04 January 2008

Anita Lie sang pendidik




Berbeda dengan kebanyakan warga keturunan Tionghoa, sejak kecil ANITA LIE sudah bercita-cita menjadi guru. Bukan pedagang atau pengusaha sukses. Ini tak lepas dari prinsip kedua orang tuanya yang sangat mengutamakan pendidikan.

“Bagi papa-mama saya, pendidikan harus nomor satu. Anak-anak harus mendapat pendidikan yang bagus,” cerita Anita Lie PhD suatu ketika.

Nah, karena itu, sejak masih sekolah menengah pertama (SMP), Anita sudah menjadi ‘guru’. Yakni, dengan memberi les bahasa Inggris kepada pelajar SD dan SMP di Surabaya. Anita sendiri fasih berbahasa Inggris karena sejak SD sudah ikut kursus bahasa Inggris.

Nah, penghasilan dari mengajar bahasa Inggris ini dipakai untuk membiayai sekolahnya sendiri sampai selesai kuliah. Anita Lie kemudian tumbuh menjadi manusia yang sangat mandiri. Hingga akhirnya lulus sebagai doktor pendidikan dari Baylor University, Texas, Amerika Serikat.

Anita Lie tergolong orang Tionghoa yang sangat inklusif. Dia bukan tipe anak pecinan yang pergaulannya terbatas pada etnis sejenis. “Saya sejak kecil bergaul di lingkungan yang sangat plural. Saya sekolah di SDN Sidodadi, kemudian SMPK Frateran, SMAK Santa Agnes. Lalu, kuliah sastra di Inggris di Universitas Kristen Petra,” tutur ibu satu anak kelahiran kampung Sidodadi, Surabaya, 1964, ini.

Latar belakang pendidikan yang warna-warni [sekolah negeri, Katolik, Protestan] kemudian membentuk karakter Anita Lie. Pribadi inklusif. Luwes bergaul dengan siapa saja. Tidak membeda-bedakan orang. Berpendangan luas. Antidiskriminasi.

Anita Lie cukup lama menjadi dosen di UK Petra Surabaya, almamaterya. Ia bahkan menjadi figur populer: sering diwawancarai media massa, memberikan seminar, menulis artikel di berbagai media, bahkan terjun sebagai aktivis. Namun, menjelang pemilihan rektor beberapa tahun lalu, Anita dan beberapa dosen memilih mundur.

Ada apa? Mungkin, karena ewuh pakewuh, Anita tidak memberikan penjelasan secara gamblang. Namun, informasi yang saya peroleh dari beberapa sumber, Bu Anita mengundurkan diri dari UK Petra karena perbedaan prinsip. “Jelas Petra sangat kehilangan. Mencetak dosen macam Ibu Anita Lie itu kan nggak gampang,” ujar seorang pekerja di UK Petra.

Yang jelas, di mana-mana, setiap kali ada pemilihan rektor atau pemimpin baru, senantiasa muncul beberapa kubu dengan pendukungnya. Masing-masing punya prinsip, visi, dan misi. Nah, lazimnya kubu yang bertentangan prinsip secara diametral, memilih mundur. Anita Lie boleh dikata merupakan korban dari ‘politik-politikan’ ala kampus milik yayasan Kristen Protestan Tionghoa itu.

“Kalau mau jujur, di UK Petra ini banyak masalah. Banyak sekali, Bung. Anda bisa lihat sendiri banyak dosen berkualitas, termasuk Anita Lie, yang mundur. Pasti lah ada yang nggak beres,” tutur pria berkulit gelap itu.

“Apa ada hubungan dengan isu Tionghoa dan non-Tionghoa?” tanya saya.

“Hehehe.... Sudah lah. Nggak usah dibahas lagi soal itu. Sebab, isu itu sensitif dan kurang produktif untuk dibicarakan,” ujar sumber yang lain.

Okelah. Yang jelas, selepas dari UK Petra, Anita Lie tidak sulit mendapat pekerjaan baru. Istri HARYANTO AMANTA, pengusaha, ini langsung direkrut sebagai dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan [FKIP] Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Pas dengan latar belakangnya sebagai doktor ilmu pendidikan. Dia juga jadi konsultan di Edu Business Consulting.

Kegiatan Anita Lie semakin berwarna, bahkan tak segan-segan menjadi aktivis pendidikan. Dia bergabung dengan sejumlah tokoh pendidikan membentuk Dewan Pendidikan Jawa Timur. Posisi Anita Lie sebagai sekretaris jenderal. Dia juga diminta memperkuat Komisi Pendidikan Keuskupan Surabaya. Seabrek lah aktivitas Anita Lie, tapi masih tetap dalam koridor pendidikan berwawasan kebangsaan dan multikuluralisme.

Lalu, bagaimana dengan keluarga? “Oh, kalau keluarga, ya, tetap nomor satu,” ujar perempuan yang sering saya temui di konser-konser musik klasik di Surabaya itu.

Felippa Ann Amanta, 14 tahun, putri semata wayangnya masih dalam proses tumbuh-kembang. Ia sangat membutuhkan perhatian Anita dan Haryanto. Maka, Sabtu dan Minggu adalah dua hari yang didedikasikan untuk suami dan anak. “Sebab, kalau anak ditinggal begitu saja, tanpa perhatian orang tua, maka perkembangan jiwa anak akan terganggu. Anak seperti kehilangan orang tua karena sibuk bisnis, pekerjaan, dan sebagainya.”

