23 January 2008

Aming Aminoedhin raja geguritan Jawa Timur



Empat tahun silam Aming Aminoedhin, 50 tahun, jalan-jalan di Orchard Road, Singapura. Ini pusat belanja utama, tempat para pelancong Indonesia mlaku-mlaku sekaligus belanja oleh-oleh di negara tetangga itu. Segala barang branded ada di sini dan relatif murah.

Aming Aminoedhin tercenung melihat kondisi Singapura yang sangat bersih, rapi, teratur. Ia mengaku langsung ingat Tunjungan, kawasan belanja utama di Surabaya. Sekilas mirip, sama-sama ramai, hiruk-pikuk, tetapi ada beda besar. "Orchard Road ini sangat bersih. Luar biasa bersihnya," cerita Aming kepada saya.

Singkat cerita, Cak Amin lantas menggores puisi bahasa Jawa Timuran alias geguritan bertajuk ‘Orchard Road’. Petikannya:

mlaku-mlaku sakdawane Orchard Road
aku lan kanca-kanca padha nggayut
apa ta sing bisa dicritakeke marang kanca ing ndesa
dene ing kene ora adoh karo Tunjungan
akeh wong padha mlaku-mlaku pating sliweran
mung wae akeh wong wadon mlaku mung nganggo
suwal cekak lan kutang
ana uga kang brukut nganggo jilbab

empere toko-toko ing Orchard Road katon rijik
dene Tunjungan kok adoh saka aran resik

mlaku-mlaku ana ing sakdawane Orchard Road
aku lan kanca-kanca ora padha gumun
amarga ana kutha Surabaya, pase ana Tunjungan
wis katon kaya ing kutha manca
mung wae ya'apa carane
gawe resik gawe rijike sakdawane Tunjungan
sing ndadekake pakaryan kang ora gampang ngetrapake

pitakonku iki ora gampang
nanging wali kota Surabaya kang bisa njlentrehake
piye bisane


Lahir di Ngawi 22 Desember 1957, sejak remaja Aming Aminoedhin tak lepas dari urusan mengolah kata-kata. Menulis puisi, geguritan, naskah drama, main teater, baca puis, mengkaji bahasa, menulis reportase budaya, tak bisa lepas dari Cak Aming. Ia juga masih dipercaya sebagai pengurus Dewan Kesenian Mojokerto. Pada 1983 Cak Aming terpilih sebagai aktor terbaik se-Jawa Timur.

"Saya sudah telanjur cinta dengan sastra," ujar lulusan Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo itu.

Dalam 10 tahun terakhir Cak Aming makin giat membina sastra Jawa di berbagai daerah di Jawa Timur. Bersama Paguyuban Pengarang Sastra Jawa, Aming membuat jejaring dengan para pegiat sastra Jawa di seluruh Indonesia. "Jagad sastra Jawa wus kudu mlayu kayak sastra liyane," ujar pria yang murah senyum ini.

Aming sadar bahwa sastra Jawa di Jawa Timur belum bergerak, apalagi mlayu (berlari), seperti sastra Indonesia. Apalagi, sastra Barat yang kian mendominasi peradaban manusia. Alih-alih maju, peminat sastra Jawa makin lama makin sedikit. Bahkan, minat generasi muda mendalami bahasa daerahnya pun berkurang drastis. "Makanya, saya dan teman-teman bergerilya dengan cara sendiri," ujar staf Balai Bahasa Surabaya ini.

Salah satu bentuk gerilya, ya, menerbitkan kumpulan puisi bahasa Jawa dengan biaya sendiri. Buku terakhir berjudul ‘Tanpa Mripat’. Ada 30 geguritan yang isinya memotret berbagai persoalan sosial di Surabaya dan sekitarnya. Pasar Wonokromo digusur, Surabaya yang makin panas, bulan puasa, hari raya, jalan-jalan di luar negeri, bulan purnama, lampu iklan.

