12 January 2008

Dahlan Iskan sang maestro bertutur




Hanya dalam seminggu buku GANTI HATI karya Dahlan Iskan [56 tahun] habis terjual. Diterbitkan JP Books, buku 328 halaman ini memuat kisah ganti hati alias transplantasi lever Pak Dahlan, bos Grup Jawa Pos, di Tianjin, Tiongkok. Operasi besar yang mahal, tapi juga sangat riskan bagi pasien.

Sebetulnya naskah karangan khas [features] ini sudah dimuat secara bersambung di halaman satu Jawa Pos sebanyak 32 seri. Tapi pembaca tidak puas. Mereka ingin mengoleksi tulisan enak ala Pak Dahlan dalam bentuk buku. Dan itu yang bikin buku ini laku keras.

"Setelah baca di tulisan-tulisan Pak Dahlan di Jawa Pos, saya justru semakin ingin membeli bukunya," ujar Pak Syamsul. Ia datang jauh-jauh dari Jember 'hanya' untuk mendapatkan buku GANTI HATI di Graha Pena, markas Jawa Pos, Jalan Ahmad Yani 88 Surabaya.

Menurut Mashud Yunasa, pengelola JP Books, buku GANTI HATI awalnya dicetak 30 ribu kopi. Langsung habis dalam sepekan. Padahal, belum semua permintaan terpenuhi. Maka, buku itu dicetak lagi 20 ribu kopi. Habis lagi. Cetak lagi. Nah, awal tahun 2008 diperkirakan sudah cetak 100 ribu lebih. Bukan main!

"Di Indonesia buku best seller baru habis enam bulan. Itu pun paling-paling cetak 5.000," ujar Mashud Yunasa. Dus, bisa dikatakan bahwa buku yang diluncurkan pada November 2007 ini merupakan best seller di Indonesia. Bisa jadi paling fenomenal dalam sejarah perbukuan di Indonesia.

Apa yang menarik dari GANTI HATI? Cerita tentang repotnya dokter-dokter di Tianjin mengganti lever Pak Dahlan? Bagaimana keluarga Pak Dahlan dag-dig-dug mengikuti proses transplantasi? Bagaimana Pak Dahlan harus sangat sabar menunggu lever hingga masuk ke ruang operasi? Bisa jadi, semuanya benar. Pak Dahlan menguraikan semua itu secara runut, jernih, gamblang.

Deskripsi atau penggambaran Pak Dahlan--elemen paling penting dalam tulisan features--sangat sempurna. Sejak masih mahasiswa, saya menganggap tulisan-tulisan Pak Dahlan termasuk the best di Indonesia. Ayah dua anak ini [Azrul dan Isna] sangat piawai menggambarkan sesuatu dalam kata-kata. Ibarat persilatan, Pak Dahlan termasuk pendekar pilih tanding. "Seng ada lawan," kata orang Ambon.

Namanya juga pendekar di rimba silat jurnalisme, Pak Dahlan memperkenalkan gaya baru dalam penulisan biografi di Indonesia. Judul buku memang GANTI HATI, proses transplantasi, pascatransplantasi, dan pernak-perniknya. Namun, kalau disimak baik-baik, Dahlan Iskan ingin bercerita tentang siapa sebenarnya dia. Buku ini menjadi ajang bagi Dahlan Iskan untuk menulis dirinya sendiri. Membeberkan dirinya kepada publik.

Masa kecil di Takeran, Magetan. Keluarga yang sangat miskin [kemiskinan struktural, miskin ramai-ramai.] "Baju kami sekeluarga tidak lebih dari 10," tulis Pak Dahlan. Saking bersahajanya, Dahlan kecil tak beralas kaki saat sekolah. Maka, cita-citanya sederhana saja: ingin punya SEPATU meskipun rombengan.

Gambaran kemiskinan di Takeran, kampung halaman Pak Dahlan, mungkin dramatis buat teman-teman yang tinggal di kota besar. Tapi bagi orang-orang desa, apalagi di luar Jawa, apalagi di Flores, bukan hal yang luar biasa. Memang demikianlah wajah kemiskinan di kampung-kampung kita.

Baju sekeluarga tak sampai 10. Rumah lantai tanah. Dinding bambu, atap daun kelapa (atau alang-alang). Tak pernah makan daging. Sebutir telur dimakan lima atau enam orang. Sekolah tak pakai sandal, apalagi sepatu. Banyak orang meninggal dunia karena tak ada dokter dan rumah sakit.