Belajar dari pengalaman masa kecil, Anita Lie selalu menanamkan pendidikan nilai kepada sang anak. Sopan santun. budi pekerti. Kepekaan sosial. Cinta Tuhan dan sesama. Dan sebagainya.

Menurut dia, pendidikan nilai kepada anak harus dimulai sejak dini, ketika si anak masih balita. Anak harus mengenal baik-buruk, benar-salah, sopan-tidak... melalui proses modelling. Anak melihat contoh atau teladan dari orang tuanya. Contoh: anak diminta sopan pada orang tua, tapi orang tuanya malah kasar sama pembantu. Disuruh jujur, tapi orang tuanya suka bohong.

“Itu standar ganda. Ketika terjadi standar ganda, maka yang diadopsi anak bukan instruksinya, tapi tindakan orang tuanya. Hal itu biasanya menjadi konflik antara orang tua dan anak,” tutur Anita Lie.

Ujian sesungguhnya terasa ketika si anak dewasa. Kontrol dari orang tua tidak ada lagi. Jika pendidikan nilai dalam keluarga sudah baik, sudah dilakukan sejak balita, maka orang tua tidak perlu cemas akan anak-anaknya. “Saya percaya bahwa porsi pendidikan nilai itu sangat besar di dalam keluarga,” tegas Anita Lie. Sekolah juga penting, tapi menurut Anita, nomor satu tetap keluarga.

Syukurlah, Anita Lie mengaku selalu didukung oleh sang suami tercinta. “Kami saling mendukung dan memahami profesi masing-masing,” tutur Anita dengan logat Surabaya medhok.

Sejak menjadi aktivis pendidikan, saya melihat Anita Lie semakin blak-blakan menyatakan pendapatnya di muka umum. Tulisan-tulisan tentang pendidikan, khususnya di KOMPAS, sangat kritis. Tanpa basa-basi ia mengkritik habis kebijakan ujian nasional yang memang kontroversial itu. Sejumlah pakar di Dewan Pendidikan Jawa Timur macam Dr Daniel Muhammad Rosyid dari ITS pun sangat keras soal ujian nasional.

Mereka berpendapat, seharusnya guru lah yang memberikan ujian kepada anak didik, bukan negara. Apalagi, Indonesia sangat luas dengan standar mutu yang sangat beragam. Anita juga mengkritik sejumlah kebijakan pemerintah pusat di bidang pendidikan seperti sertifikasi guru dengan segala komplikasinya.

Kini, sepeninggal Pater J. Drost SJ, tokoh dan pemikir pendidikan, yang sangat saya kagumi, terus terang saya berusaha mengikuti pikiran-pikiran Dr Anita Lie. Ia masih muda, energik, cerdas, berwawasan global, dan tetap menjadi kritisisme dan independensi. Maju terus, Bu Anita!


- Nama : Dr. Anita Lie (43 th)
- Suami : Haryanto Amanta (44 th)
- Anak : Felippa Ann Amanta (14 th)
- Pendidikan : S3 Bidang Kurikulum dan Pengajaran dari Baylor University (1994)
- Profesi : Dosen FKIP dan Pasca Sarjana Unika Widya Mandala (UWM) Surabaya
- Pengalaman Lain:
- Dosen Tamu SEAMEO RELC Singapura
- Direktur EduBisnis Consulting dan Direktur Akademis Sentra Foreign Languages.
- Sekjen Dewan Pendidikan Jatim 2003-2006 dan Anggota Dewan Pakar Jatim 2003-2005.
- Anggota dan salah satu pendiri Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (www.komunitasdemokrasi.or.id).
-
- Prestasi :
- Rotary International Ambassador of Good Will pada 1990.
- ACUCA Fellowship pada 1998.
- SEAMEO Jasper Fellowship dari pemerintah Kanada untuk penelitiannya mengenai
pendidikan multikultural dan kurikulum bahasa Inggris 1994.


BACA JUGA
Anita Lie: banyak bacaan menjerumuskan [www.arrohman.blogspot.com]

Foto: dikutip dari blognya cak man. Matur sembah nuwun, Cak!

6 comments:

  1. wow.. bu anita memang hebat.

    ReplyDelete
  2. Sammy Lie Wie Liong10:03 AM, July 03, 2008

    Bravo, Bu Anita.

    Saya sangat bangga dengan prestasi Anda.

    Kemungkinan kalau ditelusuri kita masih bersaudara atau satu leluhur.

    ReplyDelete
  3. Ibu Anita, saya PLS di Nusa Tenggara Timur. Mau belajar pengembangan kurikulum untuk daerah terpencil dari ibu.

    Saya mantan staf EF English First dan LB-LIA, masih bantu2 jadi dosen di PTS Bahasa Asing, sekarang lagi ikut mengerjakan proyek bantuan sekolah dari ILO/PBB.

    ReplyDelete
  4. Maaf ibu,
    saya bisa dihubungi di frigateasgard@yahoo.com

    ReplyDelete
  5. mohon bantuannya.. di mana saya dapat menghubungi ibu anita lie ? saya harus menyelesaikan skripsi saya mengenai model pembelajaran kooperatif tipe kancing gemerincing..Sebelumnya saya ucapkan terima kasih

    ReplyDelete
  6. Felippa (Pippa) di tahun 2015 sudah lulus dari University of California, Berkeley jurusan Ilmu Sosial. Anaknya pandai hingga mendapat berbagai penghargaan, tentunya berkat didikan Bu Anita dan suaminya. https://www.linkedin.com/in/felippaamanta

    ReplyDelete