Saat mampir di Menara Kembar Petronas, Kuala Lumpur, Malaysia, Aming lagi-lagi bikin guritan. "Sing melu mbangun simbol Kuala Lumpur iku ya wong-wong Jawa. Malah akeh sing dadi patine kanggo tumbal mbangun Petronas Twin Tower iki," tulis Aming.

Semua geguritan Cak Aming pakai bahasa ngoko, mudah dipahami. Orang yang baru belajar bahasa Jawa pun gampang mengikuti geguritan khas Amin. "Saya memang ingin geguritan saya dinikmati sebanyak mungkin orang, khususnya generasi muda. Siapa saja bisa menulis geguritan," katanya.




Sebagai perawat bahasa, khususnya bahasa Jawa, suatu ketika Aming Aminoedhin mengaku gundah. Anak-anak muda di kota-kota macam Surabaya, Malang, Sidoarjo, makin menjauhi bahasa daerah. Padahal, orangtuanya berlatar belakang Jawa. "Lha, kalau dilestarikan apa mungkin bahasa Jawa bertahan?" gugat Aming.

Celakanya, beberapa tahun lalu ada rencana untuk menghapus pelajaran bahasa Jawa di sekolah-sekolah. "Kalau sampai benar-benar dihapus, saya sulit membayangkan masa depan bahasa Jawa. Ada pelajarannya saja sudah seperti sekarang," tukas Aming yang kerap dijuluki 'raja guritan' saking banyaknya geguritan yang sudah ditulisnya.

Aming Aminoedhin tak sekadar gundah. Diam-diam dia menggagas lomba mengarang cerita cekak dan geguritan untuk sekolah-sekolah di Jawa Timur. Hasilnya? “Alhamdulillah, pesertanya cukup banyak. Dan, yang menarik, kalangan santri sekarang ini banyak yang menekuni sastra Jawa,” tutur penyair yang kerap menulis puisi untuk berbagai media massa di tanah air itu.

Di saat Aming dan kawan-kawan bergerak ‘di bawah tanah’ untuk merawat sastra Jawa, Dinas Pendidikan Surabaya bikin kejutan. Sekolah-sekolah diimbau membiasakan murid-muridnya berbahasa Jawa sekali sepekan. Istilah kerennya, Java Day. “Kebijakan ini tentu sangat menggembirakan,” kata Aming Aminoedhin.

Apakah bahasa Jawa masih relevan di tengah arus globalisasi? Bukankah bahasa Inggris lebih diperlukan?

Bagi Aming, bahasa Jawa, juga bahasa-bahasa daerah lain di tanah air, senantiasa relevan dari masa ke masa. Bahasa Inggris dan bahasa-bahasa asing lain, juga bahasa Indonesia, sangat penting di era globalisasi, tapi bukan berarti orang Jawa melupakan jatidiri dan bahasa ibunya. Jangan sampai suatu ketika orang Jawa harus belajar bahasa dan budaya Jawa di negara lain seperti Suriname atau Belanda.


BLOG RESMI AMING AMINOEDHIN
http://amingaminoedhin.blogspot.com/

5 comments:

  1. selamat jumpa, salut sama pak aming yg tetep giat merawat bahasa jawa. moga2 jasa sampean dapat balasan dari gusti allah.

    wahyu
    gresik

    ReplyDelete
  2. Mbah...
    Selamat ketemu lagi...
    Kapan "jalan" lagi
    Aku tunggu kabarnya ya...mbah...
    thanks.

    Sus e Ank

    ReplyDelete
  3. wah seneng banget aku melu bukak-bukak crito basa jawa kang wiwit luntur ing pasrawungan.Dinane iki akeh wong Jawa kang ilang jawane.Yen diajak rembugan nganggo basa jawa padha kagok,apa maneh para pemudane.Dheweke luwih bangga yen nganggo basa asing.Salam kenal Yang Kung diJln Dahlia I/17 Kediri.

    ReplyDelete
  4. salam buat pak aming. maju terus, lestarikan sastra jawa!!!!

    ReplyDelete
  5. mugi-mugi pak Aming terus semangat anggenipun nguri-uri kasusastran Jawa

    ReplyDelete