"Ah, ceritanya Pak Dahlan kok macam kita di Flores ya," komentar Frans, pria asal Flores, yang kerja di sebuah pabrik di Sidoarjo.

Nah, di sinilah menurut saya benang merah yang hendak disampaikan Pak Dahlan Iskan dalam bukunya. Yakni, MOTIVASI untuk berubah. Motivasi untuk mengubah nasib ke arah yang lebih. Okelah, kita lahir di kampung pelosok, desa terpencil, orang tua sangat miskin, penuh kekurangan. Tapi jangan sekali-kali engkau tangisi kemiskinanmu. Engkau harus kerja keras, kerja keras, kerja keras.

Jangan lupa berdoa [di buku ini terungkap bahwa Dahlan Iskan itu santri yang sangat religius]! Sebab, Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang kalau orang itu sendiri tidak mau mengubahnya. Jika masa lalumu yang miskin itu dikelola, dijadikan motivasi, maka hasilnya luar biasa. Pak Dahlan, kita tahu, merupakan 'raja media' di Indonesia. Ia mengelola ratusan media, sekian puluh anak perusahaan, yang tersebar di seluruh Indonesia.

"Saya mulai membangun Jawa Pos dari sebuah koran yang hampir bangkrut. Saya harus bekerja sepanjang malam. Besoknya tidak pakai libur. Bahkan, sudah bekerja sejak pagi lagi. Sampai malam lagi. Begitu seterusnya. Tidak libur.

"Besoknya sepanjang malam lagi, sepanjang siang lagi dan sepanjang malam lagi. Tujuh hari seminggu, 30 hari sebulan, 350 hari setahun, dikurangi saat bepergian,"
tulis pria kelahiran 17 Agustus 1951 ini.

Oh, ya, mengenai tanggal lahir 17 Agustus ini ada cerita lucu di halaman 202 yang bikin anda tertawa-tawa. Ternyata, tanggal lahir itu dikarang sendiri oleh Pak Dahlan karena di Takeran tidak ada catatan kelahiran.

"Bagi saya, tidak tahu tanggal lahir tidak penting-penting amat. Saya putuskan sendiri saja: saya lahir tanggal 17 Agustus 1951," tulis Pak Dahlan. Hehehe....

Buku ini juga bernilai religius. Religiositas ala Dahlan Iskan, tentu saja. Di sepanjang tulisan-tulisannya Pak Dahlan 'menyusupkan' filosofinya tentang doa, Tuhan, hidup, umur manusia, kritiknya terhadap takhayul, serta pandangan-pandangan keagamaan yang picik. Ada muatan sekularisasi [harus dibedakan dengan sekularisme lho!] dan rasionalisasi paham keagamaan yang sangat kuat.

Saya terkesan dengan cerita tentang doa Pak Dahlan sebelum menjalani operasi cangkok hati pada 6 Agustus 2007. Pak Dahlan saat disorong memasuki ruang operasi mengaku belum sempat berdoa. Lalu, dia ingat, sebagai orang beriman, harus berdoa, apalagi menghadapi momen sangat krusial dalam hidupnya. Tapi doa apa?

"Saya tidak mau ada kesan bahwa saya sombong kepada Tuhan. Tapi, segera saja saya terlibat perdebatan dengan diri saya sendiri: harus mengajukan permintaan apa kepada Tuhan? Bukankah manusia cenderung minta apa saja kepada Tuhan sehingga terkesan dia malas berusaha?

"Saya tidak mau Tuhan mengejek saya sebagai orang yang bisanya hanya berdoa. Saya tidak mau Tuhan mengatakan kepada saya: Untuk apa kamu saya beri otak kalau sedikit-sedikit masih juga minta kepada-Ku?

"Karena itu, saya memutuskan tidak akan banyak-banyak mengajukan doa. Saya tidak mau serakah. Kalau saya minta-minta terus kepada Tuhan, kapan saya menggunakan pemberian Tuhan yang paling berharga itu: OTAK? Maka, saya putuskan akan berdoa sesimpel mungkin,"
papar Dahlan Iskan.

Singkat cerita, Pak Dahlan pun berdoa menjelang operasi. Doa pendek, cermin kepribadiannya. "Tuhan, terserah Engkau sajalah. Terjadilah yang harus terjadi...." tutur Pak Dahlan.

