10 January 2008

In memoriam Mgr. Darius Nggawa SVD


Hari ini [10 Januari 2008] saya mendapat surat elektronik dari Pak Theophilus Bela, aktivis lintas agama di Jakarta. Ia mengabarkan, Mgr. Darius Nggawa SVD, Uskup Larantuka, telah wafat pada hari Rabu, 9 Januari 2008 jam 10.30 Witeng, di RS Katolik Lela, Maumere, Flores.

Kamis 10 Januari 2008 ada Misa Requiem Agung di Gereja Seminari Tinggi Ledalero, Maumere, di mana jenazah disemayamkan. Jumat 11 Januari 2008 jenazah akan diantar ke Larantuka, disemayamkan di Gereja Katedral. Upaca pemakaman akan dihadiri para uskup dari seluruh Indonesia, Nuncio (Duta Besar Vatikan), Gubernur Nusa Tenggara Timur Piet Alexander Tallo, para bupati seluruh NTT, pada hari Minggu 13 Januari 2008 di halaman Gereja Katedral Larantuka, Kelurahan Postoh.

Saya langsung menunduk, berdoa sebentar di depan komputer. Tak terasa air mata saya jatuh.

Selamat jalan Bapa Uskup! Selamat jalan gembala agung yang sangat berjasa bagi kami di Flores Timur, termasuk Lembata. Tiga dekade menjadi Uskup Larantuka membuat almarhum sangat dekat dengan warga Flores Timur, masyarakat Lamaholot. Mgr, Darius, beristirahatlah dalam damai di sisi-Nya.

Berikut sedikit catatan tentang Mgr. Darius Nggawa SVD, sosok uskup yang sangat membekas dalam ingatan saya. Saya masih ingat bagaimana beliau menyapa kami, anak-anak asrama SMPK San Pankratio di San Domingo, Larantuka, yang kebetulan bertetangga dengan kediaman Bapa Uskup.

“Setiap kali mendengar lagu dolo-dolo dinyanyikan dalam perayaan ekaristi di mana saja, hati dan pikiran saya selalu kembali mengenang peristiwa bersejarah itu dalam hidupku. Seolah-olah film itu diputar kembali,” ujar Mgr. Darius Nggawa SVD, Uskup Larantuka [emeritus] suatu ketika.

Paket lagu misa dolo-dolo yang diciptakan oleh Matius Wari Weruin ini memang pertama kali dibawakan di Stadion Ile Mandiri, Larantuka, pada 16 Juni 1974 ketika Mgr. Darius Nggawa ditahbiskan sebagai uskup Larantuka.

Darius menjadi uskup ketiga Dioses Larantuka. Uskup pertama Gabriel Manek, S.V.D. (1951-1961), uskup kedua Mgr. Antonius Thijsen, S.V.D. (1961-1973). Setelah menggembalakan umat Keuskupan Larantuka selama 30 tahun, pada Juni 2004 dia digantikan Mgr. Frans Kopong Kung, Pr., uskup keempat, asli Flores Timur.

Moto tahbisan Mgr Darius Nggawa Veritatem facientis in Caritate: melaksanakan kebenaran dalam cinta kasih (Efesus 4:15). Dia sangat yakin bahwa perjuangan untuk kebenaran dan keadilan harus dilandaskan pada kasih Kristiani. Untuk mencapai kebenaran, setiap kita harus bergumul, tetapi yang lebih penting lagi mempraktikkan kebenaran itu.

Lahir di Pora, Kabupaten Ende, 16 Juli 1929, Darius Wilhelmus Nggawa merupakan generasi pertama umat Katolik di Lio Selatan. Dia dipermandikan pada 16 Juli 1929 oleh Pastor Suntrup SVD.

Tahun 1941 masuk Seminari Mataloko. Di sini ia tidak menemui banyak kesulitan. “Saya sangat rajin belajar dan jalan lancar-lancar saja,” katanya.

Tahun 1948, Darius masuk Seminari Tinggi Ledalero. Pada 1954 Darius sakit berat. Dia berdoa kepada Tuhan, “Biarlah saya menjadi imam cukup lima tahun saja sebelum saya diambil untuk selama-lamanya.”

Pada 12 Oktober 1955 ia ditahbiskan menjadi imam bersama Hendrik Djawa, S.V.D. (almarhum) dan Alo Mitan, S.V.D. Darius memilih moto: “Lihatlah, Aku Telah Kau Panggil” (I Sam 3:8).

Setelah ditahbiskan, Darius Nggawa bekerja selama tiga tahun di Kisol, Manggarai: sebagai guru seminari merangkap pastor paroki Kisol pada akhir pekan.

Pada 1959-1964 Darius melanjutkan studi sejarah Asia Timur dan Tenggara sampai tingkat doktoral di Universitas Santo Thomas Manila; sambil mengajar di Christ the King Mission Seminary. Sekembali dari Filipina, ditugaskan menjadi guru di SMAK Syuradikara Ende selama setahun sebelum menjadi dosen di STFK Ledalero untuk mata kuliah sejarah gereja dan misiologi, 1966-1972.

