Tanpa kebersamaan kita tidak mungkin maju. Bayangkan apa jadinya bila sesama anak bangsa tiap hari berkelahi, baku hina, hanya karena beda agama? Pak Anwar juga mengingatkan jemaat kristiani tentang Pancasila, dasar dan ideologi negara kita. "Saya juga teringat masa kecil saya di Sipirok, Tapanuli," ujar Anwar Nasution, pejabat yang dikenal sangat antikorupsi itu.

Warga di kampung halaman Pak Anwar sangat toleran. Pada malam Natal Anwar Nasution kecil bersama teman-temannya ikut ke gereja. Untuk apa? "Tunggu pembagian kue setelah kebaktian," cerita Pak Anwar diambut tawa hadirin. Sebaliknya, saat mauludun anak-anak Kristen ikut berebut makanan.

Mereka juga gotong-royong membantu pembangunan masjid atau gereja. Nah, kebersamaan dan toleransi itu mudah-mudahan tetap lestari di Indonesia. Pidato Pak Anwar mendapat aplaus meriah dari hadirin.

Poin yang sama disampaikan Kiai Hasyim Muzadi, ketua umum PBNU. Ulama terkemuka ini menekankan pentingnya kebersamaan meskipun kita berbeda agama. Jangan jadikan agama sebagai kendaraan untuk meraih kekuasaan. Pak Hasyim juga mengingatkan bahwa toleransi umat beragama bukan berarti yang Islam menjadi Kristen, Kristen menjadi Islam, dan seterusnya.

"Toleransi itu bagaimana kita bisa saling menghormati masing-masing individu dengan keyakinannya," tegas pengasuh Pesantren Al-Hikam Malang ini.

Zindar Kar Marbun, ketua panitia, sangat gembira. "Mudah-mudahan Natal bersama membuat kita lebih solider dan peduli pada sesama," ujar Pak Marbun yang juga orang Batak ini.

No comments:

Post a Comment