Membaca kutipan ini, saya langsung ingat Pater Noster, doa kristiani yang sangat populer dan dihafal orang Flores macam saya. Fiat voluntas tua! Jadilah kehendak-Mu!

NASKAH LENGKAP DAHLAN ISKAN GANTI HATI

9 comments:

  1. Tulisan yang menarik dan memberi inspirasi. Salam kenal dari Ambon.

    ReplyDelete
  2. pak dahlan emang hebaat.

    ReplyDelete
  3. Mas Hurex, saya terkesan dengan liputan2-nya. Boleh saya link? Buat bacaan2 sehari2 dan menambah Wawasan buat saya. Makasih ...

    ReplyDelete
  4. carinya di mana cak? hargane?

    ReplyDelete
  5. Matur nuwun, Mbak Judith, sudah sharing cukup panjang di laman saya. Sangat menarik, Mbak. Ntar saya jawab langsung di blog sampean.

    ReplyDelete
  6. minta alamat emailnya pak dahlan...

    ReplyDelete
  7. tulisan yg menarik

    ReplyDelete
  8. q seneng bnget dg tulisn bpk . q jd ingin nlis jg.bpk tlh mmbr inspirasi buat sya tuk sllu brush dlm hidup tdk prnh mnyerah ......mgkn khidpn sy dg bpk agk mrip bdx q da dkpulauan

    ReplyDelete
  9. Assalam Mu’ Alaikum Wr.wb
    Dengan Ini Kami Warga cambai Kota Prabumulih Sumsel, Menyampaikan Permasalahan Seketa Llahan dengan pihak PT. Pertamina Gas Area Sumbagsel yang sudah lama sekali yaitu sejak tahun 2007. Semua ini diakibatkan oleh suara bising dari mesin2 Di SKG 5 Cambai milik PT. Pertamina Gas Area Sumbagsel.
    Dan dari Masalah Ini Sudah Ada Warga yang telah dikabulkan tututanya pada tahun 2010 oleh pihak milik PT. Pertamina Gas Area Sumbagsel berupa Pembebasan Lahan dan Bangunan serta Kompensasi Kebisingan, sebanyak 5 orang warga/rumah.
    Dari Penjelasan Diatas Kami ingin melaporkan kepada Bapak Dahlan Iskan kami warga yang belum dibebaskan dan belum mendapatkan kompensasi kebisingan selama bertahun-tahun sejak 2010 (sejak pembasan pertama/5 rumah) baru tahun 2013 ini mendapatkan respon/ akan dibebaskan dan mendapat kompensasi kebisingan.
    Tetapi kami sangat-sangat kecewa pak, dikarenakan harga yang mereka ajukan tanpa kesepakatan kedua bela pihak, yaitu harga rumah dan bangunan kami hanya di beriharga sepihak oleh pihak milik PT. Pertamina Gas Area Sumbagsel, yang mana warga yang pertama dibaskan pada tahun 2010 rumah dan lahannya lebih kecil dari kami malah 2 kali lipat lebih besar dan luaslah punya kami…..
    Tetapi pihak pertagas yang pertama rumahnya kecil dibayar hampi 500 juta sedahkan kami rumah dan lahan 2 kali lipat besarnya harnya di hargai separuh tidak sampai dari harga rimah warga yang pertama dibebaskan.
    Dan kami juga beritahukan kepada Bapak Dahlan Iskan uang Kompensasi Kebisingan Juga Tidak Sama….. yang mana pada tahun 2010 warga yang pertama dibebaskan mendapatkan kompensasi kebisingan 20 juta pertahun sedangkan kami akan diberi kompensasi 10 juta pertahun, inikan sangat tidak adil.
    Untuk itu kami sangat mengharapkan sekali bapak datang ke tempat kami agar bapak bisa lihat sediri keadaan rumah kami, kami yakin bapak juga pasti kecew seperti kami kalau bapak suddah melihat ketempat kami, sekali lagi pak kami mohon kehadiran bapak agar maslah kami yang sudah bertahun-tahun ini selasai.
    Demikianlah pak pengaduan kami, sekian ddan terima kasih
    Wassallam
    Prabumulih, 4 Juli 2013
    Warga Cambai Sekitar Area SKG 5 PT. Pertamina Gas Area Sumbagsel (Kota Prabumulih Sumsel)
    Syamhari
    0813-73143580

    ReplyDelete