Sejak 1966, Darius Nggawa bertugas di Seminari Ritapiret: tiga tahun pertama sebagai prefek dan tiga tahun berikutnya praeses. Di Ritapiret inilah dia dipilih menjadi Regional Regio SVD Ende dan menjadi orang Indonesia pertama yang terpilih sebagai pemimpin Serikat Regio Ende.

Sebelum masa tugasnya berakhir, ia diangkat menjadi Uskup Larantuka pada Februari 1974 dan ditahbiskan pada 16 Juni 1974. Data ini saya kutip dari tulisan Steph Tupeng Witin.

Bagi saya, sebagai anak Flores Timur, Mgr. Darius Nggawa ini seorang uskup yang luar biasa. Bila dia turne ke kampung-kampung di Lembata untuk memberi Sakramen Krisma, terasa sekali kewibawaannya sebagai imam agung. Saya bersyukur menerima Sakramen Krisma dari tangan beliau di Ile Ape, Lembata.

Kunjungannya ke stasi-stasi di desa jauh berbeda dengan kunjungan uskup di tempat lain di Indonesia. Di Jawa, misalnya, uskup masih dianggap sebagai 'orang biasa', mirip romo-romo atau pastor lain. Wibawanya baru tampak saat memimpin misa pontifikal.

Di Flores Timur lain sekali. Saya sulit melukiskan dengan kata-kata keagungan seorang uskup--dalam hal ini Mgr Darius Nggawa--bagi jemaat desa yang sederhana.

Saya menyaksikan sendiri bagaimana warga ramai-ramai membenahi kampung sebelum Mgr Darius tiba. Di luar kampung dibuat gapura agung dengan hiasan indah. Seluruh masyarakat menjemput di gapura luar kampung dengan upacara adat. Makan sirih pinang. Pidato penerimaan. Lalu, jalan kaki bersama, warga mengelu-elukannya.

Bupati atau gubernur sekalipun tidak pernah disambut dengan upacara kehormatan macam ini.

Karena umat Katolik di Flores Timur sangat banyak, sementara gereja sebesar apa pun tak akan menampung, maka misa pontifikal digelar di lapangan bola. Altar raksasa. Janur kuning. Hiasan meriah. Tari-tarian tradisional. Pakai busana terbaik.

Sekali lagi, saya tidak pernah menyaksikan misa raya seagung dan semeriah itu di Jawa. Jangankan uskup, kardinal sekalipun penyambutannya di Jawa biasa-biasa saja. Satu-satunya misa pontifikal paling meriah di tanah Jawa sepanjang sejarah Indonesia adalah saat Paus Yohanes Paulus II berkunjung ke Jogjakarta pada 1989.

Mgr. Darius Nggawa tergolong rohaniwan serius. Jarang bercanda atau tertawa. Ini saya rasakan ketika jadi anak asrama SMPK San Pankratio, San Dominggo, Larantuka. Kebetulan asrama putra ini satu kompleks dengan 'istana keuskupan' di bukit San Dominggo.

Mgr Darius biasanya memimpin misa pagi di asrama setiap Kamis (kalau tidak salah ingat). Saya beberapa kali jadi ajuda alias misdinar. Beliau ingin semua perlengkapan misa, buku-buku, suasana liturgi beres. Tidak pernah menuntut macam-macam. Jika ajuda melaksanakan tugas dengan baik, beliau bilang terima kasih.

Setelah itu cepat-cepat ke istana karena sibuk. Begitu berwibawanya, sehingga remaja SMP macam kami segan bertanya ini itu.

Kewibawaan Mgr. Darius Nggawa sangat terasa saat berkhotbah. Sebagai intelektual, banyak baca, isi khotbahnya sangat mendalam, analitis, ilmiah. Begitu berwibawanya, sehingga suara Mgr. Darius senantiasa didengarkan oleh bupati, pembantu bupati, atau camat.

Mgr. Darius Nggawa melewati hari tuanya di Pusat Penelitian Agama dan Kebudayaan, Candraditya, Wairklau, Maumere. “Saya membaca buku, berdoa, merayakan ekaristi, dan menulis renungan harian dengan tangan sendiri,” katanya.

Meski sudah tidak tinggal di Flores Timur, penggembalaan Mgr. Darius Nggawa selama 30 tahun di kabupaten paling timur 'pulau bunga' ini niscaya tak akan hilang dari warga Flores Timur. Setidaknya saya!

Selamat jalan Bapa Uskup, Ama Darius Nggawa! Maiko molo, kame dore! Peten kame pi Lamaholot, Flores Timur!

4 comments:

  1. selamat jalan monsegneur? RIP.

    ReplyDelete
  2. beliau sangat terkenal. semua orang flores tahu lah. met jalan, doa kami menyertai bapa uskup.

    ReplyDelete
  3. Selamat jalan Bapa Mgr! Selamat jalan gembala agung yang sangat berjasa bagi kami orang Flores.

    ReplyDelete
  4. beliau pelopor umat basis sebelum digembar-gemborkan KWI pada 2006/2007.

    alfons,
    madiun

    ReplyDelete